
“ Ah, sudah lama sekali ya, Lia!!” Dokter itu bangkit dari duduknya, dia mulai berjalan mendekat ke arah Lia sembari memberikan senyum lima jari yang juga tidak kalah hangat bagi siapapun yang melihatnya. Sayangnya karena Lia melihat aura gelap imajiner nan kelam dibelakang sang dokter membuat Lia mulai begidik ngeri karenanya.
“ Ah, pa-paman..b-bisakah paman tenang dulu..??” Tanya Lia mencoba menenangkan sosok didepannya yang sudah siap mengamuk.
“ Ho~~”
“ Jadi kamu sudah ingat dengan jadwal cek-up mu...” Sebuah pernyataan keluar dari mulut sang dokter tampan, akan tetapi pernyataan ini malah membuat Lia berkeringat dingin karenanya.
“ Ah, i-itu..??” Lia menggaruk pipinya mencoba menghilangkan rasa canggung yang ada, sedangkan dokter Alex sudah berdiri di depannya dengan kedua tangan yang disilangkan.
“ Aku minta maaf!!!” Pekik Lia tiba-tiba, tidak hanya berteriak, dia juga menyatukan kedua telapak tangannya dan mendunduk memohon maaf. Sang dokter hanya bisa menghela nafas lelah, sudah bosan dengan tingkah anak nakal didepannya.
“ Sudahlah, ayo mulai saja..” Ucap sang dokter sembari melirik tajam Lia.
Lia hanya bisa menuruti apa yang dikatakan dan diinginkan sang dokter, dia tidak ingin memperumit perang dingin yang baru saja dimulai saat ini. Lia mulai menjalani pemeriksaan yang harusnya rutin ia lakukan setiap minggu, tapi baru saja ia lakukan hari ini. Dan ya, seingatnya mungkin dia melakukan cek up sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu karena penyakitnya yang kambuh juga karena kelelahan akibat work a holic.
Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya pemeriksaan Lia berakhir. Lia menghela nafas lega, lagi-lagi kondisi tubuhnya melemah? HEHH!!!??? Kenapa dia menghela nafas lega kalau nyatanya kondisinya tidak baik??
Ya, kan sudah author bilang kalau Lia itu sudah pasrah dengan keadaan. Lagian dia ingin cepat beristirahat dan melepas beban yang selama ini ia tanggung. Sekarang Lia sedang asik merebahkan tubuhnya diatas brangkar medis yang berada ruang kerja milik Alex.
“ Hahh, sudah sana cepat pulang!!” Titah alex yang sudah bosan dengan keberadaan Lia yang hanya tiduran diatas brangkar dengan posisi tengkurap sembari memainkan ponselnya.
“ Aku malas paman..” Ucap Lia dengan nada lesu, Lia sudah bosan bermain dengan ponselnya sekarang. Jadi dia memilih untuk membalik posisi tubuhnya dan merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang menghadap
langit-langit.
Lia menatap plafon putih kosong yang sudah ia kenal dengan jelas, bau obat yang tidak begitu pekat tapi masih bisa tercium jelas di indranya, suara detak jam dinding yang menggema di telinga, dan ketenangan yang bahkan tidak bisa ia dapatkan di rumah.
“ KALAU BEGITU PULANGLAH DAN ISTIRAHAT DIRUMAH!!!!” Pekik Dokter Alex yang sudah kesal setengah mati. Lia menoleh sejenak kearah Dokter Alex yang sedang uring-uringan sembari menjambak rambutnya sesekali, dan mulutnya yang tidak henti merapal berbagai umpatan yang sangat jelas itu umpatan untuk Lia.
“ Hahh, iya-iya…” Ucap Lia malas, dia melangkahkan kakinya menapaki lantai dan berjalan menuju ke meja kerja milik Alex.
“ Ne, Paman?” Panggil Lia membuat Alex memberikan atensinya untuk sejenak. Alex menaikkan salah satu alisnya dan menatap Lia penuh Tanya.
“ Kalau dalam semingu ini aku tidak memberi kabar berarti aku sibuk ya!” Ucap Lia yang membuat Alex langsung ternganga bukan main, dia pikir gadis manis, eh salah gadis tengil di depannya ini ingin mengatakan hal penting apa. Nyatanya Lia hanya ingin mengerjainya.
“ Lia….” Dokter Alex mengeram pelan, Lia bisa melihat aura membunuh yang gelap dan kelam dari Alex, jadi dia memilih untuk menyelamatkan dirinya dan pergi dari sana.
“ Bye-bye paman!!!” Ucap Lia yang langsung lari dan menjauh dari ruang kerja Alex, sedangkan Alex sedang asik mengumpati dan merapal berbagai mantra berharap semoga Lia jatuh ke selokan.
.
.
.
baru mendapat pesan dari ayahnya beberapa jam lalu bahwa sang ayah ada pekerjaan di luar negri dan dia tidak bisa pulang untuk sementara waktu, sedangkan Ray masih berada disekolah pada jam segini. Tadi pagi Lia mendapat pesan dari Ray kalau dirinya akan pulang saat makan malam, dan ya ada satu hal lagi yang membuat Lia syok pagi ini.
Kalau kalian ingin tahu, lia dengar kalau Ray akan datang bersama pacarnya. Ya, Ray bilang dia akan datang bersama PACARNYA!!!! Dan ini yang membuat Lia semakin sakit hati, disaat dirinya sedang berusaha untuk tetap
berdiri kokoh dan menyokong sang kakak agar tetap bisa berdiri, kini sang kakak meninggalkannya dalam kegelapan. Sendirian, tanpa ada siapapun yang bisa menahan jiwanya.
“ Urgh…aku lapar" Erangnya kala perutnya bergemuruh meminta untuk diisi.
Lia bangkit dari tidurnya kemudian mendudukkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua kaki yang bersila, Lia menoleh ke arah jendela kamarnya sejenak setelahnya menghela nafas pelan. Hari masih cukup siang, dan udara sangat panas diluar. Tapi karena lapar Lia terpaksa pergi keluar hanya untuk mencari makanan yang dapat mengisi perutnya saat ini.
Lia mengambil sebuah topi dari lemarinya kemudian berjalan turun kebawah untuk memakai sepatunya, setelah dirasa cukup, Lia segera mengunci pintu rumahnya kemudian berjalan menuju ke salah satu mini market yang
tidak jauh dari rumahnya.
Seperti biasa walau sedang dalam keadaan tidak baik tapi Lia tetap menghibur orang-orang yang dia temui selama perjalanan, sungguh dengan hanya bermodal sebuah senyum lembut nan hangat di atas topengnya, dia dapat
mengubah suasana hati dari orang yang melihat senyum itu. Benar-benar luar biasa, Lia adalah seorang penipu pembuat keajaiban.
.
.
.
“ Apa ada lagi kak?” Tanya pelayan yang bertugas menjaga kasir di mini market tempatnya membeli sepaket mi instan komplit dengan toping yang akan dia tambahkan ke dalam makanannya.
Ini bukan hal yang wajar dari seorang Lia, biasanya dia akan memakan makanan sehat dan pastinya homemade, Lia selalu memasak makanannya sendiri. Dan menemukan Lia tengah menyantap mie instan adalah hal yang langka dari seorang Lia.
Walau begitu Lia tetap membeli stok bahan makanan mengingat kalau nanti malam kakaknya akan pulang bersama dengan pacarnya dan ya, Lia pastinya harus memasak dan membuatkan makan malam untuk sang kakak dan
tamunya.
“ Tidak, terimakasih..” Ucap Lia dengan sebuah senyum lembut terukir diwajahnya, membuat pelayan itu sedikit blushing karena melihat senyum Lia. Pelayan itu segera memberikan struk dan belanjaan Lia, setelahnya Lia langsung membayarkan nomina yang tertera distruk tersebut.
.
.
.
Baru saja Lia keluar dari mini market dan dia sudah mendapati seorang yang sangat ingin ia hindari tidak jauh dari sana, lebih tepatnya disebrang jalan, laki-laki yang dia temui di taman bermain Dream Park 2 atau 3 bulan yang lalu.