You Lie To Me

You Lie To Me
Malu



Fajar sudah mengirimi orang tuanya pesan saat mereka tiba di hotel tempat dilaksanakannya acara tunangannya Fahmi. Orang tuanya bilang jika Fahmi ada dan baru tiba. Oke ini gawat.



Muka Chea begitu masam dan auranya dingin. Tak berbicara selama perjalanan kesini. Fajar sampai merasa kalau Chea bakal melampiaskan amarahnya pada dirinya. Fajar harus siap mental nanti. Fajar juga sudah menghubungi pengacaranya untuk datang kesini. Fajar juga udah siap telepon ambulance kalau dibutuhkan juga.



Fajar getar getir saat mereka masuk ruang hall acara berlangsung. Semua mata tertuju pada mereka. Khususnya Chea. Dalam undangan yang diterima tamu tertera nama Chea tapi yang bertunangan orang lain. Ada apa? Mereka bingung akan kenyataan ini.



Kenapa Chea yang gak bertunangan tapi malah Fanya? Juga kelihatannya keluarga Chea tenang-tenang saja.



Chea sudah berdiri di depan Fahmi dengan muka dingin dan datar. Tanpa ada yang menduga, Chea melayangkan tinju ke perut Fahmi.



Fahmi jatuh tersungkur dan terdengar banyak teriakan kaget. Chea begitu bersemangat saat memukul Fahmi dan merasa lega setelah memukulnya.



Fajar dan kedua orang tuanya hanya melihat adegan itu tanpa mau repot-repot mencegah Chea. Sedangkan sisi keluarga Fahmi hanya diam menonton. Ini memang kesalahan Fahmi dan dia pantas menerimanya. Bahkan lebih.



Fahmi meringis dan mencoba bangun. Dia menatap Chea dengan pandangan bingung.



"Sakit Che.."



Chea mengepalkan tangannya dan segera menonjok pipi Fahmi. Semua orang yang melihat itu cuma bisa meringis.



"Che.. cukup."



Fajar memegang tangan Chea untuk menyudahi acara melepas amarah Chea.


Dengan kasar Chea melepaskan tangan Fajar.



"Diam."



Dingin. Suara Chea begitu dingin saat masuk ke pendengaran mereka. Fajar mundur tak berani menganggu kembarannya.



"Maaf."



Fahmi kembali berdiri sambil memegangi perutnya yang masih sakit. Pipi? jangan tanya seberapa sakitnya sampai mengeluarkan darah disudut bibirnya.



"Aku tak butuh maaf mu."



Chea kembali hampir melayangkan pukulannya tapi tangannya dicegah Fanya. Chea menatap dingin Fanya.



"Cukup! Lo berani banget mukul tunangan gue ha! Lo siapa?."



Dengan kasar Chea melepaskan cengkeraman Fanya. Chea mendekat ke Fanya dengan pandangan dingin.



"Harusnya lo yang siapa? Teman masa kecil yang menagih janji teman masa kecilnya untuk menikah suatu saat nanti. Sudah ditolak tapi maksa buat lakuin itu. Merebut calon suami orang. Jadi disini siapa lo?."



Fanya takut dengan suara dingin Chea. Fanya mulai mengumpulkan keberanian dan menatap tajam Chea.



"Gue berhak atas Fahmi karena sekarang dia tunangan gue."



Chea tersenyum miring.



"Lo? Ck yang bener aja. Ini adalah hasil lo ngancam Fahmi."



Semua orang berbisik-bisik. Jadi acara ini karena Fanya mengancam Fahmi? Lalu merebut Fahmi dari Chea.



Fanya mulai tak suka dengan bisik-bisik para tamu undangan tentang dirinya.



"Bohong."



"Let's see."



Chea berbalik ke arah Fahmi yang menatap Chea dengan pandangan bersalah.



"Fahmi, Saya mau tanya ke anda. Apakah posisi saya yang digantikan Fanya dalam acara ini adalah hasil ancaman Fanya?."



Fahmi diam tapi dia mengerti tatapan Chea. Dia ingin memberi pelajaran kepada Fanya di depan semua orang.



"Ya."



Chea tersenyum ke arah Fanya. Sedangkan Fanya sudah pucat.



"Bohong. Jangan bohong Mi."



Fanya menghampiri Fahmi dan menatapnya sedih. Chea memutar mata malas.



"Itulah kenyataannya."



Fahmi berbicara susah payah karena perutnya sakit.



"Wow."



Fanya menatap benci kearah Chea.



"Lo!.."




"Berani lo nampar Chea, bakal gantian gue tampar lo. Jangan anggep enteng ancaman gue."



Fanya yang kesal langsung melepaskan tangan Fajar dengan kasar.



"Lo! Sekarang walaupun udah pada tau tentang ini, nyatanya gue masih tunangannya Fahmi."



"Baru tunangan kan? Bisa diputus."



Chea tersenyum meremehkan ucapan Fanya.



"Tapi gue gak mau tuh."



"Tapi gue mau."



Fahmi mendekat ke arah Fanya dan Chea. Fahmi mengangkat tangan kirinya.



"Cincin pertunangan udah gue buang."



Fanya begitu benci ke arah Chea yang merusak masa depannya dengan Fahmi.



"Kok bisa ilang sih yang."



Jijik. Semua orang disana begitu jijik mendengar ucapan dan nada suara Fanya.



"Baguslah kalau ilang."



Fajar ikut nimbrung.



"Lo diem aja."



"Lo yang diem bangs*t."



Chea sudah tak tahan dengan drama ini semua hampir aja akan melayangkan tamparan tapi diurungkan saat melihat Mama Fahmi mendekat.



"Fanya.."



Mama Fahmi mendekat dan dengan otomatis menampar Fanya.



Fanya shock? tentu saja.



"Tante gak nyangka kamu setega itu sama Fahmi. Tante kira karena Chea pergi ninggalin Fahmi makanya kamu yang gantiin sementara. Tapi ternyata kamu ancem Fahmi buat batalin nikah sama Chea. Kamu keterlaluan. Tante gak nyangka."



Mama Fahmi menangis dan ditenangkan Fahmi. Chea yang sudah kesal dengan muka gak bersalah Fanya pun ikut menampar pipi kanan Fanya sampai keluar darah disudut bibirnya.



Fanya menatap tak percaya kearah Chea dan mama Fahmi.



"Tante tega tampar Fanya? yang selama ini selalu ada buat Fahmi dan keluarga tante. Dan lo! Ngapain lo nampar gue?."



"Benci aja."



Chea langsung pergi dari sana setelah meluapkan amarahnya pada mereka disusul Fajar dan keluarganya yang lain.



Sisa dari urusan ini biarlah keluarga Fahmi yang urus. Dia udah muak. Fajar mengintil dibelakang Chea. Jaga jarak jika saudaranya itu ngamuk.



Chea berhenti berjalan dan berbalik menatap Fajar dan keluarganya yang agak jauh dari dirinya.



"Ngapain kalian semua jauh banget dibelakang?."



"Ahaha ha ha.. "



Mereka tertawa terpaksa dan mulai mendekat ke Chea.



"Aku pulang duluan."



"Kemana? Gue anter."



Fajar langsung berdiri di depan Chea.



"Ke rumah lah bang."



"Oke.  Ayo pulang."



Mereka semua masuk ke dalam mobil masing-masing dan melaju untuk pulang.



Sedangkan Fanya sudah keluar dari ballroom acaranya dengan kesal. Sangat kesal dan malu. Saat berjalan keluar tadi ia mendapat tatapan mata merendahkan dari tamu.



Fanya bertekat akan membalaskan rasa sakit hatinya ini nanti pada Chea.



Tunggu saja pembalasan ku Chea. Gak akan gue biarin lo enak-enakan sekarang diatas penderitaan gue. Tunggu aja.