You Lie To Me

You Lie To Me
Perjuangan 1



Apa kau tau bagaimana rasanya bangun pagi dan melihat orang yang kau cintai berada dipelukan mu?


B A H A G I A


Ya aku bahagia karena setiap pagi setiap aku membuka mata maka akan ada wajah seseorang yang terlelap dengan damai.


Aku begitu mencintainya sampai-sampai aku bisa mengorbankan segalanya untuknya.


"Hmm..."


Seseorang dalam pelukan ku terganggu dalam tidurnya.


"Stt.. Tidurlah. Ini masih malam."


Dia tertidur lagi. Sangat cantik. Secantik sinar mentari yang menerobos jendela kamar.


Bohong kalau ini masih malam. Jam sudah menunjukkan pukul 7 lagi.


Tak apa jika Chea masih tertidur dengan nyaman dipelukan ku. Kalian ingin tau bukan bagaimana aku meraih Chea?


Flashback On


Fahmi Pov


Semenjak Chea pergi, aku gak bisa konsen sama kerjaan. Mama juga bersikap dingin ke aku setiap kali bertemu.


Cheana


Wanita yang begitu sangat ku cintai meninggalkan diriku.


Tapi..


Aku ingin egois. Jika dia memilih meninggalkan kan diriku maka dia juga harus merasakan bagaimana perasaan ku ditinggalnya.


Aku mulai menyusun rencana untuk merebut kembali hati Chea. Dimulai dari setiap hari berlalu lalang di sekitar Chea sehingga membuat dia berbicara pada ku.


Seperti sekarang ini.


"Fahmi! Lo gila ya."


Chea menghampiri diriku dengan tergesa-gesa. Aku senang Chea mau berbicara dengan ku walaupun harus menggunakan cara seperti ini.


"Apa?."


Aku berusaha cuek dengan masih fokus membalas email dari sekretaris ku. Tak boleh memperlihatkan bagaimana bahagianya diriku.


"Lihat orang yang ngajak bicara."


Chea merebut ponsel ku. Aku menatap Chea dengan tatapan rindu.


"Kembalikan."


"Gak. Kita harus bicara Fahmi."


"Kita sudah bicara."


Kamu tambah cantik Chea saat dirimu jengkel kepada ku. Ingin sekali ku mengatakan itu. Tapi harus ditahan.


"Apa maksud lo dengan semua ini."


Diriku tak mengerti dengan topik pembicaraan Chea kali ini.


"Apa maksud mu?."


"Mami bilang, keluarga lo malam ini bakalan dateng buat lamar gue."


"oh.."


Rencana 1 berjalan mulus.


"Kok cuma oh doang. Gue gak sudi nikah sama lo."


"Ya terserah kamu. Kita tetap akan menikah."


Kecewa? tentu saja. Chea selalu menolak ku entah dengan cara apapun.


"Katakan sama keluarga lo. Gue gak mau nikah sama lo."


"Why? give me a reason."


Chea diam.


"..."


"Tak bisa memberikan alasan bukan."


"Karena gue benci lo."


Chea memalingkan wajahnya saat mengatakan itu.


"Tatap aku saat berbicara seperti itu."


Chea menatapku dengan tatapan tajam.


"Lupakan."


Chea berbalik pergi tapi tangannya duluan ku cekal.


"Lepas!."


Chea memberontak dan langsung ku peluk Chea agar berhenti memberontak.


"Jangan katakan itu lagi Che. Aku tak sanggup mendengarnya. Aku mencintai mu. Jangan buat diriku melakukan hal nekat untuk memilikimu."


"Aku sangat mencintaimu."


Aku semakin mengeratkan pelukan ku.


"Fahmi.."


"Ya sayang?."


"Gue.. udah ada pacar baru sekarang."


Kaget?. Tentu saja tidak. Aku mengawasi gerak gerik Chea selama 24 jam. Dia tak punya pacar baru semenjak meninggalkan diriku.


"Maka akan ku rebut dirimu darinya."


Chea mulai memberontak untuk melepaskan pelukan ku.


"Kalau kamu nambah berontak lagi, bakal tak cium loh."


Chea berhenti memberontak.


"Aku akan menunggu saat yang tepat untuk melamar mu. Aku akan bilang ke keluarga ku. Jangan khawatir."


Aku melepaskan pelukan ku dan menatap Chea.


"Chea.. aku sangat mencintai mu. Tapi.. sepertinya takdir tak pernah mau membuat kita bersatu. Aku harus pergi jauh darimu."


"Kemana?."


Aku mengelus pipi kanan Chea.


"Aku harus ke Belanda untuk mengurus cabang perusahaan ku disana. Mungkin 5 tahun atau selamanya akan tinggal disana."


Chea menatap ku dengan pandangan sedih. Aku hanya bisa tersenyum.


"Pergilah."


"Apa.. kamu gak mau mencegah ku pergi?."


Chea melepaskan tangan ku dari pipinya.


"Gue bukan siapa-siapa lo Fahmi."


"Kamu segalanya."


Chea menundukkan wajahnya.


"Kapan lo bakal pergi?."


"lusa."


Chea menatap ku dengan dingin.


"Good bye."


Chea langsung pergi tanpa menoleh lagi. Aku tak menyangka Chea akan membiarkan ku pergi. Tadinya jika Chea menghalangi ku maka aku tak akan pergi.


Aku membuntuti Chea pergi. Dia tak menghiraukan siapapun yang menyapanya. Dia seperti menatap kosong jalanan.


Dia tak membawa mobilnya. Dia berusaha menyetop taksi. Ingin sekali ku menghampiri dia tapi rasanya ada lem di kaki ku untuk tak pergi menghampiri Chea.


Di sebrang jalan ada taksi berhenti dan memanggil Chea untuk masuk ke dalam taksinya. Aku lega tapi itu hanya untuk sesaat.


Lagi-lagi Chea menyebrang tanpa melihat kanan kiri. Apa dia mau mati?


Entah kenapa tubuh ku reflek berlari untuk menyelamatkan Chea yang menyebrang tapi dari arah kanannya ada truk yang melaju agak kencang. Chea, kau memang bodoh.


"Dasar wanita bodoh."


Aku membentak Chea dengan keras dan dia berhenti berjalan. Kau memang gila Chea. Kau membuat ku gila!.


Dia tersenyum.


Tidak!


Dia jelas-jelas mau mati dihadapan ku.


Tidak!


Jangan lakukan itu Chea.


Aku berhasil mendorong Chea ke sebrang dan diriku lah yang tertabrak truk. Aku tak tau bagaimana diriku bisa sampai disini. Tapi sebelum pingsan aku melihat Chea histeris.


Dia masih cantik.


"Jangan tutup mata mu Fahmi."


Chea menangis. Untukku? Benarkah?


"Kamu.. cantik saat menangis."


"Diam!."


"Aku.. sangat.. mencintaimu.. Chea. Selamat tinggal."


Entah kenapa mata ku berat. Sangat berat. Suara bentakan dan makian Chea begitu merdu ditelinga ku. Aku mengantuk dan malas membuka mata.


🏵


TBC


🏵