X

X
a



“ biar aku saja.”


Ucap Hans mengambil Lia dari gendongan Kai, Hans berjalan menuju ke kamar Lia


sedangkan Kai memilih untuk duduk di ruang tamu.


Hans segera


meletakkan Lia diatas ranjang, kemudian membuka nakas dan mengeluarkan beberapa


botol obat. Mengeluarkan pil didalamnya kemudian membantu Lia meminumnya, Lia


meneguk semua pil pahit itu dengan cepat kemudian mencoba mengatur deru


nafasnya yang masih memburu.


Hans mengambil


inhaler dari nakas kemudian memberikannya pada Lia, Lia menghirup inhaler itu


dan mencoba mengendalikan deru nafasnya, setelah dirasa tenang Hans mengacak


puncak kepala Lia penuh sayang.


“ kau membuatku


khawatir..” ucap Hans sendu, Lia mengukir senyum pasi.


“ maaf..” gumam


Lia, Hans menghela nafas lelah. Mengambil sapu tangan dan membasahinya dikamar


mandi, meninggalkan Lia yang mencoba menenangkan dirinya sendiri.


“ kemarilah!”


ucap Hans membuat Lia menoleh.


“ ugh..” lenguh


Lia begitu mendapati benda hangat menempel di wajahnya, dia mendapati Hans


tengah mengusap bekas darah yang mengalih di hidung, juga sekitar mulutnya


dengan handuk basah.


“ apa yang


terjadi? Kenapa tidak menghubungiku?” tanya Hans sendu, Lia masih diam


membiarkan Hans menyelesaikan kegiatannya lebih dulu. Setelah selesai Hans


menyimpan handuk itu dan meletakkannya di atas nakas.


“ maaf, ponselku


tertinggal dikelas” ucap Lia menyesal, Hans mengernyit heran.


“ kenapa kamu


meninggalkan ponsel dikelas? Ini tidak seperti dirimu, Lia?” tanya Hans tidak


mengerti, Lia mengangguk paham kemudian mengambil nafas untuk menjelaskan apa


yang terjadi.


Lia mulai


menjelaskan kejadian dimana dia dihukum oleh guru konseling yang mengakibatkan


dirinya harus dihukum, dan ya kejadiaan saat Kai tidak sengaja menemukannya


yang terkapar dijalan, juga kekesalannya karena Hans tidak kunjung mengangkat


ponselnya.


“ APA!!!???”


teriak Hans penuh amarah, dia tidak terima adik kesayangannya diperlakukan


sepeti ini. Selain itu sejak awal Lia masuk kesana, Hans sudah membuat


perjanjian dengan pihak sekolah untuk memberikan Lia keringanan, dan pihak


sekolah memaklumi hal itu.


Tapi, hari ini


adiknya sudah dihukum dengan sangat keterlaluan, membuat darahnya berdesir


panas. Amarah menguasai dirinya saat ini, Lia menghela nafas lelah. Tangan


kanannya terulur meraih seragam Hans yang msih melekat ditubuh pemuda itu.


“ aku baik-baik


saja, Hans..” ucap Lia tenang, Hans masih sangat kesal tapi dia tidak bisa berbuat


sesukanya jika Lia sudah melarang.


“ baiklah, tapi


kauharus istirahat selama


seminggu!!” ucap Hans final, Lia mengangguk pasrah tidak ingin membuat masalah


lebih banyak lagi.


“ oh ya, dimana


kak Kai?” tanya Lia penasaran, Hans memiringkan kepalanya bingung sampai


akhirnya dia mengerti siapa orang yang dimaksud oleh Lia.


“ yak, sial!!”


pekiknya yang berlari menuju dapur membawakan air dan cemilan yang ada kemudian


membawanya menuju ke ruang tamu, disana sudah ada Kai yang sibuk menelfon


dengan seseorang. Sepertinya membahas izin atau apapun itu, entahlah Hans tidak


peduli.


“ maaf membuatmu


menunggu..” ucap Hans datar, kai menganguk pelan kemudian mematikan ponselnya.


“ bagaimana


keadaan Lia?” tanya Kai begitu Hans mendudukkan tubuhnya.


Lia?~batin Hans bingung, bagaimana bisa ada


orang yang langsung memanggil nama kecil orang lain padahal baru pertama kali


bertemu.


“ oh, Alya sudah


baikan. Terimakasih, apa kamu mengenal Alya?” tanya Hans menyelidik, Kai


mengangguk pelan.


mengenalnya sejak 4 atau 3 bulan yang lalu” ucap Kai santai, Hans terkejut


dalam hati. Sejak kapan Lia berkenalan dengan pria seperti Kai.


“ Kak Kai..”


panggil Lia pelan, Hans dan Kai menoleh dan mendapati Lia yang berjalan ke arah


mereka. Hans langsung bangkit dan membantu Lia berjalan.


“ duduklah dulu,”


ucap Hans khawatir. Lia mendudukkan tubuhnya disofa sedangkan hans pergi entah


kemana.


“ maaf membuatmu


khawatir, kak” ucap Lia tenang, sebuah senyum polos terukir diatas topengnya.


“ hm, apa kamu


baik-baik saja?” tanya Kai sedikit khawtir, Lia mengangguk sebagai balasan.


“ aku tidak apa,


hanya kelelahan setelah lari 10 putaran,kkkk” ucap Lia diakhiri dengan kekehan


dibelakang, sedangkan Kai terkejut sejenak kemudian tertawa mendengarnya.


“ hahh,


syukurlah..” ucap Kai lega, Lia menatap Kai yang tengah mengukir senyumnya


tulus memuat hatinya sedikit senang, setidaknya masih ada orang yang


menghiburnya.


“ hm, oh ya soal


permintaan kakak...aku bisa membantu mulai minggu depan!” ucap Lia senang,


dengan ini tugasnya akan segera selesai.


“ heh, padahal


aku masih punya banyak waktu..” ucap Kai lesu, mungkin tidak terima dengan


akhir yang pastinya akan cepat datang.


“ maaf, tapi 2


bulan lagi aku akan mengadakan world tour, jadi aku harus bersiap..” ucap Lia


sedikit menyesal, juga guratan sedih yang diukir diatas topeng andalannya.


“ eh, apa aku


merepotkanmu?” tanya Kai menyesal, Lia mengukir smirknya.


“ bukankah kau


sudah sangat merepotkan sejak awal, Kak Kai” ucap Lia dengan smirk meremehkan


membuat urat kekesalan muncul di dahi Kai.


“ heh, sepertinya


kau sudah benar-benar sembuh!!” ucap Kai penuh kekesalan,  Lia bisa melihat perempatan imaginer di sudut


pelipisnya.


“ hm, oh ya kak


soal yang tadi tolong rahasiakan. Aku tidak ingin fans-ku khawatir..” ucap Lia


dengan sebuah senyum kecil tulus diwajah cantiknya.


“ ah,


b-baiklah..” ucap Kai terbata, dan ya sepertinya telinganya memerah melihat


senyum Lia.


“ ah  ya, ini nomer


telfonku. Jika butuh sesuatu hubungi saja aku,” ucap Lia memberikan kartu


namanya pada Kai, Kai menerimanya dengan senang hati.


“ Lia aku sudah menyiapkan makanan di dapur, kamu makanlah.


Aku akan mengantarnya kembali..” ucap Hans lembut, Lia mengangguk sedangkan Kai


bangkit dari sofa.


“ kalau begitu aku permisi,” ucap Kai yang dibalas anggukan


dari Lia.


Hans mengantar Kai kembali ke tempat tadi, sedangkan Lia


bermain dengan Kuro yang baru saja bangun dari tidurnya. Saat diperjalanan,


Hans sempat berterimakasih pada Kai yang sudah menyelamatkan Lia.


“ Kai?” panggil Hans yang membuat Kai terkejut.


“ hm?” balasnya, Kai sedikit mengernyit heran dengan sikap


Hans.


“ terimakasih sudah menjaga Lia, gw gak bisa bayangin apa yang


terjadi kalau lu gak ada disana..” ucap Hans sendu, Kai mengangguk pelan.


“ tidak masalah, anak itu terlalu sulit untuk ditinggalkan!”


ucap Kai santai, Hans mengangguk sebagai jawaban.


“ hm, dan ya maaf. Mungkin gw udah jadi stalker yang


menyulitkannya..” ucap Kai menggaruk tengkuknya.


“ A-APA!!??” pekik Hans terkejut bukan main, Kai memasang


cengirannya kemudian menjelaskan alasannya menjadi stalker sekaligus meminta


maaf karena perbuatannya membuat Hans kerepotan. Hans mengumpat dan menyumpahi


Kai sepanjang perjalanan, dan Kai hanya bisa memaklumi hal itu. Selama


perjalanan mereka dipenuhi teriakan kesal Hans, dan tawa renyah Kai yang tanpa


sadar membuat mereka lupa jika mereka sudah tiba ditujuannya.


“oke-oke, gw bakal bantuin lu ngejagain Lia..” ucap Kai


menenangkan Hans yang masih dipenuhi amarah.