
Chea menatap tubuh lawannya dengan sinis. Kaki kanan Chea sudah berada di atas dada si lawan. Sebenarnya Chea ingin meremukan tubuhnya tapi karena sisi manusianya tak tega. Jadi Chea biarkan kali ini dia hidup.
Sedangkan Aji menahan sakit di sekujur tubuhnya karena hantaman Chea yang benar-benar membabi buta. Aji tak mengira kalau Chea sungguh-sungguh ingin membunuhnya.
"Cih. Sekarang lo udah kalah. Jadi daripada gue bunuh lo mending sekarang ngaku kalah dan gak bakal nantangin gue lagi."
Aji yang mendengar perkataan Chea hanya bisa pasrah. Sesuai perjanjian awal mereka. Dia kalah maka dia bakal nurutin permintaan Chea.
"Gue ngaku kalah."
Suara Aji tercekat di tenggorokan. Ada rasa sakit untuk menggerakkan tubuhnya. Chea yang melihat itu langsung menatap Fajar. Yang ditatap mengerti dan segera menelpon ambulan dan pengacara. Lagi.
"Lo bertahan. Bentar lagi ambulance datang."
Setelah mengatakan itu Chea segera pergi dari sana dan diikuti Fajar. Tujuan Chea cuma satu. Rumah.
"Bang. Ngantuk."
Fajar segera menggiring Chea ke arah mobil nya dan segera pergi dari tempat ini. Selama perjalanan Chea menutup matanya. Fajar tak mau repot-repot mengganggu.
Saat sampai di depan rumah Chea, Fajar melihat Chea sudah tertidur pulas. Karena tak tega membangunkannya Fajar langsung mengangkat tubuh Chea dan membawa masuk ke dalam rumah.
Fajar tidur di rumah Chea tanpa khawatir dengan omongan tetangga atau akan digrebek warga. Semua tetangga Chea tau jika Fajar adalah saudara kembar Chea.
Pagi harinya Chea bangun dan merasa pusing. Dia kaget dengan apa yang dilihatnya. Fajar tidur di sampingnya. Walaupun dia adalah saudara kembarnya tapi semenjak umur 7 tahun, mereka tak pernah tidur satu kamar lagi.
Chea segera pergi masuk ke kamar mandi dan segera setelah membersihkan diri untuk menyiapkan makanan untuk Fajar dan dirinya.
Fajar yang terganggu dengan aroma masakan Chea segera bangun dan masuk kamar mandi. Fajar tau jika Chea pasti yang memasak.
Fajar selesai mandi dan segera keluar kamar dan melihat Chea yang sedang menata makanan di meja makan.
"Tumben masak."
Fajar segera duduk di depan Chea.
"Laper."
Mereka segera makan dan selama itu pula diselimuti keheningan. Hanya ada dentingan piring dan sendok garpu.
"Che. Abang boleh nanya gak?."
"Apa?."
Chea tetap tak berhenti makan walau Fajar mengajaknya bicara. Dia kelaparan.
"Kenapa kemarin lo berhenti mukulin Aji."
Chea langsung terdiam. Dia menatap Fajar yang juga menatapnya.
"Habisin makanan abang. Ntar Chea kasih tau alasannya."
Mereka kembali makan dengan hening. Setelah makan gantian Fajar yang mencuci piring sedangkan Chea sudah di depan tv walaupun tv tidak dinyalakannya. Fajar segera duduk di depan Chea.
"Jadi?."
"Abang gak akan menyangka sama sekali dengan apa yang akan abang denger."
"Katakan."
Chea mengambil nafas dalam-dalam sebelum memulai cerita.
"Aji mencintai Chea."
Fajar yang mendengar itu terdiam.
"Maksud mu?."
"Aji selalu menantang Chea dan berakhir kalah tapi masih tetep nantangin Chea supaya dia bisa ketemu Chea."
"Jadi maksud lo si Aji itu suka sama lo dan dengan cara dia nantangin lo biar bisa deket gitu?."
"Semacam itu."
"Lalu kemarin kenapa berhenti?."
"Chea melihat tatapan memuja di mata Aji. Chea gak tau tapi hati Chea merasa kalau mukul Aji itu gak bener. Sempet emosi sih dengan pengakuan Aji. Tapi kalau difikir-fikir disini Chea juga salah. Dengan selalu nerima tantangan si aji maka Chea sama aja ngasih harapan. Jadi Chea lampiasin dengan sekali pukulan."
Fajar terdiam dan menatap Chea dalam diam.
"Kesimpulannya?."
"Chea gak tau. Tapi Chea bakal jengukin Aji hari ini. Karena kemarin Chea mukul dia habis-habisan."
"Abang setuju sih. Kan lo yang mukul."
Chea terkekeh dengan ucapan Fajar.
"Bang. Seumpama Chea nerima Aji gimana?."
"Terus lo kemanain itu si Fahmi?."
Chea terdiam. Tak tau harus menjawab apa.
"Kalau soal itu Chea gak tau. Toh Fahmi juga gak serius. Mending ke Aji yang mental cewek sekali pukul tumbang tapi selama bertahun-tahun cinta sama Chea."
Fajar terdiam dengan alasan Chea.
"Lalu kalau si Fahmi serius lo mau kek mana dek?."
"Gak tau. Lihat aja ntar."
Chea berdiri dan segera menuju kamar untuk menghindari pertanyaan Fajar yang makin aneh-aneh.
Chea mengunci kamarnya dan segera berbaring di kasur. Chea merasa jika Fahmi gak serius. Sangat gak serius dengan hubungan mereka.
Chea melirik ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Fahmi. Chea tidak mengangkatnya dan membiarkan ponselnya bergetar terus.
Saat panggilan berakhir dia melihat begitu banyak telpon dan pesan masuk dari berbagai sosmed yang ia miliki. Siapa lagi kalau bukan Fahmi.
Chea segera menelpon Ririn untuk bilang kalau Chea akan datang jam 11 karena masih ada acara. Chea memejamkan untuk menghilangkan rasa perih di tangannya. Tadi waktu di kamar mandi Chea menonjok dinding karena menangis.
Harusnya Chea peka dengan perasaan Aji. Harusnya. Tapi Chea bodoh dan tak peka. Membuat Aji semakin berharap padanya.
Haruskah Chea berlibur untuk menghindari mereka?
Chea segera bangkit dan siap-siap untuk pergi. Chea akan mampir ke toko bunga dan buah. Mencari buah tangan untuk menjenguk Aji. Tak mungkin kan dia akan menjenguk orang sakit tanpa bawa apa-apa.
"Mau kemana? tumben udah rapi sepagi ini."
"Mau jenguk Aji sekalian ngantor. Chea ingat masih ada laporan untuk acara lusa. Chea pergi bang."
Fajar yang melihat itu hanya mengedikkan bahu dan segera menyusul Chea tapi tujuan berbeda. Fajar harus ngantor. CEO bebas dong ya datang kapan aja yang ia mau.
"Pakek mobil sendiri?."
Chea kaget melihat Fajar di belakangnya.
"Kok abang di sini?."
"Ya disini kan juga ada mobil abang tercinta dek. Abang mau ngantor pakek mobil. "
"Oh. Iya ini Chea pakek mobil sendiri."
"Tumben?."
"Kasihan kan Xaxa (sebutan untuk mobil kesayangan Chea) dianggurin beberapa hari ini. Ntar ngambek Chea yang susah."
"Ya udah nyetirnya hati-hati. Kalau ada apa-apa hubungin abang."
Fajar mengecup dahi Chea dan segera masuk ke dalam mobilnya dan diikuti Chea yang masuk ke dalam Xaxa.
Mereka keluar dari area rumah Chea dan berpisah di jalur masing-masing. Chea mengemudi dengan kecepatan normal menuju toko bunga. Saat sampai di toko bunga langganannya, ia melihat sang pemilik lagi cekcok dengan seseorang. Segera Chea keluar dari mobil dan mendekat ke arah mereka.
"Kan Sasa udah bilang kalau gak mau terima ganti rugi dari mas. Jadi mas gak usah ganggu Sasa lagi deh."
Chea menghampiri Sasa sang pemilik toko bunga.
"Kenapa mbak? mas ini gangguin mbak?."
Sasa menoleh dan mendapati Chea berdiri tak jauh darinya.
"Iya nih Che. Dia gangguin mbak mulu."
"Masalahnya?."
"Dia itu kemarin gak sengaja nyenggol mbak dan membuat mbak jatuh. Cuma lecet sih lengan sama lutut dan udah diobati. Terus dia bilang akan tanggung jawab tapi mbak bilang gak usah. Terus ngerecokin mbak. Kayak habis ngapain aja ngotot tanggung jawab."
Chea melihat cowok yang dimaksud Sasa. Chea melihat tatapan sama seperti Aji di matanya. Jangan-jangan?
"Mas suka sama mbak Sasa?."
Cowok yang ditanya Chea cuma tersenyun menanggapi pertanyaan Chea.
"Jadi kesimpulannya mas ini mau deket dengan mbak."
Sasa hanya terdiam dan menatap cowok itu dengan tatapan kebingungan.
"Mas, Chea kasih tau nih ya. Kalau mau deketin mbak Sasa itu butuh kesabaran ekstra. Mbak Sasa susah diajak serius. Mas butuh persiapan yang matang. Mending sekarang mas pergi dan besok kembali lagi kesini dengan persiapan yang baik. Betewe nama mas siapa ya?."
Si cowok itu tersenyum mendengar nasehat Chea. Si cowok itu mengulurkan tangannya ke Chea.
"Rafi. Nama saya Rafiansyah Nugraha."
Chea menyambut uluran tangan Rafi.
"Chea mas."
"Makasih atas saran mu. Saya permisi pergi. Sampai jumpa lagi Sasa, Chea."
Rafi pergi dan tinggal menyisakan Chea dan Sasa.
"Mbak gak suka sama mas Rafi tadi itu?."
"Gak."
Mereka masuk ke dalam toko dan Sasa mulai menyiram kembali bungannya.
"Ganteng loh mbak?."
"Gak perduli. Buat apa genteng kalau cuma mau main-main aja sama cewek?."
"Iya juga sih. Betewe mbak, Chea kesini mau beli bunga lili."
"Buat apa Che?."
"Nengokin orang sakit. Dia sakit karena Chea."
Sasa hanya menggeleng karena tau sifat preman Chea. Tanpa bicara apapun Sasa segera melakukan tugasnya untuk membungkus dengan rapi pesanan Chea.
Setelah selesai merangkai bunga itu, segera menyerahkannya ke Chea.
"Semoga lekas sembuh ya buat korban mu."
Chea terkekeh dan menberikan bayaran untuk bunga itu.
"Iya mbak. Makasih lo atas doanya. Chea pergi."
Chea keluar dari toko dan segera pergi ke arah rumah sakit. Sebelum itu, Chea mampir ke tempat buah langganan Chea. Setelah mendapatkan semuanya, Chea langsung ke rumah sakit.
🏵
TBC
🏵