X

X
a



“ udah nanti aja, sekarang jaketnya mana?” pinta Kai


tergesa, Dika berjalan menuju lemari kemudian mencari jaket miliknya yang


paling kecil dan nyaman. Dan ya pilihannya berakhir pada sebuah jaket bomber


berwarna putih miliknya.


“ nih, kalau udah balikin” ucap Dika mengingatkan Kai, siapa


tau Kai akan menyimpannya?


“ iya bawel!” ucap Kai yang langsung pamit pergi membuat


teman-temannya hanya melongo.


●ꙍ●


BRAKK


Suara dentuman pintu membuat Lia terkejut dna refleks


menoleh kea rah sumber suara tersebut, dia mendapati Kai yang berlari kecil ke


arahnya sembari membawa jaket bomber berwarna putih dilengannya. Lia mengernyit


heran, dia bingung untuk apa Kai membawa jaket jika dia sudah memakai sebuah


hoodie tebal yang nampak hangat.


“ ngapain aja sih? Lama banget!!” keluh Lia yang sudah


menunggu hampir 15 menit diluar sana, Kai memasang cengiran tidak bersalah


kemudian menyerahkan jaket itu pada Lia.


“ apa?” Tanya Lia bingung, dia masih tidak mengerti kenapa


Kai memberikan jaket itu untuknya.


“ diluar dingin, pakai ini!!” titah Kai yang membuat Lia


membolakan matanya terkejut. Dalam pikirannya Kai tidak sebaik itu untuk


menjadi orang asing.


“ thanks…” gumam Lia sembari mengambil jaket itu dan


memakainya, setelah memakainya Lia memperhatikan dirinya yang tenggelam dalam


jaket itu.


Urgh ini terlalu besar~~~ batin Lia.


“ ayo!” ucap Kai yang sudah berada diatas motornya, Lia


bahkan tidak sadar sejak kapan Kai ada disana. Jadi dia langsung saja naik dan


mendudukkan tubuhnya diatas motor besar Kai.


Kai melajukan


motornya membelah jalanan malam dengan kecepatan tinggi, melupakan sosok Lia


yang sepertinya sangat menikmati acara menantang maut itu. Kai terus saja


melajukan motornya sementara Lia lebih memilih menikmati suasana malam, tanpa


sadar dia sudah melingkarkan lengannya dipinggang Kai membuat Kai menurunkan


kecepatannya perlahan.


Terkejut dengan


tingkah Lia, Kai melirik dari kaca spionnya, melihat gadis cantik yang kini


tersenyum damai sembari mengedarkan padangannya ke sekeliling. Lia yang sadar


kalau kai memperlambar laju kendaraannya juga ikut menoleh dan menatap punggung


Kai bingung.


“ kau takut?” tanya Kai yang membuat Lia tertegun,


dia melepaskan pengangannya kemudian menyilangkan lengannya didepan dada,


mempoutkan bibirnya dan menatap Kai kesal. Padahal jarang-jarang dia bisa


santai dengan orang lain selain Hans, atau Ray, tapi Kai malah membuatnya malu.


“ huh,


menyebalkan!!” ucap Lia setengah kesal, Kai terkekeh pelan kemudian menaikkan


laju kendarannya sedikit membuat Lia terkejut dan langsung memeluk pinggang


Kai.


“ pegangan, ntar


lu jatuh..” ucap Kai sembari terkekeh, Lia masih mempoutkan bibirnya sembari


mengeratkan pelukannya pada pinggang Kai, membuat Kai mengembangkan senyumnya


lebar.


Perjalanan


dilanjutkan dengan keheningan antara Kai dan Lia, keduanya masih sibuk dengan


urusan amsing-masing. Lia yang menikmati malam, dan Kai yang masih terlalu


senang karena dipeluk Lia. Tidak lama kemudian Kai menghentikan laju motornya


disebuah tempat yang dipenuhi dengan deretan warung-warung dari tenda yang


berdiri kokoh.


Lia mengedarkan


pandangannya, dia tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Hans tidak pernah


membawanya pergi ke tempat seperti ini, dan dia tidak pernah keluar ataupun


datang ke tempat seperti ini. Lia menoleh dan menatap kai yang nampak begitu


bersemangat, sedangkan dirinya mulai mengeratkan gengamannya pada konsol


“ ngapain ke sini


kak?” tanya Lia bingung, Kai mengernyitkan dahinya kemudian terbesit sesuatu


dipikriannya.


“ lu gak pernah


makan di warung pinggir jalan?” tanya kai yang masih memandang bingung Lia, Lia


mengangguk pelan sedangkan Kai menepuk jidatnya pelan.


“ mau


melihat-lihat?” tanya Kai yang mendapat anggukan ragu dari Lia, Kai mengulurkan


tangannya dan Lia mengandeng ujung jaket Kai dengan ragu.


Kai membawa Lia


mengelilingi setiap warung yang ada, Lia mengedarka pandangannya terpukau


dengan keramaian yang ada disana, membuatnya sedikit merasa lega dan melupaka


sejenak rasa takutnya. Bahkan memori mengenai ruang isolasi yang menyiksa, juga


sosok Lia kecil yang menghantui bahkan skizofernianya mulai ia lupakan untuk


sejenak.


Kai menikmati


acara date? Acara jalan-jalan malamnya bersama Lia, bahkan ia melupakan


perutnya yang keroncongan sedari tadi. Lia menghentikan langkahnya, dia masih


fokus dengan penjual permen kapas yang menarik minatnya. Kai ikut berhenti


kemudian memperhatikan Lia yang masih fokus dengan penjual permen kapas yang


tidak jauh dari sana, Kai mengembangkan senyumnya.


“ mau beli permen


kapas?” tanya Kai yang dibalas gelengan kecil dari Lia, Kai mengernyit heran.


“ beneran gak


mau?” tanya Kai lagi yang dibalas dengan gelengan lagi dari Lia.


“ lu gak liat


bang, anak kecil itu bisa bahagia hanya dengan hal yang sederhana. Sedangkan


orang dewasa yang sudah melalui pahit manisnya kehidupan malah memilih hal yang


sulit dicapai hanya untuk memenuhi gengsi mereka...” ucap Lia mengalihkan


pembicaraan, tapi pandangannya masih tidak lepas dari penjual permen kapas itu.


“ ya udah, lu


udah makan apa belum?” tanya Kai yang dibalas lagi dengan gelengan dari Lia.


“ lu mau makan sesuatu?” Tanya Kai yang dibalas lagi dengan


sebuah gelengan.Jujur Lia tidak tau apapun tentang tempat ini, jadi dia memilih


untuk diam dan bergantung pada kai untuk kali ini.


“ hm, gimana kalau kesana! Itu tempat favorit gw disini!”


ajak Kai yang dibala dengan anggukan kecil dari Lia, Kai tersenyum kemudian


membawa Lia pergi menuju ke salah satu warung yang tidak jauh dari sana.


“ buk, pesen baksonya dua!!” ucap Kai yang memesan 2 porsi


bakso untuk dirinya dan Lia, Lia mengedarkan pandangannya dan memperhatikan


sekeliling. Kai yang mendapati Lia masih memperhatikan sekitarnya tersenyum


kecil.


“ ayo duduk!” ajak Kai menarik Lia ke salah satu meja yang


kosong, keduanya duduk bersebelahan. Lia menghela nafas kemudian mengeluarkan


konsol Nintendo miliknya dan menyalakannya, Kai sedikit terkejut mendapati


seorang gadis manis membawa dan memainkan Nintendo, jadi dia ternganga sembari


menatap Lia tidak percaya.


“ kenap?” Tanya Lia yang sadar kalau sedari tadi dirinya


tengah ditatap oleh kai, Kai meneguk ludahnya kasar kemudian mencoba mengambil


nafas pelan dan membuangnya.


“ lu bisa main?” Tanya Kai agak ragu, Lia mengangguk kecil


sebagai jawaban.Matanya sedari tadi tetap menatap layar konsol gamenya,


jemarinya terus menari menekan setiap tombol dan menciptakan kombinasi


serangan.


Kai masih tertegun melihat skill Lia yang bisa dibilang


snagat luar biasa, lia acuh dan memilih bermain dengan tenang bahkan hingga


pesanan mereka tiba dan Lia masih focus dengan konsolnya, membuat Kai


geram.Jadi dia mengambil konsol game Lia dan menyitanya untuk sesaat.


“ oi lu ngapain?” Tanya Lia kesal, dia paling tidak suka


jika dirinya diganggu saat bermain game.


“ harusnya gw yang Tanya lu ngapain, bukannya makan malah


main?”balas kai tak kalah tajam, Lia berdecih kesal kemudian mengulurkan


tangannya, meminta konsolnya dikembalikan.