
“ Apa tidak ada yang lain..?” Tanya Lia lesu, sungguh dia tidak ada selera untuk menyantap makan lembek yang sudah dibuatkan oleh Hans dengan sepenuh hatinya.
" Berhenti mengeluh dan makan saja!!” Ucap Hans dan Alex bersamaan, Lia yang mendapat jawaban seperti itu langsung terdiam dan mulai menyantap makanannya dengan penuh keterpaksaan.
Suara dentingan sendok dan percakapan kecil antara Hans dan Alex yang tengah mengeluh dengan kekeras kepalaan Lia, juga sesekali diselingi dengan sedikit bujukan supaya Lia mau menjalankan pengobatan, dan terkadang Lia menimpali dengan celotehan tidak jelas, ataupun dengan gumaman penuh kekesalan.
“Aku sudah selesai, terimakasih!” Ucap Lia lesu, Hans mengambil mangkuk itu kemudian meletakkannya ke atas nakas. Alex melirik jam sejenak dari ekor matanya, setelahnya membolakan mata karena terkejut mendapati
jam yang sudah hampir mendekati pukul 11.
“ Sepertinya aku harus pergi sekarang!” ucap Alex sembari bangkit dari duduknya, Lia mengangguk paham sedangkan Hans bangkit dan mengikuti Alex sampai pintu depan.
“ Jaga Lia baik-baik, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku!!” Ujar Alex yang hanya diangguki oleh Hans. Alex segera pergi dari sana sedangkan Hans kembali ke kamar Lia untuk memeriksa kondisi gadis itu.
Hans membuka pintu pelan dan mendapati Lia tengah meyibak korden jendela yang ada dibelakang ranjangnya, Lia tampak menatap langit biru di luar sana dari jendela kacanya, sedangkan Hans hanya bisa menatap gadis itu sendu.
“ Hans, bisa atur izinku untuk beberapa hari?” Tanya Lia sembari mengukir senyum kecil di wajahnya, Hans mengembalikan fokusnya kemudian mengangguk kecil sebagai jawaban. Hans sebenarnya tidak setuju Lia membolos seperti ini, tapi demi kesehatan sang gadis, Hans tidak bisa melakukan apapun selain mengabulkan permintaan Lia.
“ Aku ada di sebelah, kalau butuh apa-apa panggil saja aku!” Ucap Hans yang langsung diangguki oleh Lia, Hans melangkahkan kakinya keluar dari kamar memberikan ruang bagi Lia untuk sendiri. Sedangkan dirinya lebih memilih untuk menghilangkan beban diotaknya terlebih dahulu.
Semua akan baik-baik saja, bukan? -Tanya Lia dalam hati
^^Heh, apa kau lupa kalau kita memang ditakdirkan untuk tidak baik-baik saja? -Sebuah suara terngiang dikepalanya, suara seorang gadis kecil yang jelas Alya tahu siapa itu. Sosoknya dimasa lalu, gadis kecil bernama
Lia yang hidup dengan penuh kebahagiaan, tanpa rasa sakit ataupun penderitaan.
Pergilah!! -Maki Lia dalam hatinya, sungguh ia marah dan kesal dengan suara-suara yang selalu mengganggunya.
^^Kenapa? Apa kau ingin melupakanku, Alya? -Tanya gadis kecil itu dengan nada mengejek, sungguh seandainya bisa Lia pasti akan menghajar sosok itu dengan kedua tangannya sendiri.
Bukankan aku sudah mengurungmu? Lalu, kenapa kamu datang lagi? -Tanya Alya kesal, pasalnya sudah jelas ia difonis sembuh setelah melakukan perawatan yang menyiksa selama 3 tahun hanya demia menghadapi gadis kecil itu.
^^Heh, sepertinya nona pesulap ini sangat kesal padaku? -Ucap gadis itu mengejek, Lia tak kuasa lagi. Ia meremat kepalanya dengan kuat.
Pergilah, Lia!! KAMU SUDAH LAMA MATI!!! -Teriak Lia dalam hati, walau sulit mempertahankan emosinya. Tapi Lia berusaha menjaga kewarasan dan kesadarannya agar ia tak berteriak pada udara seperti orang gila.
^^Ah kau tidak asik…. -Rengek gadis kecil itu.
Pergilah, aku mau tidur! -Ucap Lia final
Lia memejamkan matanya, menghiraukan suara-suara yang masih menggema di otaknya. Melupakan rasa sakit yang masih menjalar di seluruh tubuhnya, dan menyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Waktu serasa berlalu dengan cepat, mentari sudah pergi menyisakan sang rembulan yang sendiri dalam kegelapan tanpa ada secercah sinar bintang yang terlihat dari langit mendung, hanya rembulan yang terus menerus memantulkan sinarnya di balik awan. Dikala langit bersedih dengan awan mendung, begitu juga dengan hati Lia yang lebih memilih untuk tetap menjadi bulan yang tetap berjuang memancarkan sinarnya walau sang awan terus
menerus menghalangi jalannya.
Kini Lia masih terduduk diatas ranjang, memeluk tubuhnya sendiri dan meletakkan dagunya pada lutut, kepalanya masih mendongak menatap langit gelap yang samar akan sinar rembulan mencoba mencari secercah cahaya yang bisa menguatkannya.
Apa hidup sesulit ini?~ Tanyanya dalam hati
tahu apa waktu bisa diputar, apa takdir yang sudah terjadi bisa diubah, atau apakah dia bisa memperbaiki kesalahannya.
“ Hahh..., andai waktu bisa diputar...semua ini tidak akan terjadi?” Gumamnya pelan, tubuhnya dihempaskan ke ranjang dengan kasar, matanya menatap plafon putih diatas sana. Jemarinya mencengkram erat seprai putih dibawah tubuhnya, bibirnya digigit kecil mencoba mengurangi rasa sakit yang tiba-tiba menyerang jantungnya.
Lia meremat seprai dibawahnya semakin kuat, matanya dipaksa menutup berharap rasa kantuk menghampirinya dan menyelamatkannya dari rasa sakit yang di alaminya saat ini, walau tidak berhasil tapi Lia terus memaksa sampai 3 jam berlalu dan Lia terlelap.
.
.
.
“ Ungh…” sebuah erangan terlepas dari bibir mungil Lia, kelopak matanya mulai terbuka menampilan iris coklat senada madu yang tersembunyi sedari tadi. Sinar mentari sudah memenuhi kamarnya sedari tadi, dan jam weker yang masih setia berdering tanpa ada niatan untuk berhenti.
Lia mencoba bangkit dan mendudukkan tubuhnya, di liriknya jam weker yang masih berdering dan menampilkan angka 09:00 PM. Lia menghela nafas pelan, dia kesiangan. Diangkat tubuhnya dengan perlahan dari atas
ranjang dan dilangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Saat dikamar mandi Lia mencuci wajahnya dengan air di wastafel kemudian menatap wajahnya di cermin, Lia mendapati dirinya yang nampak begitu pucat, dengan bibir dalamnya yang sobek. Matanya nampak lelah dan sorot
matanya agak kosong, Lia tidak tau tapi sepertinya dia benar-benar dalam kondisi yang buruk.
“ Hans…” Panggil Lia lemah, dia melangkahkan kakinya pergi menuju ke dapur tapi dia tidak mendapati Hans disana, jadi dia melirik ke ruang santai tapi dia lagi-lagi tidak menemukan keberadaan Hans. Lia menghela nafas
kasar, menghempaskan tubuhnya ke sofa dan memijat pangkal hidungnya pelan.
“ Hans ada dimana sih??” Gumamnya kesal, Lia masih memijat pangkal hidungnya sesaat kemudian melirik ke arah layar monitor didepannya. Lia mengernyit pelan setelah mendapati sesuatu yang menempel di sudut layar monitornya.
Lia melangkah kemudian mengambil kertas catatan yang menempel disana, setelahnya duduk kembali dan melihat catatan apa yang tertempel disana.
Aku pergi ke sekolah, kalau lapar hangatkan makanan di lemari es -Hans
“ Ck, kenapa tidak membangunkan ku...!!??” Gerutunya kesal.
Lia menghempaskan tubuhnya lelah, memejamkan matanya sejenak di sofa. Untuk sesaat Lia merasakan ketenangan yang menenangkan baginya, bukan hening sepi dan dingin yang biasa dia dapati di rumah. Kali ini hanya keheningan yang menenangkan tanpa suara teriakan Hans yang biasa menyapu indra pendengarannya.
“ Aku lapar…” Gumamnya pelan, Lia membuka matanya dengan cepat kemudian mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju ke kamar mandi membasuh tubuhnya kemudian mengganti pakaiannya dengan pakain santai.
Lia keluar dengan training hitam panjang, kaos putih, jaket hitam sport oversize, sebuah masker, topi dan kaca mata hitam yang membuatnya nampak seperti orang aneh, ini bukan gaya Lia tapi entah kenapa dia ingin
berpenampilan seperti itu saat ini.
Lia melangkahkan kakinya keluar dari appartemennya pergi menuju ke supermarket yang jaraknya hanya 3 kilo dari appartemennya, Lia pergi dengan berjalan santai setibanya disana, Lia segera mengambil bahan makanan
untuk persediaan selama 3 hari, kemudian membeli beberapa cemilan dan es krim yang bisa ia makan.
“ Ini kembaliannya..” Ucap kasir yang memberikan struk dan uang kembalian kepada Lia, Lia mengangguk sopan kemudian berjalan pergi menuju ke appartemennya.