X

X
a



“ pagi, Kuro~” sapa Lia sembari mengacak puncak kepala Kuro


dengan gemas, Kuro segera bangkit dan pindah ke sisi ranjang Lia, sedangkan Lia


bangkit dan mendudukkan tubuhnya.


“ na, kuro..~~” panggil Lia manja, Kuro menoleh sebagai


tanda memberikan atensi pada sang pemilik.


“ tidak jadi, aku mau mandi” ucap Lia yang membuat Kuro


melirik malas dari ekor matanya, Lia terkekeh geli dan berjalan menuju ke kamar


mandi dan membersihkan tubuhnya.


Tidak lama kemudian Lia keluar dengan penampilan baru yang


lebih segar dari sebelumnya, Lia memandang ke seluruh penjuru kamarnya akan


tetapi tidak mendapati keberadaan Kuro disana.


“ kuro~~” panggil Lia yang kini tengah berjalan menuju ke


dapur, dia mendapati Hans yang sedang sibuk menyantap sarapannya akan tetapi


dia tidak mendapati Alex ataupun Kuro disana.


“ kau sudah bangun?” ucap Hans sedikit tidak percaya, Hans


melirik jam dinding yang tergantung disalah satu sisi ruangan. Ini masih pukul


6 pagi dan Lia sudah bangun dengan sendirinya, Hans tau kalau ada sesuatu yang


salah dengan gadis itu.


“ dimana paman Alex?” Tanya Lia mengedarkan pandangannya ke


seluruh dapur, Hans menunjuk ke arah ruang tamu tanpa menatap Lia, sedangkan Lia


hanya mengangguk kemudian berjalan menuju ke ruang tamu.


Setibanya disana Lia mendapati Alex yang sibuk mengelus


bulu-bulu lembut ditubuh Kuro, Lia menghela nafas pelan.


“ paman..” panggil Lia pelan, Alex menoleh dan mendapati Lia


yang berdiri tidak jauh darinya sembari memandang Alex dengan tatapan malas dan


bosan.


“ oh, kau sudah bangun!” ucap Alex menurunkan Kuro dari


pangkuannya, Kuro mendengus kemudian melangkahkan kakinya pergi menuju ke


dapur, berharap Hans akan memberikan camilan yang lezat untuknya.


“ ayo pergi..” ucap Lia sembari berjalan menuju ke pintu


keluar, Alex hanya diam dan mengikuti kemana Lia pergi. Alex sadar kalau Lia


sedang dalam mood yang buruk sekarang, dan ya pastinya dia mendengar


percakapannya dengan Hans kemarin.


Alex dan Lia pergi menuju ke rumah sakit, kali ini bukan


untuk memaksa Lia melakukan operasi, ataupun perawatan lebih lanjut mengenai


penyakitnya. Akan tetapi kali ini Alex menjadwalkan pemeriksaan kejiwaan Lia,


ya sebagai seorang pesulap yang sering sekali menggunakan topeng untuk menutupi


perasaannya yang sebenarnya membuat Lia terbiasa menyembuyikan perasaannya dan


ini sangat tidak baik bagi mentalnya, hal ini bisa menyebabkan Depresi yang


akan meninggalkan bekas dipikiranya.


Selain itu saat usianya baru menginjak 12 tahun, Lia di


diagnosis menderita Dissosiative Disorder , atau gangguan yang


membuatnya melupakan jati dirinya sendiri. Dan ya ini sudah sangat sering


terjadi dan membuat Alex khawatir bukan main, karean sering kali Lia lupa kalau


dirinya hanya seorang gadis


berumur 16 tahun yang masih rentan dan dalam masa puber, Lia lebih sering


mengingat bahwa dirinya adalah seorang pesulap internasional murah hati yang


selalu menutupi semua perasaannya, dan menebarkan jutaan kebahagiaan pada siapa


saja.


Bukan hanya itu, Lia juga mengidap skizofrenia, atau


ganguan mental yang menyebabkan dirinya berhalusinasi dan tidak bisa membedakan


kenyataan dan halusinasi.Ingat


suara-suara yang selalu terngiang di kepala Lia? Itu adalah salah satu dampak


dar skizofrenia yang dideiritanya. Dan tentunya Alex sudah sering


memaksa Lia untuk melakukan terapi. Sayangnya gadis itu mungkin sudah terlalu


lupa akan dirinya, dan hanya bisa mengingat bahwa dia adalah seorang pesulap


yang harus hidup dengan penuh penderitaan seperti itu.


parkiran khusus pemilik rumah sakit. Ya, Lia adalah pemilik rumah sakit itu,


dia tentunya tidak ingin data pribadinya di ambil dan disebar luaskan


bukan.Sebagai seorang yang terkenal dia selalu menjaga data-datanya disebar


luaskan.


Lia turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke rumah


sakit di iringi oleh Alex yang berjalan disampingnya, akan tetapi baru saja dia


melangkahkan kakinya masuk dari pintu depan, sudah ada beberapa suster dan


dokter yang menanti kedatangannya dengan beberapa suntikan bius yang bisa


dilihat Lia tersembunyi dibelakang tubuh mereka.


Lia memandang malas ke depan, saat ini moodnya sedang buruk


dan orang-orang disekitarnya tidak bisa mengerti hal itu. Ya, bagaimana mereka


mengerti jika Lia memasang topeng dengan sebuah senyuman lebar yang menghiasi wajanya.


“ pergilah..” ucap Alex pada Lia, Lia diam tidak bergeming


hingga membuat para suster dan dokter yang akan menanganinya mengambil aba-aba.


Seingat mereka Lia selalu memasang posisi itu jika ingin kabur, Alex juga


memandang Lia ragu, takut jika gadis itu melakukan tindakan yang tidak terduga.


“ paman, bisa aku membawa ponselku?” Tanya Lia dengan lembut


tapi dingin, Alex meneguk


ludahnya paksa sebelum mengambil suara.


“ TIDAK BISA!!” ucap seorang dokter wanita yang baru saja


datang dari luar, Lia mengukir senyumnya lebar kemudian menatap malas pada


dokter wanita itu.


“ kalau begitu biarkan aku membawa beberapa PSP dan Nintendo


milikku..” ucap Lia santai, dokter itu sudah mengeram kesal, tangannya terkepal


tepat disamping. Sedangkan Lia kini menahan emosinya, mengingat citranya yang


selalu ramah dan penuh senyum.


“ kau…ikat dia!!” ucap dokter wanita itu kesal sembari menunjuk pada salah satu perawat disana,


Lia tentunya tidak tinggal diam dia memberontak dan berusaha melarikan diri.


Setidaknya dia lebih senang pergi ke ruang isolasi dengan kedua kakinya sendiri


dalam keadaan bebas tanpa ada ikatan di tubuhnya.


Lia terus berusaha melepaskan dirinya dari cengkaraman para


suster dan dokter yang ada, bahkan Alex juga ikut turun tangan untuk


menghentikan aksi Lia.Akan tetapi Lia tidak peduli, dia terus saja berusaha


melepaskan dirinya, hinga akhirnya dia merasakan kesadarannya memudar, jarum


bius sudah tertancap di bahu kirinya membuatnya kehilangan kesadaran


sepenuhnya.


“ si..al..kau..” ucap Lia sebelum jatuh tertidur.


“ hah, tolong jaga dia!” ucap Alex mengangkat tubuh Lia dan


membawanya ke atas brangkar, para dokter dan suster itu mengangguk paham.


Alex pergi dan kembali ke ruangannya, melakukan tugasnya


sebagai seorang dokter sedangkan Lia dibawa  menuju ke ruang kedap suara.


●ꙍ●


“ ungh…” lenguhan kecil berhasl keluar dari bibir Lia, dia


terbangun setelah pingsan selama beberapa jam akibat obat bius yang berhasil


ditancapkan oleh para perawat.


Lia mengerdarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dia mendapati


dirinya berada di ruang putih berukuran 2 X 2 meter persegi yang hanya


berisikan sebuah ranjang singgel bed keras yang dia tempati saat ini.


Lia masih bingung dimana dia berada hingga akhirnya dia menyadari


keberadaan dirinya, Lia membolakan matanya sejenak kemudian mengedarkan


pandangannya dengan cepat ke sekeliling ruangan.Dia tidak mendapati satupun


pintu keluar ataupun jendela disana.


“ SIAL!!” umpatnya kesal, Lia mengelilingi setiap sudut ruangan


itu sembari mengetuk dinding disekeliling ruangan itu, mencoba mencari celah


yang bisa dia gunakan untuk keluar.


“ dimana? “