
“ pagi, semuanya..” ucap Lia sopan, murid-murid dikelasnya membalas
dengan anggukan, sapaan, dan senyuman kecil pada Lia. Lia segera meletakkan
tas-nya disamping meja kemudian mendudukkan tubuhnya dikursi.
Murid-murid kembali ke kegiatan mereka, sedangkan Lia asik
memandang langit biru dari balik kaca.Hanya ada keheningan dan ketenangan dalam
dunianya, sampai sebuah teriakan menggema di telinganya.
“ LIIIAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak orang itu tanpa ada
rasa bersalah, melewati kerumunan fans Lia yang berada didepan pintu kemudian
menghentikan lajunya saat berada tepat disamping Lia. Lia menoleh mengukir
senyum kecil, sedangkan orang itu menarik kursi kosong didepan meja Lia
kemudian mendudukkan tubuhnya disana.
“ yo, Leo!” sapa Lia memberikan kepalan tangan mengajak adu
toss pada sosok didepannya. Leo membalas dengan mendorong pelan kepalan tangan
Lia dengan tangannya.
“ where are you go dear?” Tanya Leo kesal, Lia terkekeh
pelan kemudian kembali menfokuskan dirinya pada langit biru yang lebih menarik.
“ do you know Leo, I want to go to the sky..” ucap Lia
dengan sebuah senyum manis merekah diwajahnya, tanpa ada kebohongan apapun dari
sana. Tidak ada topeng yang terpasang di wajah itu, hanya wajah rapuh Lia
dengan senyum merekah yang begitu indah, membuat siapapun yang melihatnya akan
terkagum dengan senyum itu.
Akan tetapi, sayangnya bagi Leo senyum itu berarti 2
hal.Senyum Lia yang begitu memukau, dan Lia yang merelakan hidupnya diambang
takdir. Mungkin Lia sedang berusaha mengatakan dengan halus, bahwa dia akan
segera pergi dari dunia ini.
“ apakah harus?” Tanya Leo sendu, Lia menatap Leo yang kini tengah menunduk. Lia sedikit
merasa bersalah dengan apa yang dia ucapkan, tapi ini memang kenyataan yang
tidak akan bisa diubah. Selain itu rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh
Lia adalah sebuah fakta yang tidak bisa ditampik, bahkan untuk saat ini,
rasanya jantung Lia sedang ditarik kuat kemudian dihempaskan lagi.
KRINGGGG KRINGGG
Bel berbunyi, Leo mengerucutkan bibirnya.Sedangkan Lia
menghela nafas lega, Leo terpaksa bangkit dan kembali ke kelasnya.Lia hanya menatap
punggung tegap Leo yang tengah berjalan pergi dari kelasnya, sedangkan pikiran
Leo kini tengah dipenuhi dengan kata-kata Lia.
Pelajaran dimulai, dan seperti biasa Lia selalu mengacuhkan
guru yang mengajar dan memilih untuk beristirahat dan tidur. Bahkan saat ini
Lia tengah mengacuhkan guru Konseling yang sedang mengajar dikelasnya, dan ya
semua orang sudah tau kalau guru Konseling dan Lia memiliki hubungan yang
sangat buruk, keduanya sama seperti air dan api yang tidak pernah bisa akur.
“ LIA!!” panggil guru itu membuat Lia yang tengah tertidur terkaget bukan main, bahkan
rasanya jantungnya baru saja ditarik keluar dari tempatnya.
“ ah, ada apa mrs. Rose?” Tanya Lia mencoba tenang, Lia
mengukir senyum tidak tahu di topengnya. Guru yang dipanggil dengan nama
Mrs.Rose itu mendelik tajam, tangannya dibawa ke depan dada dan disilangkan.
“ heh, keluar sekarang dan lari keliling lapangan 20 kali!”
ucap Mrs. Rose membuat Lia dan teman-teman sekelasnya terkejut bukan main.
“ a-apa? Tapi kenapa Mrs?”Tanya Lia tidak percaya, bahkan
teman-teman sekelasnya menatap Mrs.Rose dengan pandangan penuh Tanya, mengharap
jawaban dari guru itu.
“ kamu sudah tidur dikelas saya, jadi kamu harus dihukum. Dan ya, setelah selesai mengelilingi
lapangan kamu bersihkan seluruh toilet siswi di sekolah ini!” ucap Mrs. Rose
membuat Lia membolakan matanya terkejut bukan main.
“ ma-maaf Bu, tapi apa itu tidak terlalu berat?” Tanya salah
seorang siswa yang sudah menjadi langgangan ruang konseling disekolah mereka,
pandangannya pada anak laki-laki yang duduk berjarak 2 meja disampingnya.
“ heh, kamu juga mau dihukum?” Tanya Mrs. Rose membuat semua
murid menunduk diam, Lia menghela nafas kemudian bangkit dari kursinya.
“ maaf Mrs, saya tau kalau saya salah. Tapi jika anda masih
berniat menghukum saya seperti ini, saya bisa melaporkan anda pada kepala
sekolah..” ucap Lia dingin tapi berhasil tersembunyi oleh senyum ditopengnya.
“ heh, saya tidak peduli dengan keringanan yang diberikan
oleh sekolah padamu. Tapi yang jelas kamu sudah banyak melanggar peraturan
sekolah, bahkan saya ingin sekali mengeluarkanmu dari sekolah ini. Ah, tidak!
Bahkan kalau boleh lebih baik kamu tidak muncul didunia ini?” ucap mrs.Rose
dingin, Lia mengukir smirknya tipis kemudian menghela nafas pelan.
“ baiklah, kalau begitu saya akan menjalankan hukuman dari
Mrs.Rose . Tapi, seandainya doa anda terwujud, jangan pernah berharap saya
kembali..” ucap Lia mengukir senyumnya.
“ never!!” ucap Mrs.Rose dengan bangga, Lia menghela nafas
lagi sejenak setelahnya melangkahkan kakinya pergi keluar dari kelas.
Lia segera keluar dari kelas kemudian menjalanka hukuman
yang diberikan oleh Mrs.Rose padanya, Lia melakukan lari keliling halaman
sekolah sebanyak 20 kali, akan tetapi pada putaran yang ke 6 dia merasakan
kepalanya pusing, pada putaran ke 7 dadanya sesak, pada putaran ke 8 asma-nya
kambuh, pada putaran ke 9 dia mimisan, dan pada putaran ke 10 dia batuk
darah.
“ sial!” ucapnya saat menyelesaikan putaran yang ke 10, Lia
memilih untuk pergi dai sekolah.
Lia berjalan dengan tangannya yang bertumpu pada pagar yang
ada ditepi jalan, beruntungnya sekolah Lia dekat dengan kawasan perumahan jadi
ada banyak rumah penduduk dengan pagar yang menjadi pembatas antararumah warga dan trotoar.
Lia terus berjalan sampai beberapa kilo dari sekolahnya,
saat itu Lia sudah tidak bisa bertahan, bahkan kakinya sudah gemetar.Lia
mencengkram dadanya kuat, kemeja putih yang menjadi atasan seragamnya kini
penuh dengan noda merah.
“ argh..”
Tiba-tiba tubuh Lia merosot, kakinya sudah tidak mampu menahan berat tubuhnya.Lia
menyandarkan tubuhnya pada dinding pagar dibelakangnya, tangannya mencengkarm
kuat pada bagian dada.Nafasnya memburu dengan detak jantung yang kian tidak
beraturan, Lia sudah lelah tapi dia tidak bisa membiarkan kesadarannya hilang
begitu saja.
Beruntung saat ini jalanan sepi, karena ini jam kerja jadi
tidak aka nada yang melihat penampilannya saat ini.Lia berusaha merogoh saku
roknya, mencari ponsel miliknya yang sialnya tertinggal di kelas.
“ cih, kenapa di..saat sepert ini?” ucapnya lirih, Lia
menatap jalanan sepi sembari mengatur nafasnya yang kian memburu. Berharap
asmanya bisa sedikit reda, juga hatinya yang terus berdoa semoga Hans khawatir
padanya dan menjemputnya.
CKIITTT
Suara rem kendaraan bermotor menggema ditelinganya, Lia
hanya bisa berharap kalau itu adalah hans yang datang dengan mobilnya.Lia
mendongak, kesadarannya yang tinggal sedikit membuatnya kesulitan melihat siapa
yang datang, sampai sebuah suara menyapu pendengarannya.
“ oi, apa kamu baik-baik saja?” Tanya orang itu, Lia
mengenal suara itu. Itu Kai, dia yang datang. Lia sebenarnya tidak ingin Kai
tau, tapi jika dia bersikeras maka dirinya akan tewas ditepi jalan. Dan itu sungguh tidak lucu
jika esok hari dikabarkan bahwa seorang pesulap internasional tewas di tepi
jalan karena lari 10 putaran.