
Setelah selesai Kai langsung mengambilnya dan kembali duduk untuk menegak habis susu itu, Lia masih sibuk dengan mie yang dia masak, selain itu kedua tangannya selalu saja beradu lihai dengan pisau dan bahan-bahan makanan yang ada. Kai yang sedari tadi memperhatikan Lia malah ikut larut dalam kegiatannya itu, sedangkan Lia
yang sadar dipandangi sedari tadi lebih memilih diam dan mengacuhkannya, hingga mie yang Lia buat sudah masak.
“ Ahh, selamat makan!!” Ucapnya dengan santai tanpa mengingat kalau Kai ada didepannya, Kai yang melihat Lia makan dengan santainya tanpa menghiraukan keadaannya membuat Kai mengulum senyum. Dia tidak salah orang, sosok Lia memang sangat menarik untuk diamati.
“ Jadi, sekarang aku bisa cerita?” Tanya Kai yang membuat Lia behenti sejenak dari kegiatannya, menfokuskan dirinya pada Kai yang sedang asik menatapnya. Lia mengangguk sejenak kemudian bangkit dari duduknya, mengambil sekotak susu strowberry dari lemari es dan membuka oven yang sudah berdenting, diambilnya biskuit yang masih hangat dan baru keluar dari panggangan kemudian diletakannya pada piring dan diberikan kepada sang tamu.
“ Kalau cerita lebih enak sambil makan..” Ucap Lia dengan sebuah senyum yang terukir lembut diwajahnya, Kai terpana, ini pertama kalinya dia melihat Lia tersenyum tulus. Bukan senyum manis yang sering dihadiahkan pada penonton, apa lagi senyum lembut yang sering dia berikan pada banyak orang, kali ini Lia benar-benar tersenyum tulus yang keluar dari sosok Lia.
“ Thanks..” Ucap Kai membalas senyum Lia, Lia kembali duduk dan menyantap makanannya sembari menatap Kai dan menunggu sosok didepannya untuk bicara.
“ .....”
Lagi-lagi hening menyapa, Lia masih sibuk dengan makanannya dan Kai masih sibuk memutar otak, berpikir akan mulai menceritakan dari mana. Padahal Lia sudah berbaik hati mau mendengarkan ceritanya, tapi dia malah sibuk dengan pikirannya sendiri.
“ kau bisa bicara kapan saja dengan kegelapan..” Ucap Lia yang sudah selesai dengan kegiatannya, Kai mendongak dan menatap Lia yang juga sedang balik menatapnya, mencoba memberikan kepercayaan kalau dia bisa melakukan apa saja.
“ Hm, semua dimulai sejak pertemuan kita 2 atau 3 bulan yang lalu...” Ucap Kai membuat Lia mengulum senyum, akhirnya penantiannya berujung juga, kalau begini dia bisa kembali dengan kegiatan makannya dengan tenang.
Kai mulai menceritakan masalahnya sedangkan Lia kembali fokus dengan acara makan mie instannya, Kai menceritakan bagaimana sulitnya dia mencari orang yang dia amati, juga betapa sulitnya membujuk orang itu apalagi menyakinkan dosennya untuk tetap percaya padanya. Selain itu juga karena teman-temannya yang memintanya untuk menyerah dan mengganti judul penelitiannya, Lia yang sedang makan hanya diam dan mengangguk tanda mengerti dan menjawab seperlunya, atau kadang memberikan candaan ataupun kata-kata penyemangat untuk Kai.
Ya, semuanya berjalan dengan baik, rasanya seakan dunia milik berdua semua, kegelisahan Kai menghilang hanya karena melihat wajah datar Lia, sedangkan Lia merasa rumahnya begitu hangat hanya dengan kahadiran sosok Kai didalamnya. Percakapan ringan terus berlanjut selepas Kai selesai bercerita, hinggaLia selesai menghabiskan makanannya, bahkan biscuit dan susu strawberry yang dia berikan pada Kai sudah tandas.
Mereka masih melanjutkan percakapan dengan posisi Lia yang kini memungguni Kai, Lia disibukkan dengan acara memasaknya. Karena terlalu larut dalam cerita Kai hingga ia lupa kalau jam pulang sekolah akan segera tiba, hingga membuat gadis itu panik bukan main akan tetapi tetap berusaha tenang dan melakukan semua pekerjaanya
dengan benar.
Lia terus mempercepat kegiatan memasaknya, menguleni adonan, memotong sayuran, menggoreng dagin dan sebagainya. Sedangkan Kai masih bercerita sembari memandang punggung kecil Lia yang nampak kokoh. Waktu berlalu dan akhirnya semua hidangan tersaji dengan indah diatas meja.
“ Eh??” Lia refleks mundur, namun Kai terlanjur meletakkan tangannya ke pipi sebelah kanan Lia dan mengusap lembut wajah cantik yang kini tertutup oleh butiran tepung.
“ Huh, dasar kamu ini..”ucap Kai sembari terkekeh setelah menghapus butiran tepung yang melekat diwajah cantik Lia. Lia masih terpaku dalam diam, bingung tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Kai sedangkan Lia kini masih sibuk dengan debaran jantungnya yang tidak terkendali, seakan dirinya baru saja marathon keliling 10 putaran dilapangan.
Kai kembali duduk dan membuka ponselnya, sedangkan Lia yang baru tersadar langsung membalikkan tubuhnya dengan pipi yang bersemu merah. Setelah dirasa cukup tenang Lia mengambil nafas kemudian membalik tubuhnya dan menatap kearah Kai yang sepertinya sedang asik dengan ponselnya. Jujur ia merasa aneh dengan debaran tidak normal dan persaan asing yang sempat menghampirinya, tapi ia pilih untuk acuh dan mengabaikannya.
“ A-apa yang kamu lakukan!!????” Pekik Lia tidak terima, Kai menoleh sejenak dan mengukir senyum lembut pada Lia. Lia masih menatapnya penuh tanya, Kai masih tidak berniat menjawab dan lebih memilih untuk bangkit dari
duduknya mengambil tas yang tergeletak dikursi dan menyampirkannya dipundak.
“ Kalau begitu sebaiknya aku pulang, terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku ” Ucap Kai dengan santai sedangkan Lia malah berdecak kesal dan menatap nyalang pada Kai.
“ Ck, ya sudah sana pergi syuh~syuh~~”Usir Lia yang membuat kai terkikik geli. Kai melangkahkan kakinya pergi sampai ke depan pintu, diikuti sosok Lia yang mengantar kepergiannya. Setibanya dipintu, Kai berhenti sejenak, berbalik dan menatap Lia sejenak.
“ Haha, sebaiknya kamu cuci wajahmu..” Ucap Kai lembut membuat Lia langsung menyentuh wajahnya dengan spontan, diusapnya pipi kanannya dengan cepat kemudian ditatapnya telapak tangan yang putih akan tepung membuat Lia membelalakkan kedua bola matanya. Jadi tadi Kai meratakan bercak tepung yang ada di wajahnya?
“ Kenapa tidak bilang dari tadi!!!!!!!??????”Pekik Lia sembari melayangkan pukulan ke dada kai bertubi-tubi, Kai hanya terkikik geli kemudian melangkahkan kakinya pergi dari Lia yang sibuk merutuki dirinya. Sedangkan Lia memilih untuk kembali masuk dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Dan ya, ternyata ada seseorang yang
mendapati kegiatan itu tanpa sepengetahuan Lia.
Lia segera membasuh wajahnya kemudian menatap wajahnya di cermin, Lia sedikit terkejut mendapati sebuah senyum kecil terukir diwajahnya. Setelah selesai dengan acara mencuci wajahnya Lia memilih untuk melangkahkan kakinya, tapi baru saja dia akan keluar sudah ada seseorang yang dia menunggunya di depan pintu kamar mandi
dapur.
“ Aku pulang!” Ucap orang itu membuat Lia mengembangkan sebuah senyum palsu, Lia melangkahkan kakinya dan mendekati sosok itu.