
Chea memegang lengan Susan dengan kuat sehingga membuat Susan meringis menahan sakit. Dinda yang melihat itu meringis kasihan dengan Susan tapi saat ingat dia lah pelakor dalam hubungannya membuat Dinda geram.
Dinda berdiri dan dengan sangat rela menampar Susan dengan kuat. Bahkan membekas telapak tangan Dinda di pipi Susan.
"Kamu tau aku sedang hamil dan malah menggoda suami ku? Kamu udah ada suami juga. Apa kurang punya suami satu terus mau nambah terus jadi pelakor di rumah tangga orang? Gak tau malu banget."
Dinda merasa pusing dan segera duduk. Semua keluarga yang melihat itu segera menenangkan Dinda agar tak terlalu lelah. Dinda harus ingat kandungannya.
"Aku.. begitu gak menyangka..hiks..hiks.. dihari dimana aku melakukan acara 7 bulan kehamilan ku.. akan jadi hiks..seperti ini hiks."
Dinda menangis di pelukan sang ibu. Semua orang yang ada di ruangan itu hanya bisa terdiam dan merasa kasihan pada Dinda. Wanita hamil yang ditinggal selingkuh suaminya.
Tak lama kemudian datang petugas ambulance dan pengacara keluarga Chea tak lupa polisi juga ikut datang saat sang atasan menelepon mereka.
Susan dibawa polwan dan Chea juga ikut karena sudah membuat Hasan dan Adi masuk rumah sakit. Fajar masih setia menemani kembarannya.
Sedangkan acara sudah dibubarkan dan semua urusan WO acara itu dihandel Ipul sepenuhnya. Sekarang tinggal Chea yang merasa sudah keterlaluan dengan mematahkan tangan Hasan. Tapi dia merasa dendamnya tersalurkan pada orang yang tepat.
"Mbak Chea gak bosen mukulin orang mulu?."
Tanya seorang polisi muda yang sudah sering menangani kasus Chea dari saat polisi itu baru resmi jadi polisi.
"Kamu tau sendiri kan saya kayak gimana Heru. Saya tak akan berhenti mukulin orang yang bener-bener salah. Apalagi bela yang salah. Saya gak suka itu."
Polisi yang bernama Heru hanya bisa menghela nafas. Lelah dengan tingkah Chea dan alasan Chea yang selalu sama.
"Terus ini baiknya gimana?."
"Fajar bakal urus."
Fajar mengangguk dan Chea segera pergi dari sana. Hampir satu jam Chea menunggu Fajar yang sedang menyelesaikan masalahnya sedangkan Chea menunggu di dalam mobil.
Chea ingin libur 2 atau 3 hari kedepan. Sudah memberi kabar ke Ririn kalau semua urusan sementara ada pada Ipul. Chea lelah dan butuh istirahat. Chea berencana ingin mager di rumahnya.
Tak lama muncul sosok Fajar dan langsung masuk ke dalam mobil. Fajar mendumel gak jelas dan Chea bersikap bodo amat dengan Fajar. Mereka kembali ke rumah utama agar mami dan ayahnya gak khawatir.
Saat tiba di rumah Chea langaung masuk kamar dan menguncinya. Chea langsung berbaring di kasur dan menatap langit-langit kamarnya. Chea menghela nafas berat dan sudut matanya mengeluarkan air mata.
"Maafkan aku... Hasan.."
Chea masih menyukai Hasan dan itu membuatnya merasa bersalah karena sudah mematahkan tangannya.
"Aku memang bodoh."
Tak lama Chea terpejam dan langsung tertidur. Sedangkan Fajar memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi tadi. Mami dan Ayah hanya bisa menghela nafas. Ulah anaknya benar-benar liar.
Sang Ayah hanya menatap istrinya dengan tatapan sulit diartikan. Fajar sudah pasti tak akan setuju karena Chea gak suka komitmen untuk sekarang.
"Mami tau kan bagaimana Chea. Kita paksa dia membangkang. Kita tambah paksakan dia minggat. Tambah paksa dia bakal gak akan pernah mau nemuin kita seumur hidup. Motto hidupnya Chea benas tanpa terkekang oleh siapapun. Makanya Chea jarang punya hubungan yang serius."
Fajar menjelaskan alasan untuk mencegah perjodohan Chea. Fajar tau siapa yang menjadi kandidat calon suami Chea dan dia gak suka itu. Walaupun Fahmi baik tapi belum tentu cocok dengan Chea.
"Mami agak khawatir dengan adikmu bang makanya mami mikir buat nikahin dia."
"Mami jangan gitu dong. Jangan ambil keputusan yang seperti itu. Chea gak akan suka. Terakhir kali masukkin Chea ke SMA yang dia gak suka, mami ingatkan bagaima acara balas dendamnya dia ke mami. Chea gak mau berbicara dengan mami secara langsung selama 3 tahun. Setara masa SMA dia. Logikannya kalau kayak gitu aja mami dimusuhin 3 tahun, apa kabar yang sekarang mi. Selamanya Chea bakal minggat gak balek lagi mi."
Sang ayah juga setuju dengan pendapat Fajar mengenai fikiran Chea yang kadang sulit dipahami.
"Mami hanya ingin.. Chea membaik."
"Gak dengan cara nikahin Chea juga mi."
Sang ayah kasihan dengan anak perempuan kesayangannya yang sekarang sedang terpuruk.
"Ayah kok belain Fajar."
Mami hanya bisa cemberutmendengar pembelaan suaminya untuk Fajar bukan dirinya.
"Ayah gak bela Fajar mi. Tapi ayah tetep gak setuju dengan usul mami tentang itu. Biarkan Chea menentukan masa depannya sendiri. Sekarang Chea butuh dukungan bukan paksaan mi."
Sang ayah berkata dengan tegas yang berarti itu keputusan finalnya. Fajar senang mendengar keputusan sang ayah. Setidaknya Fajar sudah berusaha membantu Chea.
Fajar pamit masuk ke kamarnya dan melihat jika tak ada tanda-tanda kehidupan di kamar Chea. Merasa penasaran Fajar mendekatkan kupingnya di daun pintu dan hening. Mungkin Chea tidur.
Fajar masuk ke dalam kamarnya dan mengingat awal mula kenapa Chea bisa sebrutal itu.
C I N T A.
Ya karena kata itulah adiknya berubah menjadi dingin dan suka kekerasan.
Walaupun mantan pacar Chea itu sudah menikah tapi belum tentu Chea senang. Fajar pusing memikirkan sikap Chea dan membuatnya lelah sendiri. Tanpa disadari, Fajar tertidur karena capek. Semoga esok Chea bisa seperti semula. Ya semoga saja. Batin Fajar.
🏵
TBC
🏵