
Chea sudah sibuk sejak subuh di hotel tempat acara pernikahan Ari. Chea shock saat tau ini hotel milik Fahmi. Kesialan buat yang milih hotel ini.
Chea menatap dekorasi pernikahan Ari dengan mata berbinar. Usahanya tak dapat membohongi hasil.
Pelaminan begitu indah. Warna putih begitu mendominasi dekorasi hari ini. Dikemas dengan konsep modern tapi memperhatikan unsur mewah dan simpel.
Staff masih pada sliweran sana sini untuk menata meja dan kursi. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB. Artinya acara akan dimulai satu jam lagi.
"Mbak Che. Kita kekurangan bunga segarnya mbak."
Chea menatap salah satu staff dengan tatapan bingung.
"Bukannya kita udah punya stock banyak ya?."
"Iya mbak. Tapi masih kurang. Dibeberapa dekorasi kosong gak dapat jarah bunga mbak. Jadinya jelek gak perfek."
Chea melihat dekorasi yang ditunjuk staffnya.
"Bentar. Kamu hubungi tempat bunga langganan kita. Bilang beli 12 set bunga. Mawar putih dan merah. Tunggu, bucket bunga pengantin udah?."
"Udah mbak. Kami dahulukan itu tadi."
"Oke. Lakukan yang saya minta ya."
Staff itu mengangguk dan segera pergi. Chea kembali mengecek kembali kesiapan acara. Chea melihat ada orang berdiri di depannya. Chea menoleh dan disuguhi wajah datar Fahmi.
"Apa?."
"Kamu nanya apa? Kamu hindarin aku Chea. Beberapa hari ini kamu menghindar."
Fahmi uring-uringan saat tau Chea menhindarinya dan Fahmi tidak tau alasannya itu.
"Sibuk."
"Sibuk bukanlah alasan yang tepat Che."
Chea melihat rombongan tamu datang.
"Minggir. Tamu udah datang."
Chea akan pergi tapi langkahnya dicegah Fahmi.
"Tamu kan udah ada yang urus."
"Yang ngurus tamu lagi pergi nyari bunga. Jadi posisi itu kosong. Jadi saya yang menggantikannya."
Chea melepas halus tangan Fahmi di lengannya.
"Kan masih ada banyak staff. Kita harus bicara. Berdua."
"Saya sibuk. Maaf pak Fahmi."
"Che. Kamu kok formal banget ke saya?."
"Bapak juga formal ke saya barusan. Permisi."
Chea langsung berlalu untuk menyambut tamu-tamu yang sudah berdatangan. Staff yang sliweran sudah berada diposisi masing-masing.
Fahmi mendengus dan segera duduk di kursi yang sudah disediakan. Dia akan menunggu Chea. Itu tekad Fahmi untuk memperjelas hubungan mereka.
Chea mondar mandir bingung dengan beberapa tamu yang lumayan punya pengaruh besar di kursi pemerintahan.
Setelah prosesi acara dimulai sampai selesai Chea masih sibuk dan Fahmi masih setia menunggu. Chea merenggangkan ototnya di depan toilet wanita.
Badannya pegal dimana-mana dan merasa sangat lapar. Saat akan pergi Chea tertarik ke belakang dan otomatis membentur dada seseorang. Dari parfumnya Chea dapat tau kalau ini milik Fahmi.
"Kamu capek ya Che?."
Gak! lagi seger buger ini. Udah tau capek masih aja ditanya. Chea mencibir sikap tidak peka Fahmi dalam hati.
"Ya."
"Kok jawabnya singkat sih?."
Posisi mereka seperti orang pelukan padahal masih ada sedikit jarak dengan Chea menghadap dada bidang Fahmi.
"Capek."
"Pulang yuk? aku anter."
"Gak makasih. Masih ada yang harus diurus. Kalau anda mau pulang silahkan duluan."
Fahmi geram dalam hati. Chea kembali bersikap formal lagi kepadanya.
"Che, aku pacarmu. Jangan bersikap formal dong. Gak enak didengernya."
"Serah."
"Apa ada masalah yang mengganggu mu?."
"Gak ada. Bisa lepaskan saya. Mbaknya yang dibelakang bapak gak enak lihatnya."
Fahmi melepaskan pelukannya dengan terpaksa. Fahmi geram dengan orang yang mengganggunya dan melihat orang itu dengan geram. Fahmi terkejut saat melihat orang itu.
"Fanya."
Wanita yang dipanggil Fanya oleh Fahmi tersenyum. Fanya mendekati Fahmi.
"Ku kira ada sepasang kekasih yang lagi memadu kasih di depan toilet. Ternyata kamu toh Mi. Dia pacarmu? Cheana?."
Chea hanya menatap datar wanita itu. Chea ingat dengan suara yang ia dengar di ruangan Fahmi dulu.
"Iya. Ini Cheana. Pacar ku."
"Halo Chea. Kenalin aku Fanya. Wanita terdekat nya Fahmi."
Fanya mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Chea tapi Chea hanya menatap tangan itu dengan datar. Chea tak suka dengan Fanya dan ditangkap dengan baik Fahmi.
"Sorry ya Fan atas sikap Chea. Dia lagi capek ngurusin acara ini."
Chea tertawa sinis didalam hatinya. Baik sekali Fahmi membelanya.
"It's okay."
Fanya menarik kembali uluran tangannya. Fanya menatap Chea tak suka.
"Kalian bisa lanjutkan acara.."
Perkataan Fanya terpotong dengan ucapan Chea. Setelah mengatakan itu tanpa basa basi Chea langsung pergi tanpa pamit ke Fahmi.
Fahmi merasa sakit saat melihat itu. Dia ingin berbaikan dengan Chea walau tak tau dimana letak salahnya. Saat ingin menyusul Chea tangan Fahmi dicekal Fanya.
"Gak usah dikejar. Cewek gak sopan."
"Fanya! jaga ucapan kamu."
"Aku? kenapa?."
Fahmi melepaskan tangan Fanya.
"Dia pacar ku. Sikap kamu barusan tidak jauh beda dengan sikap Chea. Dia capek dan kamu malah memprovokasi dia. Jika sampai Chea menjauh karena ucapan mu, awas saja."
Fahmi langsung pergi meninggalkan Fanya. Fahmi langsung menyusul Chea yang sudah menghilang dari jarak pandangnya.
Fanya menghentakkan kakinya dengan kesal dan mengguerutu.
"Awas aja ya. Aku akan merebut kembali Fahmi."
Fanya tersenyum licik dan segera masuk ke toilet.
Chea dengan semangat 45 segera berlari dan bersembunyi diantara para staff yang sedang berkumpul di pojok ruangan.
Mereka sedang istirahat karena letih sudah seharian melakukan ini itu untuk lancarnya kelangsungan acara.
"Mbak Chea kenapa kok ngos-ngosan gitu?."
Chea menoleh ke arah Umi yang sedang duduk di dekatnya.
"Ah.. tadi mbak lihat sesuatu yang gak enak buat dilihat. Terus mbak lari deh."
Umi tertawa kecil.
"Mbak ada-ada aja."
Umi berdiri pergi saat ada staff yang memanggilnya. Chea melihat ke sekeliling dan melihat Fahmi yang celingukan. Segera Chea bersembunyi dibalik tubuh Ipul yang berdiri di depannya.
Ipul kaget dan auto meremas tangan yang ada di bajunya.
"Sakit bego!."
Ipul segera melepaskan remasannya.
"Ya sorry Che. Gue kira siapa. Eh malah lo. Ngapain sih lo dibelakang gue?."
"Sembunyiin aja dulu gue dari seseorang."
Ipul melihat keadaan sekitar dan melihat Fahmi yang masih celingukan.
"Oh.. oke."
Lama mereka dalam posisi ini hingga Ipul dipanggil oleh seorang staff untuk membantunya.
Karena acara sudah hampir selesai dan tamu juga sebagian sudah pulang, Chea memutuskan untuk ke kamarnya.
"Mbak mau kemana?."
Umi memegangi lengan baju Chea.
"Mau istirahat Um. Kenapa?."
"Duh.. mbak lihat ke depan deh. Itu ada mbak Ari dan suaminya nyariin mbak."
Chea seketika melihat ke depan dan langsung dihadapi dengan tatapan mata tak bersahabat Ari.
"Ah.. oke."
Chea menghampiri Ari dan suaminya.
"Lo kemana aja sih Che? Gue nyariin lo daritadi."
"Dipojokan."
"Ngapain lo dipojokan?."
"Nangis. Udah ah basa basinya. Gue capek. Ada apa?."
"Gak asik bener gue punya temen kayak lo. Tadi ada klien bokap nyariin lo."
"Ngapain nyariin gue?."
"Kayaknya dia tertarik sama jasa WO lo."
Chea menarik nafas lelahnya.
"Tinggal lo kasih alamat gue kan bisa. Percayalah. Gue lelah."
"Ya udah sana pergi."
Chea menatap Ari dengan tatapan tajam.
"Ngusir?."
"Gak. Betewe tadi Fahmi nyariin lo."
Deg
Chea berusaha tersenyum kecil.
"Gue tau. Bye."
Chea segera pergi dari hadapan mempelai yang saling tatap karena melihat tingkah laku Chea yang tak biasanya.
"Mungkin mereka berantem."
"Mungkin."
🏵
TBC
🏵