
“ Aku pulang!” Ucap orang itu membuat Lia mengembangkan sebuah senyum palsu, Lia melangkahkan kakinya dan mendekati sosok itu.
“ Selamat datang kembali Ray!!” Ucap Lia yang berjalan melewati Ray, baru saja Lia berhasil keluar dari kamar mandi tapi sebuah lengan sudah melingkari pinggangnya dan menariknya mundur.
“ Apa?” Tanya Lia sedikit kesal karena sikap posesif kakaknya mulai muncul, Ray menatap Lia penuh sangsi sedangkan Lia hanya bisa diam dan menatap malas pada Ray.
“ Siapa laki-laki tadi!?” Tanya Ray sedikit merendahkan nada suaranya, Lia berdecak kesal kemudian melepas tangan kokoh yang melingkari pinggangnya.
“ Stranger..” Ucap Lia santai dan berjalan pergi menuju ke kamarnya, sedangkan Ray membelalakkan bola matanya tidak percaya.
“ Apa maksudmu Lia!??” Tanya Ray sedikit menahan amarah, Lia mengacuhkannya dan memilih berjalan menuju ke kamarnya.
“ Kamu membawa orang asing ke rumah? Apa kamu tau itu hal gila???” Tanya Ray bertubi-tubi yang masih saja dihiraukan oleh Lia, Lia terus berjalan hingga langkahnya berhenti di tangga yang mengarah menuju ke kamarnya. Lia mendapati seorang gadis yang kira-kira setahun lebih muda dibanding dirinya tengah berjalan turun, Lia dengan secepat kilat menoleh ke arah Ray dan memberikan deadglare pada sang kakak.
“ Kau membawanya ke kamar?” Tanya Lia cepat, Ray mengangguk singkat sebagai jawaban kemudian berniat mengambil suara untuk mendapat penjelasan dari Lia.
“ Lupakan itu, apa maksudmu membawa laki-laki asing ke rumah!??” Tanya Ray masih menahan amarah, Lia menghela nafas lelah.
“ Sudahlah, makan malam sudah siap. Lain kali saja kita bahas hal ini...” Ucap Lia yang kembali berjalan menuju dapur dan mendudukkan tubuhnya dikursi ruang makan.
Ray berdecak kesal kemudian mengikuti Lia yang berniat pergi ke ruang makan, sedangkan gadis yang ditemui Lia tadi merupakan kekasih Ray. Gadis itu masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, jadi dia hanya diam dan mengikuti. Gadis itu duduk disamping Ray, dia menatap meja makan dengan tatapan kagum dan tidak percaya. Bagaimana bisa dimeja makan yang hanya diisi 3 orang sudah berjajar sepiring besar spageti, disampingnya ada beberapa steak daging, semangkuk sedang salad, sepiring kroket, sup tahu, juga berbagai macam dimsum khas asia timur, selain itu juga ada beberapa potong cake buah dan sekeranjang kecil biskuit, ditambah dengan perasaan air lemon sebagai minumannya membuat gadis itu terkagum bukan main.
Lia dan Ray sudah menyantap makanannya sedari tadi, sedangkan gadis itu masih bingung dengan situasi yang tengah dia hadapi. Lia yang berniat menyuapkan sesendok sup tahu ke mulutnya mendapati gadis disamping Ray hanya diam, jadi ia meletakkan kembali sendoknya dan menatap gadis itu lamat, sedangkan yang ditatap hanya diam dan tidak menyadari hal itu.
“ Apa makanannya tidak sesuai dengan seleramu?” Tanya Lia dengan tenang membuat gadis itu terlonjak kaget, Ray menoleh dan mendapati piring kekasihnya masih kosong.
“ Ah, t-tidak! Itu...anu..aku tidak tahu harus makan yang mana dulu..” Ucap gadis itu ragu, Lia terkekeh menampilkan senyum 5 jari yang biasa dia gunakan di pertunjukan kemudian menatap Ray tajam.
“ Kau bisa makan apapun yang kamu mau, dan ya biar ku perkenalkan diriku lagi. Alya Putri Zifari saudara kembar Ray..” Ucap Lia dengan sebuah senyum terukir di wajahnya, senyum yang begitu indah membuat gadis itu terpana.
“ Ah, anu namaku Karina Aresya..” Ucap gadis itu malu-malu, Lia menatap gadis itu sejenak. Memperhatikan postur tubuh gadis itu, kemudian sikap dan bahasa tubuh yang ditampilkan oleh gadis itu, setelah sekian lama mengamati dalam diam sembari makan Lia mendapat sebuah hasil, dia mendapati bahwa gadis yang memperkenalkan dirinya dengan nama Karina Aresya itu adalah gadis yang baik.
“ Aku selesai..” Ucap Lia yang beranjak dari meja makan dan berjalan menuju ke tempat cuci piring, sedangkan Karina baru saja memakan sepertiga makanannya dan Ray sibuk mengamati wajah manis kekasihnya.
Lia memilih mencuci piring, kemudian berniat untuk melangkahkan kakinya ke kamar dan tidur. Tapi, lagi-lagi Ray sudah menahannya, kali ini lengannya dicekal agak kuat dan membuat bekas kemerahan di kulit putih Lia.
“ Hahh, akan ku berikan pada anak kos-an depan” Ucap Lia yang langsung diangguki oleh Ray, Lia mengambil wadah dari lemari kemudian memindahkan sisa lauknya kedalam wadah. Setelah selesai Lia melangkahkan kakinya pergi ke kos-kosan yang ada didepan rumahnya.
TOK TOK
Pintu diketuk dengan pelan, setelahnya Lia menunggu untuk beberapa saat hingga akhirnya pintu terbuka dan menampilkan sosok adam penghuni kos-an tersebut. Ya, kos didepan rumah Lia memang kos-kosan laki-laki, tapi lagi-lagi Lia tidak peduli dengan itu. Dia lebih memilih hidup damai dalam dunianya, ah salah bahkan dalam dunianya dia tidak bisa damai.
“ Loh Lia?” Ucap orang itu yang membuat Lia juga membolakan matanya tidak percaya, orang yang sangat tidak ingin ditemuinya lagi-lagi dipertemukan padanya, sungguh takdir tuhan memang berat.
“ Kak Kai! Ngapain disini??” Tanya Lia menuntut penjelasan, sedangkan Kai malah mengernyitkan dahinya bingung.
“ Lah, kan aku ngekos disini!” Ucap Kai membuat Lia membolakan matanya, bagaimana bisa dia tidak tahu hal seperti ini? Sepertinya Lia benar-benar kacau sekarang.
“ T-tapi, sejak kapan?” Tanya Lia sangsi, Kai menghela nafas panjang.
“ Sejak aku ngekos disini, artinya semenjak satu tahun yang lalu Nona Lia!!” Ucap Kai membuat Lia membolakan matanya tidak percaya, Lia mencoba stay calm tapi tidak bisa, dia sudah benar-benar dipermainkan.
“ Hahh, sudahlah....”
“ Ini!” Lia menyerahkan wadah yang dia bawa dari rumah pada Kai, Kai mengernyit heran.
“ Sisa makan malam, tolong dibagi dengan yang lain..” Ucap Lia yang mengerti maksud tatapan heran dari Kai.
“ Oh, thanks ya! Berkat kamu kita tidak usah puasa malam ini..” Ucap Kai dengan cengiran lebar, Lia memiringkan kepalanya tidak mengerti.
“ Sudah lupakan saja, sana pulang udah malem..” Ucap Kai sembari mendorong punggung Lia menjauh, Lia masih tidak mengerti dengan ucapan Kai, jadi dia memilih untuk melupakannya.
“ Ah ya, mulai besok jangan mengikutiku seperti stalker..” Ucap Lia membuat senyum di wajah Kai memudar, sepertinya tugasnya harus berakhir disini dan dia sepertinya harus mengganti judul makalahnya kali ini.
“ Baiklah, maaf sudah mengiku-“
“ Kau bisa jalan disampingku” Potong Lia dengan cepat sebelum Kai selesai bicara, Kai terdiam sejenak bola matanya melebar.