
“ pagi, Kuro~” sapa Lia sembari mengacak puncak kepala Kuro
dengan gemas, Kuro segera bangkit dan pindah ke sisi ranjang Lia, sedangkan Lia
bangkit dan mendudukkan tubuhnya.
“ na, kuro..~~” panggil Lia manja, Kuro menoleh sebagai
tanda memberikan atensi pada sang pemilik.
“ tidak jadi, aku mau mandi” ucap Lia yang membuat Kuro
melirik malas dari ekor matanya, Lia terkekeh geli dan berjalan menuju ke kamar
mandi dan membersihkan tubuhnya.
Tidak lama kemudian Lia keluar dengan penampilan baru yang
lebih segar dari sebelumnya, Lia memandang ke seluruh penjuru kamarnya akan
tetapi tidak mendapati keberadaan Kuro disana.
“ kuro~~” panggil Lia yang kini tengah berjalan menuju ke
dapur, dia mendapati Hans yang sedang sibuk menyantap sarapannya akan tetapi
dia tidak mendapati Alex ataupun Kuro disana.
“ kau sudah bangun?” ucap Hans sedikit tidak percaya, Hans
melirik jam dinding yang tergantung disalah satu sisi ruangan. Ini masih pukul
6 pagi dan Lia sudah bangun dengan sendirinya, Hans tau kalau ada sesuatu yang
salah dengan gadis itu.
“ dimana paman Alex?” Tanya Lia mengedarkan pandangannya ke
seluruh dapur, Hans menunjuk ke arah ruang tamu tanpa menatap Lia, sedangkan Lia
hanya mengangguk kemudian berjalan menuju ke ruang tamu.
Setibanya disana Lia mendapati Alex yang sibuk mengelus
bulu-bulu lembut ditubuh Kuro, Lia menghela nafas pelan.
“ paman..” panggil Lia pelan, Alex menoleh dan mendapati Lia
yang berdiri tidak jauh darinya sembari memandang Alex dengan tatapan malas dan
bosan.
“ oh, kau sudah bangun!” ucap Alex menurunkan Kuro dari
pangkuannya, Kuro mendengus kemudian melangkahkan kakinya pergi menuju ke
dapur, berharap Hans akan memberikan camilan yang lezat untuknya.
“ ayo pergi..” ucap Lia sembari berjalan menuju ke pintu
keluar, Alex hanya diam dan mengikuti kemana Lia pergi. Alex sadar kalau Lia
sedang dalam mood yang buruk sekarang, dan ya pastinya dia mendengar
percakapannya dengan Hans kemarin.
Alex dan Lia pergi menuju ke rumah sakit, kali ini bukan
untuk memaksa Lia melakukan operasi, ataupun perawatan lebih lanjut mengenai
penyakitnya. Akan tetapi kali ini Alex menjadwalkan pemeriksaan kejiwaan Lia,
ya sebagai seorang pesulap yang sering sekali menggunakan topeng untuk menutupi
perasaannya yang sebenarnya membuat Lia terbiasa menyembuyikan perasaannya dan
ini sangat tidak baik bagi mentalnya, hal ini bisa menyebabkan Depresi yang
akan meninggalkan bekas dipikiranya.
Selain itu saat usianya baru menginjak 12 tahun, Lia di
diagnosis menderita Dissosiative Disorder , atau gangguan yang
membuatnya melupakan jati dirinya sendiri. Dan ya ini sudah sangat sering
terjadi dan membuat Alex khawatir bukan main, karean sering kali Lia lupa kalau
dirinya hanya seorang gadis
berumur 16 tahun yang masih rentan dan dalam masa puber, Lia lebih sering
mengingat bahwa dirinya adalah seorang pesulap internasional murah hati yang
selalu menutupi semua perasaannya, dan menebarkan jutaan kebahagiaan pada siapa
saja.
Bukan hanya itu, Lia juga mengidap skizofrenia, atau
ganguan mental yang menyebabkan dirinya berhalusinasi dan tidak bisa membedakan
kenyataan dan halusinasi.Ingat
suara-suara yang selalu terngiang di kepala Lia? Itu adalah salah satu dampak
dar skizofrenia yang dideiritanya. Dan tentunya Alex sudah sering
memaksa Lia untuk melakukan terapi. Sayangnya gadis itu mungkin sudah terlalu
lupa akan dirinya, dan hanya bisa mengingat bahwa dia adalah seorang pesulap
yang harus hidup dengan penuh penderitaan seperti itu.
parkiran khusus pemilik rumah sakit. Ya, Lia adalah pemilik rumah sakit itu,
dia tentunya tidak ingin data pribadinya di ambil dan disebar luaskan
bukan.Sebagai seorang yang terkenal dia selalu menjaga data-datanya disebar
luaskan.
Lia turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke rumah
sakit di iringi oleh Alex yang berjalan disampingnya, akan tetapi baru saja dia
melangkahkan kakinya masuk dari pintu depan, sudah ada beberapa suster dan
dokter yang menanti kedatangannya dengan beberapa suntikan bius yang bisa
dilihat Lia tersembunyi dibelakang tubuh mereka.
Lia memandang malas ke depan, saat ini moodnya sedang buruk
dan orang-orang disekitarnya tidak bisa mengerti hal itu. Ya, bagaimana mereka
mengerti jika Lia memasang topeng dengan sebuah senyuman lebar yang menghiasi wajanya.
“ pergilah..” ucap Alex pada Lia, Lia diam tidak bergeming
hingga membuat para suster dan dokter yang akan menanganinya mengambil aba-aba.
Seingat mereka Lia selalu memasang posisi itu jika ingin kabur, Alex juga
memandang Lia ragu, takut jika gadis itu melakukan tindakan yang tidak terduga.
“ paman, bisa aku membawa ponselku?” Tanya Lia dengan lembut
tapi dingin, Alex meneguk
ludahnya paksa sebelum mengambil suara.
“ TIDAK BISA!!” ucap seorang dokter wanita yang baru saja
datang dari luar, Lia mengukir senyumnya lebar kemudian menatap malas pada
dokter wanita itu.
“ kalau begitu biarkan aku membawa beberapa PSP dan Nintendo
milikku..” ucap Lia santai, dokter itu sudah mengeram kesal, tangannya terkepal
tepat disamping. Sedangkan Lia kini menahan emosinya, mengingat citranya yang
selalu ramah dan penuh senyum.
“ kau…ikat dia!!” ucap dokter wanita itu kesal sembari menunjuk pada salah satu perawat disana,
Lia tentunya tidak tinggal diam dia memberontak dan berusaha melarikan diri.
Setidaknya dia lebih senang pergi ke ruang isolasi dengan kedua kakinya sendiri
dalam keadaan bebas tanpa ada ikatan di tubuhnya.
Lia terus berusaha melepaskan dirinya dari cengkaraman para
suster dan dokter yang ada, bahkan Alex juga ikut turun tangan untuk
menghentikan aksi Lia.Akan tetapi Lia tidak peduli, dia terus saja berusaha
melepaskan dirinya, hinga akhirnya dia merasakan kesadarannya memudar, jarum
bius sudah tertancap di bahu kirinya membuatnya kehilangan kesadaran
sepenuhnya.
“ si..al..kau..” ucap Lia sebelum jatuh tertidur.
“ hah, tolong jaga dia!” ucap Alex mengangkat tubuh Lia dan
membawanya ke atas brangkar, para dokter dan suster itu mengangguk paham.
Alex pergi dan kembali ke ruangannya, melakukan tugasnya
sebagai seorang dokter sedangkan Lia dibawa menuju ke ruang kedap suara.
●ꙍ●
“ ungh…” lenguhan kecil berhasl keluar dari bibir Lia, dia
terbangun setelah pingsan selama beberapa jam akibat obat bius yang berhasil
ditancapkan oleh para perawat.
Lia mengerdarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dia mendapati
dirinya berada di ruang putih berukuran 2 X 2 meter persegi yang hanya
berisikan sebuah ranjang singgel bed keras yang dia tempati saat ini.
Lia masih bingung dimana dia berada hingga akhirnya dia menyadari
keberadaan dirinya, Lia membolakan matanya sejenak kemudian mengedarkan
pandangannya dengan cepat ke sekeliling ruangan.Dia tidak mendapati satupun
pintu keluar ataupun jendela disana.
“ SIAL!!” umpatnya kesal, Lia mengelilingi setiap sudut ruangan
itu sembari mengetuk dinding disekeliling ruangan itu, mencoba mencari celah
yang bisa dia gunakan untuk keluar.
“ dimana? “