
Seperti biasa, Chea berada di rumah sakit tempat Fahmi dirawat.
Cheana menatap kosong hamparan bunga di taman rumah sakit tempat Fahmi dirawat.
Banyak orang berlalu lalang berhenti untuk melihat wajah Chea yang kusut seperti habis kena korban tsunami.
Bagaimana tidak, sedari tadi Chea mengacak-acak rambutnya sehingga membuat penampilannya seperti orang gila.
Belum lagi bekas air matanya yang membuat maskaranya luntur seperti korban tsunami.
Chea menghela nafas panjang. Dia sadar akan perbuatannya. Chea berjanji akan setia merawat Fahmi.
Chea tak sengaja melihat siluet tubuh orang tua Fahmi. Segera Chea berbenah penampilannya yang seperti korban Tsunami.
Chea langsung berlari masuk ke rumah sakit untuk menemui kedua orang tua Fahmi.
Chea berhenti di ujung lorong bangsal tempat Fahmi di rawat. Disana, di depan sana Chea dapat melihat dengan jelas tubuh sempoyongan mama Fahmi yang sedang di papah papa Fahmi.
Chea mendekat setelah memantapkan hati yang sebenarnya merasakan ketakutan untuk bertemu orang tua Fahmi.
"Om tante,.. Chea minta maaf."
Chea membungkukkan badannya 60 derajat. Mama Fahmi yang awalnya lemas akhirnya kembali berdiri dan menatap Chea dengan sengit.
"KAMU! KAMU YANG UDAH BIKIN ANAK SAYA SEPERTI INI. Kamu PUAS?."
chea diam dan kedua tangannya saling meremas.
"Saya minta maaf."
"Kamu! Jauhi Fahmi mulai sekarang. Gara-gara kamu anak saya menderita. Kamu.. harusnya dari awal saya gak terlalu merestui kalian. Hubungan kalian selama ini PALSU! Kalian membohongi saya."
Mama Fahmi memegang dada kirinya. Chea menatap lantai tak berani menatap mama Fahmi.
"Maafkan saya tante."
"Pergilah. Saya muak melihat wujudmu yang sok menyesal seperti ini."
"Saya tak bisa."
Mama Fahmi langsung melayangkan tatapan membunuh ke arah Chea.
"Apa maksud mu tidak bisa ha?."
Chea mematap mama Fahmi dengan perasaan takut.
"Saya mencintai Fahmi."
"Omong kosong. Kalau kau memang mencintainya kau tak akan pernah menolaknya. Gara-gara sikap sok jual mahalmu itu anak ku menderita. Lihat keadannya sekarang. Dia sekarat."
"Saya tau tan dan saya meminta maaf untuk itu."
Chea kemabi menunduk karena perasaan menyesal.
"Kalau kau menyesal, harusnya dirimu jangan muncul lagi dihadapan Fahmi."
Sakit.
Hati Chea sangat sakit saat pengusiran itu nyata-nyata di depan mata.
"Saya akan merawat Fahmi.."
Ucapan Chea terpotong karena mama Fahmi mengangkat tangan ke arah Chea tanda untuk Chea tak melanjutkan ucapannya.
"Pergilah."
"Tante saya mohon.."
"Setidaknya perbaiki dulu penampilan mu. jangan salah paham akan sikap ku kali ini. Hanya sampai Fahmi sadar kau bisa merawatnya. Setelah saat itu tiba, pergilah dari hidup Fahmi. SELAMANYA."
Chea tersenyum hambar. Setidaknya dia masih ada kesempatan untuk bisa merawat Fahmi sebagai rasa penebusan dosanya.
"Terima kasih tan."
"Pergi!."
Chea yang sudah mendapat kode itu akhirnya pergi dengan perasaan muram.
setidaknya Chea memiliki kesempatan untuk membuat kenangan manis sebelum akhirnya meninggalkan Fahmi selamanya.
Masih ada harapan. Chea tak boleh pesimis sekarang. Setelah kepergian Chea, Fahmi sadar.
"Bentar mama panggilkan dokter."
Fahmi mencekal pergelangan tangan mamanya.
"Fahmi dengar apa yang mama katakan pada Chea. Ma, Fahmi sangat mencintai Chea."
Mama Fahmi membelai kepala Fahmi dengan sayang.
"Mama tau. Tapi, apakah dirimu gak sadar kalau akting mama bagus tadi."
Fahmi mengerutkan dahi tak mengerti.
Mama Fahmi kesal karena anaknya tak peka dengan sikapnya barusan.
"Mama kayak gitu ke Chea agar dia bisa menunjukkan rasa cintanya ke kamu."
"Ma.."
"Mama gak khawatir sama kamu. Kamu cuma sakit patah tulang di kaki. Sudah di operasi dan hasilnya menunjukkan dirimu akan sehat segera. Gak usah lebay deh. Anak mami gak akan mati kok cuma gara-gara itu doang."
Fahmi menatap datar mamanya. Cuma "patah tulang kaki" dan gak usah khawatir. Fahmi hanya menghela nafas pasrah.
"Terserah mama."
Mama Fahmi tersenyum nakal dan memukul bahu anaknya yang diperban karena benturan pertama saat dirinya mencium aspal kemarin.
"Heh anak nakal, mama cuma bisa bantuin sampe sini doang loh."
Fahmi kembali mengerutkan dahi karena tidak mengerti dengan kata-kata mamanya.
"Maksud mama apa lagi?."
"Dasar gak peka. Chea mama marahi agar dia sadar akan akibat dari perbuatannya juga agar dia mau mengekspresikan rasa cintanya pada mu. Mama sudah awali, jadi kamu harus bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membuatnya kembali ke sisimu."
Fahmi sekarang mengerti dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Makasih ma."
Mama Fahmi mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum bahagia.
"Kalian berdua licik juga ternyata."
Papa Fahmi yang daritadi bersender di pintu ikut nimbrung.
"Hush, papa diem aja deh."
Papa Fahmi mengangkat kedua tangannya tanda ia tak akan ikut campur dengan urusan mereka.
"Papa tak akan ikut campur. Asalkan rencana kalian tidak menyakiti siapapun."
"Ckkk papa diem aja deh."
Mama Fahmi menatap suaminya dengan tatapan membunuh.
"Papa diem."
Papa Fahmi duduk di sofa yang tersedia di ruangan ini.
"Mama mau hubungin besan karena rencana kita udah berhasil sesuai rencana."
Mama Fahmi pergi dan meninggalkan Fahmi dan papanya menatap satu sama lain.
"Apa pa?."
Fahmi gatal ingin bertanya kenapa papanya menatap dirinya?
"Papa awalnya khawatir dengan keadaan mu tapi setelah melihat kalian berdua papa jadi semakin khawatir."
"Why?
"Papa agak aneh dengan kalian aja. Kemarin Chea nolak kamu, eh sekarang malah gantian Chea yang ngejar-ngejar kamu."
Fahmi hanya tertawa hambar.
"Fahmi gak berharap itu terjadi pa."
"Kamu gak yakin sama rencana mereka?."
"Fahmi tau sifat Chea."
Fahmi memandang langit-langit ruang inapnya.
Papa Fahmi hanya mengedikkan bahunya tanda tak mengerti dengan perasaan anaknya.
"Papa mau tidur. Kamu istirahatlah."
"Baik pa."
Fahmi tau bagaimana sifat Chea. Dia tak akan menyerah.
Yah sebenarnya Fahmi mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut Chea saat Fahmi koma dulu. Chea menawarinya pernikahan.
Fahmi senang hanya saja tubuhnya tak bisa diajak senang. Fahmi hanya bisa tersenyum kecil saat mengingat setiap kata-kata Chea dulu.
Begitu manis dan banyak tipu daya di dalamnya. Fahmi yakin Chea akan menyesal mengatakannya kalau Fahmi menggodanya.
🏵
TBC
🏵