
“ ini kembaliannya..” ucap kasir yang memberikan struk dan
uang kembalian kepada Lia, Lia mengangguk sopan kemudian berjalan pergi menuju
ke appartemennya.
Saat dalam perjalanan pulang, Lia menghentikan langkahnya
didepan sebuah taman bermain ditepi jalan. Lia melangkahkan kakinya pergi ke
taman itu, meletakkan barang belanjaannya di tanah kemudian mendudukkan
tubuhnya di ayunan yang kosong.
Lia melirik jam tangannya, sekarang menunjuk pukul 09.45 PM
taman masih sangat sepi karena ini masih jam sekolah, Lia menghela nafas pelan.
Dengan perlahan tubuhnya diayun kedepan belakang dengan pelan hingga sebuah
suara mengalihkan atensinya.
“ meow~``” suara itu ternyata berasal dari kucing berwarna
hitam dengan bulu putih dibagian depan tubuh dan dagunya. Matanya menampilkan
sorot mata tajam dan penuh keberanian, akan tetapi dipenuhi dengan keraguan dan
ketakutan pada sosok didepannya.
“ heh, apa yang kamu inginkan?” Tanya Lia pada kucing itu,
mungkin kelihatannya gila tapi Lia tidak merasa kalau yang dia lakukan ini
aneh, mungkin efek terlalu lama bicara didepan cermin.
“ meow~``” kucing itu lagi-lagi mengeong, Lia terkekeh
sejenak menampilkan senyum kecilnya. Lia bangkit dari ayunan, kemudian
berjongkok didepan kucing kecil itu, tangannya meraih sesuatu dari dalam
kantong plastik.
“ ck ck, padahal kamu sedang ketakutan tapi masih saja
memberanikan diri untuk muncul didepanku?” ucap Lia mengeluarkan sebuah sosis
dari dalam kantung plastic kemudian mengupasnya.
Kucing itu hanya diam dan menatap sengit pada Lia, Lia
terkekeh pelan untuk kedua kalinya kemudian meletakkan sosis itu didepan kucing
kecil yang menatapnya tajam.Kucing hitam itu dengan pelan menunduk dan
mengendus makanan yang ada didepannya, setelah beberapa saat dia memakan sosis
itu dengan lahap.
“ khekekeh, padahal kamu juga sedang bertaruh dengan nasib
bukan? Padahal diri sendiri sangat takut dan kecewa dengan manusia, tapi kamu
malah memberanikan diri dan mendekatiku yang seorang manusia?” tanya Lia sembari
mengusap pelan bulu kasar ditubuh kucing itu.
“ ya, tapi itulah makhluk hidup! Mereka tidak akan berhenti
berusaha sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan mereka pasti harus
melawan ketakutan mereka bukan?”Tanya Lia lagi, dia mendongak sejenak kemudian
mengambil nafas dalam.
“ apa kamu berpikir kalau aku orang baik, jadi kamu
memberanikan diri mendekatiku?” Tanya Lia yang mendongak menatap langit.Kucing
itu ikut mendongak, menatap Lia yang nampak hancur saat itu.Kucing hitam itu berjalan
perlahan mendekati tubuh lia, kemudian menggosokkan kepalanya pada kaki kanan
Lia.
“ ah?” lia terkejut, dia menoleh dan mendapati kucing itu
tengah berusaha menghiburnya.
“ heh, apa kamu mencoba menghiburku?”Tanya Lia, sebuah
senyum terukir diwajahnya dan tangannya mengusap kepala kucing itu dengan penuh
sayang.
“ apa kamu mau ikut denganku?” Tanya Lia yang membuat kucing
itu mendongak, dia masih menatap sengit pada Lia, akan tetapi sepersekian detik
kemudian kucing itu melompat ke bahu Lia dan menyamankan posisinya disana.
“ heh, ku anggap setuju..” ucap Lia sembari mengusap pelan
tubuh kurus kucing hitam itu, Lia bangkit dan mengambil belanjaannya kemudian
berjalan kembali menuju ke appartemennya.
●ꙍ●
KRIEETTT
Pintu dibuka dengan perlahan, kemudian ditutup dengan
pelan.Lia melepaskan sepatunya kemudian melangkahkan kakinya pergi menuju
dapur, sedangkan kucing hitam itu masih senang bertengger diatas bahu Lia.
“ hei, turunlah!” titah Lia yang langsung dituruti oleh
kucing itu. Lia mengeluarkan
semua barang belanjaannya kemudian mengambil beberapa untuk ia masak, sedangkan
lainnya ia simpan dalam lemari es.
“ hm, aku bikin pasta saja ya?” gumam Lia sembari meletakkan
jari telunjuknya dibawah dagu, memasang pose berfikir. Lia menoleh sejenak dan
mendapati sebuah buntalan bulu berwarna hitam diatas meja makan, tanpa sadar
“ ck, kalau tidur jangan diatas meja, kau membuatku repot!”
ucap Lia memindahkan benda berbulu itu ke lantai, Lia menatap kucing hitam yang dipungutnya
cukup lama sejenak kemudian dia sadar kalau kucing itu kotor, bau, dan kurus.
“ hm, kamu juga butuh makan!” ucap Lia yang bangkit dari
duduknya kemudian berjalan menuju ruang santai dan mencari ponselnya, Lia
mencari di sofa, bawah meja, bawah sofa, di dekat bupet dan tempat lain yang
memungkinkan, akan tetapi sayangnya tidak ditemukan.
Lia melanjutkan pencariannya ke seluruh penjuru ruang
santai, hingga akhirnya dia meliha benda pipih itu berada di celah sempit
antara bupet dengan dinding dibelakangnya.
“ heh, bagaimana bisa disini?” gumam Lia kesal, Lia segera
menyalakan ponselnya membuka salah satu aplikasi ponselnya dan mencari nama
Hans yang tertulis disana.
“ ah, ketemu!” ucap Lia yang langsung mendial nomor itu
kemudian meletakkan smarthponenya ditelinga. Lia menunggu sepersekian detik sampai akhirnya Hans menjawab panggilan
dari Lia.
/ apa sih, Lia!??/
/ ah, aku hanya ingin minta tolong…/
/ apa? Cepat katakan!!/
/ santai dong, ngegas!!/
/ ck, apaan??/
/ iya-iya santai aja kali, anu nanti tolong beliin makanan
kucing juga perlengkapan lainnya buat melihara kucing/
/ heh, sejak kapan lu melihara kucing?/
/ baru aja, gua pungut dijalan! Udah sono balik ke kelas,
bye~~/
/ oi, li…/
PIP
Lia mematikan ponselnya secara sepihak kemudian kembali ke
dapur, sedangkan itu disisi Lain Hans yang saat ini berada di toilet hanya
untuk menjawab panggilan Lia tengah meremat smartphonenya dengan kuat.
“ bocah sialan, AWAS SAJA KAU LIA!!!!!” teriak Hans menggema
ke seluruh gedung sekolah.
●ꙍ●
“ aku pulang…” ucap Hans yang baru kembali dari sekolah, dia
melepas sepatunya kemudian berjalan masuk sembari membawa tas yang disampirkan
di bahu kirinya, dan 3 kantung plastik besar yang berisi berbagai macam barang yang dipesan oleh Lia.
Hans berjalan masuk kemudian meletakkan kantung plastik itu di meja ruang tamu, kemudian
berjalan masuk dan menghentikan langkahnya untuk sesaat didepan ruang santai.
Hans mengernyitkan keningnya, dia sepertinya melihat benda berbulu hitam yang
tengah berada di atas sandaran sofa?
“ apa itu?” gumamnya sejenak sebelum berjalan mendekat ke
arah sofa, Hans mengulurkan tangannya kemudian menyentuh benda berbulu itu
sejenak.
“ eh, ini lembut..” ucap Hans yang terus mengusap bulu
lembut itu, sedangkan benda berbulu itu merasakan tidurnya terganggu. Tiba-tiba
benda berbulu itu berbalik dan mencakar tangan Hans.
“ ouch!!!” pekiknya
merasakan ada sayatan yang mendarat di tangannya, Hans menoleh sejenak dan
menatap benda berbulu itu, ternyata itu adalah kucing yang dimaksud Lia. Kucing hitam kurus, dengan mata
kuning mengkilat yang nampak tajam akan tetapi menjadi sebuah pesona tersendiri
untuk kucing itu.
“ argh, kenapa kamu imut sekali!!!!” pekik Hans yang
langsung menggendong kucing itu dan memeluknya, menciumi bulunya, dan mengusap
kepalanya dengan gemas. Sedangkan kucing hitam itu meronta sedari tadi, bahkan
berusaha mencakar wajah Hans yang membuat beberapa cakaran tipis di pipi Hans.
Hans masih terlalu fokus dan terbuai dengan kucing imut yang ada dipelukannya, tidak
peduli seperti apapun kucing itu meronta ataupun mancakarnya, Hans masih
terlalu gemas dengan makhluk imut di dekapannya. Sementara itu sosok Lia yang
sedari tadi tidur di sofa mulai terganggu dengan suara berisik dari kucing
hitam yang terus mengeong minta dilepaskan.
“ ungh..” Lia banging sembari menggosok mata kanannya, dia
mendudukkan tubuhnya dan mendapati Hans yang masih memeluk kucing hitam
miliknya dengan gemas.