
“ Hans bisakah kau berhenti sejenak? Telingaku sudah panas mendengar
ocehanmu..” ucap Lia sembari
mengorek telinganya santai.
“kau! Ck, harusnya kau yang berhenti bersikap seperti
ini!!!!”
“ kau membuatku takut, Lia…” ucap hans sendu, dia tidak
berani menatap wajah Lia. Dia kesal bukan main, padahal menghkawatirkan
seseorang juga membutuhkan banyak energi, dan menghkawatirkan Lia membutuhkan banyak energy.
“ hahh, iya-iya~~”
“ aku minta maaf, aku salah..” ucap Lia setengah menyesal
membuat Hans berdecak sebal.
“ hahhh, sudahlah!” Hans menghentikan laju kendarannya
ditepi jalan, setelahnya menyandarkan tubuhnya lelah.
“ apa kau sudah mempersiapkan world tour-ku?” Tanya Lia santai,
dia menatap Hans yang kini nampak kesal, sangat-sangat kesal.
“ hm, aku sudah mempersiapkan semuanya, persiapannya sudah
hampir 65%” ucap hans memijat keningnya, Lia mengangguk tanda paham.
“ oh ya Hans, bisa aku minta satu hal lagi?” Tanya Lia yang
langsung diangguki Hans tanpa pikir panjang.
“ aku ingin mengambil ujian kelulusan lebih awal” ucap Lia
yakin, Hans membolakan matanya kemudian menatap Lia tidak percaya. Gadis yang
tidak pernah serius dalam sekolah kini benar-benar akan menyelesaikan pendidikan
tingkat SMA-nya.
“ kau serius, Lia?” Tanya Hans sembari menatap gadis manis
itu lamat, Lia mengangguk pelan sebagai jawaban. Hans menghela nafas pelan,
kemudian mengangguk paham.
“ kalau begitu ayo pulang!!” ucap Lia yang langsung
diangguki oleh Hans, dia menyalakan mobilnya dan kembali melajukannya dijalanan
malam.
Ya, hari sudah malam. Karena Hans sibuk disekolah sejak pagi
jadi dia tidak punya pilihan lain selain menjemput Lia dimalam hari, dan ya ini
membuat Lia kesal bukan main. Seharusnya dia bisa keluar dari tempat mengerikan
itu sejak pagi, tapi karena Hans tidak bisa menjemputnya dan dia harus ditahan
lebih lama diruang isolasi yang mengerikan itu.
●ꙍ●
CKITTT
Rem diinjak dengan pelan, Hans menghentikan mobilnya tepat
berada di depan rumah Lia. Dia memarkirkan mobilnya didepan halaman sedangkan
Lia masih sibuk berkutat dengan Nintendo miliknya yang baru saja dia dapati
dari Alex.
“ lia kita sudah tiba!!!” ucap Hans sedikit kesal karena Lia
mengacuhkannya sedari tadi.
“ ah sebentar lagi” ucap Lia sembari menekan setiap tombol
di Nintendo miliknya, Hans berdeca kesal sembari melepas sealbeltnya. Lia masih
diam tidak peduli hingga..
“ Hans…apa yang kau lakukan?” Tanya Lia mendapati hans suda
berada didepannya, jarak antara keduanya begitu dekat akan tetapi Lia masih
stay calm, tidak terpengaruh dengan tubuh Hans yang berjarak beberapa centi
dari wajahnya.
KLIKK
Seatbelt Lia terlepas, dan pelakunya adalah Hans.Lia
menghela nafas lelah, membuka pintu mobil dan berjalan keluar sembari focus
bermain dengan ponselnya. Hans berdecak kesal melihat tingkah Lia yang tidak
berubah sedikitpun sejak dulu, akan tetapi mau bagaimana lagi. Gadis itu sangat
sulit untuk diubah, mungkin karena sudah terlalu sering mengubah dirinya dan
menyesuaikan dengan keadaan sehingga Lia juga sudah terbiasa untuk melupakan
jati dirinya.
Hans memandang Lia malas, dia menatap punggung ringkih gadis
manis yang kini berjalan masuk ke rumah, saat Lia sudah masuk Hans menghela
nafas pelan, menyalakan mobilnya kemudian kembali melajukannya menuju ke
appartemennya.
Sedangkan Lia saat ini baru saja selesai melepas sepatunya
dan berjalan masuk, Lia mematikan gamenya dan memilih untuk mencari Ray. Ya itu
niatnya sebelum mendapati Ray tengah duduk berdua dengan Karina dipangkuan Ray,
dan posisi Ray yang memeluk poseseif Karina juga kepalanya yang disandarkan ke
ceruk leher karina membuat Lia terkejut bukan main, bahkan sampai menjatuhkan
konsol Nintendo yang dia pegang sedari tadi membuat Ray dan Karina menoleh
“ ah, m-maaf kalian lanjutkan saja!!!” ucap Lia yang
langsung memungut konsolnya dan berlari keluar rumah. Dia sempat mengambil
sepatunya kemudian mendudukan tubuhnya didepan pintu rumahnya, Lia masih
memutar adegan tadi dikepalanya membuatnya bergumam tidak jelas seperti orang
kesetanan.
“ eh, Lia?” panggil seseorang yang membuat Lia mendongak,
Lia mendapati Kai yang sedang berdiri didepan pintu kosannya sembari menatapnya
bingung.
“ oh kak Kai” balasnya ramah, dia memakai sepatunya sejenak
kemudian bangkit dan berjalan kea rah Kai.
“ lu ngapain duduk didepan pintu?” Tanya Kai bingung, Lia
terkekeh sejenak kemudian memperhatikan Kai dari atas sampai bawah.
“ kakak mau keluar?” Tanya Lia yang mendapati Kai memegam
kunci sepeda motor ditangan kanannya. Kai melirik kunci motornya kemudian
mengangguk pelan.
“ mau ikut?” ajak Kai yang langsung diangguki oleh Lia, ya
lebih baik dia ikut Kai dari pada dia menjadi obat nyamuk dirumah.
“ heh, btw dari mana aja lu? Seminggu lebih ngak keliatan”
Tanya kai yang dibalas kekehan dari Lia.
“ ra.ha.si.a” ucap Lia menekankan setiap katanya sembari
meletakkan jari telunjuk didepan mulutnya. Kai mendengus kesal, dia lebih
memilih untuk berjalan menuju motornya dan menyalakannya.
“ hm, tunggu bentar!” ucap Kai begitu mendapati Lia yang
hanya memakai jeans dan kaos pendek, Kai masuk kembali ke dalam kosan membuat
penghuni lainnya bingung dengan tingkahnya.
Didalam kos, kini Kai sibuk mencari sesuatu yang membuat
teman-teman satu kosnya pusing. Pasalnya bukan hanya kamarnya yang dibongkar,
akan tetapi kamar teman-temannya juga digeledah satu persatu tanpa tau apa yang
dia cari.
“ lu ngapain bang!!!!” Tanya salah satu teman satu kos Kai
yang sudah kesal dengan tingkahnya, Kai berhenti sejenak kemudian menatap
temannya yang lebih muda setahun darinya.
“ oh iya Za, Dika mana?” Tanya Kai pada temannya yang
diketahui bernama Reza, ya pemuda tampan itu menghela nafas kemudian
mengedarkan padangannya sejenak.
“ Dika lagi di KM mungkin, lagian cari apaan sih bang?”
Tanya Reza kesal, Kai masih sibuk membongkar isi lemari teman-temannya akan
tetapi dia tetap menjawab pertanyaan Reza.
“ panggilin gih, gw mau pinjem jaket” ucap Kai yang membuat
reza mengumpat kesal, ternyata alasan Kai memporak-porandakan kos-kosan hanya
karena ingin meminjam sebuah jaket? GILA!!! Reza akhirnya mengalah dan memilih
memanggil Dika yang sedang berada dikamar mandi.
“ apa bang?” Tanya Dika yang baru saja tiba dengan celana
boxer dan handuk yang masih tersampir di lehernya, bahkan tetesan air masih
menetes dari rambutnya. Kai menoleh dengan cepat kemudian menarik Dika ke kamar
sang empu.
“ pinjemin gw jaket lu dong!” pinta Kai yang membuat Dika
mengernyit heran, pasalnya dari semua anggota kosan dialah yang punya badan
paling kecil, sedangkan Kai tentu lebih besar darinya dan bukankah ukuran
mereka berbeda?
“ buat apa?” Tanya Dika yang membuat Kai berdecak kesal.
“ lu tau Alya kan, cewek depan rumah?” Tanya Kai yang
diangguki oleh Dika, dia sedikit bingung kenapa Kai menanyakan hal ini,
pasalnya semua anggota kosan tau dan mengenal sosok ALya Putri Zifari yang
hampir tiap hari mengantarkan makan malam ke kosan mereka.
“ dia mau keluar bareng gw, dan ya sepertinya dia tidak
membawa jaket. Karena badan lu kecil gw pinjem jaket lu aja…” ucap Kai yang
membuat Dika melongo, bukan hanya Dika, bahkan Reza dan salah seorang penghuni
kosan yang lain ikut ternganga mendengarnya.
“ bang lu sejak kapan kenal ama ALya!!!???” sewot Dika
kesal, dia kecolongan start
“ kenali gw dong!!!” pinta reza memohon
“ udah nanti aja, sekarang jaketnya mana?” pinta Kai
tergesa, Dika berjalan menuju lemari kemudian mencari jaket miliknya yang
paling kecil dan nyaman. Dan ya pilihannya berakhir pada sebuah jaket bomber
berwarna putih miliknya.