X

X
Episode 3 : Pertarungan Pertama



Sore itu…, bel terakhir berbunyi…, menunjukkan bahwa jam belajar di SMA Majapahit telah selesai. Namun nampaknya seluruh siswa, terutama siswa kelas 1 belum mau meninggalkan sekolah, mereka justru berbondong-bondong menuju pintu kelas 1-C untuk melihat pertarungan dihari pertama mereka.


Benar, ini adalah pertarungan antara Niko Alexander dari kelas 1-C dan Arthur Compton dari kelas 1-B, yang akan diadakan di kelas 1-C.


Terlihat Arthur belum datang ke kelas 1-C, sehingga setelah seluruh siswa kelas 1-C meninggalkan kelas mereka, hanya ada Niko yang sedang duduk dibangkunya, sambil memasang wajah tegang dan penuh kebingungan.


Dari luar kelas 1-C pun akhirnya terdengar beberapa keresahan.


“Laki-laki itu mau bertarung dengan Arthur, apa dia bisa menang?”


“Maksudmu Arthur yang menyandang peringkat 3 saat ujian masuk itu.”


“Dia tak punya harapan lagi…”


“Katanya yang kalah harus menjadi budak.”


“Oi oi… bukannya itu terlalu berlebihan.”


Setidaknya seperti itulah keresahan diluar kelas yang dapat didengar jelas oleh Niko. Setelah mendengarnya, tiba-tiba wajah Niko menjadi pucat, seperti sudah tidak ada lagi darah yang mengalir di tubuhnya, yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu untuk menemui ajalnya.


“Aku sudah siap untuk mati,” kata Niko didalam hatinya.


“Srekkk…!!!” Suara pintu kelas yang tergeser.


Dari pintu yang tergeser itu, muncullah Arthur yang dalam sekejap langsung duduk disalah satu bangku kelas itu, sepertinya dia sudah mengganti baju miliknya yang kotor tadi.


“Hmm… nampaknya diluar sangat berisik,” kata Arthur.


“Heh...,” kaget Niko.


“Ini adalah hari pertama kita masuk ke SMA Majapahit, namun dihari pertama ini, kita


sudah berani melakukan pertarungan, jadi wajar saja mereka semua tertarik untuk


melihatnya,” Lanjut Arthur.


“A-Ahh… i-i-iya…,” jawab Niko dengan ketakutan.


“Tak usah panik begitu, aku akan melakukannya dengan cepat,” kata Arthur sambil menyetuh bagian tengah kacamatanya.


Tak lama kemudian, Bu Ada pun datang ke kelas 1-C dan bersiap untuk memulai pertarungan antara Niko dan Arthur.


“Namaku Ada Lovelace, akulah yang akan menjadi juri dalam pertarungan ini,” kata Bu Ada dengan tegas.


“Bu-Bu Ada…,” kaget Niko.


“Ini bukanlah pertarungan untuk merebutkan gelar Artest, sehingga kalian akan memakai ruang kelas ini untuk bertarung, dan…” Bu Ada


belum selesai bicara.


“Bisakah kita mulai sekarang Bu,” kata Arthur yang tiba-tiba memotong pembicaraan.


Mendengar Arthur berkata seperti itu, membuat Bu Ada tersenyum dan berkata,


“Kau memang tidak sabaran ya…”


“………,” Athur hanya terdiam.


Setelah berhenti sejenak, akhirnya Bu Ada memberikan selembar kertas, yang kemudian diletakkan secara terbalik dimeja mereka berdua, hingga akhirnya Bu Ada berkata,


“Mata Pelajaran yang dipertarungkan kali ini adalah Matematika, didalam kertas yang masih terbalik itu terdapat soal-soal yang


harus kalian jawab, peraturannya mudah, siapa yang paling banyak menjawab benar


pada soal tersebut, dialah pemenangnya.”


Setelah mendengar perkataan dari Bu Ada, tiba-tiba Arthur tersenyum sambil berkata dalam hatinya,


“Bodoh sekali, benar-benar bodoh sekali, tak kusangka dia justru memilih Matematika untuk melawanku, Matematika adalah pelajaran yang sangat kukuasai, tak ada yang bisa menandingiku dalam hal ini, itu karena nilai matematika ku adalah yang tertinggi saat ujian masuk di SMA Majapahit.”


Begitu juga dengan Niko, setelah mendengarnya dari Bu Ada, Niko pun berkata dalam hatinya dengan ketakutan.


“A-Aku memilih Matematika bukan karena aku menguasainya, A-Aku pikir mungkin matematika bisa dikerjakan dengan cara asal-asalan, sehingga walaupun 100% semuanya memiliki jawaban yang pasti, setidaknya aku masih bisa menerawang setiap angkanya.”


Melihat mereka berdua yang sudah mulai berpikir, akhirnya Bu Ada kembali berkata,


“Akan tetapi… dalam pertarungan ini, tak ada batasan waktu dan batasan soal yang harus kalian kerjakan, ketika salah satu dari kalian merasa sudah selesai, maka pertarungan pun berakhir.”


“Hmph… jadi siapa yang bisa menyelesaikannya duluan, maka


waktu pertarungan pun akan berakhir, dan yang bisa menjawab soal lebih banyak


dengan benar, dialah pemenangnya, bukankah begitu,” ujar Arthur.


“Tepat sekali,” jawab Bu Ada.


“Baguslah… setidaknya aku bisa menghemat waktuku disini.”


Arthur pun berkata didalam hatinya,


“Aku hanya perlu mengerjakan tiga soal… tidak, tapi satu soal saja untuk memenangkan pertarungan ini, aku akan mengerjakannya dengan cepat, sehingga dia tak punya waktu untuk memikirkan soal-soalnya.”


Disaat yang sama, Niko yang mengetahui tentang peraturannya, kembali berkata didalam hatinya,


“Tidak ada batasan waktu? Kalo begini, dia pasti akan mengerjakan soal-soalnya dengan cepat, sehingga tak ada waktu bagiku untuk mengerjakannya, kalo begitu… Aku juga akan


berusaha untuk mengerjakannya dengan cepat”


Tak lama kemudian, Bu Ada berkata,


“PERTARUNGAN DIMULAI…!!!”


Niko dan Arthur langsung membuka lembar kertas itu dan…


“Wuuuushhhhh…!!!”


Sekejap seluruh suasana kelas berubah menjadi medan pertempuran pada zaman kerajaan, didalam pertempuran berdarah itu banyak mayat yang bergeletakan ditanah, dan hanya tersisa dua pejuang yang ditakdirkan untuk bertarung, mereka adalah Niko dan Arthur.


“Pe-Perasaan apa ini... aku seperti sedang menggenggam dua pedang, dan dihadapanku ada Arthur yang akan bersiap untuk membunuhku, inikah pertarungan di SMA Majapahit,” kata Niko didalam hatinya setelah membuka lembar kertas itu.


Didalam medan pertempuran penuh mayat itu, Arthur dengan pakaian perangnya, akhirnya megacungkan pedang miliknya dan berkata kepada Niko.


“Aku akan memotong seluruh tubuhmu…!!!”


Diwaktu yang sama, didalam ruang presiden direktur majapahit, Mawardana pun berkata kepada Hayam Wuruk.


“Pak Direktur, Pertarungan mereka sudah dimulai,” kata Mawardana.


Hayam Wuruk yang tadinya duduk dikursi miliknya, akhirnya berdiri dan menghadap kearah dinding kaca yang ada diruangannya. Ruangan presiden direktur berada di bangunan paling tinggi, sehingga seluruh bangunan SMA Majapahit bisa terlihat melalui dinding kaca tersebut.


Tak lama kemudian, Hayam Wuruk pun berkata,


“Baiklah, kita akan melihat mereka dari sini.”


“Wuushhhhhhh…!!!”


Sekejap seluruh ruangan itu berubah menjadi Kastil Kerajaan yang sangat tinggi, Hayam Wuruk dan Mawardana pun melihat pertarungan hidup mati antara Niko dan Arthur dari kastil tersebut.


Tiba-tiba Niko kaget dan berkata didalam hatinya,


“Apa-apaan ini… Aku berpikir bahwa soalnya akan berupa Pilihan Ganda, tapi nyatanya ini adalah Essay, Aduh… gimana ini, kalo bukan pilihan ganda aku tak bisa menerawang


jawabannya, Apa yang harus kulakukan…!!!”


Menyadari soal yang diberikan berupa Essay, membuat Niko sangat ketakutan sehingga badannya penuh dengan keringat dingin.


Dimedan pertempuran yang sesungguhnya, terlihat badan Niko sudah penuh luka karena serangan pedang dari Arthur, Mawardana yang melihat hal itu, akhirnya berkata,


“Bagaimana menurut anda pak, ini benar-benar tidak seimbang, dia tak pernah melakukan serangan, nampaknya dia tak tahu bagaimana cara menggunakan pedang miliknya, kalau begini terus dia pasti…”


“Tenang Mawardana, pertarungan baru saja dimulai, saat ini dia pasti sedang memahami dirinya sendiri.”


“Apa maksud anda Pak?” tanya Mawardana.


“Niko Alexander, peringkat terakhir saat ujian masuk, melawan Arthur Compton peringkat 3, Si Bodoh melawan Si Pintar, kau pasti tahu kan betapa tidak seimbangnya pertarungan ini.”


“Jadi… memang benar-benar tak ada harapan,” kata Mawardana.


“Tidak juga, itu justru bisa menjadi kelebihannya.”


“Hmmm…” kata Mawardana yang bingung.


“Kau orang yang pintar Mawardana, jadi kau tak bisa memahami bagaimana pikiran orang bodoh yang sesungguhnya.”


“Pikiran orang bodoh?” tanya Mawardana.


“Pelajaran yang dipertarungkan kali ini adalah Matematika, maka pikiran bodoh pun akan cepat terpikirkan olehnya.”


“Maksudnya?”


“Bagaimana cara kau mengerjakan 3 pangkat 4, orang pintar pasti akan langsung mengetahui jawabannya tanpa perlu memikirkannya, namun jika orang bodoh yang mengerjakannya, pasti dia akan menggunakan cara 3 x 3 x 3 x 3


tenaga,” jelas Hayam Wuruk.


 ***Gambaran dari Hayam Wuruk**



“…………,” Mawardana hanya terdiam.


“Namun, hal itu hanya terjadi jika soal tersebut bisa dikerjakan dengan mudah, lalu bagaimana jika soal itu tidak bisa dikerjakan


dengan mudah? Misalnya untuk mencari f o g (x) dari f(x) \= x^2 - 4 dan g(x) \= 2x + 5, apa kau bisa menggunakan cara langsung seperti 3 pangkat 4 tadi?” tanya Hayam Wuruk.


“Tidak pak, aku harus menggunakan langkah-langkah terlebih dahulu untuk mengetahui hasilnya,” jawab Mawardana.


“Hahaha… bukankah yang kau lakukan itu sama seperti orang bodoh ketika mengerjakan 3 pangkat 4, pada akhirnya orang pintar pun akan menjadi bodoh ketika dihadapkan oleh sesuatu yang seimbang dengan kemampuannya.”


“La-Lalu bagaimana dengan orang bodoh tadi pak, bukankah baginya ini merupakan soal tiga kali lebih sulit dari pada 3 pangkat 4?” tanya Hayam Wuruk.


“Ayolah Mawardana… orang bodoh mana mungkin bisa mengerjakannya, bahkan dia tak ada waktu untuk memikirkan hal serumit itu, orang bodoh ingin sesuatu yang gampang-gampang saja, itulah mengapa dia juga akan mengerjakan soal itu dengan cara yang gampang.”


Kembali kedalam ruangan Niko dan Arthur, terlihat Arthur sangat nyaman dalam mengerjakan soal yang ada dilembar kertas itu.


“Lagi-lagi soal yang mudah seperti ini, sambil menutup mata pun aku bisa mengerjakan semuanya, tapi… aku hanya akan mengerjakan satu soal saja dan menyelesaikan pertarungan ini,” kata Arthur dalam hati.


Tak lama kemudian, Arthur melirik kearah Niko dan melihat bahwa Niko belum menggerakan pensilnya sedikit pun.


“Sudah kuduga dia memang bodoh, kalo begini aku jadi kasihan kepadanya, hmm… baiklah, aku akan menunggu sampai dia menggerakan pensil miliknya, dan disaat itu juga aku akan langsung mengalahkannya,” lanjut Arthur yang seketika menghentikan gerakan pensilnya.


Di Medan peperangan, terlihat Niko sudah tertunduk lemas penuh darah, akibat serangan-serangan dari pedang Arthur, dengan mudahnya Arthur mengacungkan pedang miliknya ke wajah Niko, dan menunggu waktu yang tepat untuk menghabisinya.


“Tapi Pak, Matematika adalah pelajaran yang sangat dikuasai oleh Arthur, jadi walaupun begitu, Arthur pasti akan menggunakan kecepatannya dalam mengerjakan soal itu,” kata Mawardana.


“Orang pintar memang egois, mereka selalu bermain-main dulu dengan lawannya, meremehkannya, dan kemudian menghabisinya, bukankah itu justru


membuang-buang waktu saja, itulah kelemahan orang pintar,” jawab Hayam Wuruk.


“Hmmm…”


“Apa kau tahu kelemahan orang pintar yang lain?” tanya Wayam Wuruk.


“Apa itu pak?”


“Mereka selalu tertuju pada satu hal saja, dan tak melihat hal yang lainnya,” jelas Hayam Wuruk.


“Apa maksud Bapak?”


“Ketika kau membuka lembar soal, dan melihat soal nomor 1, apa yang akan kau lakukan?”


“Tentu saja aku akan langsung mengerjakannya.”


“Mengapa kau tak melihat soal lainnya, apa kau tak berpikir bahwa ada soal lain yang lebih mudah, dan lebih cepat jika dikerjakan?”


Mendengar perkataan Hayam Wuruk membuat Mawardana kaget, dan


dengan terbata-bata dia pun berkata,


“Mu-Mungkinkah….”


Perlahan-lahan Niko mengambil pensil miliknya, pensil yang dari tadi tidak bergerak itu akhirnya dia pegang ditangan kanannya, dan menggoreskan ujung pensilnya sedikit demi sedikit ke kertas miliknya.


Melihat hal itu membuat Arthur sangat senang, hingga akhirnya dia pun berkata,


“Akhirnya dia menggerakkan pensil miliknya, kalo begitu aku juga akan menyelesaikan soal ini dan se-…”


“AKU SUDAH SELESAI…!!!” kata Niko dengan tegas.


“Heh…,” kaget Arthur.


“Srrraaaaaaaakkkkk…!!!” Suara tebasan pedang.


Disaat Arthur sedang mengacungkan pedang miliknya untuk menghabisi Niko, tiba-tiba Niko dengan serangan mengejutkannya berhasil menyerang titik vital dari Arthur, dan sekaligus melumpuhkannya.


“Ti-Tidak mungkin… apa yang sudah dia lakukan…” Kata Arthur yang sangat kaget.


“Kau benar Mawardana, Orang bodoh pun bisa menjadi Jenius, dan mengalahkan orang pintar yang meremehkannya,” kata Hayam Wuruk.


“Baiklah, letakkan pensil kalian…!!!” kata Bu Ada.


Walaupun Bu Ada sudah memerintahkan untuk meletakkan pensil, nyatanya Arthur masih menggenggamnya untuk menyelesaikan jawabannya.


“Tuan Compton letakkan pensilmu…!!!”


“Ta-Tapi…,” kata Arthur yang ketakutan.


“Letakkan sekarang…!!!” kata Bu Ada yang semakin tegas.


“Sialll…!!!”


“Plakkkkkk…!!!”


Karena kesal, akhirnya Arthur pun menghancurkan pensil miliknya dengan tangannya sendiri.


“Aku yang akan melakukan penilaian, dan pemenangnya juga akan aku umumkan disini,” kata Bu Ada sambil mengambil lembar jawaban mereka berdua.


Disaat itu juga, dengan wajah yang sangat kesal, Arthur berkata dalam hatinya,


“Sialll… Apa yang sudah kulakukan, kenapa aku bisa dikalah-…, tidak, ini belum berakhir, ya… ini belum berakhir, jika jawaban dia salah, maka pertarungan ini akan berakhir imbang…,


kumohon aku ingin jawabannya salah, SIALLL… kenapa aku Arthur Compton peringkat 3 ujian masuk SMA Majapahit, justru memohon kepada orang sepertinya… tapi aku memang benar-benar memohon kepadanya.”


Dimedan pertempuran, Arthur akhirnya membuang pedang miliknya dan memohon kepada Niko untuk tidak membunuhnya.


“Se-Sekarang Arthur memohon kepada Niko,” kejut Mawardana.


“Hahaha… Keadaan sudah berbalik,” kata Hayam Wuruk.


Setelah Bu Ada selesai menilai jawaban mereka, akhirnya Bu Ada pun berkata,


“Aku akan mengumumkan hasilnya, dan Pemenangnya adalah…”


“Kumohon…” kata Arthur yang masih terus berharap.


“Pemenangnya adalah NIKO ALEXANDER…!!!”


“Srrraaaaaakkkkk…!!!” Suara tebasan pedang.


Walaupun sudah memohon seperti seorang pengecut, pada akhirnya Niko tetap menebas leher Arthur yang sekaligus membunuhnya.


*Lembar Jawaban Niko dan Arthur, serta waktu yang dibutuhkan dalam mengerjakannya.



Melihat Niko yang sudah mengalahkan Arthur, membuat Hayam Wuruk berkata,


“Begitulah seharusnya… tak ada alasan lagi bagi seorang pemenang untuk memberi belas kasihan kepada pecundang, lagi pula, SMA Majapahit ini adalah tanah yang penuh dengan pertempuran.”


“Oh Gawat… aku harus segera menemui mereka,” kata Mawardana dengan wajah yang gelisah.


“Permisi pak,” lanjut Mawardana yang seketika pergi dari ruangan Hayam Wuruk.


Setelah Mawardana pergi, Hayam wuruk memalingkan pandangannya ke meja pribadinya, tak lama kemudian Hayam Wuruk menarik laci yang ada dimejanya. Terlihat dilaci tersebut terdapat foto yang masih samar, setelah melihat foto itu dengan seksama, Hayam Wuruk pun berkata,


“Dia memang jenius sepertimu, dan aku harap dia tidak bernasib sama denganmu.”


Di atap sekolah SMA Majapahit, terlihat seorang perempuan sedang menikmati indahnya senja disore hari, angin yang menerpanya membuat rambutnya terurai kesegala arah.


Tak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki yang menghampirinya.


“Ternyata kau disini,” kata laki-laki yang menghampirinya.


“Ada apa?” tanya perempuan itu.


“Murid kelas 1 yang berhasil memenangkan pertarungan pertama dihari pertamanya.”


“Lalu?”


“Apa kau tak tertarik, dulu kau juga sama sepertinya kan, kau juga memenangkan pertarungan pertama dihari pertamamu di SMA ini,” jelas laki-laki itu.


“Siapa namanya?” tanya perempuan itu.


“Niko Alexander.”


Setelah mendengarnya, perempuan itu nampak tersenyum dan berkata,


“Aku harap… dialah yang akan merebut gelar Artest dariku.”