You Lie To Me

You Lie To Me
Capek



Hari ini adalah hari libur Chea pertama. Chea ingin pergi ke kantor Fahmi setelah tau lokasi Fahmi tentunya. Chea sudah bersiap-siap untuk berangkat dan sudah berdandan cantik untuk sang pacar.


Chea turun dari lantai dua rumah utamanya dan melihat keluarganya sedang bersantai. Chea menghampiri mereka untuk pamit.


"Mami, Ayah. Chea keluar dulu ya."


Chea menghampiri sang mami yang sedang menonton acara gosip.


"Mau kemana?."


Sang mami masih fokus menonton acara gosip kesukaannya.


"Nyari udara segar mi. Mumpung Chea libur."


"Tumben libur?."


Sang ayah memperhatikan tingkah anaknya yang tak biasa dandan.


"Capek yah.


"Terus kenapa dandan segala. Kan biasanya biasa aja gak ada acara dandan."


Sang mami auto melihat chea dari atas sampai bawah.


"Iya juga ya. Kok kamu dandan sih Che? . Mami baru lihat loh kamu libur tapi dandan."


Sang mami mulai menggoda Chea.


"Apaan sih mi. Chea pergi dulu."


Chea pamit kepada orang tuanya dan segera berlalu pergi sebelum diledek maminya.


Chea mengendarai mobil kesayangannya dan melaju dengan kecepatan sedang. Janji temunya dengan Fahmi jam 10 tapi Chea jam setengah 9 udah berangkat. Ingin memberikan kejutan.


Chea tiba di depan hotel ternama salah satu milik Fahmi. Chea segera masuk ke dalam hotel dan disambut ramah oleh pegawai disana. Chea datang ke arah dua orang resepsionis yang setia tersentum.


"Bisa kami bantu miss?."


"Aku ingin bertemu Fahmi maksud ku pak Fahmi."


Dua orang resepsionis itu saling melirik satu sama lain dan kembali menatap Chea.


"Maaf miss sebelumnya, apa miss sudah membuat janji dengan pak Fahmi?."


"Sebentar miss, saya menghubungi sekretaris pak Fahmi dulu."


"Gak perlu! saya sudah buat janji intinya."


"Tapi miss, ini prosedur yang harus.. "


Chea mulai emosi dan menggebrak meja resepsionis. Hal itu membuat seorang laki-laki yang sedang berbicara dengan seorang pegawai hotel terhenti. Merasa ada masalah laki-laki itu segera menghampiri meja recepsionis.


"Ada masalah a..pa..!!!.. Mbak Chea!."


Chea yang mendengar suara orang mendekat auto menoleh ke samping dan Chea kaget melihat siapa yang mendekat.


"Jo!."


laki-laki yang dipanggil Chea itu tersenyum hangat ke arah Chea.


"Hai mbak. Apa yang mbak Chea lakukan disini?."


"Oh aku ingin bertemu Fahmi tapi mereka tak percaya kalau aku udah buat janji temu dengan Fahmi."


Jo melotot ke arah dua resepsionis tadi.


"Apa yang kalian lakukan kepada pacar pak Fahmi?."


"Ah maaf pak, kami gak tau kalau miss ini adalah pacar pak Fahmi."


Dua resepsionis itu membungkuk meminta maaf.


"Jika mbak Chea kesini lagi jangan seperti itu. Pak Fahmi akan marah jika tau kelakuan kalian seperti itu ke pacar pak Fahmi."


Jonathan atau sering disapa Jojo adalah sekretaris Fahmi.


"Mari mbak saya antarkan ke ruangan pak Fahmi."


Chea mengikuti langkah Jo dan mereka naik lift ke lantai 7. Selama dalam lift mereka diselimuti hawa canggung.


"Gak apa-apa mbak. Jika pak Fahmi tau mbak diperlakukan seperti itu di hotel miliknya bakal rumit nanti urusannya."


Jo tersenyum manis dan itu membuat Chea terpana. Jo berkulit putih dengan pipi lesung yang membuatnya manis.


"Mari mbak."


Mereka keluar dari lift dan Jo menuntun Chea ke depan pintu ruangan Fahmi.


"Ini ruangan pak Fahmi mbak. Saya hanya bisa mengantar sampai sini karena masih ada pekerjaan."


"Duh Jo. Aku repotin kamu ya? Maaf ya."


"Gak kok mbak. Saya permisi."


Jo segera pergi dan sekarang Chea mulai bersemangat untuk bertemu Fahmi. Saat tangannya memegang handel pintu dan mau memutarnya terdebgar suara-suara Fahmi dengan seorang wanita.


Chea mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Chea ingin mendengarkan apa yang mereka bahas.


"Apa kamu yakin sama cewek bar-bar itu Mi? Gayanya gak seperti wanita terhormat. Apalagi lihatlah sikap bar-bar nya yang suka memukul orang. Type preman."


Suara seorang wanita yang mengejek tingkah laku Chea.


"Aku suka dia tapi itu hanya sebatas suka. Setidaknya karena dia gue terselamatkan dari perjodohan konyol itu."


Chea yang mendengar itu mulai berfikiran negatif. Jadi selama ini gue salah paham sama cewek rambut merah itu?. Chea hanya bisa membatin.


"Yah setidaknya lo bisa manfaatin dia. Gue gak nyangka cewek itu punya usaha WO yang cukup berhasil. Gue aja shock saat lihat dia mukul cowok dalam acara kemarin. Jujur gue agak ngeri ma tu cewek."


Tawa seorang wanita memenuhi ruangan Fahmi dan disusul kekehan Fahmi.


"Ah lo gak bakal nyangka gue bisa manfaatin itu cewek sampai sejauh ini. Apalagi dia bego gak sadar gue manfaatin."


Chea terdiam seketika. Oh.. Jadi selama ini gue lo manfaatin. Lihat aja pembalasan gue. Batin Chea mulai berteriak balas dendam ke Fahmi.


Chea segera pergi dari situ muak untuk mendengarkan omongan busuk mereka.


Chea berpapasan dengan Jo di depan lift.


"Mbak mau kemana?."


Chea kaget dengan keberadaan Jo. Chea segera menormalkan ekspresi wajahnya.


"Aduh Jo ini aku ada panggilan dari WO ku. Ada masalah katanya dan butuh aku di sana. Aku pergi ya."


Jo merasa aneh dengan tingkah laku Chea. Jo tidak ambil pusing dan segera ke ruangan Fahmi.


Chea berlari ke arah parkiran dan segera pergi dari hotel Fahmi. Chea berjanji dalam hati gak bakalan mau dimanfaatin sama si brengsek itu. Tak akan pernah mau.


Chea malas pulang dan akhirnya menutuskan untuk berada di salah satu rumah yang ia beli secara diam-diam. Tidak ada yang tau tentang rumah itu termasuk Fajar.


Chea masuk ke dalam kawasan perumahan dan berhenti di depan rumah nomor 9A. Chea segera masuk ke dalam rumah yang sudah lama tak ia tinggali. Chea segera membersihkan rumahnya.


Chea menatap ponselnya yang bergetar di atas meja dan menanpilkan nama Fahmi. Chea tak menggubrisnya dan tetap melakukan acara bersih-bersihnya.


Saat acaranya sudah selesai segera Chea merebahkan dirinya di kasur. Chea memeriksa ponselnya dan menemukan panggilan tak terjawab dari Fahmi 30 kali. Chea tak perduli akan itu.


Tak lama ponselnya berdering dan menampilkan nama Fajar. Chea ragu ingin mengangkatnya atau tidak. Tapi pada akhirnya tetep ia angkat.


"Hallo."


"Chea! lo gila ya gak angkat-angkat telpon abang. Lo bikin abang khawatir bego! dimana lo sekarang?."


Chea menggigit bibirnya. Chea tetep tak akan menjawab pertanyaan tentang lokasinya sekarang.


"Chea capek dan ingin sendiri. Chea pengen tidur. Abang gak usah khawatir. Dan Chea tau kalau disitu ada Fahmi. Katakan padanya untuk tak usah sok khawatir. Chea gak butuh sikap soknya. Assalamualaikum."


Chea mematikan sambungan telepon sepihak dan langsung menatikan ponselnya agar tak ada yang mengganggu.


Chea memutuskan untuk tidur agar besok bisa beraktivitas lagi seperti semula.


🏵


TBC


🏵