You Lie To Me

You Lie To Me
Sabar



Fahmi merasa dunianya runtuh kenapa Chea bisa tau hal itu.


"Darimana kamu tau."


Chea memejamkan matanya. This is not easy.


"Sudah lama."


Fahmi kaget dengan perkataan Chea. lama? Seberama lama?


"Maaf."


"It's okay. Saya tau itu dari mulut anda sendiri. Jadi jangan khawatir akan hal yang sia-sia."


Fahmi menundukkan kepalanya. Haruskah ini berakhir seperti ini?


"Jadi.. kita berakhir seperti ini?."


"Anda yang mau."


Fahmi menatap Chea dengan pandangan sedih.


"Aku tak mau. Tak akan pernah."


"Why..?"


"Because I love you."


Chea menatap datar Fahmi.


"It's bullshit!."


"Tidak! Aku benar-benar mencintaimu."


"If you love me you won't be consumed by the threat of Fanya."


Fahmi menutup matanya dan air mata turun dari sana. Chea tak tega sebenarnya tapi nyatanya mereka tega melakukan hal ini.


"Aku.. hanya takut jika kamu tau maka kau akan membenciku."


Chea menatap ke arah lain. Ia yang tak ingin terlihat lemah dengan menangis dihadapan Fahmi.


"Lalu apa bedanya dengan sekarang? Tak ada bedanya."


"Maafkan aku."


"Saya sudah memaafkan tapi saya tetep kecewa."


"Aku tau."


"Hanya ini kan yang ingin anda katakan? Jika ia maka pergilah. Saya sibuk."


Chea berdiri dan duduk di kursi kerjanya. Mulai membuka dokumen-dokumen yang harus ia periksa. Fahmi menghapus air matanya dan berdiri. Melihat Chea yang begitu acuh padanya.


"Maaf jika menganggu mu Che."


Fahmi pergi. Pada akhirnya Chea menyesali berbicara dengan Fahmi. Begitu susah berbicara dengan logika. Chea menggengam kuat pencil yang ia pegang. Saking kuatnya pencil itu patah dalam genggaman Chea.


"Kesialan apa lagi ini."


Chea membereskan kembali berkasnya dan segera pergi. Otaknya tak bisa berfikir jernih. Saat keluar dari kantor ia melihat mobil Fajar baru sampai di depannya.


Fajar menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum menyebalkan dimata Chea.


"Mau kemana?."


Dengan sewot Chea masuk mobil Fajar dan menutup pintunya dengan kasar.


"Selow. Ini mobil mahal."


"Apa peduli ku."


Chea sangat badmood setelah bertemu dengan Fahmi. Fajar mendapatkan kabar itu dari Ririn tentunya. Makanya dengan kecepatan yang wow Fajar menyetir dari kantor ke kantor Chea.


"Kenapa?."


"Lupakan. Ayo pergi ke Fox."


"Mau ngapain sih kesana?."


Fajar tetap menjalankan mobilnya dengan kecepatan siput tentunya.


"Mukulin lo. Ini mobil kenapa jalannya kayak semut. Jalan yang cepet!."


Dengan kesal Fajar tancap gas dengan ugal-ugalan. Chea kaget dan langsung berpegangan dengan sabuk pengaman.


"Fajar! Turunin kecepatannya Fajar! Lo kalau ngajak mati jangan sama gue! Gue belum nikah!."


Fajar tetap ugal-ugalan sampai mendapatkan klakson dari pengendara lainnya. Fajar menulikan kupingnya dari ocehan dan makian Chea. Tak lama mereka kemudian sampai.


"Lo kalau gak bisa nyetir gak usah nyetir aja sekalian. Gue masih muda buat lo ajak mati."


Dengan kesal Chea keluar dari mobil Fajar dan tentu saja dengan membanting kuat pintu mobil. Chea berjalan masuk ke Fox dan disambut dengan wajah wanita rubah asisten pelatihnya Boxing.


"Hai Chea!."


Wanita itu menyapa Chea dengan senyuman tapi Chea berlalu masuk. Fajar juga sama berwajah cuek dan segera mengikuti Chea.


"Adik dan kakak sama aja. Gak punya sopan santun."


Wanita itu mengikuti mereka dan melihat bossnya sedang menyapa Chea dan Fajar.


"Oh my dear Chea. Long time no see you."


Pelatihnya menyapa Chea dan merintangkan kedua tangannya tapi ditepis Chea. Pelatihnya Chea bernama Alexandrew atau sering disapa Alex mengerucutkan bibirnya.


"Gue cuma mau anter Chea."


Fajar mendudukkan dirinya di sofa pojokan dan sibuk dengan ponselnya. Chea sudah datang dengan baju latihannya.


"Kenapa?."


"Apanya?."


Dengan kesal Alex  melemparkan sarung tinju dengan kesal ke arah Chea.


"Eh pelatih lo nanya bukannya dijawab malah cuek. Gue cekek beneran loh."


Chea acuh dan segera memakai sarung tinjunya. Chea menatap tajam wanita rubah itu yang namanya Kei. Wanita itu menatap tak kalah tajam ke arah Chea.


Alex yang menyadari itu langsung membuat kode untuk Kei pergi dari sini.


"Kenapa lo bad mood?."


"Gak suka aja."


"Cerita aja sih."


"Sama lo? males."


Chea langsung bersiap-siap untuk memukul samsak. Alat yang cocok meluapkan emosinya daripada orang.


"Gak usah kenceng-kenceng. Gue yang pegangin ini."


Dengan gagah Alex memegang samsak yang akan jadi sasaran amarah Chea.


BUGH BUGH BUGH BUGH BUGH


"Chea!."


BUGH


Dengan sekali pukulan pada samsak Alex terjatuh ke belakang. Tak kuat memegangi samsak yang kena bogem amarah Chea.


"Ah lo udah gue bilang pelankan."


Alex berdiri dengan kesal. Chea semarah itukah sampai melampiaskan pada samsak. Alex melihat kondisi samsaknya yang sudah berlubang akibat tinju Chea.


"Akh! kok bisa gini sih."


Alex histeris dan mencoba memasukkan kembali isi samsak yang isinya sudah tak berhenti keluar. Chea acuh dan melepaskan sarung tinjunya dengan kesal.


"Ini tak cukup."


Chea menatap kesal ke arah Alex yang masih rempong dengan sarung tinjunya.


"Kalau lo kesel sama orang ya lo tonjok orangnya bukan samsak gue."


"Benar juga."


"Bener apanya. Ini samsak ke 57 yang lo rusakin dalam kurun waktu empat bulan ini."


Chea mengingat-ingat bagaimana dirinya selalu melampiaskan amarahnya pada samsak di tempat Alex.


Chea pergi acuh dengan ocehan omong kosong. Chea segera berganti baju dan mendatangi Fajar yang masih asik dengan ponselnya. Dengan kesal Chea menendang kaki Fajar.


"Eh lo! Sakit."


Fajar memegangi kakinya yang ditendang Chea.


"Ayo pergi. Gue bosen."


Chea berlalu pergi tanpa mendengarkan ocehan Fajar. Alex yang melihat itu hanya bisa kesal. Chea begitu seenak jidatnya datang tanpa diundang dan lergi seenak jidatnya.


"Uang gue transfer."


Chea langsung pergi dengan cuek diikuti Fajar yang menggerutu. Alex cuma bisa menepuk pundak Alex dan mengasihinya.


"Sabar."


"Selalu. Gue pergi."


Chea menatap kesal Fajar yang lama datangnya.


"Apa?."


"Lelet."


"Ck."


Fajar segera masuk mobil dan diikuti Chea.


"Kita mau kemana?."


"Fahmi."


"Ha.. Ngapain?."


"Nonjok Fahmi."


"ha..."


🏵


TBC


🏵