X

X
Sick



Lia menatap kaos lengan pendek berwarna hitam yang terbalut sweater berwarna biru muda berukuran oversize yang melekat ditubuhnya, sweater polos yang tadinya berwana biru cantik kini dipenuhi dengan bercak merah


kehitaman. Lia mengukir senyum pasi diwajahnya, dia melirik Hans yang masih nampak khawatir padanya.


“ I’m fine Hans..” Ucap Lia lemah, Hans mengukir senyumnya kemudian mengecup puncak kepala Lia dengan lembut. Hans sudah menganggap Lia seperti adiknya sendiri, jadi dia selalu memprioritaskan gadis manis ini diatas


segalanya. Hubungan yang dibangun sejak 10 tahun yang lalu tidak bisa diputus begitu saja, walau usianya terpaut 2 tahun lebih tua darinya tapi Hans selalu bisa menjadi sandaran bagi Lia.


“ Aku akan mengambilkan baju ganti untukmu..” Ucap Hans menyadarkan tubuh Lia pada headboard, dia melangkahkan kakinya turun dan berjalan mendekat ke arah lemari yang tidak jauh dari sana, diambilnya sebuah


kaos lengan panjang kemudian diberikan pada Lia.


“ Aku akan memanggil paman Alex, ganti bajumu lebih dulu..” Ucap  Hans lembut, Lia mengangguk dan mengukir senyumnya lemah, hanya itu yang bisa dia lakukan. Hans pergi dan meninggalkan Lia sendiri untuk mengganti pakaiannya, sedangkan dirinya lebih memilih untuk menghubungi dokter Alex dan memintanya datang ke apartemen milik Lia.


Tidak butuh waktu lama bagi Alex untuk datang ke appartemen milik Lia, mengingat jarak apartemen Lia dari rumah sakit yang memang tidak begitu jauh. Alex yang tiba langsung membuka eh, mendobrak pintu dan masuk ke dalam kamar miik Lia tanpa seizin sang pemilik, dan ya ini sangat membuat Lia terkejut bukan main.


“ LIAA!!???” Teriak Alex panik bukan main. Lia menoleh dengan cepat sampai-sampai lehernya hampir terasa patah, sayangnya itu semua hanya bohongan.


“ Hahh, paman...kau membuatku kaget saja” Ucap Lia kesal, Alex masih mencoba mengatur nafasnya setelah berlari dari koridor menuju ke ruangan Lia. ALex menatap penuh kelegaan kala mendapati Lia yang tengah bersandar pada headboard, Akan tetapi saat maniknya menemui sweater biru Lia yang penuh akan bercak darah berada di atas ranjang membuatnya membolakan mata.


Alex berjalan dengan cepat mendekati ranjang kemudian mengambil sweater itu, ditatapnya Lia dengan tajam dan membuat Lia meneguk ludahnya kasar. Alex menghela nafas lelah, kemudian membantu Lia merebahkan tubuhnya diranjang.


Alex mengambil stetoskop dalam tas miliknya kemudian mulai memeriksa kondisi Lia, Lia hanya diam menurut sedangkan Hans sepertinya sudah bergelut dengan dapur, bahkan suara Hans yang tengah bersenandung


sampai terdengar ke kamar Lia, ya salahkan Lia yang sudah merombak appartemen miliknya.


Appartemen sederhana dengan luas 7 x 5 meter persegi itu sudah dirombak habis-habisan, bahkan dinding yang menjadi pemisah antar ruangan dia hancurkan, kini appartemen miliknya sama saja dengan sebuh kamar yang luas, Lia membagi tempat itu menjadi 4 bagian utama dan beberapa bagian kecil didalamnya.


sebagai ruang santai sekaligus ruang tamu bagi Lia, dia membaginya menjadi 2 bagian 1,5meter untuk ruang tamu dengan sebuah sofa putih panjang menghadap dinding dan sebuah sofa putih single seat, disana ada sebuah meja kecil dengan karpet bulu berwarna hitam diatas lantai kayu berwarna coklat.


Di belakang sofa terdapat 2 rak buku setinggi 2 metermembelakangi sofa, disana berisi berbagai macam koleksi buku pengetahuan dan novel milik Lia, di sebrang lemari diciptakan sebuah ruang santai yang berisi sebuah sofa berwarna biru langit dibawahnya ada sebuah karpet bulu yang lembut berwarna ungu dan 3 monitor  dengan ukuran 43 inch berdiri kokoh di atas buffet, di bawahnya ada koleksi konsol game, laptop, kamera, dan berbagai


macam peralatan elektronik disimpan disana.


Dibelakang buffet sudah berdiri 2 rak buku lainnya, kali ini sebagai pembatas kamar milik Lia, dalam kamarnya yang hanya seluas 2 X 2 meter terdapat rak buku sebagai pembatas, sebuah ranjang double bad, sebuah karpet bulu yang nyaman ( lagi ) , sebuah nakas disisi kiri ranjang, sebuah meja belajar lengkap dengan komputer di sebrang ranjang dan kamar mandi disebelah kiri ranjang, ya kamar mandi dengan ukuran 2 X 3 meter yang sudah dilengkap dengan walk in closet, dan ya satu-satunya dinding dirumah ini hanya pada bagian kamar mandi dan tempat laundry yang terhubung dengan kamar mandi dan berada tepat disebelah dapur.


Kali ini bagian dapur, letaknya disebrang kamar Lia yang menjadi pembatas tempat ini bukan sebuah rak buku, tapi etalase kaca yang berisi berbagai macam kitchen sheet, tea ware, perlatan makan berbagai model yang tentunya amat langka, dan berbagai jenis koleksi pisau yang biasa ia gunakan untuk memasak. Etalase ini pajangnya 2 meter, dengan lebar 40 cm dan tinggi 2 meter yang terbuat dari kaca berwarna hitam sehingga tidak menyilaukan


mata jika terkena sinar lampu atau cahaya matahari. Dapur seluas 3 X 2 meter hanya berisi pantry yang sudah lengkap dengan kitchen sheet, kemudian sebuah lemari es 2 pintu dan meja makan yang cukup menampung 4 orang.


Disebrang dapur ada pembatas dari kaca berwarna gelap, ini adalah ruang musik milik Lia. Tempatnya bersebrangan dengan dapur dan ruang tamu, didalamnya berisi sebuah piano tua yang berada di pojok ruangan, kemudian sebuah gitar, sebuah biola, dan sebuah kanvas, di sebelahnya ada buffet kecil yang berisikan berbagai macam peralatan melukis milik Lia, juga ada beberapa jenis senar gitar dan biola untuk berjaga jika senarnya putus.


“ Lia sampai kapan kamu akan terus begini?” Tanya Alex yang baru selesai dengan kegiatannya memeriksa Lia, nampak Alex memasang wajah khawatir dan penuh ragu akan tetapi Lia menggeleng pelan sembari memberikan senyum kecil tanda ia baik-baik saja.


“ Aku baik paman, ini bukan apa-apa..” Ucap Lia pelan, Alex menghela nafas membujuk anak ini memang sulit bukan main. Jadi dia hanya bisa diam dan menunggu sampai Lia menyerah pada keadaan? Tidak, Alex tidak ingin itu terjadi, dia ingin Lia tetap hidup, dia ingin melihat senyum gadis kecil itu, walau hanya 10 tahun bersamanya tapi dokter berusia 35 tahun itu tidak ingin menyerah walau hanya sebentar, dia ingin Lia baik-baik saja.


“ Apa sudah selesai paman?” Suara Hans yang baru saja datang dari dapur sembari membawakan semangkuk bubur dan 2 gelas berisi kopi yang diletakkan di atas nampan.


“ Hm, apa itu?” Tanya Alex santai sembari membereskan barang-barangnya.


“ Ah, kopi dan bubur untuk Lia.” Ucap Hans santai, dia berjalan mendekati ranjang dan meletakkan nampan diatas nakas, dia membantu Lia duduk kemudian memberikan bubur itu pada Lia.


“ Apa tidak ada yang lain..?” Tanya Lia lesu, sungguh dia tidak ada selera untuk menyantap makan lembek yang sudah dibuatkan oleh Hans dengan sepenuh hatinya.