X

X
a



“ Hans bisakah kau berhenti sejenak? Telingaku sudah panas mendengar


ocehanmu..” ucap Lia sembari


mengorek telinganya santai.


“kau! Ck, harusnya kau yang berhenti bersikap seperti


ini!!!!”


“ kau membuatku takut, Lia…” ucap hans sendu, dia tidak


berani menatap wajah Lia. Dia kesal bukan main, padahal menghkawatirkan


seseorang juga membutuhkan banyak energi, dan menghkawatirkan Lia membutuhkan banyak energy.


“ hahh, iya-iya~~”


“ aku minta maaf, aku salah..” ucap Lia setengah menyesal


membuat Hans berdecak sebal.


“ hahhh, sudahlah!” Hans menghentikan laju kendarannya


ditepi jalan, setelahnya menyandarkan tubuhnya lelah.


“ apa kau sudah mempersiapkan world tour-ku?” Tanya Lia santai,


dia menatap Hans yang kini nampak kesal, sangat-sangat kesal.


“ hm, aku sudah mempersiapkan semuanya, persiapannya sudah


hampir 65%” ucap hans memijat keningnya, Lia mengangguk tanda paham.


“ oh ya Hans, bisa aku minta satu hal lagi?” Tanya Lia yang


langsung diangguki Hans tanpa pikir panjang.


“ aku ingin mengambil ujian kelulusan lebih awal” ucap Lia


yakin, Hans membolakan matanya kemudian menatap Lia tidak percaya. Gadis yang


tidak pernah serius dalam sekolah kini benar-benar akan menyelesaikan pendidikan


tingkat SMA-nya.


“ kau serius, Lia?” Tanya Hans sembari menatap gadis manis


itu lamat, Lia mengangguk pelan sebagai jawaban. Hans menghela nafas pelan,


kemudian mengangguk paham.


“ kalau begitu ayo pulang!!” ucap Lia yang langsung


diangguki oleh Hans, dia menyalakan mobilnya dan kembali melajukannya dijalanan


malam.


Ya, hari sudah malam. Karena Hans sibuk disekolah sejak pagi


jadi dia tidak punya pilihan lain selain menjemput Lia dimalam hari, dan ya ini


membuat Lia kesal bukan main. Seharusnya dia bisa keluar dari tempat mengerikan


itu sejak pagi, tapi karena Hans tidak bisa menjemputnya dan dia harus ditahan


lebih lama diruang isolasi yang mengerikan itu.


●ꙍ●


CKITTT


Rem diinjak dengan pelan, Hans menghentikan mobilnya tepat


berada di depan rumah Lia. Dia memarkirkan mobilnya didepan halaman sedangkan


Lia masih sibuk berkutat dengan Nintendo miliknya yang baru saja dia dapati


dari Alex.


“ lia kita sudah tiba!!!” ucap Hans sedikit kesal karena Lia


mengacuhkannya sedari tadi.


“ ah sebentar lagi” ucap Lia sembari menekan setiap tombol


di Nintendo miliknya, Hans berdeca kesal sembari melepas sealbeltnya. Lia masih


diam tidak peduli hingga..


“ Hans…apa yang kau lakukan?” Tanya Lia mendapati hans suda


berada didepannya, jarak antara keduanya begitu dekat akan tetapi Lia masih


stay calm, tidak terpengaruh dengan tubuh Hans yang berjarak beberapa centi


dari wajahnya.


KLIKK


Seatbelt Lia terlepas, dan pelakunya adalah Hans.Lia


menghela nafas lelah, membuka pintu mobil dan berjalan keluar sembari focus


bermain dengan ponselnya. Hans berdecak kesal melihat tingkah Lia yang tidak


berubah sedikitpun sejak dulu, akan tetapi mau bagaimana lagi. Gadis itu sangat


sulit untuk diubah, mungkin karena sudah terlalu sering mengubah dirinya dan


menyesuaikan dengan keadaan sehingga Lia juga sudah terbiasa untuk melupakan


jati dirinya.


Hans memandang Lia malas, dia menatap punggung ringkih gadis


manis yang kini berjalan masuk ke rumah, saat Lia sudah masuk Hans menghela


nafas pelan, menyalakan mobilnya kemudian kembali melajukannya menuju ke


appartemennya.


Sedangkan Lia saat ini baru saja selesai melepas sepatunya


dan berjalan masuk, Lia mematikan gamenya dan memilih untuk mencari Ray. Ya itu


niatnya sebelum mendapati Ray tengah duduk berdua dengan Karina dipangkuan Ray,


dan posisi Ray yang memeluk poseseif Karina juga kepalanya yang disandarkan ke


ceruk leher karina membuat Lia terkejut bukan main, bahkan sampai menjatuhkan


konsol Nintendo yang dia pegang sedari tadi membuat Ray dan Karina menoleh


“ ah, m-maaf kalian lanjutkan saja!!!” ucap Lia yang


langsung memungut konsolnya dan berlari keluar rumah. Dia sempat mengambil


sepatunya kemudian mendudukan tubuhnya didepan pintu rumahnya, Lia masih


memutar adegan tadi dikepalanya membuatnya bergumam tidak jelas seperti orang


kesetanan.


“ eh, Lia?” panggil seseorang yang membuat Lia mendongak,


Lia mendapati Kai yang sedang berdiri didepan pintu kosannya sembari menatapnya


bingung.


“ oh kak Kai” balasnya ramah, dia memakai sepatunya sejenak


kemudian bangkit dan berjalan kea rah Kai.


“ lu ngapain duduk didepan pintu?” Tanya Kai bingung, Lia


terkekeh sejenak kemudian memperhatikan Kai dari atas sampai bawah.


“ kakak mau keluar?” Tanya Lia yang mendapati Kai memegam


kunci sepeda motor ditangan kanannya. Kai melirik kunci motornya kemudian


mengangguk pelan.


“ mau ikut?” ajak Kai yang langsung diangguki oleh Lia, ya


lebih baik dia ikut Kai dari pada dia menjadi obat nyamuk dirumah.


“ heh, btw dari mana aja lu? Seminggu lebih ngak keliatan”


Tanya kai yang dibalas kekehan dari Lia.


“ ra.ha.si.a” ucap Lia menekankan setiap katanya sembari


meletakkan jari telunjuk didepan mulutnya. Kai mendengus kesal, dia lebih


memilih untuk berjalan menuju motornya dan menyalakannya.


“ hm, tunggu bentar!” ucap Kai begitu mendapati Lia yang


hanya memakai jeans dan kaos pendek, Kai masuk kembali ke dalam kosan membuat


penghuni lainnya bingung dengan tingkahnya.


Didalam kos, kini Kai sibuk mencari sesuatu yang membuat


teman-teman satu kosnya pusing. Pasalnya bukan hanya kamarnya yang dibongkar,


akan tetapi kamar teman-temannya juga digeledah satu persatu tanpa tau apa yang


dia cari.


“ lu ngapain bang!!!!” Tanya salah satu teman satu kos Kai


yang sudah kesal dengan tingkahnya, Kai berhenti sejenak kemudian menatap


temannya yang lebih muda setahun darinya.


“ oh iya Za, Dika mana?” Tanya Kai pada temannya yang


diketahui bernama Reza, ya pemuda tampan itu menghela nafas kemudian


mengedarkan padangannya sejenak.


“ Dika lagi di KM mungkin, lagian cari apaan sih bang?”


Tanya Reza kesal, Kai masih sibuk membongkar isi lemari teman-temannya akan


tetapi dia tetap menjawab pertanyaan Reza.


“ panggilin gih, gw mau pinjem jaket” ucap Kai yang membuat


reza mengumpat kesal, ternyata alasan Kai memporak-porandakan kos-kosan hanya


karena ingin meminjam sebuah jaket? GILA!!! Reza akhirnya mengalah dan memilih


memanggil Dika yang sedang berada dikamar mandi.


“ apa bang?” Tanya Dika yang baru saja tiba dengan celana


boxer dan handuk yang masih tersampir di lehernya, bahkan tetesan air masih


menetes dari rambutnya. Kai menoleh dengan cepat kemudian menarik Dika ke kamar


sang empu.


“ pinjemin gw jaket lu dong!” pinta Kai yang membuat Dika


mengernyit heran, pasalnya dari semua anggota kosan dialah yang punya badan


paling kecil, sedangkan Kai tentu lebih besar darinya dan bukankah ukuran


mereka berbeda?


“ buat apa?” Tanya Dika yang membuat Kai berdecak kesal.


“ lu tau Alya kan, cewek depan rumah?” Tanya Kai yang


diangguki oleh Dika, dia sedikit bingung kenapa Kai menanyakan hal ini,


pasalnya semua anggota kosan tau dan mengenal sosok ALya Putri Zifari yang


hampir tiap hari mengantarkan makan malam ke kosan mereka.


“ dia mau keluar bareng gw, dan ya sepertinya dia tidak


membawa jaket. Karena badan lu kecil gw pinjem jaket lu aja…” ucap Kai yang


membuat Dika melongo, bukan hanya Dika, bahkan Reza dan salah seorang penghuni


kosan yang lain ikut ternganga mendengarnya.


“ bang lu sejak kapan kenal ama ALya!!!???” sewot Dika


kesal, dia kecolongan start


“ kenali gw dong!!!” pinta reza memohon


“ udah nanti aja, sekarang jaketnya mana?” pinta Kai


tergesa, Dika berjalan menuju lemari kemudian mencari jaket miliknya yang


paling kecil dan nyaman. Dan ya pilihannya berakhir pada sebuah jaket bomber


berwarna putih miliknya.