
PLAK!!
Terdengar suara tamparan yang sangat kuat didepan pintu sebuah rumah bercat putih sederhana itu.
" Bibi...hiks..hiks aku memang tidak ada uang...hiks gaji terakhirku bibi sudah memakainya " tangis seorang wanita muda itu dengan kepala yang menunduk dan posisi yang sedang beelutut
" APA!!!! JADI KAU TIDAK MAU KASIH AKU UANG LAGI!!! DASAR ****** MURAHAN " murka wanita tua itu dengan terus memukul gadis malang itu dengan kayu balok
BUK!
BUK!!
BUK!!
" LIAN!! hentikan! Rose sudah berusaha semampunya untuk memenuhi kebutuhan hidup kita! jangan kau Bebani dia " ujar pria tua yang keluar dengan dibantu seorang gadis lainnya.
"Paman! sudah ku bilang didalam saja" panik gadis ini
Pria tua yang dipanggil paman ini berjalan mendekati gadis itu, dengan wajah yang bercucuran air mata,
" Rose....maafkan paman, paman tidak bisa membuatmu bahagia" tangis pria tua itu
" tak apa paman, aku sudah memaafkan paman kok" ujar rose dengan tersenyum
"HEH!! MASIH MAU MAIN DRAMA-DRAMAAN DISINI! BIKIN MUAK SAJA" ujar bibi rose melangkah masuk tanpa berempati sedikitpun terhadap Rose.
Dengan menahan sakit rose berusaha berdiri dengan keadaan yang gemetaran, melihat hal itu paman Rose berlari kearah rose dengan terengah-engah, dibantunya Rose berjalan dan menyuruh ia masuk kedalam membersihkan diri dari luka lebam dipunggung dan juga pipinya itu.
Terdengar gemericik dari kamar mandi kecil itu, terdapat Rose yang sedang melamun dan memikirkan ibunya yang sudah tiada, dan terdengar isak tangis yang sangat kecil itu terasa pedih dan juga memilukan. Setelah mandi dia turun dengan tubuh dan wajah yang terbalut perban, namun bibinya sama sekali tak mempedulikannya dan malah memarihinya lagi
" HEH! mandi aja kayak tuan putri!!!aku mau keluar dulu. Cari makan! Minggir!" ujar bibi dengan mendorong Rose hingga jatuh
Dan dorongan kuat itu membuat Rose jatuh dan luka dipunggungnya yang sudah diperban itu mengeluarkan darah lagi. Tidak berhenti sampai disitu, diinjaknya tangan mungil penuh perban itu hingga mengeluarkan warna merah
Dan tanpa perasaan bersalah, bibi Rose dengan entengnya berkata " UPS! makanya kalau duduk jangan dijalan dong! ". ujarnya berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Rose yang sedang meringis kesakitan
Dengan senyuman pahit rose bangun dan berusaha menahan sakit ditangan serta punggungnya, sekuat tenaga ia berusaha berjalan kearah dapur, pamannya yang melihat itu hanya mampu menangis karena tak dapat membantu Rose yang seperti saat ini.
Dengan susah payah Rose memasak sambil sesekali meringis kesakitan akibat luka ditangannya, setelah selesai memasak makanan untuk orang rumah, Rose menghidangkannya ke meja makan dan tak sengaja Rose menjatuhkan makanan dilantai akibat tangannya yang diinjak tadi gemetar dan terasa sangat dingin dan sakit.
Dengan gemetar dan keringat yang sudah membasahi tubuhnya, dengan cepat rose tak memperdulikan lukanya, yang penting bibi tidak marah padaku itulah pikiran Rose.
Hingga suara teriakan yang memanggil namanya "ROSE!"
Rose seakan membatu dan tak bisa mengeluarkan kata-kata, dia malah gemetar karena menahan tangisannya, suara yang selalu ada disaat ia lagi kesulitan.
Dengan membalikkan badannya " ka..kakak..hiks hiks" tangis Rose pecah dan segera berlari kearah gadis itu dan memeluk gadis yang berada diambang pintu itu dengan erat seakan mengatakan jangan pergi lagi
"hey..hey...kau kenapa Rose?" tanya gadis itu ketika melihat darah dari balik punggung baju milik Rose
"apa-apaan ini!! aku membiarkan kau tinggal disini karena kau yang memintanya! tapi ada apa tubuhmu ini!" marah gadis itu
Sambil mengangkat kepalanya "aku tak apa kak Ji Soo,"ujar Rose dengan tersenyum dan memeluk tubuh Ji Soo lagi
Yang selalu membuat Ji Soo kasihan pada gadis malang ini, selalu menderita, "dulu ibunya mati dan sekarang apa dia ingin mati juga" batin Ji Soo sambil menatap Rose penuh iba
Kaki Ji Soo masuk dan langsung dibawa ke kamar pamannya yang terbaring lemah diatas tempat tidur dengan ditemani pembantunya.
Kaki yang awalnya biasa saja itu mendadak lemas ketika melihat pamannya yang begitu kurus dengan kantung mata yang hitam dan bibir yang pucat membuat kesan seperti penderitaan.
Tangis Rose dan Ji Soo pecah ketika pamannya menyuruh mereka memeluknya untuk terakhir kalinya
" Ji Soo, Rose, kemarilah nak....peluk pamanmu ini untuk terakhir kalinya, paman pasti akan sangat merindukan kalian berdua " ujar paman dengan batuk berdarah
Dengan cepat Ji Soo maupun Rose berlari kearah pamannya dan memeluk dengan begitu erat disertai dengan Isak tangis dari keduanya
" paman.... jangan pergi " tangis Rose
" paman jangan meninggalkan kami berdua bersama bibi Li An, dia begitu kejam " sambung Ji Soo
" aiyo~...kalian masih mengatai bibi kalian sendiri hum? " ujar paman diiringi dengan mengusap-usap kepala gadis-gadis yang berada di dalam pelukannya dan sedang menangis yang sedang menangis d ini
" kalian begitu manis....paman tak tau apa paman bisa melihat kalian menikah " ujar paman dengan nada sedih
Dengan mengangkat kepala mereka keatas " paman jangan berkata seperti itu " jawab keduannya dengan bersamaan
###
" haha~~ iya, Ji Soo paman minta tolong padamu, jagalah Rose selama paman tidak ada, jika perlu bawa Rose ke tempat tinggal mu, paman tak akan lama lagi, uhuk! " ujar pamannya setelah menyuruh Rose mengambilkan air
" paman!! " jawab Ji Soo yang terus mengeluarkan air matanya dan langsung memeluk pamannya dan menganggukkan kepalanya didalam pelukan pamannya
Disaat dia mengangkat kepalanya untuk melihat pamannya, dia malah melihat pamannya sudah tak bernyawa lagi tetap tersenyum padanya
Dengan sekuat tenaga ia berusaha agar tak mengeluarkan air mata lagi dan membaringkan pamannya, setelah itu ia berbalik badan hendak memberi tahu kepada Rose kalau pamannya sudah tiada lagi tapi ia sudah melihat Rose yang berada diambang pintu itu mematung dengan mata yang bergetar dan menjatuhkan gelas air yang dibawanya untuk dikasih pamannya, tanpa berkata apapun dan tiba-tiba mengeluarkan cairan bening itu dengan deras dari pelupuk matanya yang sudah memerah itu.
Perlahan namun pasti, Rose merosot kebawah dengan tangisan pilu, membuat ji Soo ikutan menangis dan memeluk rose dengan erat berharap Rose bisa mengeluarkan kepedihan yang ia alami padanya
" ka..kakak..hiks..hiks...paman.. " ujarnya dengan tangisan keras dan tangannya yang gemetar menunjuk kearah pamannya yang sudah tak bernyawa lagi
" mulai hari ini aku yang akan menjagamu " jawab Ji Soo yang membuat rose tersenyum dan pingsan dipelukannya setelah mengucapkan terima kasih.
Detik itu juga, dengan sekuat tenaga Ji Soo membopong Rose keluar rumah dan meminta pertolongan pada warga disekitar untuk membawa Rose ke rumah sakit
Sesampainya di rumah sakit, rose langsung dibawa keruangan UGD untuk ditangani sesegera mungkin. Ji Soo mondar mandir di depan pintu ruangan UGD Rose, pikirannya kalut hingga tak tau ia akan menabrak seseorang.
" ah..oh, maafkan aku! aku tidak sengaja! maafkan aku " ujar Ji Soo yang menundukkan kepalanya
" ck, menghalangi jalanku saja, minggir sana! " bentak pria berpakaian formal itu
" cih, sudahlah " jawab pria itu lalu berlalu begitu saja
Dan disaat yang bersamaan dokter membuka pintu ruang UGD Rose,
dengan cepat Ji Soo menghampiri dokter dan bertanya bagaimana keadaan Rose
" dokter, apa adik saya baik-baik saja? " tanya Ji Soo cemas akan kondisi Rose
" nona, tenanglah adik nona tidak apa-apa tapi luka pada tubuh adik nona itu sangatlah parah apalagi luka yang berada dipunggung dan tangan adik nona, adik nona harus segera dioperasi secepatnya kalau tidak,..." dokter itu memberhentikan ucapannya
" kalau tidak? kalau tidak apa dokter?! " tanya Ji Soo yang penuh dengan emosi
" kalau tidak, adik anda akan kehilangan sebagian besar tubuhnya " lanjut dokter itu
Bagai disambar petir di siang bolong, hati dan raga Ji Soo seakan hancur berkeping-keping, ia menangis pilu dan terisak sungguh kuat, dia meredakan tangisannya dan mengelap sudut matanya yang mengeluarkan air mata itu dan berkata dengan gemetar seakan ada firasat buruk setelah ini
" lakukan operasi dokter, tolong selamatkan nyawa adik saya " ujar Ji Soo sambil memohon pada dokter
" baik nona, tapi nona harus menandatangani surat perijinan dari wali pasien dan tentang biaya operasi.. nona bisa ke resepsionis untuk melakukan pembayaran " ujar dokter sambil menyerahkan dokumen yang harus Ji Soo tanda tangani.
" eh, dok, kalau saya boleh tau kira-kira berapa biaya operasi adik saya ya? " tanya Ji Soo ragu-ragu
" kalau biaya operasi saya kurang tau nona, tapi kalau kira-kira bisa 25 jutaan lah, kalau begitu saya pamit duluan " jawab dokter
Firasat buruk yang ditunggu-tunggu Ji Soo pun datang..
"apa? 25 juta? apakah aku sanggup membayarnya? "
"bagaimana aku harus mendapatkan 25 juta?"
"sedangkan hasil dari toko bungaku itu tidak juga mencapai seperpat dari 25 juta ini?!"
"tapi kalau aku tidak menandatangani ini Rose bisa mati?"
Terus berpikir hingga suara pria itu mengagetkan dirinya yang sedang melamun.
" dok, biayanya biar saya yang tanggung " ujar pria yang tadi ditabrak Ji Soo
" tuan muda Jin?! saya tidak tahu kalau itu adalah anda jadi maafkanlah kesalahanku " ujar dokter dengan gemeteran dan terus menunduk takut akan melihat mata tajam berwarna hitam pekat itu
" jangan basa basi, lakukanlah operasi sekarang " ujar Jin dengan nada dingin
" baik tuan " jawab dokter dengan buru-buru masuk keruang UGD
Dan tersisa Ji Soo dan tuan muda Jin, karena suasana yang canggung dan sunyi, Ji Soo memulai pembicaraan dengan
" makasih ya " ujar Ji Soo tersenyum
" aku akan membayarnya kembali, jadi kalau kau perlu apa-apa pergi ke alamat ini, aku disana setiap waktu " lanjutnya sambil memberikan kertas yang ia tulis dengan senyum
Sambil menerima kertas ungu muda itu, Jin tersenyum tipis dan memasukannya kedalam saku jas hitam miliknya.
" aku harus memanggilmu apa? " tanya Ji Soo seakan bebannya sudah hilang dan berharap kalau Rose baik-baik saja
" Jin " ujar Jin padat, singkat dan jelas
" oh, oke, makasih Jin " jawab Ji Soo dengan tersenyum cerah
Senyuman manis itu mampu membuat Jin tersipu malu dan sesegera mungkin dia membuang muka kearah lain agar Ji Soo tak melihat melihat rona merah itu.
Dan Jin pamit pergi duluan karena ada urusan dan Ji Soo membiarkannya pergi dan menunggu hasil Rose.
Setelah 2 jam menunggu dokter muncul dengan tersenyum
" apa adik saya baik-baik saja dok? " tanya Ji Soo
" adik anda selamat dan mungkin setelah seminggu keadaanmu akan membaik " jawab dokter
" ah.. syukurlah....makasih dok " jawab Ji Soo
Dan Ji Soo memasuki ruangan Rose, terlihat keadaan Rose yang sangat jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan Rose belum bangun, jadi Ji Soo menemaninya semalaman untuk menunggu Rose terbangun.
Pagi buta sekitar pukul 02: 23 a.m Ji Soo terbangun karena dering handphonenya yang terus-menerus berbunyi, dengan sedikit kesadaran ia mengangkat telfon itu tanpa tau siapa yang menelponnya.
" Halo? " ujar Ji Soo dengan mata tertutup
" HALO!! Ji Soo! kau ada dimana? cepat kesini sekarang juga! aku melihat bibi mu marah besar karena kau mengambil Rose darinya!" terdengar teriakan seorag gadis
" APAAAAA?! oke aku akan kesana jadi kau pergi kerumah sakit Wu sekarang!!" ujar Ji Soo sambil mengambil tasnya dan berlari kebawah untuk mencari taksi
" siapa yang sakit Ji Soo?!" tanya gadis ini
" ROSE!! ROSE , LISAA! dia dipukuli oleh bibi Li An lagi!!!!!" ujar Ji Soo sambil memasuki taksi
" Apaaa?! dasar gadis itu, sudah kubilang pindah saja dari tempat itu! tapi dia bersih keras karena paman sedang sakit! " ujar Lisa sambil ngos-ngosan seperti berlari.
Seperti mengingat sesuatu Ji Soo berkata "Ah! iya! pemakaman paman !!! Lisa tolong jaga Rose, aku mau ke pemakaman paman sekarang, sudah dulu, bye " dan dengan cepat Ji Soo menutup panggilan secara sepihak
Dan ketika sudah turun dari taksi ia langsung dengan cepat pergi ke pemakaman pamannya.
Tapi ia tak sempat melihat pamannya untuk yang terakhir kalinya karena ketika ia sudah datang, peti mati pamannya sudah dimasukan kedalam tanah yang membuatnya kaget, namun ia sudah berjanji pada pamannya agar bisa melindungi Rose, untuk melindungi Rose ia sendiri harus kuat.
Dan terlihat dari dekat bibi Li An yang duduk disalah satu kursi itu menangis tersedu-sedu seakan baru kehilangan suaminya, padahal dirinya sama sekali tidak suka dengan suaminya sendiri. Itu semua hanyalah sebuah trik liciknya untuk menarik simpati para tetangga untuk memberi pemasukannya.
" ck, dasar rubah licik akan kubuat kau menderita karena menceritakan paman dan juga Rose " geram Ji Soo yang mengepalkan tangannya