You Lie To Me

You Lie To Me
Selfish



Dua hari sudah Fajar dan Fahmi hilang dari jarak pandang Chea. Hari ini cuaca begitu gelap. Diluar mendung berwarna hitam memenuhi langit. Setidaknya itu yang dilihat Chea.


Cuaca hari ini membuat Chea ingat pada seseorang yang pernah memberikan payung padanya saat hujan dulu.


"Why.. I can't forgeting you?.. this is .. so.."


Chea memandang ke arah jendela tapi nyatanya fikiran Chea berada di mana. Chea memikirkan tentang Fahmi. Semua ini begitu rumit untuk Chea terima. Semua tentang Fahmi harus ia hilangkan. Chea harus bisa fokus dan berjalan lurus seperti dulu. Hanya ada dia dan pekerjaan. Pekerjannya begitu menumpuk dan banyak masalah kantor yang harus ia hadapi.


Iya besok. Chea memutuskan untuk pulang ke rumah dan segera bekerja untuk melupakan masalahnya sejenak. Hidup sendiri pun Chea bisa.


Tapi tiba-tiba ingatan masa lalu kembali lagi berputar dalam ingatan Chea.


**Flashback on


"Aku tau kau cantik Chea. Aku juga tau kalau kau begitu dingin ke cowok. Tapi setidaknya jangan menolak ku dengan cara ini."


Hery, cowok yang selalu mengejar-ngejar Chea sejak mereka berada di bangku SMP sampai waktu SMA ini. Hery berlutut di depan Chea.


"Aku.. tak bisa membiarkan mu menyukai dia."


"Apa hak mu melarang ku Hery?."


Chea memandang Hery dengan pandangan dingin.


"Aku.. lebih baik dari dia."


Keheningan menyelimuti mereka. Chea tak habis fikir dengan cara berfikir Hery tentang dirinya sendiri.


"Tak ada yang tau siapa yang lebih baik bukan?."


Hery menguatkan imannya untuk bisa tegar jika Chea lebih memilih Hasan.


"Dia hanya bermain-main dengan mu Chea.".


Chea kaget dengan perkataan Hery.


"Apa maksud mu.?."


"Dia hanya ingin berpacaran dengan mu karena dia gagal taruhan."


Damn it. Chea mengumpat dalam hati. Tidak mungkin Hasan yang ia suka seperti itu?.


"Aku tak..percaya."


Hery adalah teman baik Hasan. Melalui Hery juga lah Chea mengenal sosok Hasan yang menurutnya begitu manis tanpa tau sosok sebenarnya siapa itu Hasan.


"Aku tak memaksa mu. Tapi,.. ingat satu hal Chea. Kau tak akan pernah bisa bahagia setelah bersama Hasan. Ingat itu."


Hery bangkit pergi meninggalkan Chea dengan ribuan pertanyaan atas apa yang barusan Hery katakan. Chea memandang Hery yang berjalan semakin jauh dengan pandangan sedih. Ia kehilangan teman lagi karena sebuah perasaan.


Chea tak perduli akan kata-kata Hery? Iya. Chea menyesal tak mendengarkan perkataan Hery dulu.


Flashback Off**


"Andai lo ada di sini Her.. Gue bakalan senang lihat lo disini."


Chea memejamkan matanya dan tanpa sadar seseorang sudah ada di dalam ruangan Chea.


"Jadi.. kalau gue udah disini lo bakal ngapain gue?."


Chea kaget dengan suara seseorang di dalam ruangannya. Chea menoleh ke belakang dan kaget saat melihat orang itu.


"Her..Hery? It's You?."


Hery tersenyum dan mendekat ke arah Chea.


"Lo lupain gue beneran ya? jahat banget sumpah lo."


Chea mendadak merasa air matanya mendesak untuk keluar.


"Come here baby."


Hery memeluk Chea dengan erat dan hangat tentunya.


"Hery..."


"Iya.. kenapa?."


Chea membalas pelukan Hery dengan erat pula. Jangan lupakan kalau Chea sudah menangis di dalam pelukan Hery dalam diam. Hanya air mata yang mengalir.


"Jangan menangis.. gue gak suka lihat lo nangis sejak gue pergi. Chea yang gue sukai gak cengeng kayak gini."


Chea tak perduli dengan nyinyiran Hery. Ia hanya peduli bagaimana meluapkan rasa rindu di dalam hatinya terhadap sahabatnya ini.


"Jangan pergi.."


"Iya. Gue disini kok."


Chea melepaskan pelukannya untuk dapat melihat wajah Hery yang begitu tampan sekarang.


"Lo.. jadi dokter? Bukanya lo dulu gak suka  dokter ya? dan setahu gue orang tua lo ngelarang juga lo buat jadi dokter?"


Hery tersenyum dan mengelus puncak kepala Chea.


"Gue.. hanya ingin melindungi seseorang. I want to be.. selfish."


"Don't do this. It's not my Hery. My beloved angel Hery."


Hery gemas dengan Chea sehingga ia mengacak-acak rambut Chea.


"I can. Lo bisa lihat sendiri. Dengan gue egois ambil keputusan sendiri tanpa lersetujuan ortu gue, sekarang gue bisa jadi dokter dan mengobati lo."


Chea memutar kepalanya ke samping. Blushing. Chea ngeblush dengan gombalan basinya Hery.


"Ck.. basi."


"Ahahahahaha.."


Hery tertawa puas saat melihat pipi Chea memerah karena gombalannya.


Dia ingin berada disana. Membuat Chea bahagia dan tersenyum. Apalagi jika ia bisa membuat Chea blushing karena gombalannya.


"I want.. to be.. selfish...


again.."


"Nonsense."


Hery langsung menatap tajam Chea.


"Kau merusak suasana."


"Bodo amat."


"Ckk.."


Hery mencebikkan bibirnya.


"Kenapa kau disini Her?."


"Seseorang merindukan ku."


"Gak ada yang merindukan mu."


"Kau. Kau yang merindukan ku."


Chea segera cemberut.


"Dulu waktu gue sedih.. gue telepon lo. Tapi gak diangkat selama berhari-hari. Lo ngilang kemana?."


Hery hanya diam ditempatnya. Hery memutuskan untuk duduk di samping Chea.


"Waktu itu keluarga gue lagi ada masalah. Gue terpaksa pergi ke Jepang buat handel kerjaan bokap disana. Terpaksa ninggalin lo itu gak enak apalagi itu hampir dua tahun. Saat gue kembali.. lo gak ada."


Chea menggengam tangan Hery.


"Aku.. lari ke Jogja."


"Aku tau. "


"Dari siapa?."


"Kita pernah ketemu dulu di Jogja. Di Malioboro. Waktu itu malam minggu dan kau lagi bersama Fajar. Aku ingin menyapa mu tapi takut kau marah lalu pergi. Jadinya aku hanya bisa melihat mu."


"Ah.. jadi itu bukan halusinasi."


"Pardon?."


Chea tersenyum.


"Lupakan."


"Apa kau mau mengutarakan isi hati mu?."


Chea berhenti tersenyum.


"Apa maksudmu?."


Hery menatap Chea dengan tatapan sedih.


"Warna mata mu tak secerah dulu. Artinya kau lagi ada masalah dan butuh sandaran."


Chea menumpukan kepalanya di bahu Hery.


"Hanya kau yang bisa membaca ku Her."


"Katakan."


Chea meremas selimut yang sedang ia gunakan.


"Aku.. menyesal."


"Menyesal?."


Tes Tes


Chea entah karena dikuasai emosi atau memang sedang lelah, air matanya lolos begitu saja.


"Aku menyesal tak menghiraukan perkataan mu dulu. Jika saja.. jika saja aku mendengarkan omkngan mu dulu maka aku tak akan merasakan rasa sakit karena dibohongi oleh orang yang kucintai dua kali."


"Che.."


"Aku menyesal..."


Suara tangisan Chea tak bisa ditahan lagi dan keluar begitu saja memenuhi ruangan ini.


Hery dengan kaku mengelus pundak Chea untuk menenangkannya.


"Aku disini."


"Aku tau."


"Berhentilah menangis."


Tak selang beberapa waktu kemudian Chea berhenti menangis.


Chea melihat Hery mengabur dan seketika langsung jatuh ke dalam pelukan Hery.


Tubuh yang lemah dan kondisi mental yang down membuat Chea pingsan. Hery meletakkan Chea dengan hati-hati.


"Jangan khawatir. Aku disini."


🏵


TBC


🏵