
“ biar aku saja.”
Ucap Hans mengambil Lia dari gendongan Kai, Hans berjalan menuju ke kamar Lia
sedangkan Kai memilih untuk duduk di ruang tamu.
Hans segera
meletakkan Lia diatas ranjang, kemudian membuka nakas dan mengeluarkan beberapa
botol obat. Mengeluarkan pil didalamnya kemudian membantu Lia meminumnya, Lia
meneguk semua pil pahit itu dengan cepat kemudian mencoba mengatur deru
nafasnya yang masih memburu.
Hans mengambil
inhaler dari nakas kemudian memberikannya pada Lia, Lia menghirup inhaler itu
dan mencoba mengendalikan deru nafasnya, setelah dirasa tenang Hans mengacak
puncak kepala Lia penuh sayang.
“ kau membuatku
khawatir..” ucap Hans sendu, Lia mengukir senyum pasi.
“ maaf..” gumam
Lia, Hans menghela nafas lelah. Mengambil sapu tangan dan membasahinya dikamar
mandi, meninggalkan Lia yang mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“ kemarilah!”
ucap Hans membuat Lia menoleh.
“ ugh..” lenguh
Lia begitu mendapati benda hangat menempel di wajahnya, dia mendapati Hans
tengah mengusap bekas darah yang mengalih di hidung, juga sekitar mulutnya
dengan handuk basah.
“ apa yang
terjadi? Kenapa tidak menghubungiku?” tanya Hans sendu, Lia masih diam
membiarkan Hans menyelesaikan kegiatannya lebih dulu. Setelah selesai Hans
menyimpan handuk itu dan meletakkannya di atas nakas.
“ maaf, ponselku
tertinggal dikelas” ucap Lia menyesal, Hans mengernyit heran.
“ kenapa kamu
meninggalkan ponsel dikelas? Ini tidak seperti dirimu, Lia?” tanya Hans tidak
mengerti, Lia mengangguk paham kemudian mengambil nafas untuk menjelaskan apa
yang terjadi.
Lia mulai
menjelaskan kejadian dimana dia dihukum oleh guru konseling yang mengakibatkan
dirinya harus dihukum, dan ya kejadiaan saat Kai tidak sengaja menemukannya
yang terkapar dijalan, juga kekesalannya karena Hans tidak kunjung mengangkat
ponselnya.
“ APA!!!???”
teriak Hans penuh amarah, dia tidak terima adik kesayangannya diperlakukan
sepeti ini. Selain itu sejak awal Lia masuk kesana, Hans sudah membuat
perjanjian dengan pihak sekolah untuk memberikan Lia keringanan, dan pihak
sekolah memaklumi hal itu.
Tapi, hari ini
adiknya sudah dihukum dengan sangat keterlaluan, membuat darahnya berdesir
panas. Amarah menguasai dirinya saat ini, Lia menghela nafas lelah. Tangan
kanannya terulur meraih seragam Hans yang msih melekat ditubuh pemuda itu.
“ aku baik-baik
saja, Hans..” ucap Lia tenang, Hans masih sangat kesal tapi dia tidak bisa berbuat
sesukanya jika Lia sudah melarang.
“ baiklah, tapi
kauharus istirahat selama
seminggu!!” ucap Hans final, Lia mengangguk pasrah tidak ingin membuat masalah
lebih banyak lagi.
“ oh ya, dimana
kak Kai?” tanya Lia penasaran, Hans memiringkan kepalanya bingung sampai
akhirnya dia mengerti siapa orang yang dimaksud oleh Lia.
“ yak, sial!!”
pekiknya yang berlari menuju dapur membawakan air dan cemilan yang ada kemudian
membawanya menuju ke ruang tamu, disana sudah ada Kai yang sibuk menelfon
dengan seseorang. Sepertinya membahas izin atau apapun itu, entahlah Hans tidak
peduli.
“ maaf membuatmu
menunggu..” ucap Hans datar, kai menganguk pelan kemudian mematikan ponselnya.
“ bagaimana
keadaan Lia?” tanya Kai begitu Hans mendudukkan tubuhnya.
Lia?~batin Hans bingung, bagaimana bisa ada
orang yang langsung memanggil nama kecil orang lain padahal baru pertama kali
bertemu.
“ oh, Alya sudah
baikan. Terimakasih, apa kamu mengenal Alya?” tanya Hans menyelidik, Kai
mengangguk pelan.
mengenalnya sejak 4 atau 3 bulan yang lalu” ucap Kai santai, Hans terkejut
dalam hati. Sejak kapan Lia berkenalan dengan pria seperti Kai.
“ Kak Kai..”
panggil Lia pelan, Hans dan Kai menoleh dan mendapati Lia yang berjalan ke arah
mereka. Hans langsung bangkit dan membantu Lia berjalan.
“ duduklah dulu,”
ucap Hans khawatir. Lia mendudukkan tubuhnya disofa sedangkan hans pergi entah
kemana.
“ maaf membuatmu
khawatir, kak” ucap Lia tenang, sebuah senyum polos terukir diatas topengnya.
“ hm, apa kamu
baik-baik saja?” tanya Kai sedikit khawtir, Lia mengangguk sebagai balasan.
“ aku tidak apa,
hanya kelelahan setelah lari 10 putaran,kkkk” ucap Lia diakhiri dengan kekehan
dibelakang, sedangkan Kai terkejut sejenak kemudian tertawa mendengarnya.
“ hahh,
syukurlah..” ucap Kai lega, Lia menatap Kai yang tengah mengukir senyumnya
tulus memuat hatinya sedikit senang, setidaknya masih ada orang yang
menghiburnya.
“ hm, oh ya soal
permintaan kakak...aku bisa membantu mulai minggu depan!” ucap Lia senang,
dengan ini tugasnya akan segera selesai.
“ heh, padahal
aku masih punya banyak waktu..” ucap Kai lesu, mungkin tidak terima dengan
akhir yang pastinya akan cepat datang.
“ maaf, tapi 2
bulan lagi aku akan mengadakan world tour, jadi aku harus bersiap..” ucap Lia
sedikit menyesal, juga guratan sedih yang diukir diatas topeng andalannya.
“ eh, apa aku
merepotkanmu?” tanya Kai menyesal, Lia mengukir smirknya.
“ bukankah kau
sudah sangat merepotkan sejak awal, Kak Kai” ucap Lia dengan smirk meremehkan
membuat urat kekesalan muncul di dahi Kai.
“ heh, sepertinya
kau sudah benar-benar sembuh!!” ucap Kai penuh kekesalan, Lia bisa melihat perempatan imaginer di sudut
pelipisnya.
“ hm, oh ya kak
soal yang tadi tolong rahasiakan. Aku tidak ingin fans-ku khawatir..” ucap Lia
dengan sebuah senyum kecil tulus diwajah cantiknya.
“ ah,
b-baiklah..” ucap Kai terbata, dan ya sepertinya telinganya memerah melihat
senyum Lia.
“ ah ya, ini nomer
telfonku. Jika butuh sesuatu hubungi saja aku,” ucap Lia memberikan kartu
namanya pada Kai, Kai menerimanya dengan senang hati.
“ Lia aku sudah menyiapkan makanan di dapur, kamu makanlah.
Aku akan mengantarnya kembali..” ucap Hans lembut, Lia mengangguk sedangkan Kai
bangkit dari sofa.
“ kalau begitu aku permisi,” ucap Kai yang dibalas anggukan
dari Lia.
Hans mengantar Kai kembali ke tempat tadi, sedangkan Lia
bermain dengan Kuro yang baru saja bangun dari tidurnya. Saat diperjalanan,
Hans sempat berterimakasih pada Kai yang sudah menyelamatkan Lia.
“ Kai?” panggil Hans yang membuat Kai terkejut.
“ hm?” balasnya, Kai sedikit mengernyit heran dengan sikap
Hans.
“ terimakasih sudah menjaga Lia, gw gak bisa bayangin apa yang
terjadi kalau lu gak ada disana..” ucap Hans sendu, Kai mengangguk pelan.
“ tidak masalah, anak itu terlalu sulit untuk ditinggalkan!”
ucap Kai santai, Hans mengangguk sebagai jawaban.
“ hm, dan ya maaf. Mungkin gw udah jadi stalker yang
menyulitkannya..” ucap Kai menggaruk tengkuknya.
“ A-APA!!??” pekik Hans terkejut bukan main, Kai memasang
cengirannya kemudian menjelaskan alasannya menjadi stalker sekaligus meminta
maaf karena perbuatannya membuat Hans kerepotan. Hans mengumpat dan menyumpahi
Kai sepanjang perjalanan, dan Kai hanya bisa memaklumi hal itu. Selama
perjalanan mereka dipenuhi teriakan kesal Hans, dan tawa renyah Kai yang tanpa
sadar membuat mereka lupa jika mereka sudah tiba ditujuannya.
“oke-oke, gw bakal bantuin lu ngejagain Lia..” ucap Kai
menenangkan Hans yang masih dipenuhi amarah.