
“ Ahh, kamu sudah bangun Lia???” Sebuah suara membuatnya menoleh dan mengalihkan atensinya, Lia menoleh dan mendapati sosok kakaknya tengah berdiri diujung tangga, menatapnya dengan tatapan lembut yang menenangkan. Lia hampir saja mengukir senyum jika saja dia tidak ingat jika mereka sedang bertengkar.
“ Tidak ke sekolah?” Tanya Lia acuh, Ray menghela nafas lelah kemudian berjalan mendekat ke arah sang adik.
“ Kalau kamu saja bisa membolos kenapa aku tidak?” Tanya Ray yang mendapat tatapan tidak percaya dari Lia, Lia menatap Ray dengan tatapan tidak percaya. Lagi-lagi Ray membuatnya bingung, seorang yang rajin bahkan tidak pernah datang terlambat ke sekolah hari ini membolos. Sungguh Lia tidak mengerti, kepalanya tiba-tiba terasa pusing hanya dengan tingkah Ray yang menyebalkan dipagi hari.
“ …” Lia hanya diam, menutup pintu kemudian melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Ray. Ya itu niatnya, hanya saja saat Lia akan melewati Ray, sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan tiba-tiba tubuhnya terangkat ke udara.
“ Huaaa!!!!! “ Pekik Lia kaget bukan main, Ray yang tiba-tiba menggendong Lia ala bridal hanya memasang cengiran tidak bersalah dan membuat Lia menatapnya horror.
“ Apa yang kamu lakukan RAYY!!!!” Tanya Lia sembari menekankan nama Ray dan menaikkan nada suaranya saat menyebut nama sang kakak, Ray hanya tertawa kecil sedangkan Lia malah mempoutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya didepan dada.
Lia merajuk sekarang, dia sangat marah dan kesal pada Ray. Diluar mungkin dia terlihat baik-baik saja, akan tetapi saat ini Lia tengah menahan batuk di tenggorokkannya, dan sesak yang diakibatkan karena keterkejutan yang bukan main.
Ray yang tidak mengetahui hal itu hanya bisa memasang cengirannya dan terus melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan, setibanya disana Lia diturunkan diatas kursi dengan pelan oleh Ray. Pucuk kepalanya diusap penuh sayang dan keningnya dicium lembut oleh Ray, Lia terkejut bukan main, dia lagi-lagi menatap horror pada Ray.
“ Ray, berhenti bersikap seperti itu padaku.” Ucapnya penuh penekanan, Ray sih cuek saja, dia tidak peduli dengan amarah Lia. Ray bahkan sempat membatin dalam hatinya.
Toh nanti Lia juga ngak ngambek -Batin Ray santai.
“ Tapi kamu suka kan..” ucap Ray santai, Lia menghela nafas lelah. Sudah lelah dengan keegoisan dan keposesifan sang kakak.
Sepertinya aku harus pindah ke appartemen nanti?? -Batin Lia kesal
“ Sudahlah Ray, berhenti bersikap posesif padaku..” Ucap Lia kesal, Ray mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di sebrang Lia, menatap adik kecilnya jengah.
“ Berhentilah merajuk dan makanlah, aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu..” Ucap Ray membuat Lia menatap meja makan, disana ada sepiring pancake dengan madu dan es krim sebagai topingnya, Lia memang
menyukainya tapi semenjak penyakitnya memburuk dia selalu menjaga pola makannya, bahkan dia terpaksa mengurangi makan makanan manis dan memperbanyak makan sayur dan buah.
Lia diam kemudian mulai menyantap makanan yang sudah dibuatkan oleh sang kakak, jujur Lia rindu rasa masakan ini, sang kakak memang tidak terlalu pintar dalam memasak tapi rasa cinta yang diberikan dalam masakannya yang membuat Lia rindu. Lia mulai menghabiskan seperempat bagian dari pancake itu setelahnya meletakkan pisau dan garpunya dipiring, membuat dentingan yang mengalihkan atensi Ray dari makanannya.
“ Sudah selesai?” Tanya Ray yang diangguki oleh Lia, Lia mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah dispenser yang berada disamping lemari es milik mereka, mengambil air dalam gelas kemudian duduk kembali untuk
menegaknya.
“ Apa kau akan kesekolah?” Tanya Ray yang membuat Lia menoleh dan menfokuskan atensinya untuk sang kakak walau sejenak, Lia menggeleng pelan kemudian meletakkan mug yang kosong di atas meja.
“ Aku ada urusan “ Jawab Lia tenang, kakinya dilangkahkan kembali menuju ke ruang tengah setelahnya menghempasan tubuhnya ke sofa, dinyalakannya layar ponsel yang sedari tadi mati dan mencari kontak milik
asistennya Hans.
'Hanss, bisakan kamu menjemputku sekarang?' Tanya Lia pada orang yang ada di sebrang sana.
'Ha? Adwa awpa?' Tanya Hans sembari mengunyah sarapannya.
'Jangan bicara saat makan, telan dulu makananmu bodoh!!!' UcapLia yang langsung dipatuhi oleh Hans, dia menelan makanannya terlebih dahulu kemudian menegak minumannya dengan tergesa.
'ada apa?' Tanya Hans lagi.
'Lakukan saja, ku tunggu dirumah!!!' Ucap, ah salah, titah Lia yang membuat hans merenggut kesal. Lia tidak ingin mendengar protes dari Hans, jadi dia langsung mematikan ponselnya dan menghela nafas. Sejenak Lia memandang layar ponselnya yang mati.
Tuhan, kapan ini akan berakhir?? -Batin Lia sendu.
Sungguh ini mulai melelahkan, ini sangat menyakitkan -Erang Lia dalam hatinya.
^^Kkkk, katakan saja hal ini pada Ray. Dia pasti akan mengerti..-Ucap sebuah suara dalam angannya.
Diam!! -Maki Lia dalam hati
Lia menghela nafas panjang, memejamkan matanya sejenak sampa beberapa lama kemudian suara klakson mobil mengalihkan atensinya. Lia mengangkat tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju ke pintu depan memakai sandal yang ada dan langsung keluar tanpa pamit lagi pada Ray.
Diluar sudah ada sosok Hans yang bersandar pada sebuah Lamborgini Huracan keluaran terbaru, Hans terlihat masih sangat lelah bahkan sesekali dia masih sempat menguap. Lia melangkahkan kakinya menuju mobil dan langsung masuk begitu Hans membukakan pintu untuknya. Hans ikut masuk dan menyalakan mobilnya, dia menoleh sejenak ke belakang dan mendapati nonanya tengah memijat pangkal hidungnya, wajahnya nampak pucat dan lelah. Hans diam sejenak, kemudian melajukan mobilnya tanpa arah.
“ Apa kamu baik-baik saja, Lia?” Tanya Hans yang khawatir bukan main pada Lia, pasalnya saat ini Liat terlihat begitu pucat.
“ Uhuk..uhuk..bawa aku pulang Hanss..” Ucap Lia lemah, Hans yang mendapati nonanya terbatuk bahkan sampai ada bercak darah di telapak tangannya membuat Hans panik bukan main, dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membawa Lia ke appartemen milik Lia.
.
.
.
BRAKKK
Pintu dibuka, eh ditendang dengan kasar, dan pelaku yang pantas dicurigai adalah Hans yang kini tengah menggendong Lia ala bridal, Hans segera masuk menutup pintu dengan kakinya dan segera merebahkan tubuh lemas Lia ke atas ranjang.
Hans segera membuka laci nakas mencari beberapa botol kecil berisi obat yang mendukung hidup Lia. Kala ia mendapati benda yang dicarinya, Hans segera mendudukkan tubuh Lia dan menyandarkan tubuh ringkih itu ke dadanya, kemudian memasukkan semua obat itu kedalam mulut Lia sekaligus, Lia segera menelannya tanpa bantuan air. Beberapa saat kemudian Lia mencoba mengatur deru nafasnya, pandangannya menatap sayu dan dadanya masih naik turun tidak teratur.