X

X
a



“ ini kembaliannya..” ucap kasir yang memberikan struk dan


uang kembalian kepada Lia, Lia mengangguk sopan kemudian berjalan pergi menuju


ke appartemennya.


Saat dalam perjalanan pulang, Lia menghentikan langkahnya


didepan sebuah taman bermain ditepi jalan. Lia melangkahkan kakinya pergi ke


taman itu, meletakkan barang belanjaannya di tanah kemudian mendudukkan


tubuhnya di ayunan yang kosong.


Lia melirik jam tangannya, sekarang menunjuk pukul 09.45 PM


taman masih sangat sepi karena ini masih jam sekolah, Lia menghela nafas pelan.


Dengan perlahan tubuhnya diayun kedepan belakang dengan pelan hingga sebuah


suara mengalihkan atensinya.


“ meow~``” suara itu ternyata berasal dari kucing berwarna


hitam dengan bulu putih dibagian depan tubuh dan dagunya. Matanya menampilkan


sorot mata tajam dan penuh keberanian, akan tetapi dipenuhi dengan keraguan dan


ketakutan pada sosok didepannya.


“ heh, apa yang kamu inginkan?” Tanya Lia pada kucing itu,


mungkin kelihatannya gila tapi Lia tidak merasa kalau yang dia lakukan ini


aneh, mungkin efek terlalu lama bicara didepan cermin.


“ meow~``” kucing itu lagi-lagi mengeong, Lia terkekeh


sejenak menampilkan senyum kecilnya. Lia bangkit dari ayunan, kemudian


berjongkok didepan kucing kecil itu, tangannya meraih sesuatu dari dalam


kantong plastik.


“ ck ck, padahal kamu sedang ketakutan tapi masih saja


memberanikan diri untuk muncul didepanku?” ucap Lia mengeluarkan sebuah sosis


dari dalam kantung plastic kemudian mengupasnya.


Kucing itu hanya diam dan menatap sengit pada Lia, Lia


terkekeh pelan untuk kedua kalinya kemudian meletakkan sosis itu didepan kucing


kecil yang menatapnya tajam.Kucing hitam itu dengan pelan menunduk dan


mengendus makanan yang ada didepannya, setelah beberapa saat dia memakan sosis


itu dengan lahap.


“ khekekeh, padahal kamu juga sedang bertaruh dengan nasib


bukan? Padahal diri sendiri sangat takut dan kecewa dengan manusia, tapi kamu


malah memberanikan diri dan mendekatiku yang seorang manusia?” tanya Lia sembari


mengusap pelan bulu kasar ditubuh kucing itu.


“ ya, tapi itulah makhluk hidup! Mereka tidak akan berhenti


berusaha sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan mereka pasti harus


melawan ketakutan mereka bukan?”Tanya Lia lagi, dia mendongak sejenak kemudian


mengambil nafas dalam.


“ apa kamu berpikir kalau aku orang baik, jadi kamu


memberanikan diri mendekatiku?” Tanya Lia yang mendongak menatap langit.Kucing


itu ikut mendongak, menatap Lia yang nampak hancur saat itu.Kucing hitam itu berjalan


perlahan mendekati tubuh lia, kemudian menggosokkan kepalanya pada kaki kanan


Lia.


“ ah?” lia terkejut, dia menoleh dan mendapati kucing itu


tengah berusaha menghiburnya.


“ heh, apa kamu mencoba menghiburku?”Tanya Lia, sebuah


senyum terukir diwajahnya dan tangannya mengusap kepala kucing itu dengan penuh


sayang.


“ apa kamu mau ikut denganku?” Tanya Lia yang membuat kucing


itu mendongak, dia masih menatap sengit pada Lia, akan tetapi sepersekian detik


kemudian kucing itu melompat ke bahu Lia dan menyamankan posisinya disana.


“ heh, ku anggap setuju..” ucap Lia sembari mengusap pelan


tubuh kurus kucing hitam itu, Lia bangkit dan mengambil belanjaannya kemudian


berjalan kembali menuju ke appartemennya.


●ꙍ●


KRIEETTT


Pintu dibuka dengan perlahan, kemudian ditutup dengan


pelan.Lia melepaskan sepatunya kemudian melangkahkan kakinya pergi menuju


dapur, sedangkan kucing hitam itu masih senang bertengger diatas bahu Lia.


“ hei, turunlah!” titah Lia yang langsung dituruti oleh


kucing itu. Lia mengeluarkan


semua barang belanjaannya kemudian mengambil beberapa untuk ia masak, sedangkan


lainnya ia simpan dalam lemari es.


“ hm, aku bikin pasta saja ya?” gumam Lia sembari meletakkan


jari telunjuknya dibawah dagu, memasang pose berfikir. Lia menoleh sejenak dan


mendapati sebuah buntalan bulu berwarna hitam diatas meja makan, tanpa sadar


“ ck, kalau tidur jangan diatas meja, kau membuatku repot!”


ucap Lia memindahkan benda berbulu itu ke lantai, Lia menatap kucing hitam yang dipungutnya


cukup lama sejenak kemudian dia sadar kalau kucing itu kotor, bau, dan kurus.


“ hm, kamu juga butuh makan!” ucap Lia yang bangkit dari


duduknya kemudian berjalan menuju ruang santai dan mencari ponselnya, Lia


mencari di sofa, bawah meja, bawah sofa, di dekat bupet dan tempat lain yang


memungkinkan, akan tetapi sayangnya tidak ditemukan.


Lia melanjutkan pencariannya ke seluruh penjuru ruang


santai, hingga akhirnya dia meliha benda pipih itu berada di celah sempit


antara bupet dengan dinding dibelakangnya.


“ heh, bagaimana bisa disini?” gumam Lia kesal, Lia segera


menyalakan ponselnya membuka salah satu aplikasi ponselnya dan mencari nama


Hans yang tertulis disana.


“ ah, ketemu!” ucap Lia yang langsung mendial nomor itu


kemudian meletakkan smarthponenya ditelinga.  Lia menunggu sepersekian detik sampai akhirnya Hans menjawab panggilan


dari Lia.


/ apa sih, Lia!??/


/ ah, aku hanya ingin minta tolong…/


/ apa? Cepat katakan!!/


/ santai dong, ngegas!!/


/ ck, apaan??/


/ iya-iya santai aja kali, anu nanti tolong beliin makanan


kucing juga perlengkapan lainnya buat melihara kucing/


/ heh, sejak kapan lu melihara kucing?/


/ baru aja, gua pungut dijalan! Udah sono balik ke kelas,


bye~~/


/ oi, li…/


PIP


Lia mematikan ponselnya secara sepihak kemudian kembali ke


dapur, sedangkan itu disisi Lain Hans yang saat ini berada di toilet hanya


untuk menjawab panggilan Lia tengah meremat smartphonenya dengan kuat.


“ bocah sialan, AWAS SAJA KAU LIA!!!!!” teriak Hans menggema


ke seluruh gedung sekolah.


●ꙍ●


“ aku pulang…” ucap Hans yang baru kembali dari sekolah, dia


melepas sepatunya kemudian berjalan masuk sembari membawa tas yang disampirkan


di bahu kirinya, dan 3 kantung plastik besar yang berisi berbagai macam barang yang dipesan oleh Lia.


Hans berjalan masuk kemudian meletakkan kantung plastik itu di meja ruang tamu, kemudian


berjalan masuk dan menghentikan langkahnya untuk sesaat didepan ruang santai.


Hans mengernyitkan keningnya, dia sepertinya melihat benda berbulu hitam yang


tengah berada di atas sandaran sofa?


“ apa itu?” gumamnya sejenak sebelum berjalan mendekat ke


arah sofa, Hans mengulurkan tangannya kemudian menyentuh benda berbulu itu


sejenak.


“ eh, ini lembut..” ucap Hans yang terus mengusap bulu


lembut itu, sedangkan benda berbulu itu merasakan tidurnya terganggu. Tiba-tiba


benda berbulu itu berbalik dan mencakar tangan Hans.


“  ouch!!!” pekiknya


merasakan ada sayatan yang mendarat di tangannya, Hans menoleh sejenak dan


menatap benda berbulu itu, ternyata itu adalah kucing yang dimaksud Lia. Kucing hitam kurus, dengan mata


kuning mengkilat yang nampak tajam akan tetapi menjadi sebuah pesona tersendiri


untuk kucing itu.


“ argh, kenapa kamu imut sekali!!!!” pekik Hans yang


langsung menggendong kucing itu dan memeluknya, menciumi bulunya, dan mengusap


kepalanya dengan gemas. Sedangkan kucing hitam itu meronta sedari tadi, bahkan


berusaha mencakar wajah Hans yang membuat beberapa cakaran tipis di pipi Hans.


Hans masih terlalu fokus dan terbuai dengan kucing imut yang ada dipelukannya, tidak


peduli seperti apapun kucing itu meronta ataupun mancakarnya, Hans masih


terlalu gemas dengan makhluk imut di dekapannya. Sementara itu sosok Lia yang


sedari tadi tidur di sofa mulai terganggu dengan suara berisik dari kucing


hitam yang terus mengeong minta dilepaskan.


“ ungh..” Lia banging sembari menggosok mata kanannya, dia


mendudukkan tubuhnya dan mendapati Hans yang masih memeluk kucing hitam


miliknya dengan gemas.