
“ Madam Rena....” Panggil Lia membuat kepala sekolah memijat pangkal hidungnya lelah, kelakuan bocah yang satu ini benar-benar membuatnya frustasi.
“ Apa?” Tanya kepala sekolah to the point.
“ Jadi, Alya mau izin pulang! Jadi madam jangan nyariin Alya ya, sampai ketemu besok madam…” Ucap Lia riang sembari bangkit dari kursinya kemudian menjentikkan jarinya dan seketika muncul sebuket bunga Cylamen berwarna pink lembut ( dalam bahasa bunga artinya sampai bertemu lagi ) dan sebuah kotak berisi kue dan cokelat oleh-oleh dari Singapura yang dia bawakan untuk sang kepala sekolah yang sudah sangat memaklumi sikap Lia yang sering sekali membolos ataupun izin untuk melakukan show di luar negeri.
“ Ah, thanks Alya...” Ucap kepala sekolah sedikit terharu dengan tingkah Lia yang biasanya menyebalkan jadi sangat manis seketika. Lia hanya memasang cengiran di wajahnya kemudian menatap ke arah jam yang tengah
bertengger dengan tenang di dinding.
“ Sorry madam, tapi aku harus pergi sekarang bye-bye...” Ucap Lia yang langsung menghilang dibalik pintu begitu dia keluar. Kepala sekolah hanya bisa menghela nafas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya masih tidak percaya dengan tingkah siswa di sekolahnya itu.
“ Hahh….” Lagi-lagi Lia menghela nafas lelah, dia sudah bosan bermain dengan konsol game miliknya. Benar-benar bocah sialan, anak ini baru pulang sekolah ( baca= izin membolos ) langsung menghabiskan waktunya untuk tiduran dan bermain video game? GILAA!!!
Mana ada orang yang berani izin bolos ke ruang kepala sekolah?Argh, sialan. Lelah author mau nyeritain ini anak. Tapi semua masih harus berlanjut, karena ini bukan akhir. Ini adalah awal, awal dari kehancuran sosok Lia.
Sosok yang sejak dulu tumbuh dalam kesendirian dan penuh penderitaan kini harus benar-benar hancur, jalan hidupnya yang sejak dulu berliku kini dipenuhi dengan duri, kerikil, pecahan kaca dan ribuan paku. Jiwa yang sudah tersesat kini harus terluka, Lia harus menderita. Sudahlah, kita kembali dengan Lia.
Sekarang Lia sedang asik dengan kasurnya, tidur terlentang degan tidak elitnya. Coba saja bayangkan, dia sedang terlentang dengan tangan kanannya yang tergeletak memegang sebuah konsol, kaki kirinya tertekuk ke atas dengan tidak elitnya, tangan kirinya menjuntai ke lantai dan setengah badannya juga berada ditepi ranjang.
Lia sedang asik dengan khayalannya, entah apa yang dia pikirkan tapi, sepertinya Lia benar-benar fokus saat ini. Dia tidak peduli dengan tubuhnya yang pastinya tidak nyaman, yang jelas angannya entah sedang kemana.
“ Apa aku pergi saja ya?” Gumamnya tidak jelas.
Lia membalikkan posisi tubuhnya menjadi tengkurap, dia membuang konsol gamenya begitu saja. Dan sekarang Lia lebih memilih untuk memejamkan matanya, kepalanya terasa pusing. Entah memikirkan apa, tapi yang jelas dia sudah lelah. Lia mulai menyelami alami mimpi, jiwanya terbang entah kemana dan sebaiknya kita biarkan dia beristirahat untuk sejenak, karena ini akan jadi perjalanan yang melelahkan untuknya.
Waktu berlalu, matahari mulai pergi meninggalkan langit senja dan berganti dengan bulan yang menerangi langit gelap. Walau begitu Lia tidak terusik sama sekali, dia masih nyaman dengan tidurnya, selain itu sepertinya hari ini Ray tidak akan pulang dan ayahnya harus lembur lagi.
“ Huahh…~~~” Lia terbangun dari tidurnya, sinar mentari sudah masuk dan memenuhi ruangannya. Lia merenggangkan tubuhnya sejenak kemudian menatap jam weker yang harusnya berbunyi sedari tadi dan membangunkannya, namun sayangnya sepertinya Lia lupa menyetel benda itu semalam.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan Lia baru bangun, akan tetapi bukannya memilih untuk bangun dan ke sekolah, Lia malah merebahkan kembali tubuhnya ke ranjang. Lia memejamkan matanya sejenak sampai rasa pusing yang melanda kepalanya menghilang, Lia bangkit dari tidurnya dan memilih untuk mendudukkan tubuhnya bersandar pada headboard di belakangnya.
Dipijat pangkal hidungnya sejenak, sampai sebuah cairan berwarna merah menetes dari hidungnya dan jatuh ke seprai yang berwarna baby blue miliknya, Lia membolakan matanya tidak percaya. Dia mimisan, padahal Lia selalu menjaga tubuhnya dengan baik, walau terkadang dia selalu kelelahan setelah melakukan show-nya tapi, dia biasanya akan meminta izin untuk beristirahat selama beberapa hari, dan ya walau tubuhnya lemah dan terdapat beberapa penyakit yang bersarang ditubuhnya Lia tetap bisa mengontrol sampai batas mana dia bisa bertahan, dan Lia tahu kalau harausnya dia baik-baik saja.
“ Ck sial, sepertinya aku harus cek up hari ini..” Gumamnya sembari menutup hidungnya dan meraih tisu di nakas, kemudian beranjak dari atas ranjang.
Lia turun dari atas ranjang, matanya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Sepi, hanya itu yang dia temukan, tidak ada tanda-tanda keberadaan siapapun selain dirinya dirumah. Tapi ini juga hal biasa yang selalu di alami Lia, tumbuh sendirian tanpa siapapun yang bisa ia jadikan sebagai sandaran.
Lia melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, memastikan darah di hidungnya berhenti mengalir, kemudian membasuh mukanya dan menggosok giginya, mengganti pakaiannya dengan sebuah sweater berwarna hitam polos dan sebuah celana kain berwarna hitam dengan garis putih ditepinya.
“ Perfect!” Ucap Lia sembari memandang cermin, penampilannya hari ini benar-benar santai dan nyaman. Walau katanya seorang pesulap internasional yang memiliki ratusan juta fans diberbagai penjuru dunia, nyatanya Lia tetaplah seorang yang bodo amat dengan kamera. Dia tidak peduli bagaimana dirinya tampak di depan publik ( dalam penampilan sehari-hari ), dia tidak pernah memakai masker, atau kaca mata hitam saat keluar, dia selalu bersikap biasa saja, bahkan sering kali menyapa fansnya dengan ramah atau menghibur orang-orang di jalan dengan tingkah konyolnya ataupun aksi sulapnya, dan itu yang membuat Lia unik.
Sosok yang mampu mengubah dunia seseorang dalam sekejap, sosok yang mampu menghibur dan mendapatkan harti jutaan orang dalam sekali pertunjukkan. Itulah Lia, walau begitu nyatanya Lia membenci hidupnya, dia tidak suka dengan hidup yang dimilikinya, dia merasa beban yang ditanggungnya jauh lebih berat dari orang lain, karenanya dia sering mengurangi beban orang lain dengan menghibur orang yang sedang sedih, Lia tidak peduli apa dia mengenali orang itu atau tidak, yang jelas selama dia bisa menghibur orang itu, maka itu cukup baginya.
Lia segera melangkahkan kakinya pergi menjauh dari rumahnya menuju ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya, ya tubuh Lia memang sudah lemah dari kecil, selain itu dia juga mengidap beberapa penyakit yang membuat dirinya sering kali keluar masuk rumah sakit. Walau begitu Lia tidak mengeluh, dia pasrah dengan keadaan.
Entah kenapa tapi setiap masuk ke rumah sakit dia nampak senang, ruangan penuh bau obat selalu menjadi temannya yang paling setia, walau bagitu Lia tetap keras kepala, dia menolak untuk makan jika sedang tidak ingin
dan menolak minum obat. Ya, Lia benci obat.
Lia melangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga membawanya menuju ke sebuah ruangan, Lia masuk kedalam setelah mengetuk pintu ruangan tersebut. Dilangkahkan kakinya dan dibawa tubuhnya masuk, disana sudah ada seorang dokter muda yang sudah mengobati dan mengawasi perkembangan penyakitnya sejak lama.
“ Yo, paman Alex!!” Sapa Lia dengan senyum secerah mentari. Sosok yang dipanggil paman Alex itu adalah dokter yang selama ini merawat Lia, dokter itu terkejut mendapati sosok Lia yang masuk ke ruangannya.