
Hari yang membosankan menurut Chea. Sudah dua hari ini Fahmi selalu datang ke kantornya untuk berbaikan. Chea acuh dan selalu menghindar tapi nyatanya itu gak membuat Fahmi gentar.
Malam ini Chea harus pulang ke rumah utama. Maminya sudah mencak-mencak ingin Chea pulang. Mau gak mau Chea tetap harus pulang. Saat mengemasi barang-barangnya ia mendengar dan melihat mobil sport hitam berhenti di dekat gedungnya.
Chea tak perduli dan segera turun. Saat turun Chea melihat Fahmi di lobi sedang berjalan ke arahnya. Chea malas dan tetap melanjutkan jalannya dan dihadang Fahmi.
"Kita harus bicara."
"Males."
Chea berusaha mencari celah untuk pergi tapi nyatanya Fahmi selalu menghalangi langkahnya.
"Apa mau mu?."
"Mau ku? Kita bicara."
"Sekarang kita sedang bicara."
Chea mulai malas melihat muka Fahmi. Ingin rasanya Chea memukulnya.
"Apa salah ku sehingga dirimu seperti ini Che? Apa aku berbuat salah pada mu? apa aku menyakiti mu? katakan Che biar aku memperbaikinnya."
Chea hanya menatap datar Fahmi.
"Pikir sendiri."
Fahmi memegang tangan Chea dengan kuat. Chea berontak karena kesakitan.
"Lepaskan tangan ku!."
"Kita bicara!."
"Kita sudah bicara."
Chea hampir saja melayangkan bogemnya sebelum tangannya dicekal seseorang.
"Chea,.."
Chea menoleh dan kaget saat tau siapa yang menghentikan aksinya. Fahmi penasaran siapa dia yang bisa menjinakkan Chea.
"Zheyn! My prince."
Chea senang bukan main saat melihat Zheyn. Dengan sekali hentakan tangan Chea terlepas dari cengkraman Fahmi.
"Kamu gak papa?."
Zheyn memegang tangan Chea yang tadi dicengkram Fahmi. Zheyn melihat Fahmi dengan pandangan tak suka.
"Hey bung. Dia perempuan. Jangan main tangan padanya."
Fahmi menatap geram Zheyn yang menurutnya sok.
"Siapa kau sehingga bisa mengatakan itu."
Fahmi ingin meraih tangan Chea tapi dicegah Zheyn.
"Perkenalkan, namaku Zheynal Rexsa Jaya. MANTAN Chea."
Zheyn mengibarkan bendera perang ke arah Fahmi. Chea hanya terdiam dan hanya melihat adegan itu.
"Kalau begitu, saya Fahmi Dwi Adinata. KEKASIH Chea."
Sekarang Chea tau kenapa ia sempat suka Fahmi. Ternyata alasannya itu karena Fahmi berwibawa dan tegas. Chea menggelengkan kepalannya dan fokus dengan mereka. Jika mereka berantem maka Chea bisa ikutan berantem.
"Oh... dia pacar gak berguna mu itu Che? gak selevel dengan ku."
Zheyn memancing emosi Fahmi dengan perkataannya. Chea hanya bisa menghela nafas. Urusan ini akan lama.
"Apa maksud dari ucapan mu?."
Fahmi maju dan mencengkeram kerah baju Zheyn. Chea hanya melihatnya dengan tatapan datar. Malas untuk ikut campur urusan mereka.
"Maksud ku? tentu saja karena anda yang begitu tak punya perasaan telah menyakiti Cheana ku."
Kini giliran Zheyn mencengkeram kerah baju Fahmi dan menatapnya tajam.
"Hati-hati lo, ntar jatuh cinta."
Chea terkikik geli saat melihat posisi mereka yang saling berhadap-hadapan dan saling menatap satu smaa lain. Seperti sepasang kekasih yang lama tak bertemu.
"Lepas!."
Fahmi dan Zheyn saling melepaskan cengkramannya dan saling terdiam sambil membenahi pakaian masing-masing.
"Zheyn, kenapa kamu disini?."
Chea menatap tajam Zheyn yang tiba-tiba muncul disini tanpa ada kabar terlebih dahulu.
"Aku ingin memberikan mu surprise my dear."
Zheyn mendekat ke arah Chea dan mengulurkan tangannya bermaksud ingin memeluk Chea tapi tangannya sudah di tepis Fahmi. Zheyn menatap sengit Fahmi dan hanya dibalas tatapan datar.
"Lain kali kasih kabar dulu kalau mau ke sini. Sekalian kalau ke sini gak usah bawa mobil mewah. Membuat pusat perhatian."
"Iya my dear."
Zheyn mengedipkan sebelah matanya dan dibalas kekehan Chea. Fahmi merasa gak dianggap disana.
"Sayang, kita harus bicara."
Fahmi berusaha menarik perhatian Chea.
Chea menatap sinis Fahmi.
"Gak ada yang sia-sia Cheana!."
"Hey bung. Calm down."
Zheyn berdiri di depan Chea saat melihat Fahmi terpancing emosi dan hampir maju.
"Minggir."
Fahmi menatap dingin ke arah Zheyn karena sudah ikut campur urusan mereka.
"Kalau gak mau lo apa?."
Zheyn dengan tatapan sama dinginnya menantang Fahmi. Chea yang melihat itu mulai terpancing emosi melihat tingkah mereka.
"Lo cuma MANTAN! Gak usah urusin hidup Chea apalagi hubungan kami. Jadi minggir."
"Lo cuma PACAR. Gak lebih."
Zheyn mulai mengibarkan bendera perang ke arah Fahmi.
"Oke. Kalian berdua bisa diem gak? males tau gak lihat ini."
Chea sudah berdiri di depan kedua cowok yang siap bertengkar adu jotos kalau saja tak ada yang melerai.
"Dia yang mulai."
Zheyn menunjuk ke arah Fahmi.
"Lo yang mulai. Bukan gue."
Fahmi menepis tangan Zheyn yang menunjuknya.
"Kalian berdua yang salah. Hari ini gak ada sesi temu atau bicara. Kalian keluar dari kantor ku. SEKARANG."
Zheyn dan Fahmi masih bertatapan dingin satu sama lain.
"Ini salah lo."
"Lo."
"Lo."
"Lo."
"Kalian diem!!!."
Chea yang nendengar perdebatan mereka mulai emosi.
"Chea!."
Fahmi memperingati Chea soal nada suaranya.
"Suka-suka."
"Eh jangan bentak Chea dong."
"Apa urusannya sama lo!?."
Fahmi menatap sengit Zheyn.
"Dia cewek."
"DIAM!."
Chea memijit kepalanya yang mendadak pusing karena tingkah kedua bayi besar ini.
"Fine. Lanjutkan saja apa yang kalian lakukan sekarang. Gue gak perduli. GAK PERDULI!."
Segera Chea keluar dari kantornya dan masuk mobil. Chea punya janji temu degan seseorang. Yah tidak penting sih tapi orang itu maksa pengen ketemu.
Chea pergi dengan menulikan kuping nya dari panggilan setan-setan tengil itu. Chea sudah terlambat 10 menit saat sampai di kafe tujuan.
Chea mengedarkan pandangan ke penjuru kafe dan menemukan keberadaan orang itu. Segera Chea menghampiri orang itu.
"Sorry lama."
Chea segera duduk di kursi yang kosong di sebelah orang itu. Sedangkan orang itu dengan santai masih meminun minumannya.
"Santai. Lo gak telat kok."
Dia adalah Fanya. Wanita terdekatnya Fahmi. Fanya memaksa ingin bertem dengan Fahmi dan disanggupi Chea.
Chea begitu bodoh dan naif menurut Fanya. Pasti mudah untuk mempengaruhi Chea nantinya seprti pacar-pacar Fahmi dulu. Fanya tersenyum licik.
"Aku memintamu kesini karena ada sesuatu yang ingin ku beritahu pada mu."
"Apa?."
Chea menatap penasaran Fanya. Sedangakan Fanya tersenyum licik menatap Chea.
"Aku adalah tunangannya Fahmi."
🏵
TBC
🏵