
Jimin berjalan dengan menghela nafas berat karena rapat kali ini lumayan lama dan menguras tenaganya, dirinya melonggarkan dasinya dan menyisir rambutnya kebelakang, serta hari ini dirinya keruangannya agak kesiangan sehingga dirinya melupakan makan siangnya. Disaat dirinya membuka pintu ruangannya itu, ia malah melihat seoang gadis yang tertidur dengan lelap nya di sofa panjang miliknya itu.
Sesaat kemudian dirinya tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke meja kebanggaannya itu, yang ternyata terdapat sekotak makanan dengan sepucuk surat di atasnya yang bertuliskan
***Pak Presedir...
A.... nu untuk yang kemarin itu, aku sungguh minta maaf dan semoga bekal ini bisa membuat bapak bahagia...
Salam... Rose***
Jimin sedikit tertawa karena tingkah gadis ini benar-benar sudah diluar akal pikirannya, dilihatnya Rose yang tertidur manis itu, langkah kaki besar itu mengarahkannya mendekati Rose yang tertidur dengan nyenyak karena tak menyadari kalau ada orang yang masuk.
Kemudian dirinya berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis itu dan untuk sekali lagi tersenyum, mata hitam itu tak bisa berpaling dari wajah mungil Rose itu hingga tiba-tiba anakan rambut Rose terjatuh yang membuat wajahnya sedikit tidak terlihat, dan entah gerakan refleks atau hati yang menyuruh nalurinya itu untuk memperbaiki anakan rambut yang jatuh itu
Diselipkannya anakan rambut itu secara perlahan agar tidak mengusik Rose yang sedang tertidur, namun gumaman yang secara tidak sadar ia ucapkan itu membangunkan Rose
" cantik "
Dan Rose terbangun karena ada suara, karena kaget dirinya tidak melihat kalau Jimin berada didepannya itu, jadi kepala Rose menghantam wajah tak berdosa Jimin itu dengan sangat kuat yang membuat Rose tersadar dan kemudian sesegera mungkin mrmbungkuk dan meminta maaf
" ma maafkan sa saya pak, sa saya tidak melihat anda, saya akan menerima pukulan anda jika anda berkenan" ujar Rose yang takut kalau Jimin semakin marah padanya dan kemudian memukulinya
" *apa pak presedir akan memukuliku karena aku terlalu memiliki banyak kekurangan?? atau dua akan menendangku dan mengusirku keluar dari kantor???? atau dia akan menuntut ganti rugi??? ya tuhaaaan mengapa hidupku seperti ini " batin Rose
" ck, gadis bodoh! dia begitu ketakutan hingga gemetar seperti itu dan masih berkata mau menerima pukulanku?? lupakan saja " batin Jimin
" huh..dan entah kenapa otakku sekarang bermasalah...mengapa aku harus melihat wajahnya yang tertrkan seperti itu??!!! membuat orang merasa bersalah saja!! dasar gadis bodoh* "
" sudahlah, ini tidak sakit kok, kau pikir aku cowok lemah begitu?? " ujar Jimin yang melangkah mendekati mejanya dan menaruh jasnya dikursinya dan membuka kotak makan itu
" *astaga??? mengapa aku bisa lupa...aku belum makan karena msnunggu pak presedir datang..huuuh aku juga ingin makan tapi aku malu kalau mau minta "
" memang, apakah gadis itu tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya itu??? sangat terlihat kalau dirinya itu juga mau* "
" Rose, kemarilah " ujar Jimin yang menyuruhnya mendekat
" apakah pak presedir akan memberikanku makanan??? ahh tidak tidak aku memvuatnya untuk pak presedir makan bukan untukku "
" aku sudah makan pak presedir jadi anda tidak perlu menyu— "
ucapan Rose terpotong kerena Jimin yang memotongnya
Dirinya berkata tanpa melihat lawan bicaranya itu
" aku tidak tanya apa kau sudah makan atau belum, karena ini terlalu banyak kau yang habiskan saja aku sudah kenyang " ujarnya yang menaruh sumpit diatas mejadan menyuruh Rose untuk makan padahal dirinya sendiri belum makan apalagi menyentuh nasi itu
" benarkah? " tanya Rose dengan mata yang berbinar-binar
Jimin sedikit terpaku karena Rose sungguh cantik, tapi sesegera mingkin dirinya memalingkan wajahnya kearah lain yang membuat Rose bingung karena tingkahnya
Tapi detik kemudian Rose mengangkat kedua bahunya lalu duduk di dikursi Jimin dan memakan makanan buatan miliknya itu
Jimin memegang kepalanya dan menggelengkan nya disaat kemudian, ia berbalik dab melhat ketempatnya yang sudah diduduki Rose yang dengan lahapnya makan
Tapi entah kenapa kursi yang tak boleh bahkan tak bisa orang lain sentuh itu, sejak kapan bisa di duduki oleh seorang gadis yang sedang makan diatasnya
Bukannya kesal, dirinya bahkan terlihat sedang tersenyum menatap gadis itu
Dan kejadian langka itu disaksikan oleh seseorang yang sedang mengunyah hamburger ketika orang iru masuk tsbpa mengetuk dulu
Dab lebih anehnya, Jimin sama sekali tidak mengetahuinya terbukti dari...
" Jimin?? " panggil Zhehan yang berada di sofa miliknya
" sejak kapan kau datang " balasnya dengan memperbaiki pandangannya dan memasukan tangannya kedalam sakunya sembari menoleh kearah Zhehan yang terheran-heran itu
" jadi artinya dia tak merasakan kehadiranku?? " batin Zhehan yang terus bertanya-tanya ada apa dengan sahabat yang satu ini
" Come va? (Ada apa) " ujar Jimin yang kemudian duduk disamping Zhehan
" Il vecchio ha detto che sembrava che i nostri ordini di armi erano già hamlir pronto così ci ha detto di venire a vedere (Pak tua itu bilang sepertinya pesanan senjata kita sudah hamlir siap jadi dia menyuruh kita untuk datang melihat) " jawab Zhehan
Mereka sengaja memakai bahasa Itali agar Rose tidak tau apa yang mereka bicarakan, karena diperusahaan Jimin, standartnya adalah semua pegawai wajib tau bahasa inggris. Jadi karena mereka berdua memakai bahasa Itali Rose tidak akan tau apalagi curiga
Karena dilihat darimanapun Rose tetap tunduk dan mengunyah makanannya dengan seksama
" Quando lo farebbe? (Kapan?) " tanya Jimin yang melihat jam tangannya
" Domani mattina, ore due primi giorni (besok pagi, jam dua dini hari) " jawab Zhehan dengan mengunyah makanannya
" hm. Baiklah "
Kemudian Jimin bangkit dari duduknya, katena dirinya melihat Rose yang sekilas terlihat mengantuk akibat makan
Jimin bangkit dan mengangkat Rose yang setengah sadar itu keruang rehat untuk menghilangkan penatnya
" waaah~~~ kau memang paling mengerti.. Kau tau saja kalau alu sedang penat " ujar Zhehan yang mengikuti Jimin memasuki ruang rehatnya
Dirinya terlampau senang hingga ketika ia ingin melempar tubunhya kekasur besar itu...
Bukan kenyamanan yang ia rasakan melainkan sakit yang teramat sangat karena perutnya ditendang oleh Jimin tanpa perasaan
" ugh... Akrh... Apa yang kau lakukan?!! Kau mau membuatku mati?!!! " marah Zhehan yang sembari memegangi perutnya
" setidaknya kau belum mati "
" *ya tuhannnnnnn.... Apa yang kau perbuat dulu hingga mendapatkan karma yang seperti ini.... Ingin rasanya kau menghilang saja dari bumi in.... Aku tak sanggup "
" seharusnya yang marah kan aku karena ditendang bukan dia??! Kenapa di sini aku seperti orang jahat ya!!! "
**Tbc***.