
BRAKK!!!
CKLEEKK!!!
Pintu ditutup
dengan kasar kemudian dikunci dari dalam, Lia menyandarkan tubuhnya pada daun
pintu menghela nafas lega. Walau dadanya agak sesak karena kondisi tubuhnya
yang lemah akan tetapi dia lega karena bisa keluar dari ruangan mengerikan itu.
Setelah
mengembalikan kondisi tubuhnya Lia mulai bangkit dan berniat mencari keberadaan
nintendo miliknya, akan tetapi sebuah ketukan membuatnya menghentikan
langkahnya dan berbalik menghadap pintu itu.
“ buka pintunya,
Alya...” ucap sosok dibalik pintu itu, Lia menghela nafas lelah kemudian
membuka knop pintu dengan perlahan.
“ huh, dokter tak
bisakah aku mencari nintendo milikku lebih dulu?” tanya Lia memelas, Micheal
menghela nafas kemudian mengangguk pelan.
Lia mengembangkan
senyumnya lebar, kemudian berteriak senang sembari mencari keberadaan switch
nintendo yang pastinya disimpan Alex di salah satu sudut ruang kerjanya. Lia
mencari keseluruh penjuru ruangan itu hingga akhirnya menemukan keberadaan
benda yang dia cari dibawah meja kerja milik Alex, tergeletak begitu saja
dilantai.
“ Yatta
akhirnya!!!!” ucapnya senang sembari mengangkat tinggi nintendo itu dengan
kedua tangannya.
“ sudahkan, ayo
pergi ke ruang konseling...” ucap dokter micheal malas, Lia merenggut kesal.
“ ayo pergi ke taman
saja!!!!!” pinta Lia dengan puppy eyes diatas topeng manja yang dia pasang
membuat dokter Micheal tidak bisa berbuat apa-apa.
“ hahhh,
baiklah...” ucap dokter Micheal pasrah.
“ yayy!!!!”
teriak Lia senang
Mereka berdua
akhirnya berjalan pergi menuju ke taman rumah sakit yang biasa digunakan oleh
para pasien yang sedang menjalani rehabilitasi atau mereka yang bosan berada
dikamar, sekarang masih cukup pagi baru pukul 8 pagi jadi taman masih sepi,
akan tetapi Lia tidak keberatan. Setidaknya masih ada beberapa manula yang bisa
ia lihat, juga anak-anak yang bermain bersama.
Lia menghentikan
langkahnya didepan sebuah kursi panjang kemudian mendudukkan tubuhnya disana,
Lia mendongak menatap langit biru kemudian mengukir senyumnya kecil, mencoba
memejamkan mata sembari menikmati udara segar yang bisa ia hirup disana.
“ segitu bencikah
kamu dengan ruang isolasi?” tanya dokter Micheal yang sudah lia hafal diluar
kepala, satu-satunya dokter yang mengizinkannya keluar dan menenangkan dirinya
sejak 10 tahun lalu. Dokter berusia 47 tahun itu benar-benar sudah hafal
tingkah laku Lia, bahkan hanya pada dokter itu Lia mau angkat bicara.
“ ya, disana
mengerikan...”
“ tidak ada
siapapun yang bisa mendengar ataupun melihatku disana...” ucap Lia santai,
sepertinya semua ketakutannya hilang dibawa angin.
“ kalau begitu
langsung kita mulai saja...” ucap dokter Micheal yang diangguki oleh Lia, dia
mengambil tempat disebelah Lia untuk duduk dan mulai membuka lembar hasil
laporan yang diberikan oleh asistennya.
Sesi Tanya jawab dimulai dengan tenang, akan tetapi ini
tidak berjalan dengan mudah. Lia hanya akan menjawab seperlunya saja, dan tetap
menyembunyikan hampir 99 % perasaannya. Micheal hanya bisa menghela nafas
dengan hasil yang dia dapat, setidaknya dia masih mendapat beberapa data berisi
keluhan Lia.
2 jam berlalu dengan tenang, Lia yang menikmati siang yang
damai sembari memandang langit biru ditemani tawa anak-anak yang pecah
lama seorang wanita dewasa menghampiri keduanya dan menarik paksa Lia kembali
ke ruang isolasi.
“ hah, tak bisakah kau melakukan hal ini secara normal?”
Tanya Lia ketus, bagaimana tidak ketus saat menjawab. Saat ini kerah lehernya
ditarik bak anak kucing yang dibawa sang induk, dan ya ini memalukan.
“ tidak! Sekarang saatnya sesi konselingku, dan kamu harus
menurut!” ucap wanita itu membuat Lia menghela nafas kesal, bahkan saat ini
konsol gamenya sudah dibuang entah kemana oleh dokter itu.
^^ heh, wanita ini masih sama saja sejak dulu…
^^ tidak pernah berubah!!
“ kau benar, karenanya nenek sihir ini harus diberi
pelajaran?” ucap Lia membuat dokter wanita itu mengernyit heran, sepertinya
skizofrnianya kambuh.
“ heh, sepertinya skizoferniamu kambuh lagi~” ucap dokter
wanita itu jengah.
“ heh, dokter Anna. Tidak bisakah kamu memperlakukanku
seperti manusia?” Tanya Lia ketus, dia benar-benar kesal sekarang.
“ tidak, sudah diam dan ikut saja!” ucap dokter Anna membuat
Lia semakin kesal.
Dokter Anna membawa Lia pergi menuju ke ruang konseling,
dimana itu hanay ruangan kecil berukurkan 4 X 4 meter persegi dengan nuansa
dominan putih, didalamnya hanya ada sebuah kursi dan meja ditengah ruangan,
juga sebuah rak berisi puluhan buku tentang psikologi manusia.
Lia benci ruangan itu, satu-satunya tempat dirumah sakit
yang paling tidak disukai Lia adalah semua ruangan yang berhubungan dengan
penyakit mentalnya.Dokter Anna mengunci pintu sedangkan Lia mendudukkan
tubuhnya dikursi dengan santai, kakinya bahkan dibawa naik ke atas meja.
“ turunkan kakimu!” ucap dokter Anna dingin, Lia hanya cuek
dan memilih memejamkan matanya.
Dokter Anna memulai konselingnya akan tetapi Lia memilih
diam dan mengacuhkan dokter cantik itu, membuatnya kesal sampai ke ubun-ubun.
Sesi konseling yang harusnya hanya berjalan selama 1 jam kini berlangsung
selama hampir 4 jam tanpa membuahkan hasil kecuali kemarahan dari Dokter Anna
dan istirahat yang cukup nyaman bagi Lia, ya setidaknya Lia masih bisa tidur
disaat seperti itu.
“ sudahlah dokter, menyerah saja~”
“ jika kau bersikeras seperti ini hanya akan membuang waktu
percuma, selain itu aku tidak pernah angkat suara selain pada paman Micheal”
ucap Lia santai, dia menurukan kakinya dari atas meja dan menggosok mata
kanannya.
“ ck, jawab saja pertanyaanku gadis bodoh!!” geram dokter
Anna membuat Lia mengukir smirknya, Lia bangkit dari sana dan menepuk pelan
celananya.
“ haha, mimpi~” ucap Lia berjalan pergi ke arah pintu yang
sedang terkunci, Lia memegang pintu knopnya dan berniat memutar knop pintu itu.
Dokter Anna mengembangkan smirknya, teringat jika pintu itu terkunci.
“ heh, kamu tidak akan bisa membukanya!” ucap dokter Anna
lantang, Lia terkekeh pelan kemudian memutar knop pintunya dan ya, pintu
terbuka.
“ you see? Tidak ada yang bisa menipu Alya Zifari selain
dirinya sendiri~” ucap Lia yang berjalan santai keluar dan memilih untuk
kembali mencari konsol nintendonya yang hilang.
Sayangnya saat dia baru keluar, sudah ada paara suster yang
bersiap untuk menangkapnya dan membawanya kembali ke ruang isolasi.Dan ini
membuat kekesalan Lia semakin menjadi, sudah konsolnya dibuang entah kemana dan
kini dirinya sudah ditangkap dan dibawa kembali ke ruangan sialan itu.
Tiga hari berlalu, Lia akhirnya berhasil keluar dari rumah
sakit dengan kondisi mental yang sedikit banyak tertekan.Lia kini tengah dalam
perjalan pulang bersama Hans menuju ke rumahnya, ya rumahnya.Lia ingat kalau
dia punya janji dengan Ray, dan ya sekarang dia harus menepatinya walau hans
terus memarahinya sepanjang jalan.
“ Hans bisakah kau berhenti sejenak? Telingaku sudah panas mendengar
ocehanmu..” ucap Lia sembari
mengorek telinganya santai.