
Dan kemudian setelah itu, Jimin meninggalkan kafe itu tanpa ekspresi yang jelas sama sekali yang membuat para pengunjung menjadi patung karena takut akan ancaman Jimin barusan dan karena terlalu tegang, mereka semua melakukan aktivitas mereka masing-masing yang membuat Rose tersadar dan sesegera mungkin mengikuti Jimin yang tidak terlalu jauh pikirnya.
Namun Jimin sudah berada didalam mobil yang sudah siap dengan kecepatan penuh, tapi sesegera mungkin Rose lari dihadapan mobil itu yang membuat Kris harus rem mendadak agar gadis yang berada didepannya ini tidak terluka. Dengan keadaan yang sedikit terkejut Jimin sedikit membulatkan matanya untuk melihat siap gadis gila yang ingin mati sekarang didepan mobilnya.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat gadis yang masih memakai jasnya itu berada didepannya, dengan cepat-cepat keluar dari dalam mobil dan membanting pintu mobil secara kasar, ia sedikit tergesa-gesa menghampiri gadis itu.
" apa kau mau mati hah?! sudah berapa kali aku bilang! jangan suka mengikuti orang yang tidak kau kenal! " marah Jimin namun masih memakai ekspresi datar tapi tercetak dengan jelas di mata pria tampan itu bahwa ia sangat khawatir
dengan menundukkan kepalanya dan memainkan ujung bajunya " aku..aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.. ma..makanya mengikutimu " ujar Rose yang mengangkat kepalanya secara perlahan yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang dimarahi oleh orang tuannya
sebisa mungkin Jimin tidak tertawa karena wajah polos gadis yang berada dihadapannya, dengan berpura-pura batuk dan juga memalingkan wajahnya " uhuh..uhuk, sudahlah, jadi karena sudah tidak ada yang ingin kau ucapkan lagi aku pergi duluan, jaga dirimu " ujar Jimin berlalu dengan mengusap pucuk kepala Rose yang membuat Rose terdiam sesaat dan tersenyum
" eh, anu... tuan Jimin bolehkah besok dulu baru ku kembalikan kedua jas mu ini ? " tanyanya takut-takut sambil mengangkat jas Jimin
" ya " ujar Jimin dingin lalu masuk kedalam mobilnya dan berlalu meninggalkan Rose sendirian disana yang masih terus tersenyum dan masuk kedalam kafe itu untuk melanjutkan pekerjaannya
Sekarang sudah pukul 9 malam, sudah waktunya untuk Rose pulang, setelah beres-beres sebentar ia kemudian mengunci pintu kafe namun segerombolan anak mafia datang menghadangnya didepan pintu kafe, dengan takut-takut Rose bertanya " a..anu ka..kafenya su..sudah tu..tutup " ujarnya sebisa mungkin tidak gemetar
" HAHAHAHA!! jangan takut gadis manis... ikut aku ya! " ujar pria itu dengan tangan yang mencolek dagu Rose
Karena merasa risih Rose membuang muka dan menepis tangan pria itu seraya berkata " maaf, aku mau pulang sekarang " ujar Rose yang kemudian berlalu meninggalkan pria itu dengan wajah yang memancarkan kemarahan " KAU!!!!! " ujar pria itu sambil menjambak rambut panjang milik Rose
seraya memegang kepalanya Rose meringis kesakitan " saat..sst Aisa sa.. sakit " ujar Rose diiringi buliran air mata membasahi pipinya
" HAHAAHHAHAHAHA!!!!! APA KAU BILANG!!! SAKIT! ITU TIDAK SEBANDING DENGAN KAU YANG MEMPERMALUKAN KU SAAT INI.. DASAR ****** SIALAN!!!! " teriak pria itu sembari menarik Rose dan melemparnya masuk kedalam mobil lalu membanting pintu mobil itu kencang
Rose yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi hanya bisa berdoa di dalam hatinya " ya tuhan....siapakah yang bisa menyelamatkan ku dari mereka "
Mobil milik pria jahat ini melaju melewati mobil Jimin, Rose yang melihat dari kaca jendela itu berusaha sebisanya agar Jimin menoleh kearahnya dengan terus berteriak didalam hatinya " Jimin.... selamatkan aku " batinnya yang terus menangis, melihat Rose menangis pria jahat tadi langsung menamparnya seraya tertawa mengejek Rose " hahaahha....memang ******!!! tidak akan ada yang datang buat menyelamatkan wanita murahan sepertimu "
Setelah pria jahat ini menyelesaikan perkataannya dan menoleh kearah depan, tiba-tiba saja mobil yang di naikinya berhenti secara mendadak karena ada mobil hitam yang menghadang mobil miliknya, sembari turun dari mobil dengan membanting pintu yang amat keras pria ini keluar sambil marah-marah " Heh!! bawa mobil itu yang bener dong! matanya buta apa katarak hah !!! mau cari mati hah!"
Dengan Kris membukakan pintu mobil dan keluarlah seseorang didalamnya, sembari mengancing jas miliknya " sekali lagi kau berucap.ku pastikan lidahmu itu keluar " ujarnya menatap pria yang berada didepannya ini dingin dan tajam
" yo~~ ternyata kau! hahaahahahaha~~~ lama sudah tidak bertemu tuan muda Ji Min Xi'an Wu, suatu kehormatan dirimu datang tuk mencari ku " ujarnya pria jahat ini sembari bersandar didalam dimobil nya dengan menyimpangkan kedua tangannya
" ya! sudah lama.tuan muda Chaeyeol Wang.Wei. dan aku disini bukan mencari mu melainkan peliharaan ku yang tidak pulang tepat waktu " jawab Jimin sembari menunjuk kearah mobil Chaeyeol yang terlihat dengan jelas kalau Rose yang tersenyum namun menangis didalam
melirik kearah Rose, lalu tersenyum miring " aiya~~~ ternyata ini milikmu! tapi maaf aku sudah mengambilnya duluan " jawab Chaeyeol tersenyum meremehkan
" lepaskan dia " balas Jimin dingin
" tapi kalau aku nggak mau? gimana dong " jawab Chaeyeol yang terus menerus tersenyum yang membuat Jimin muak
" jangan salahkan aku kalau punggung mu harus patah " jawab Jimin yang senantiasa terus-menerus dingin dan tanpa ekspresi yang jelas
" iya iya...hey! lepaskan dia " jawab Chaeyeol yang menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Rose yang gemetar ketakutan
Melihat keadaan Rose seperti ini membuat sesuatu didalam hati Jimin tergerak, dan wajahnya masih tetap datar namun ketika tangan anak buah Chaeyeol ingin menyentuh Rose dengan sigap ia memelintir tangan anak buah Chaeyeol hingga patah lalu menghempaskan begitu saja lalu menggendong Rose yang membuat Kris maupun Chaeyeol kaget dalam hati mereka " dia sudah bisa menyentuh wanita? ". Namun tangan Chanyeol memang tidak bisa diam ditariknya atasan Rose hingga bahu milik rose dan beberapa kancing kemejanya terlepas uang membuat bagian dada dan bahunya terlihat, namun dengan santainya Chaeyeol malah mengambil kembali tangannya dan berpura-pura bersalah " UPS! aku tidak se- " namun perkataannya belum terselesaikan dengan kakinya menendang Chaeyeol sampai tersungkur
dengan dibantu beberapa anak buahnya Chaeyeol bangkit dengan memegangi perutnya lalu tersenyum miring menatap kepergian Jimin, lalu memasuki mobilnya sendiri lalu pergi.
Dan sedangkan didalam mobil Jimin, Rose terus berusaha memperbaiki bajunya yang robek dan karena Kris melihat terus kearah belakang bukan karena keadaan Rose melainkan menghawatirkannya namun karena jengkel dengan Kris yang terus melihat kearah belakang, Jimin melihat Rose lalu memutuskan memberi Rose mantelnya yang ia sempat bawa tadi.
Dengan melemparkannya tepat di wajah Rose " pegang.aku kepanasan " ujar Jimin lalu membuang muka ke jendela
namu dengan terus tersenyum " i..iya " ujar Rose yang menatap Jimin lalu seperti yang diucapkan Jimin, ia memegang mantel itu tanpa berniat memakainya
ketika ia menoleh " kau memegangi nya terus? " tanya Jimin yang dibalas anggukan kepala Rose " tadi bukannya kau menyuruhku untuk memeganginya? " balas Rose dengan tampang polosnya
seketika itu juga Jimin menghela napasnya lalu memutuskan memakaikannya ke tubuh Rose " huh..iya..iya..pakai dan jangan melepaskannya " ujar Jimin datar
lalu seakan teringat sesuatu ia langsung memarahi Rose " apa kau tidak punya akal hah?! "
" e..eh punya " kaget Rose
" kenapa kau bisa bersama dengan dia huh?! " tanya Jimin lagi
" i..itu dia yang menarik rambutku lalu menyeret ku kedalam mobilnya " jawab Rose dengan kepala menunduk dan memainkan ujung mantel milik Jimin
dengan sedikit terkejut " apa dia melakukan sesuatu terhadapmu? " tanyanya lagi dengan memeriksa tubuh Rose
" tidak a.ada " jawab Rose
dengan menghela napas " syukurlah "
" a..anu terima kasih ya kau menolongku lagi kali ini " ujar Rose yang tersenyum pada Jimin
" jangan salah paham.aku hanya kebetulan lewat tadi " jawab Jimin dingin yang malah membuat Kris melongo
" jadi maksud presedir kebetulan lewat itu adalah melewatkan rapat dewan perwakilan yang membahas proyek besar dan karena ia menyuruh membatalkannya jadi proyek yang bisa meraup untung 9 triliun itu harus hangus?? dan dia bilang kebetulan lewat???! kebentur apa coba dua tadi dari kafe itu!!! hanya membantu nona ini ia harus melewatkan 9 triliun itu?! huh?! memang sudah gila " batin Kris yang menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang dan berat
" tapi sepertinya, penyakitnya itu bisa sembuh " ujar Kris bermonolog dan tersenyum menatap jalan raya didepan
lalu teringat " ah.. nona, dimanakah jalan menuju rumahmu? biar ku antar " tanya Kris dari balik kaca spion
" a..ah terima kasih banyak tuan, rumahku sudah tidak jauh lagi, apakah kau melihat toko bunga yang bercat biru muda itu? " tanya Rose yang menunjukan sebuah toko bunga yang tinggal beberapa blok didepan mereka
" ah iya...aku melihatnya " jawab Kris uang melihat toko itu
" syukurlah kalau tuan melihatnya.. tuan bisa menurunkan ku didepan situ saja dan sekali lagi terima kasih banyak dan maaf merepotkan tuan " ujar Rose di iringi senyum manis miliknya
dan ketika sampai, Rose turun dan mengucapkan terima kasih lagi lagi lalu masuk kedalam rumah kecil itu setelah mobil Jimin pergi dari pekarangan rumahnya. Dengan menaiki tangga ia dikagetkan dengan kemunculan tiga sosok wanita yang sedang duduk dengan menonton televisi dengan menangis, dak ketika ia menyalakan lampu ia terkejut melihat para sahabatnya ini yang melihat kearahnya juga dengan keadaan yang rambut berantakan, terdapat bekas air mata dan juga tisu berserakan dimana-mana dan ketika ia melihat ke layar televisi dengan wajah jengkelnya
" hueem....ternyata karena ini " ujarnya lalu duduk ikut menonton acar televisi itu.