
Upacara penerimaan siswa baru telah selesai, semua murid kelas satu sudah berada dikelasnya masing-masing, dan Kelas 1-C adalah kelas yang ditempati oleh Niko.
“Huh… untungnya aku bisa dapat bangku yang paling belakang,” kata Niko sambil duduk di bangku yang paling belakang.
Tiba-tiba saja…
“Anoo… ini adalah tempat dudukku,” kata seorang perempuan yang tiba-tiba saja sudah berada didepan Niko.
“Ehh..., be-benarkah,” kaget Niko.
“Tempat duduk kita sudah diatur, lihat dipapan tulis itu,” lanjut perempuan itu sambil menunjuk ke papan tulis.
“Oh… gitu ya hehehe, maafkan aku,” jawab Niko yang segera pergi dari tempat duduk itu.
Tak berapa lama kemudian, Wajah Niko terlihat sangat pucat, dan dengan wajah pucatnya Niko berteriak didalam hatinya.
“KENAPA AKU DI BANGKU PALING DEPAN… APA SALAHKU…!!!”
Ternyata tempat duduk Niko berada diurutan paling depan, walaupun Niko berpikir bahwa dunia ini tak adil, mau tidak mau Niko harus tetap menerimanya.
“Selamat pagi semuanya,” kata guru perempuan yang masuk ke kelas 1-C.
Dalam sekejap seluruh murid dikelas 1-C memperhatikan guru tersebut.
“Namaku Ada Lovelace, aku yang akan menjadi wali kelas 1-C, senang bertemu dengan kalian,” kata guru yang bernama Ada Lovelace.
Tiba-tiba Bu Ada menggigit bibirnya sendiri dan menempelkan jari telunjuknya dibibir luarnya. Dia kemudian menghampiri salah satu murid yang duduk dibangku paling depan, dan kebetulan murid itu adalah Niko.
Bu Ada membungkukkan badannya dan meletakkan dada besar miliknya dimeja Niko, dia memandangi wajah Niko dengan genit, dan dengan suara mendesah dia pun berkata,
“Kalo kalian punya masalah~, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya pada ibu ya~, ibu akan beri jam pribadi untuk kalian.”
Melihat dada besar Bu Ada yang terus dipamer-pamerkan didepan Niko, membuat wajah Niko memerah dan sedikit mimisan, dia pun berkata dalam hatinya,
“BANZAIII... BANZAIII… Duduk dipaling depan memang maknyoss, SMA Majapahit memang T.O.P begete, mantab goyang dribble, dribble digoyang…!!!”
Namun setelah mengatakan hal itu, Bu Ada langsung kembali berdiri dari mejanya Niko, hal itu membuat Niko sedikit sedih, karena pemandangan dada besar Bu Ada tidak bisa dia nikmati lagi.
Dengan suara genitnya Bu Ada pun kembali berkata,
“Bagi laki-laki yang bisa meraih gelar Artest, akan mendapatkan ciuman lembut dari ibu.”
Setelah mendengar hal itu seluruh murid laki-laki langsung berteriak,
“YOOOOSSHHHHAAAAAAAAAAAA…!!!!!!”
Tak terkecuali Niko, mendengar Bu Ada mengatakan hal itu membuat dirinya bersemangat dan berkata dalam hatinya,
“Walaupun aku tak tahu apa itu gelar Artest, tapi aku akan berusaha keras, Hidup goyang dribble…!!!”
“Kalo begitu untuk awal pertemuan kita, silahkan kerjakan semua soal yang ada dibuku ini,” lanjut Bu Ada sambil memperlihatkan buku yang
tebalnya sampai 30 cm.
Setelah semua buku tebal itu dibagikan ke seluruh murid, tanpa pikir panjang, seluruh murid terutama murid laki-laki sangat bersemangat mengerjakan semua soal yang ada dibuku tebal itu.
“Gelar Artest… CIUMAN…!!! CIUMAN…!!!” kata seorang murid laki-laki yang sangat semangat mengerjakan soal.
“BU ADA…!!! BU ADA…!!! ARTEST…!!!” kata murid laki-laki lain yang juga sangat semangat.
Entah mengapa semua murid laki-laki sangat tergila-gila dalam mengerjakan soal-soal itu, seperti ada sesuatu yang membuat mereka tak bisa berhenti setelah mendengar perkataan dari Bu Ada.
Tiba-tiba wajah Bu Ada berubah menjadi sangat licik dan berkata dalam hatinya,
“Heh heh… sampai saat ini tak ada yang bisa merebut gelar Artest dari perempuan itu, semua laki-laki yang berhadapan dengannya langsung tumbang dan menjadi pecundang, namun jika aku membuat pasukan dengan jiwa yang terus kelaparan dan haus akan gelar
Artest, maka perempuan itu takkan sanggup mempertahankan gelar miliknya lagi Heh.”
Satu jam kemudian…
Niko terlihat sangat gelisah dan terus menerus menatapi soal yang ada didepan matanya, kepalanya seperti pecah karena memikirkan sesuatu yang berada diluar kemampuannya, tangannya bergetar dan tak bisa digerakkan, sehingga belum ada satu pun soal yang dia kerjakan.
“Gi-Gimana nih… aku memang pingin lihat goyang dribble Bu Ada lagi, tapi… percuma… tak satu pun soal dibuku ini yang bisa aku kerjain, haduh… pusingggggg,” kata Niko dalam hatinya.
Niko melihat sekelilingnya, dan melihat semua siswa sudah hampir menyelesaikan halaman terakhir mereka, dan itu berarti jika nanti mereka selesai, hanya Niko lah yang belum menyelesaikannya.
“Kalo aku belum selesai sendiri, apalagi nggak ada satu pun yang bisa aku kerjain, pasti mereka bakal nganggep kalo aku ini orang bodoh, walaupun aku memang bodoh, tapi aku gak mau hal itu terjadi dihari pertama sekolahku,” kata Niko dalam hatinya.
“Oke… sekarang aku punya ide,” lanjut Niko setelah berpikir sejenak.
“Sreettt…”
Tiba-tiba Niko berdiri dari kursinya, hal ini membuat Bu Ada bingung dan bertanya kepada Niko.
“Apa ada masalah Tuan Alexander?” tanya Bu Ada.
Mendengar Bu Ada menanyakan hal itu kepadanya, membuat wajah Niko sangat serius hingga matanya tertutup bayangan hitam.
Setelah menghela nafas dan membulatkan tekad, akhirnya Niko pun berkata,
“Saya ijin ke TOILET Bu…!!!” kata Niko dengan tegas.
Bu Ada yang tadinya bingung pun akhirnya mengerti, dan mempersilahkan Niko ke toilet.
“Baiklah… silahkan,” kata Bu Ada.
Tanpa menunggu lama, Niko langsung keluar dari kelas itu dan menuju toilet sekolah.
“Huh… akhirnya bisa keluar juga, sekarang aku tinggal menunggu dan masuk ke kelas lagi saat bel istirahat berbunyi, hehehe aku memang cerdik,” kata Niko.
Niko berjalan untuk menuju ke toilet, dia berjalan..., berjalan lagi…, dan terus berjalan, sampai akhirnya Niko sadar dan berteriak,
“DIMANA TOILETNYAAAAAAAAAAAAAAAAAA…!!!”
Ternyata bangunan di sekolah itu sangat luas, sehingga Niko kesulitan untuk menemukan jalan menuju ke toilet.
“Sial… bangunan sekolah ini terlalu luas, aku bahkan tidak bisa menemukan toilet disini,” kesal Niko.
Tak berapa lama kemudian, Niko melihat sebuah ruangan yang diatasnya terdapat tanda berwarna biru, tanda itu mirip seperti tanda toilet pria.
“Itu pasti toilet,” kata Niko dengan senangnya.
“BRUUAAAKKKKKK……!!!”
Tanpa sengaja Niko menabrak laki-laki yang kebetulan juga akan keluar dari ruangan itu, mereka berdua pun sama-sama terjatuh. Tabrakan yang mereka alami memang biasa, tapi yang membuat hal itu tidak biasa adalah,
tumpahnya tinta berwarna hitam yang mengotori seluruh wajah laki-laki itu. Nampaknya sebelum bertabrakan dengan Niko, laki-laki itu sedang memegang botol yang berisi tinta hitam.
Niko yang melihat hal itu pun langsung bangun, dan dengan rasa bersalah meminta maaf kepada laki-laki itu.
“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf,” kata Niko sambil mengadahkan tangannya untuk membantu laki-laki itu berdiri.
Akan tetapi, walaupun Niko sudah meminta maaf dan mengadahkan tangannya, laki-laki itu tetap tidak mau menyambut tangan Niko kembali. Akhirnya laki-laki itu berdiri sendiri tanpa bantuan dari Niko.
Setelah berdiri, laki-laki itu membuka kacamatanya, dan membersihkan kacamata yang dipenuhi tinta hitam dengan baju miliknya.
“Ahh… aku benar-benar minta maaf, aku hanya mau ingin pergi ke toilet,” kata Niko yang merasa bersalah.
“…………,” laki-laki itu hanya terdiam sambil terus membersihkan kacamatanya.
Niko sudah mencoba meminta maaf pada laki-laki itu, tapi nyatanya laki-laki itu tetap diam. Hal ini membuat Niko sangat tidak nyaman dan rasa bersalahnya juga semakin besar.
Melihat laki-laki itu terus-terusan membersihkan kacamatanya, akhirnya Niko ingin membantunya dan berkata,
“Biarkan aku yang membersihkanya…,” kata Niko mengadahkan tangannya.
“PLAAAKKKKK!!!”
Laki-laki itu menyingkirkan tangan Niko dan berkata,
“Singkirkan TANGANMU DARIKU…!!!” geram laki-laki itu.
Mendengar laki-laki itu berbicara kasar kepadanya, membuat Niko sangat kaget.
“Heh…,” kaget Niko.
Tak berapa lama kemudian, nampaknya laki-laki itu sudah selesai membersihkan kacamatanya, walaupun belum sepenuhnya bersih, laki-laki itu tetap memakai kacamatanya kembali.
“Ini adalah ruang seni, apa kau tak tahu itu,” kata laki-laki itu dengan nada yang sedikit lebih tenang.
“A-Aku tidak tahu, a-aku pikir ini adalah…,” Niko belum selesai bicara.
“Kau sudah mengotori wajahku,” lanjut laki-laki itu.
“Ahh… iya aku minta maaf sekali, aku benar-benar tidak sengaja.”
“Minta maaf katamu, kau pikir bisa seenaknya BILANG SEPERTI ITU…!!!” kata laki-laki itu dengan nada tinggi.
“A-a-a-aku tak tahu,” kata Niko yang ketakutan.
Melihat Niko yang kebingungan, membuat laki-laki itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya, dengan senyum liciknya laki-laki itu berkata,
“Bertarunglah denganku.”
“Be-Bertarung?” tanya Niko yang bingung.
“Jika kau menang aku akan memaafkanmu, tapi jika kau kalah, kau akan menjadi budakku di sekolah ini, bagaimana?”
“Hehh… bu-budak…,” kata Niko yang kaget.
“Hmm… apakah kurang menarik, baiklah… bagaimana jika kau yang menang, maka aku juga akan jadi budakmu di sekolah ini.”
“Heh… A-Aku…”
“Asal kau tahu, Kau sudah tidak punya pilihan lagi sekarang,” kata laki-laki itu sambil memojokkan Niko.
Niko merasa bingung dan ketakutan, dia sudah tidak punya pilihan lagi selain menerima tawaran itu, walaupun yang kalah harus menjadi budak, menurut Niko itu lebih baik dari pada harus dikeluarkan dari sekolah
ini. Maka dari itu, dengan nada terpaksa akhirnya Niko berkata,
“Ba-Baiklah… aku menerimanya.”
Setelah mendengar jawaban dari Niko, laki-laki itu merasa sangat senang dan berkata,
“Heh Heh Heh… Namaku Arthur Compton, kelas 1-B, aku akan menjadi lawanmu dipertarungan ini, aku akan mengurus semuanya, kau hanya perlu menentukan mata pelajaran mana yang ingin kau pertarungkan, aku tunggu setelah pulang sekolah.”
Setelah megatakan hal itu, Arthur langsung pergi meninggalkan Niko, entah mengapa Niko hanya terdiam dan masih bingung dengan perkataan Arthur.
“Ma-Mata Pelajaran? A-Apa maksudnya…,” gumam Niko.
“TING TONG…!!!”
Suara bel pulang sekolah terdengar, terlihat seorang guru laki-laki berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang Presiden Direktur SMA Majapahit.
“SREEEEKKKKK~~”
“Pak Direktur…!!!” kata guru itu setelah membuka pintu.
“Sudah kuduga kau akan kesini,” kata Hayam Wuruk yang sedang duduk dikursi direktur miliknya.
“Kenapa anda tak menghentikannya?” tanya guru itu sambil berdiri mendekat kepada Hayam Wuruk.
“Aku memang sengaja membiarkannya, Mawardana.”
Ternyata nama guru itu adalah Mawardana.
“Tapi pak, pertarungan dihari pertama mereka sekolah, bukankah hal ini sudah kita bicarakan, aku tak ingin kejadian…,” Mawardana belum selesai
bicara.
“Ini berbeda dengan yang dulu,” potong Hayam Wuruk.
“Apa maksud bapak?”
Wajah Hayam Wuruk tiba-tiba berubah menjadi sangat serius dan berkata,
“Aku hanya ingin memastikan satu hal.”