X

X
Banana milk? I has Strawberry milk.



Laki-laki yang memperkenalkan dirinya dengan nama kai itu tengah duduk di halte sembari memandang kosong jalanan dengan wajah kusut dan nampak kesal, juga sedih... mungkin? Lia  menghela nafas sejenak, dia ingin sekali langsung pergi dari sana kemudian pulang dan menyantap mie instan yang akan dia buat sedangakan


pikirannya ingin sekali meringankan beban sosok itu walau hanya sedikit.


“ Argh, seharusnya aku menghilangkan kebiasaan ini dari dulu!!??” Keluhnya kesal, Lia mulai memperhatikan kanan dan kirinya kemudian melangkahkan kakinya ke sebrang jalan. Lebih tepatnya ke arah halte tempat dimana Kai sedang duduk.


“ Yo..” Sapa Lia yang baru saja tiba dan mendudukkan tubuhnya disamping Kai. Lia melirik dari ekor matanya dan mendapati Kai terkejut bukan main, namun setelahnya Kai nampak menghela nafas lega kemudian mengukir senyumnya.


“ Lama tidak bertemu ya, uhm…Lia?” Ucapnya setengah ragu, Lia mengangguk untuk memberikan jawaban


sekaligus membenarkan pertanyaannya. Walau agak kesal karena nama kecilnya dipanggil oleh orang asing, dan ya sebelumnya tidak ada orang asing yang memanggilnya degan julukan itu, bahkan fansnya juga masih memanggilnya dengan nama ‘Alya’. Kai nampak mengukir senyumnya lembut kemudian menoleh dan menfokuskan atensinya pada jalanan sepi didepannya.


Keduanya masih terdiam, Lia masih sibuk dengan keinginannya yang ingin segera pulang sedangkan Kai masih sibuk dengan kegundahan hatinya. Keduanya terus terdiam sampai waktu berlalu beberapa menit, Lia sebenarnya sudah ingin beranjak pergi karena Kai diam saja dari tadi. Tapi saat Lia baru saja ingin bangkit dari duduknya, suara Kai mengalihkan atensinya.


“ Uhm..Lia?” Panggil Kai membuat Lia menghela nafas karena aksinya kabur gagal. Lia menoleh sejenak dan mendapati Kai yang masih asik melihat jalanan.


“ Apa?” Tanya Lia ketus, sebenarnya bukan hal yang baik jika Lia menjawabnya seperti itu tapi mau bagaimana lagi, Lia terlanjur kesal dengan makhluk disampingnya.


“ Haha, sepertinya kamu masih kesal padaku..!?” Ucapnya dengan nada tanya, Lia berdehem sebagai jawaban. Kini Lia juga ikut memandang jalanan, mencari sesuatu yang menjadi fokus Kai sedari tadi.


“ Jadi…ada masalah apa?” Tanya Lia to the point, dia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Kai menoleh seketika, matanya sedikit membola kaget dengan pertanyaan Lia.


“ Hehh, apa aku seburuk itu?” Tanya Kai yang diikuti dengan tawa kecil dibelakang, Lia berdecak kesal. Ya Lia kesal karena pertanyaan Kai, Lia berpikir sebenarnya apa yang sedang ada dalam pikiran orang disebelahnyavini sampai-sampai dia harus mengatakan hal seperti itu pada Lia yang merupakan seorang pesulap?


“ Ya, kau sangat buruk!!!” Maki Lia tanpa sadar, sungguh dirinya teramat kesal. Sudah sedari tadi menahan lapar, dan sekarang ada orang yang tengah membakar api dibawah emosinya.


“ hHh, sepertinya aku benar-benar buruk? Bahkan kau juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh mereka…” Ucap Kai dengan sendu, kini atensinya tidak mengarah pada jalanan didepannya melainkan pada langit biru diatas sana. Kai mendongak dan menatap langit cerah tanpa awan dengan sebuah senyum pasi yang terukir di wajahnya.


Lia berdecak kesal, kemudian ikut mendongak menatap langit. Untuk sesaat rasa kesalnya hilang, entah karena apa Lia tidak tau, mungkin karena langit biru yang indah dan menenangkan. Sedangkan Kai masih sibuk dengan


angannya, dan beberapa kali Lia melirik ke arah Kai yang masih menatap langit dari ekor matanya.


“ Kalau kau tidak ingin mengatakannya, ya sudah. Lebih baik kau pendam saja sendirian. Aku mau pulang!” Ucap Lia yang sudah tidak bisa menahan dirinya, mungkin efek kelaparan yang membuat mood-nya hancur. Lia mencoba bangkit dari duduknya, sedangkan Kai masih memandang langit.


“ Kalau begitu apa aku boleh menyuarakannya pada kegelapan..” sSebuah pernyataan meluncur dari mulut Kai, jemarinya menahan ujung kaos yang lia kenakan, sedangkan Lia yang baru saja akan berjalan harus berhenti karena merasakan sebuah tarikan dari belakang.


baik ia makan bersama orang asing daripada mendengarkan cerita dengan perut kosong.


“ Apa boleh?” Yang dibalas dengan pertanyaan dari Kai, mungkin Kai sadar kalau yang Lia lakukan ini sungguh tidak baik. Dan mungkin Kai ingin memperingatkan Lia kalau dia tengah mengajak orang asing ke rumahnya.


“ Hm, kalau tidak mau ya sudah..” Ucap Lia dengan santainya, Kai mendongak sejenak menatap Lia ragu sembari mencari kebohongan dibalik manik gelap itu. Tapi nyatanya Lia berkata jujur, tidak ada apapun yang disembunyikan


oleh gadis manis itu.


Kai menghela nafas lelah kemudian ikut melangkahkan kakinya pergi menuju ke tempat Lia tinggal, sedangkan Lia sendiri tengah sibuk dengan keinginannya untuk segera pulang dan menyantap makanannya, selain itu sebentar


lagi waktu makan siang tiba Jadi, Lia harus segera pulang dan memasak.


.


.


.


Tidak butuh waktu lama untuk tiba di kediaman Lia, mengingat jarak mini market tadi dengan rumahnya hanya beberapa kilo meter, jadi mereka tidak perlu berjalan terlalu jauh. Setibanya di rumah Lia langsung masuk dan


meletakkan barang belanjaannya ke atas meja, sedangkan Kai masih sibuk mengamati interior rumah Lia.


Kini keduanya berada diruang makan, Lia mulai menyiapkan amunisinya untuk bertempur ( memasak ) sedangkan Kai hanya duduk diam dikursi sembari memandangi punggung kecil Lia yang sedang sibuk dengan acara memasaknya. Hening melanda untuk beberapa lama, hingga sebuah suara keluar dari bibir Lia.


“ Lu suka kopi atau teh?” Tanya Lia yang membuat Kai berhenti sejenak dari lamunannya, dia memandang Lia yang tengah menatapnya sembari membawa 2 stoples kaca berukuran kecil yang berisi bubuk kopi dan teh.


“ Hm, ada susu pisang apa nggak?” Tanya Kai yang membuat Lia syok seketika, kedua bola matanya membesar dan mulutnya ternganga dengan tidak elitnya. Kai melihat ekspresi itu, untuk pertama kalinya Kai melihat Lia berekspresi. Bukan dalam artian Lia yang selalu bersikap dingin dan memiliki wajah datar bak tripek, yang Kai maksud disini adalah Lia yang benar-benar tulus berekspresi, dan bukan topeng menyebalkan yang selalu menghiasi wajah cantik itu setiap hari.


“ Be-bentar, lu becanda kan!!!????” Tanya Lia tidak percaya, Kai hanya bisa mengulum senyum sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melihat hal itu Lia hanya bisa menghela nafas setelah mencoba menetralkan ekspresinya.


“ Se-serius???” Tanya Lia lagi yang dibalas dengan anggukan oleh Kai, sungguh Lia tidak percaya. Seorang laki-laki 20 tahun dengan wajah tampan, tubuh yang proprosional, dan otot bisep yang terlihat jelas meminta susu pisang?? Sungguh lucu!!


“ Di lemari es cuma ada susu strawberry, kalau lu mau ambil aja sendiri, kalau ngak ya udah” Ucap Lia santai, dia lebih memilih untuk kembali bergulat dengan dapur sedangkan Kai memilih untuk membuka lemari es dan mulai mencari keberadaan susu strawberry  yang dimaksud Lia.