
"Gimana kalau suatu saat kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami?."
Fahmi menatap kedua ibu-ibu di depannya dengan tatapan serius.
"Hus kamu itu ngomong apa sih. Gak baik tau."
Mama Fahmi yang mulai gedek dengan omongan Fahmi.
"Fahmi ngomong kenyataan ma."
"Mama gak mau denger. Mama cuma mau denger hubungan kalian baik-baik aja. Mama udah seneng banget bakal punya mantu Chea. Kamu jangan aneh-aneh."
Fahmi terdiam. Tak berani melawan omongan sang mama. Fahmi melirik Chea dan kebetulan Chea melihatnya secara terang-terangan. Melalui tatapannya Chea ingin berkata "Ayo kita bicara tapi tidak disini".
Fahmi yang mengerti arti tatapan itu langsung pamit membawa Chea untuk mendiskusikan masa depan mereka. Dirasa cukup jauh dari orang tua, mereka langsung adu urat.
"Gimana bisa kayak gini sih ceritanya. Tadi lo sih yang ngomong ke nyokap gue kalau lo pacar gue. Ribet kan urusannya nih."
Chea langsung mengutarakan kekesalan yang dipendam dari tadi. Untung gak ngamuk.
"Ya gue juga gak tau bakal kayak gini. Terus tadi lo gak ngomong jangan bilang pacar sih. Kan gue salah mengartikan tatapan lo tadi. Ya sorry."
Fahmi berusaha membela diri. Chea mendelik mendengar ucapan Fahmi.
"Enak banget lo ngomong sorry. Ini urusan bakal ribet sumpah. Mana mereka mau kita nikah. Mati gue."
Chea berjalan mondar mandir di depan Fahmi.
"Bisa diem gak?. Gak bakal nyelesain masalah kalau kamu mondar mandir gitu."
Chea berhenti mondar mandir dan menatap Fahmi dengan tajam. Chea maju perlahan dan Fahmi auto mundur.
"Lo mau ngapain?."
Fahmi mulai merasa terintimidasi dan teringat kejadian di depan restauran dia dulu.
Chea tetap maju dan Fahmi semakin mentok ke dinding. Tangan Chea sudah bertengger manis di samping badan Fahmi dan mengapit Fahmi agar tidak kabur. Posisi yang ambigu.
Mereka terdiam dan Fahmi mulai takut jika Chea memukulnya.
"Dasar anak muda gak tau malu. Gak tau tempat buat mesra-mesraan."
Suara mami Chea membuat mereka kembali ke posisi tegak dan sudah tak saling di posisi ambigu.
"Kayaknya mereka udah ngebet deh jeng."
Fahmi dan Chea saling lirik dan langsung berteriak bareng.
"Gak! kalian salah paham."
Mereka terdiam.
"Mami salah paham."
"Mama juga salah paham."
Mami Chea dan Mama Fahmi saling bertukar pandangan dan tersenyum jahil. Ide gila terlintas dibenak mereka.
"Kami salah paham tentang apa ya?."
Gantian Chea dan Fahmi mulai gelagapan. Tak tau harus berbuat apa.
"Intinya tadi gak seperti yang mami dan Mama lihat."
Fahmi mempertegas ucapannya. Tak ingin ada salah paham diantara mereka. Chea mengangguk menyetujui omongan Fahmi.
"Kami gak salah paham. Kalian aja yang posisi seperti ingin ciuman."
"Mami ngomong apaansih."
Muka Chea memerah setelah mendengar ucapan maminya.
"Jam makan siang udah selesai. Mami sama mama Fahmi mau keliling mall. Kalian kembali kerja aja. Nanti kami pulang sendiri."
Setelah mengatakan itu mami Chea dan mama Fahmi langsung pergi. Menyisahkan mereka yang masih dalam keadaan membisu.
"Lo mau ke kantor WO lo gak?."
Chea masih ada urusan di kantor dan dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Gue anter sekalian gue mau balek ke hotel sekalian."
Chea tak pernah meminta diantar tapi mumpung gratis kenapa tidak. Chea mengekori Fahmi sampai parkiran. Di dalam mobil mereka diselimuti keheningan.
"Che. Gue tanya nih sama lo. Seumpama mama sama mami lo beneran ngelakuin itu gimana?."
Chea terdiam memikirkan konsekuensi atas perbuatannya dengan Fahmi.
"Hubungan kita cuma boongan. Cepat atau lambat bakal kebongkar juga."
Fahmi terdiam. Pura-pura fokus dengan jalan yang lumayan padat.
"Seumpama terjadi lo kek mana?."
"Tinggal jujur."
"Kalau mami lo marah?."
"Tinggal diemin. Ntar juga ngajak ngomong sendiri dalam 3 hari."
Itulah kenyataannya. Semarah apapun maminya Chea gak bakal marah lebih dari 3 hari. Lebih dari 3 hari dosa.
Mereka kembali diam sampai tiba di kantor WO Chea.
"Makasih atas tumpangannya."
Chea akan keluar dari mobil tapi tangannya dicekal Fahmi. Alhasih Chea kembali duduk dan melihat ke arah Fahmi.
Fahmi bingung kenapa dia mencekal Chea yang ingin keluar. Tapi ganjalan di hatinya berteriak untuk berbicara itu dengan Chea.
"Seumpama gue mau serius dengan hubungan ini, lo maksudku kamu mau gak?."
Fahmi pengen mengubur hidup-hidup dirinya sekarang juga. Chea terdiam. Tak ada salahnya mencoba sebuah hubungan dengan Fahmi bukan? Toh mantannya juga bakal nikah. Dia juga berhak bahagia dong.
Chea tersenyum dengan tulus untuk oertama kalinya dan itu membuat jantung Fahmi berdetak tak karuan.
"Kenapa tidak."
Setelah mengatakan itu Chea membuang mukanya yang sudah memerah karena malu.
Fahmi yang melihat itu reflek langsung mencium puncak kepala Chea.
"Terimakasih Che udah ngasih kesempatan buat aku."
Chea yang diperlakukan seperti itu blushing seketika. Chea melepaskan tangan Fahmi di kepalanya dan segera keluar dari mobil. Menutup pintu mobil Fahmi dengan cukup keras dan segera masuk ke gedung kantornya.
Sementara Fahmi terkekeh di dalam mobil dan juga blushing dengan tindakannya barusan. Sungguh tak menyangka akan semulus ini. Rencana awalnya akan PDKT dulu lalu mengajak Chea serius. Tapi ucapan spontannya langsung ditanggapi dengan baik oleh Chea.
Fahmi bahagia karena sekarang Chea adalah pacar sesunggunya bukan pacar boongan lagi. Jadi untuk hubungan mereka kedepannya dia ingin Chea setuju dengan omongan mamanya.
Fahmi segera melajukan mobil audi hitamnya dan membelah jalanan kota Yogyakarta di siang yang terik ini.
Senyuman Fahmi membuat semua karyawan yang melihatnya heran. Karena selama mereka bekerja disini Fahmi jarang tersenyum seperti itu. Apalagi Fahmi berjalan sambil bersiul. Bukan gaya Fahmi bos mereka. Tapi apa peduli mereka. Bagi mereka asal digaji sesuai dengan upah mereka sudah senang.
Sedangkan Chea di dalam ruangan kantornya segera memegang jantungnya yang berdetak tak karuan dan meraba wajahnya yang tiba-tiba mendadak panas. Karena efek ciuman Fahmi atau hal lain? Chea tak tau.
"Cie yang tadi dianterin sama babang ganteng."
Nada mengejek keluar dari mulut Fajar karena dari tadi dan sudah sejam Fajar menunggu Chea di dalam kantornya. Karena bosan menunggu akhirnya Fajar melihat jendela dan disuguhi pemandangan adiknya dicium oleh cowok bernama Fahmi.
Chea yang kaget reflek duduk tegap di kursi kebesarannya. Menatap Fajar yang tersenyum mengejek.
"Apaan sih bang."
"Eh Che. Abang tadi dapet telpon dari mami kalau lo mau nikah ya?."
Chea yang sedang menandatangani dokumen langsung berhenti. Menatap sang kakak minta penjelasan.
"Iya tadi kan gue nelpon lo gak bisa makanya gue nelpon mami. Terus tadi mami curhat kalau di mall ketemu sama sahabatnya dan ternyata anaknya itu Fahmi. Katanya kalian pacaran dan mami pengen kalian nikah. Itu beneran Che."
"Iya."
"Sumpah demi apa? lo pasti bercanda deh Che."
Fajar masih gak percaya dengan ucapan maminya juga ucapan Chea.
"Ye dibilangin kok gak percaya. Gue sama Fahmi emang pacaran. Barusan di mobil kami jadian."
Fajar melotot kaget karena pengakuan Chea.
"What the.. Lo waras kan Che?."
"Waras kok."
Chea masih fokus dan berusaha sebiasa mungkin di depan Fajar. Sedangkan dalam hati Chea sudah mencak-mencak kegirangan.
"Tapi kalau soal nikah, lo taulah ta gue masih enggan bahas itu."
"Emang umur si Fahmi berapa?."
"27 tahun."
"Pekerjaan?."
"Pengusaha hotel dan restauran. Tau gak sih bang kalau restauran yang kita kunjungin dengan tante Weni tu ternyata milik Fahmi loh."
Fajar melotot tak percaya dengan penjelasan sang adik.
"What the.. pengusaha kata lo? hebat dong berarti. Cocoklah buat lo. Mami bilang dia kalem gak kayak lo."
Chea tersinggung atas ucapan sang kakak.
"Ngomong kayak gitu lagi bogem gue melayang."
"Iya-iya sorry. Eh gue balek ya. Udah jam segini mami tadi minta jemput. Bye."
Fajar menghampiri Chea dan mencium kepala Chea.
"Hemm. hati-hati bang."
Fajar tersenyum dan keluar dari ruangan sang adik. Di dalam ruangan setelah Fajar keluar, Chea tersenyum lega dan menghembuskan nafas lega.
"Kalau jodoh mau gimana lagi."
Chea tau jika pertemuan demi pertemuan ini udah pasti ada takdir dibaliknya. Walaupun begitu Chea senang dipertemukan dengan Fahmi. Semoga saja Fahmi tak seperti si mantan.
🏵
TBC
🏵