You Lie To Me

You Lie To Me
Cemburu 2



Fahmi terbakar api cemburu saat melihat interaksi antara Chea dan staffnya. Semua panggilan Fahmi diacuhkan Chea. Giliran Fajar yang menelepon langsung diangkat.


Fahmi merasa selama ini mereka baik-baik saja. Tak ada masalah diantara mereka. Fahmi hanya bisa mendengus saat melihat Chea sibuk dengan urusan bisnisnya.


Fahmi memutuskan pergi dan beristirahat sebelum menemui Chea. Fahmi tau jika Chea lelah.


Sedangkan Chea sibuk memberi instruksi kepada staffnya untuk segera mengakhiri acara. Hari ini sudah selesai semua rangkaian acara 3 hari 3 malam. Semua berjalan lancar.


Masalahnya setelah acara ini Chea harus ke Jakarta untuk acara selanjutnya yaitu acara pernikahan temannya. Tentu saja temannya menggunakan acara WO nya.


"Sigit! kamu bisa handel yang disini kan sampai akhir?."


Sigit mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Chea.


"Kalau gitu saya mau balik ke hotel terus ke Jakarta buat acara 2 hari lagi. Saya serahkan ke kamu untuk sisanya disini."


"Mbak Che jangan khawatir. Serahkan semuanya ke Sigit di sini. Bakal saya urus."


Chea menepuk pundak Sigit untuk menyemangatinya. Chea lelah dan semua staff Chea juga lelah. Tapi semua itu sudah resiko dari pekerjaan bukan.


Chea pergi dari halaman hotel acara ini dan bergegas ke hotel untuk tidur dan beres-beres pulang. Tentu saja Chea sudah membeli barang yang dipesan maminya dan sudah dikirim ke Yogyakarta.


Saat sampai di kamar Chea langsung tertidur karena lelah.


------


Chea terbangun karena alarm ponselnya berbunyi. Jam menunjukkan angka 4 dan sudah sepatutnya Chea bangun untuk melakukan kewajibannya sebagai umat muslim.


Setelah melakukan kewajibannya Chea segera pergi berkemas dan berpamitan dengan staffnya yang sudah sibuk ini itu sejak fajar.


Chea menuju bandara dan segera terbang untuk ke Jakarta. Melelahkan tapi Chea senang dengan pekerjaannya. Selama perjalanan menuju hotel tempat acara akan dilaksanakan, Chea tertidur dalam pesawat maupun mobil yang ia tumpangi.


Saat tiba di hotel acara akan berlangsung, Chea segera memesan kamar dan rebahan.


Ponsel Chea tak mau berhenti bergetar kala Chea dari bandara sampai hotel tempat ia menginap. Dengan terpaksa Chea mengangkat telepon masuk itu.


"Halo."


Chea bergumam saat mengangkat telepon .


"Salam kek sama yang lebih tua."


Chea merasa familiar dengan suara disebrang sana. Chea membuka mata dan melihat nama penelponnya. Terpampang jelas nama Ari temannya yang akan menikah lusa.


"Oh kau. Ada apa?."


"Chea! lo gak lupa kan sama acara gue lusa."


"Kagaklah. Ini gue udah di hotel tempat acara lo lusa."


"Oh good. Ku kira kau lupa.. Ingat! acara ku harus bagus dan sesuai konsep yang ku minta."


"Hemm."


"Kau tidur?."


"Udah bangun tepatnya. Lo tau gak Ri, ini jam 2 siang loh. Gue capek dari Bali ke Jakarta. Biarin gue tidur 2 jam lagi biar enak urusin acara lo ntar malam."


"Iya iya. Tapi jangan lupa malam ini lo kudu dateng ke rumah gue buat acara siraman. Gue sepi gak ada lo."


"Ck iya iya nyonya Ariana Gandhi atau harus gue panggil nyonya Ariana Setyoaji ya?."


"Terakhir lebih bagus. Lebih cocok sama gue."


"Ye.. situ mah seneng udah mau nikah."


"Seneng dong ya. Emang lo yang jomblo terus."


"apa salah dan dosa ku?."


"Jomblo. Cari pacar sana."


"Ogah. Kalau lo masih mau gangguin status gue, mending gue tidur. Bye."


Chea mematikan sambungan telepon dan mulai memejamkan mata lagi. Baru juga memejamkan matanya ponselnya sudah berbunyi lagi dan menampilkan nama maminya.


Chea berdehem dan segera mengangkat telepon dari maminya kalau tak mau mendengar ceramah.


"Assalamualaikum mami."


Chea menjauhkan ponsel dari kupingnya. Suara nyaring maminya terdengar begitu lantang.


"Chea di Jakarta mi. Ada acara nikahannya si Ari. Chea lupa mau ngasih tau ke mami."


"Temen SMA kamu itu?."


"Iya mi."


"Udah nikah aja itu Ari. Kamu itu harusnya contoh Ari. Kalian kan seumuran seharusnya kamu juga cepetan susul Ari. Udah ada calon juga."


Chea menghela nafas saat mendengar maminya menyebut kata keramat.


"Mi. Chea sibuk dan bisnis Chea makin gede mi. Mami tau kan Chea gak suka nikah muda apalagi umur Chea baru 24 tahun Mi. Masih muda untuk ukuran wanita karir seperti ku."


"Terserah. Mami cuma ngingetin. Tapi kemarin ada cowok ke rumah nyariin kamu. Siapa?."


"Ya mana Chea tau mi. Kan Chea gak lihat wajahnya."


Chea merebahkan dirinya di kasur. Sungguh lelah Chea menghadapi maminya yang agak cerewet.


"Kamu selingkuh ya dari Fahmi?."


"Yang ada dia yang selingkuh mam."


Chea merendahkan suaranya tapi masih bisa didengar maminya.


"kalau kalian ada masalah selesaikan dengan baik-baik. Mami suka sama Fahmi. Mapan dan tentu saja sayang keluarga."


Chea terdiam setelah mendengar perkataan maminya. Baginya sikap Fahmi selama bullshit.


"Entahlah. Chea lelah mi."


"Dulu mami tawari untuk kerja sebagai designer gak mau. Giliran udah terwujud mimpinya ngeluh. Mau kamu itu apa sih Che. Mami heran. Tiap hari ngeluh aja kerjaan mu. Kamu harus bersyukur WO kamu sukses banget. Mami aja selalu nangis saat ingat perjuangan mu dulu agar bisa jadi sukses seperti ini."


Chea terdiam tapi air matanya menetes deras. Chea berusaha meredam suara tangisannya. Agar sang mami gak khawatir.


"Maafin Chea mam. Chea emang gak bersyukur banget."


Chea mengelap ingus yang keluar dari hidungnya.


"Kalau kamu nangis artinya kamu bener-bener lelah. Mami emang gak disana tapi mami tau kamu menangis. Mami sayang sama kamu sama Fajar. Kalian adalah anak mami. Mami.. hiks.. sungguh bangga..padamu hiks.. Mami gak.. hiks.. bisa hiks..bayangin.. jika Chea nangis.. hiks di depan mami."


Chea sudah tak meredam suara tangisannya. Dia menumpahkan segala emosi yang ia pendam dalam dirinya. Sang mami pun ikut menangis.


"Maafin Chea mam. Chea hiks..sayang mami hiks.. Jangan nangis mi.hiks hiks."


"Mami gak mau hiks nangis hiks tapi...kamu nangis hiks.. mami hiks hiks pengen peluk..anak mami..yang hiks hiks nakal ini."


Hampir 2 jam Chea dan maminya saling menumpahkan rasa rindu mereka sampai Chea tertidur karena lelah menangis.


Pagi harinya Chea merasa pusing dan perutnya perih. Maklum lupa makan. Segera Chea mandi dan siap-siap turun untuk cari makan.


Di restaurant hotel Chea bertemu beberapa staff yang juga sedang sarapan. Akhirnya Chea bergabung dengan mereka.


"Persiapannya gimana?."


"Alhamdulillah mbak udah 50%."


Salah satu staff Chea menjawabnya sambil makan.


"Kalian gak ada kendala apapun kan pas nata dekor?."


"Gak ada mbak. Cuman ya itu kami kekurangan staff mbak."


Chea menghela nafas.


"Nanti bakal mbak tambah beberapa orang. Kalian makan dengan tenang. Mbak udah selesai dan mau pergi. Urusan dekor mbak serahin ke kalian. Nanti mbak datang buat check kerjaan kalian."


"Hati-hati mbak."


Chea melambaikan tangannya dan segera pergi menuju rumah temannya.


🏵


TBC


🏵