X

X
a



“ kau tunggu disini, aku akan membelikan sesuatu untukmu!”


ucap Leo yang bergegas pergi menuju ke stand dan membeli beberapa potong


sandwich dan roti cokelat untuk dirinya dan Lia. Lia memilih untuk duduk


disalah satu meja yang kosong, memainkan ponselnya sembari menanti Leo yang


membeli makan siang untuk mereka.


“ Lia~~~” panggil Leo yang baru saja kembali dari stan


kemudian menghampiri Lia denga riang karena dia mendapat bonus sekotak susu


strawberry kesukaan Lia. Lia menyimpan ponselnya kemudian bangkit dan berjalan


menghampiri Leo.


“ ayo ke atap!” ajak Lia yang mengambil sekotak susu


strawberry dari tangan Leo dan berjalan kea tap


.


.


.


Setibanya di atap Lia mendudukkan tubuhnya dilantai,


bersandar pada dinding dna menatap langit biru. Leo melakukan hal yang sama


sembari membuka bungkus roti miliknya, keduanya diam selama beberapa saat


hingga akhirnya Lia bicara.


“ maaf membuatmu khawatir…” gumm Lia sendu, Leo tersenyum


kecil kemudian mengusak puncak kepala Lia dengan lembut.


“ tidak apa, jadi apa yang terjadi 2 minggu ini?” Tanya Leo


lembut, Lia terkekeh pelan kemudian mendongak ke atas.


“ ya awalnya sih penyakit gw kambuh gara-gara dihukum


Mrs.Rose, terus habis itu gw dibawa ke rumah sakit buat terapi dan ya itu alasan


gw gak masuk 2 minggu ini!” ucap Lia santai, leo yang mendnegarnya tertegun


pelan sampai akhirnya dia menghela nafas pelan.


“ sial, kenapa hidupmu ahrus begitu sakit?” Tanya Leo geram,


dia ingin menyalahkan takdir yang membuat Lia menderita, tapi apa yang bisa dia


lakukan? Dia siapa hingga berani menyalahkan takdir seperti itu?


“ haha, jangan begtu! Hidupku sudah cukup bahagia dengan


keberadaanmu dan yang lainnyan!” uca Lia tersenyum kecil, dan itu benar-benar


senyum yang tulus dari hatinya. Leo bisa melihat itu, dan dia hanya bisa


menghela nafas melihat tingkah sahabatnya itu.


“ ayo kembali ke kelas!” ajak Lia pada Leo, Leo hanya bisa


mengangguk pasrah dan mengikuti sahabatnya itu kembali ke kelas. Sepanjang


lorong keduanya bercanda gurau, dan menikmati waktu istirahat mereka.


.


.


.


Hari ini lia pulang ke rumah ayahnya, dan hal pertama yang


ia dapati adalah sang ayah yang tengah mengobrol dengan seorang wanita di ruang


santai rumah mereka. Lia membeku sejenak, gadis itu jelas begitu syok, bahkan


dia tidak mampu mencerna apa yang tengah terjadi didepan matanya.


“ eh, Lia!” pekik sang ayah saat mendapati putrinya tengah


terpatung dilorong, Lia tersentak dan tersadar dari lamunannya sebelum memasang


senyum kikuk. Wanita itu menoleh kea rah lia sebelum akhirnya tersenyum begitu


mendapati gadis itu tengah canggung.


“ jadi kamu, Lia?” ujar wanita itu menarik tubuh Lia ke


sofa, dia mendudukkan gadis itu sebelum akhirnya berjongkok didepannya dan


mengusap wajah cantik Lia.


“ kamu benar-benar cantik, Mas Dika menceritakan banyak hal


tentangmu dan Ray!” ujar wanita itu membuat Lia sontak menoleh dan menatap sang


“ anu, jadi…ini Ana, dia…calon Papa…” ucap sang ayah ragu,


Lia sontak membolakan matanya. Dia kaget bukan main, dia tidak percaya degan


apa yang dikatakan sang ayah. Akan tetapi tangannya langsung bergerak, dengan


cepat sebuah bunga muncul didepan wanita itu.


Sebuah mawar hijau yang lembut muncul didepan wajah Ana,


membuat wanita itu kebingungan dengan apa yang terjadi. Akan tetapi dia tetap


mengambilnya, kemudian menatap wajah Lia yang mengukir senyum diwajahnya.


“ mawar hijau, artinya harapan akan kehidupan yang baru. ku


harap kamu bisa membawa kebahagaian dalam hidup Papa.” Ucap Lia mengukir


senyumnya sebelum bangkit dari sana, dia berjalan mendekat kea rah ayahnya.


“ oh, aku mampir untuk mengambil barang” ucapnya sembari


berjalan kea rah kamarnya, mengambil berkas dan barang yang dia butuhkan


sebelum akhirnya pamit pergi lagi. Sang ayah hanya bisa menatap putrinya sendu,


sednagkan Ana menatap bingung pada Lia.


Lia baru saja keluar dari rumahnya, dan dia sudah mendapati


Kai dan anak-anak kos lainnya yang tengah berdebat diluar kosan mereka. Lia


yang bingung dan pensaran sontak berjalan mendekat dan mengintrupsi kegiatan


mereka.


“ anu…!” ucapnya membuat ke-4 pemuda itu menoleh kea rah


sumber suara itu.


“ ALYA!!!!???” pekik mereka smeua terkejut, Lia menautkan


kedua alisnya bingung.


“ apa yang kalian lakukan didepan pintu?” Tanya Lia


penasaran, keempat pemuda itu saling pandang sampai akhirnya mengangguk


bersamaan.


“ anu, kita mau minta makanan buat makan siang. Tapi, kita


sungkan. Jadinya kita malah diskusi disini” sahut Kai sembari menggaruk


tengkuknya, Lia ber’o’ ria sebelum merogoh sakunya. Dia mendapati sebuah black


card disana, jadi dia tersenyum.


“ kalau begitu ayo belanja!” ucap Alya yang membuat mereka


semua terkejut.


“ EHHH!!!!”


“ kau serius!!??” Tanya pemuda yang mengantar lia tadi pagi,


lia mengangguk cepat.


“ tentu saja, uhm…?” Lia menatap bingung pada pemuda


didepannya, dia tidak tau mau memanggil mereka siapa. Dan itu membuat


keempatnya paham.


“ Jerry!” ucap pemuda yang mengantar Lia tadi pagi, Lia


menjabat tangan pemuda bernama Jerry itu dan kemudian tersenyum.


“ gua reza, salam kenal ya!” ucap Reza sembari mengedipkan


mata kanannya


“ ihh sono lu, gua Dika!” ucap Dika sembari tersenyum dan


menjabat tangan Lia dengan hangat.


“ ah, terimakasih sudah meminjamkan jaketmu padaku” ucap Lia


pada DIka, DIka terkejut. Pasalnya dia tidak tau kalau Kai member tahu hal itu


pada Lia.


“ eh bagaimana kamu tau?” Tanya DIka bingung, dia menatap


Kai tidak percaya sedangkan Kai menatap horror pada Lia


“ hanya tubuhmu yang paling kecil disini, lagian badan kak


kai kekar kek gitu, mana besar lagim pasti bukan punya dia!” ucap Lia santai,


dia melepas genggaman tangan Dika dan menatap keempatnya lamat