
Hari paling sibuk untuk Chea udah dimulai sejak hari selasa kemarin dan hari ini adalah hari H. Puncak acara kesengsaraan Chea karena melihat mantan menikah dan yang lebih parahnya dia sendiri yang handel acara nikahannya mantan.
Sakit tapi gak berdarah. Mau hancurin ini acara tapi gue sendiri yang membuat dekorasi. Rugi mah bukan mereka tapi gue. Properti gue lagi ini. Batin Chea berteriak ingin mengamuk.
Chea melihat kebahagiaan terpancar dengan sangat jelas pada kedua mempelai. Chea tersenyum masam. Mantannya aja bisa bahagia kenapa dia gak?. batin Chea.
"Ya elah neng. Kalau sakit kenapa masih dilihatin kek gitu sih."
Chea mendelik mendengar ocehan Ipul. Salah satu staff yang Chea tugaskan untuk mengawasi jalannya acara ini. Sebenarnya Ipul itu temen kuliah Chea dan kebetulan sering satu kelas.
"Lo ngomong apaan sih pul."
Chea mengelak dari kenyataan. Gak mau diolok-olok temannya.
"Tinggal ngaku aja susah. Betewe lo gak dateng sama pacar gitu?."
"Ngaco. Lo lihat sendiri kan kita udah sibuk dari kemarin. Gue mana sempet nyari begituan. Lagipula gue gak ada cowok."
Chea masih menatap pasangan pengantin itu sampai retina matanya menangkap sosok yang kemarin hilang tanpa kabar. Siapa lagi kalau bukan si Fajar kupret. Saudara kembarnya yang minta dihajar gak nyari dirinya.
Fajar berjalan ke arah Chea dan Ipul. Fajar sesekali bertegur sapa dengan orang-orang yang ia kenal.
"Ngapain lo kesini?."
Chea nyolot saat Fajar udah di depan matanya.
"Gak usah nyolot juga kali ngomongnya. Abang kesini mau ngomongin soal lo."
"Gue?." Chea membeo.
"Iya lo. Tadi malam lo pasti gak bakal nyangka siapa yang datang ke rumah buat nyari lo."
"Siapa sih? gak usah sok misterius deh."
"Cie yang gak sabaran. Gue juga gak nyangka sih tapi ini kenyataan loh. Yang dateng tadi malam itu.."
Perkataan Fajar terpotong oleh sebuah suara yang gak asing. Mereka semua menoleh ke arah sumber suara.
"Sayang.. ternyata kamu disini?."
Ternyata Fahmi yang bersuara dan dapat pelototan gratis dari Chea.
"Ngapain disini?.".
Chea kaget dengan keberadaan Fahmi begitupun Ipul dan Fajar yang syok dengan panggilan Fahmi ke Chea.
"Mencari mu lah ya kali mau nyari Fajar. Gak berfaedah banget."
Fajar yang mendengar itu langsung melotot galak ke Fahmi. Yang dipelototi cuma senyum sambil memeluk Chea. Fajar tambah melotot melihatnya.
"Kamu di telpon gak bisa. Dicari di rumah kamu juga gak ada. Makanya aku tanya ke staff kantor kamu. Katanya kamu lagi ngurus acara di Half Hotel. Jadi aku kerja sekalian lihat kamu."
Ipul dan Fajar menganga setelah mengetahui jika hotel mewah ini adalah hotel Fahmi. Sedangkan Chea cuma senyum.
"Sorry. Ponsel ku mati. Malas charge juga. Sibuk disini."
Chea melingkarkan tangannya di tangan kiri Fahmi. Fajar yang melihat itu melotot gak percaya. Saudara kembarnya yang galak kemana?.
"Sejak kapan kalian kek gini?."
"Sejak dulu."
Chea membalas dengan malas.
"Eh iya sayang. Udah beri selamat ke pengantinnya belom?."
Chea mulai kesal dengan pertanyaan itu. Apa faedahnya menyalami mantan nikah coba.
"Males."
"Kesana yuk. Kebetulan mempelai ceweknya itu sepupu aku."
Chea melotot gak percaya. **** dunia sempit banget.
"Tapi aku pakek baju staff loh."
Fajar masih gak percaya dengan tingkah laku adiknya. Sejak kapan dia ngomong aku-kamu coba. Adiknya gesrek. Fix
"Oh kalau itu aku udah ada rencana. Kamu mau pakek baju couple?."
"Mana mungkin dia mau bang."
Fajar yang tau seluk beluk Chea yang pasti gak mau pakek baju couple. Baju keluarga aja dia gak mau makek apalagi ini baju couple. Fajar juga sadar jika Fahmi lebih tua darinya dan memanggil dengan abang.
Biar lebih akrab.
"Mau kok."
Sekali lagi Fajar menganga mendengar penuturan Chea. Fix Chea butuh ke dokter hewan eh dokter penyakit dalam.
Fahmi dan Chea pamit meninggalkan Fajar dan Ipul. Sebelum pergi Chea memberikan amanat kepada Fajar.
"Bang. Lo handel kerjaan gue sementara sama Ipul ya. Kasihan Ipul kalau sendirian. Ini acara gede loh bang. Ntar abang boleh deh ngegame di rumah gue. Pakek game gue yang limited deh."
Fajar yang tergiur dengan iming-imingan sang adik langsung mengangguk. Jarang-jarang sang adik mau minjemin game limited nya.
Fahmi menuntun Chea keluar dari ballroom hotel dan pergi ke arah ruang kerja Fahmi.
Disana Chea disuguhi pemandangan kota Yogyakarta yang bagus. Chea senang kalau seperti ini. Chea disodori paper bag yang isinya ternyata batik couple.
"Kamu ganti sana di kamar mandi itu."
Chea segera pergi dan mengganti pakainnya. Tak lupa juga membenahi make upnya. Chea keluar dari kamar mandi udah cantik dan membuat Fahmi terpesona.
"Cantik."..
Tanpa sadar Fahmi mengatakan kata yang keramat karena Fahmi jarang memuji Cewek.
"Gimana? udah cantik belom?."
Fahmi berdehem dan mengambil kotak besar dan diberikan ke Chea. Ternyata isinya Flat shoes tapi ada hak dikit kira-kira 7 cm. Chea senang karena Fahmi mengerti selerannya. Chea segera memakainya dan itu pas banget dengan kakinya.
"Makasih."
"Beruntungnya aku mendapatkan mu."
Chea membalas pelukan Fahmi. Mereka berpelukan lama dan itu membuat jantung Chea gak sehat.
Fahmi melepaskan pelukannya dan menatap Chea.
"Kamu cantik pakai batik navy ini."
"Makasih. Turun yuk. Aku gak bisa lama-lama ninggalin acara. Ntar kacau aku yang rugi loh."
Fahmi terkekeh dan berjalan bersama ke arah ballroom hotelnya. Saat masuk orang-orang memperhatikan mereka. Sebagian tau siapa itu Fahmi. Tapi yang menjadi masalahnya adalah siapa wanita cantik disamping Fahmi.
Fahmi dan Chea naik ke pelaminan dengan senyum manis. Fahmi pertama kali menyalami orang tua Hasan dan diikuri Chea.
"Makasih ya Che. Berkat kamu acara hari ini berjalan lancar dan baik. Tante sampai terharu dengan dekorasi ini. Gak nyangka sebagus ini."
Chea tersenyum manis ke arah tante Weni.
"Ini udah kewajiban Chea tan buat bahagia semua orang disini."
"Tetap saja berkat kamu acara ini sukses. Terimakasih."
"Sama-sama tan."
Setelah dari orang tua Hasan kini giliran pengantinnya. Hati Chea malas untuk melakukan ini tapi demi Fahmi bakal dia lakuin.
"Selamat. Semoga bahagia dengan pernikahan lo."
Chea langsung menyalami Hasan dan melepaskan tangannya tanpa mau melihat
Hasan. Giliran ke Susan Chea menyeringai.
"Selamat. Semoga bahagia."
Chea langsung bersalaman dengan Susan dengan senyum merendahkan Susan. Sedangkan Susan tersenyum paksa. Kemudian Chea menyalami kedua orang tua Susan dan segera turun sambil menggandeng tangan Fahmi.
Suasana hati Chea mendadak mendung. Fahmi yang sadar akan perubahan wajah Chea hanya bisa menghela nafas. Mau ngomong sesuatu takut salah. Jadi Fahmi diem aja.
"Kamu belum makan kan? ayo kita makan."
Fahmi menuntun Chea ke arah menu makanan. Staff yang jaga stand makanan terpesona dengan Fahmi. Eksekutif ganteng, baik lagi.
Chea yang melihat itu menatap tajam staff nya dan mempererat genggaman tangannya di lengan Fahmi. Menegaskan kalau Fahmi itu cowok dia. Staff yang melihat itu mereka menunduk. Takut kena marah bos mereka.
Fahmi mengambilkan sepiring rendang dan menyerahkannya ke Chea.
"Kamu gak makan Mi?."
"Gak. Kamu aja."
Chea tau kalau Fahmi mau bermanja-manja dengannya. Makan sepiring berdua yes.
"Ini."
Chea memberikan sepotong daging rendang ke arah Fahmi dan disambut baik oleh Fahmi. Ternyata Chea peka. Chea pun segera memakan potongan daging rendang yang lain. Seperti itu sampai seseorang menyenggol bahu Chea.
Hampir saja piring ditangan Chea melayang ke muka si penabrak itu tapi urung saat tau siapa yang melakukannya.
"Lo lagi."
Ternyata si penabrak bahu Chea itu Aji. Musuh Chea dulu waktu kuliah. Aji selalu mengajak Chea duel Boxing tapi selalu kalah. Walaupun sering kalah Aji tetep nantangin Chea.
"Sorry Che. Gue sengaja."
Setelah mendengarkan perkataan itu, Chea langsung emosi. Cari mati si Aji.
"Lo nantangin gue ha!."
"Oh kalau lo mau ayo. Gue mah siap kapan pun."
Fajar yang dari tadi mencari Chea dan melihat Chea dan Aji yang sedang adu urat segera menghampirinya dan berdiri di samping Chea.
"Eh si Aji datang lagi. Mau ngajak Chea duel lagi? Udah tau bakal kalah tu jangan sok."
Fajar menghina Aji di depan semua orang yang menyaksikan itu. Sedangkan Aji yang ditantang seperti itu mulai terpancing emosi.
"Gue Aji nantangin lo Cheana buat duel sama gue ntar malam di Club Star. Lo mau?."
"Mau lah. Gue gak bakal takut sama sampah kayak lo."
Fahmi yang melihat itu ingin menengahi sebelum ada korban jiwa tapi tangannya dicekal Fajar. Fahmi melihat Fajar menggeleng artinya jangan ikut campur urusan Chea.
"Hah. Kali ini apa taruhannya?."
"Kemauan si menang."
Chea mengatakannya itu sambil melipat tangan di depan dada. Melihat Aji dengan tatapan meremehkan.
"Deal."
"Deal."
Aji langsung pergi entah kemana dan menyisakan Chea, Fahmi dan Fajar.
"Che itu gak baik buat kamu. harusnya tadi kamu Jangan ambil tantangan si Aji itu."
"Gue stress butuh pelampiasan."
Fahmi terdiam dan Fajar menghampiri Chea.
"Gue dukung lo. Gue bakal disana nemenin lo."
"Thanks bang."
Fahmi hanya menggeleng sambil membayangkan bagaimana nasib si Aji itu nanti. Kita kihat nanti malam saja. Eh tapi ini udah malam.
🏵
TBC
🏵