X

X
Im sorry..



“ Kau bisa jalan disampingku!” Potong Lia dengan cepat sebelum Kai selesai bicara, Kai terdiam sejenak bola matanya melebar.


“ Se-serius??” Tanya Kai tidak percaya, Lia menoleh dan mengembangkan senyum kecil di wajahnya. Kai yang masih terkejut kembali mendapat serangan dari senyum kecil Lia. Walau tidak terlalu terlihat tapi Lia sedang tersenyum tulus padanya, dan itu yang membuat Kai terpana. Senyum kecil yang indah, bahkan teramat indah, sayang senyum itu tidak pernah diperihatkan pada dunia, dan kali ini Kai mendapat kesempatan untuk melihatnya.


Setibanya di rumah Lia langsung masuk tanpa memperdulikan kakaknya dan kekasih kakaknya yang sibuk bercanda ria diruang tamu, Lia lebih memilih naik ke atas dan beristirahat. Tapi bukannya masuk ke kamar Lia malah masuk ke perpustakaan yang ada didepan kamarnya, Lia masuk menyalakan lampu dan mengunci pintu


perpustakaan.


Diedarkan padandangannya untuk sejenak, perpustakaan kosong yang hening selalu bisa menjadi tempatnya bersedih dan mengadu pada kegelapan. Manik matanya masih sibuk mengamati deretan rak yang penuh dengan


berbagai buku pengetahuan dan sejarah, sedangkan kakinya melangkah menuju ke salah satu sudut ruangan. Dilewati rak-rak buku itu dengan santainya sampai tubuhnya tiba-tiba jatuh ke atas ranjang.


Ya, di perpustakaannya terdapat sebuah ranjang double bad yang sangat empuk dan nyaman, sang ayah yang meletakkan ranjang itu disana karena tau putrinya selalu tidur diatas karpet tipis dengan tumpukan buku di sekelilingnya. Ada sekitar 14 rak besar yang berjajar kokoh disana, sebuah ranjang, sebuah piano disudut lainnya,


dan ada dapur mini yang memang sengaja didesain oleh Lia, ada sebuah meja belajar disebelah ranjang lengkap dengan komputer dan alat tulis lainnya.


“ Aku lelah..” Ucapnya dengan nada lesu, semua topengnya terlepas dan hanya menampilkan sosok Lia yang nampak sedih dan menderita. ekspresi yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun, dan hanya diketahui oleh dirinya dan kegelapan.


Lia memaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap, kedua lengannya terlipat dan ia jadikan bantal. Matanya memandang sayu ke arah piano tua yang berada tidak jauh dari tempatnya. Angannya entah pergi kemana, dan perlahan tubuhnya mulai terlelap.


Jika semua ini berakhir, ku harap aku bisa mendapat akhir yang bahagia..-batin Lia sesaat sebelum masuk ke alam mimpi


.


.


.


Jam menunjukkan pukul 10 malam, Ray baru saja mengantar kekasihnya kembali kerumah dan kini ia berniat meminta penjelasan dari Lia. Tapi baru saja ia masuk ke kamar dan bukannya mendapati Lia yang mungkin sedang asik bermain game, Ray malah mendapat sebuah catatan di nakas.


aku akan tidur diperpustakaan, sebaiknya jangan ganggu aku sampai pikiranmu tenang.-Lia


Ray meremat kertas itu kemudian melangkahkan kakinya menuju ke depan pintu perpustakaan, setibanya disana ia mendapati pintu itu terkunci bahkan dia tidak bisa membukanya, diketuknya pintu itu beberapa kali namun tidak menghasilkan apapun. Ray pasrah, dia tau kalau yang dia lakukan tadi salah, seharusnya dia tidak memarahi Lia di depan pacarnya sendiri.


Ray terduduk di lantai, kepalanya mendongak menatap langit-langit rumahnya. Angannya mengelana entah kemana yang jelas dia menyesal sekarang. Disandarkan tubuh yang lelah ke pintu, ditatapnya nanar lantai yang ada dibawahnya.


“ Lia, kalau kamu belum tidur bisakah kamu keluar?”


“ aku benar-benar minta maaf untuk yang tadi...” Ucap Ray menyesal.


“ ....” Hening, tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar membuat Ray sadar kalau yang dia lakukan sia-sia, Ray bangkit dari duduknya dan memilih untuk masuk ke kamarnya sendiri.


.


.


.


dari bibirnya, tubuhnya direngangkan dengan pelan mencari kenyamanan.


“ Urgh, jam berapa ini?” Gumam Lia sembari menggosok mata kanannya, Lia menoleh menatap jam weker yang ada diatas nakas. Dia mendapati waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Lia berdecak pelan mengambil ponsel


diatas nakas kemudian mencari kontak milik Leo disana. Setelah mendapati keberadaan kontak Leo, dengan santai dia menelfon pemilik nomor itu dan menanti sampai telfonya tersambung.


*Oi\, leo!*


*Ssttt\, apa sih Lia??*


*Tolong bilangin kalau hari ini gua izin\, gua males ke sekolah..* Ucap Lia santai yang membuat Leo mengumpatinya dengan sejuta sumpah serapah sebelum akhirnya menjawab dengan kesal.


*Kalau lu cuma mau ngomong itu ya udah\, nanti aja kan bisa?? Lu kan tau kalau sekarang ini jam kimia??*


*Hm\, sorry…*


*Hm\, udah kan? Byee!!*


*Bye…*


Lia menutup ponselnya, membuangnya sembarangan dan memejamkan kedua matanya.Tangan kanannya dibawa menuju ke wajah dan menutupi matanya, kepalanya serasa berdenyut sakit dan dadanya serasa sesak. Lia mencoba mengatur nafasnya dengan pelan, mencoba mengembalikan kesadarannya seutuhnya akan tetapi tidak bisa. Lia hanya bisa menghela nafas lelah, setengah jam berlalu dan akhirnya Lia bisa mendudukkan tubuhnya.


Lia menyandarkan tubuhnya pada headboard, pangkal hidungnya dipijit pelan sedangkan mulutnya menggumamkan berbagai macam cacian kepada Ray dan kebodohannya. Lia menghela nafas pelan, dengan perlahan digerakkan tubuhnya dan diturunkan kedua kakinya hingga menyentuh lantai yang beralaskan karpet


bulu.Tangannya terulur menarik salah satu laci di nakas kemudian mengeluarkan beberapa botol kecil yang berisi berbagai macam jenis obat-obatan.


“ Hahhh, sepertinya aku harus izin…” Gumam Lia sembari membuka satu persatu tutup botol itu dan mengambil isinya yang entah ada berapa jumlahnya, bahkan genggaman tangan Lia saja sudah dipenuhi dengan obat mungkin


sekitar 8 sampai 10 jenis obat?? Atau mungkin lebih?


Lia dengan cepat menelan semua pil obat itu kemudian menghempaskan tubuhnya keranjang mencoba menghilangkan rasa pusing yang ada di kepala nya untuk sesaat, setelahnya mengangkat tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi yang ada dalam rungan itu.


Lia segera membasuh tubuhnya dikamar mandi setelahnya melangkahkan kakinya pergi keluar dari perpustakaan, Lia mendapati pintu kamarnya yang terlihat kosong. Tangannya terulur menyentuh knop kemudian dengan perlahan ia putar dan mendorong daun pintu itu kedalam, memperlihatkan kamarnya yang terlihat sangat kosong dan hampa.


“ ….” Hening, Lia tidak mengucapkan sepatah katapun, dia masih berdiri diambang pintu sembari mengingat kembali pertengkarannya dengan Ray semalam, hal sepele yang memecah meraka membuat hatinya teriris. Mungkin topeng yang dia kenakan tidak akan cukup kuat untuk menutupi hal ini, tapi Lia tidak bisa memperlihatkan kesedihannya pada dunia.


Lia harus kuat, dia tidak boleh lemah, jika dia terlihat lemah maka dia akan hancur, pepatah mengatakan untuk tidak  menunjukkan kelamahanmu dan yang menjadi kelamahan Lia adalah perasaannya, dan itu akan menjadi sumber malapetaka bagi dirinya.


“ Ahh, kamu sudah bangun Lia???” Sebuah suara membuatnya menoleh dan mengalihkan atensinya, Lia menoleh dan mendapati sosok kakaknya tengah berdiri diujung tangga, menatapnya dengan tatapan lembut yang menenangkan. Lia hampir saja mengukir senyum jika saja dia tidak ingat jika mereka sedang bertengkar.