X

X
Episode 4 : Kemenangan Pertama



Seluruh siswa SMA Majapahit yang menyaksikan pertarungan itu nampak sangat kaget, karena ternyata pertarungan tersebut justru dimenangkan oleh Niko. Dengan cepat, seluruh siswa dan siswi pun meributkan hal yang sangat mengagetkan ini.


“G-Gak mungkin… Ini benar-benar gak mungkin…,” ucap salah satu siswa.


“Apa yang terjadi, pasti ada kesalahan kan…,” ucap siswi lain.


“Dia bisa ngalahin Arthur…!!!”


“Oi Oi… ini sangat mengejutkan…”


“Ahhhh~ aku tak kuat melihatnya…”


“Ini akan jadi BERITA BESARRRRRR…!!!!”


“AKHIRRR ZAMANNN….!!!”


Setelah dinyatakan bahwa pemenangnya adalah Niko, terlihat wajah Arthur berubah menjadi sangat menyedihkan, dia masih tidak percaya bahwa dirinya telah dikalahkan oleh Niko.


“A…A…Aku kalah… Ti-Tidak mungkin…,” kata Arthur dengan wajah kagetnya.


Kini perasaan Arthur penuh dengan ketidakjelasan, seakan hidupnya sudah diambang batas, dan hanya kesengsaran yang tersisa untuknya.


“A…Aku harus menjadi budak… untuknya… Sial…!!! Lebih baik aku mati saja,” geramnya.


Diwaktu yang sama, terlihat Mawardana berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke kelas 1-C untuk menemui Niko dan Arthur, wajahnya nampak gelisah, seperti dia tak mau jika sesuatu buruk terjadi.


“Ayolah… Semoga masih sempat,” kata Mawardana.


Setelah mengumumkan bahwa pertarungan itu dimenangkan oleh Niko, maka mau tidak mau, Bu Ada harus membacakan perjanjian dari pertarungan yang sudah dibuat, dan Arthur harus bersiap untuk menemui takdirnya.


“Karena pertarungan ini dimenangkan oleh Niko Alexander, maka sesuai dengan perjanjian yang ada, Mulai hari ini Arthur Compton akan menjadi Bu-…”


“TIDAK BU…!!!” dengan lantangnya tiba-tiba Niko memotong pembicaraan Bu Ada.


Seketika Arthur dan Bu Ada kaget dengan apa yang dikatakan oleh Niko.


“Hmm… ada apa Tuan Alexander?” tanya Bu Ada.


“Aku ingin agar perjanjian ini dihapuskan,” jawab Niko dengan tegas.


“Heh…!!!” kaget Arthur.


Mendengar Niko mengatakan hal itu, membuat Bu Ada bingung dan menanyakan hal itu kembali.


“Apa kau bisa mengulanginya lagi Tuan Alexander?”


“A…Aku ingin agar perjanjian ini dihapus saja hehe…,” kali ini Niko menjawabnya dengan santai.


Nampaknya perkataan Niko membuat Arthur marah, sehingga dia pun menghentak meja dan berkata dengan lantangnya kepada Niko.


“BRUAKKKK…!!!”


“APA KATAMU…!!! Kau mau menghapuskan perjanjiannya, APA SEKARANG KAU BERUSAHA MENGEJEKKU DENGAN…”


“Tenanglah Tuan Compton…!!!” kata Bu Ada yang sekaligus membuat Arthur berhenti bicara.


“SIALLL…!!!” geram Arthur.


Setelah menenangkan Arthur, Bu Ada pun kembali berbicara,


“Tuan Alexander, ini adalah perjanjian yang sudah kalian sepakati bersama, jika kau memutuskan untuk menghapuskannya, maka kau sudah menyinyiakan peluangmu untuk meraih gelar Artest di SMA Majapahit ini, kemenanganmu menjadi sia-sia dan pertarunganmu dengan Arthur dianggap tak pernah terjadi, walaupun demikian, apa kau masih ingin menghapusnya?”


“Walaupun demikian, aku tetap ingin menghapusnya Bu,” jawab Niko tanpa ragu.


“Bolehkah aku mengetahui alasannya?” tanya Bu Ada.


Tak lama kemudian, Niko pun menjelaskan alasannya dihadapan Arthur dan Bu Ada.


“Sebenarnya, dari awal aku tidak menyukai pertarungan ini, aku sama sekali tak menginginkannya, aku… sangat membencinya.”


“………,” Arthur dan Bu Ada terdiam.


“Pertarungan hanya melahirkan dua hal, pemenang dan pecundang, pemenang akan tertawa dan pecundang akan putus asa, bagiku… dua hal itu sama-sama mengerikan, menjadi pecundang bukanlah sesuatu yang diinginkan semua orang, tetapi kemenangan tak mungkin diraih tanpa ada kekalahan, pemenang atau pecundang… aku sama sekali tak mau memilihnya.”


“HENTIKAN OMONG KOSONGMU…!!!” seru Arthur yang tiba-tiba maju kehadapan Niko.


“Heh…,” kejut Niko.


Terlihat jelas bahwa Arthur sangat marah kepada Niko, dia menatap mata Niko dengan penuh kebencian.


“Dengar ya…!!! Sekolah ini sama seperti medan pertempuran, jika kau tak ingin dibunuh maka kau harus membunuh, jika kau ingin menang maka kau harus mengalahkan seseorang, dari dulu begitulah peraturannya, sekolah ini tak membutuhkan orang yang tak punya ambisi sepertimu…!!!” geram Arthur.


Mendengar perkataan Arthur, membuat Niko terdiam beberapa saat, dan tak lama kemudian Niko pun berkata,


“Jika kau mengalahkan seseorang, jika kau membunuh seseorang, jika kau memenangkan pertempuran, apa kau memikirkan penderitaan mereka yang


telah kalah darimu?”


“Hah… apa maksudmu?” tanya Arthur.


“Ketika kau kalah dari seseorang, kau akan merasa sedih dan putus asa, bukan sampai disitu saja, penderitaanmu akan terus berlanjut setelah kau menerima keputusan dari sang pemenang, walaupun begitu, apa kau masih ingin menerimanya?”


“Jadi MEMANG BENAR kalau kau ingin mempermalukanku HAH…!!! APA


YANG KAU INGINKAN DARIKU…!!!” seru Arthur sambil menarik kerah baju Niko.


“Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya ingin menjelaskannya kepadamu.”


“DIAMLAH…!!! Peraturan tetaplah peraturan, ini adalah hadiah untuk pemenang dan hukuman bagi yang kalah, aku akan merasa terhormat jika menjadi budak dari orang yang sudah mengalahkan...”


“TIDAK ADA SATU PUN ORANG DI DUNIA INI YANG INGIN MENJADI BUDAK…!!!” teriakan Niko memotong perkataan dari Arthur.


“Hah…!!!,” kaget Arthur yang seketika melepaskan tangannya dari kerah baju Niko.


“Tidak ada satu pun orang yang ingin mengalami kekalahan, tidak ada satu pun yang ingin menjadi pecundang, dan tidak ada yang ingin menjadi budak dari orang yang telah mengalahkannya, penderitaan itu…,


kesengsaraan itu…, kau pasti bisa merasakannya kan.”


“……….,” Arthur terdiam sambil menguatkan kepalan tangannya.


“Maka dari itu, aku menolak untuk menerima kesepakatan ini, aku tak ingin kedepannya dari kita ada yang tersakiti, aku ingin kau tetap menjadi dirimu sendiri, dan melupakan semua pertarungan ini.”


Setelah Arthur lebih tenang, akhirnya Niko mengulurkan tangannya dan berkata,


“Mulai dari sekarang, apa aku boleh menjadi temanmu? mendapatkan teman dihari pertama sekolah pasti akan sangat menyenangkan,” kata Arthur sambil tersenyum.


“PLAAAAKKKK…!!!”


Tiba-tiba Arthur langsung menangkis tangan Niko dan berkata,


“Aku tak sudi menjadi temanmu…!!! Siall…!!!”


Terlihat Arthur sedikit mengeluarkan air matanya, dan dalam sekejap langsung berlari dan pergi meninggalkan kelas 1-C.


Setelah perginya Arthur, Bu Ada pun berkata,


“Baiklah Tuan Alexander, kaulah pemenangnya dan kau berhak


menentukan segalanya, dengan ini maka kuanggap pertarunganmu dengan Arthur


tidak pernah terjadi, dan kau tak mendapatkan apapun dari hasil pertarungan


ini, semoga harimu menyenangkan.”


Setelah mengatakannya, Bu Ada akhirnya juga meninggalkan kelas 1-C, dan seluruh siswa yang menonton pertarungan itu pun ikut pergi.


Melihat semuanya sudah kembali normal, akhirnya Niko menghela nafas dan mengambil tas nya untuk pulang. Namun sesaat sebelum keluar dari pintu kelas, ada seseorang yang membuatnya menghentikan langkahnya.


“Kau melakukan hal yang bagus Tuan Alexander, hmm… atau kupanggil Niko saja ya,” kata orang itu.


“E-Ehh… Bapak siapa?” tanya Niko.


“Aku Mawardana, Guru Sejarah di SMA ini,” ternyata orang itu adalah Mawardana.


“O-Oh… Pak Mawardana…hehe.”


“Aku harap kau senggang, karena aku ingin mentraktirmu makan Mie Ayam,” kata Mawardana sambil tersenyum.


Sore itu, disebuah kedai Mie Ayam langganannya Mawardana, terlihat Niko sangat senang karena sudah ditraktir oleh Mawardana.


“Mie Ayam disini maknyuss banget pak, makasih banget lho,” kata Niko.


“Kalo kurang, pesen lagi aja,” kata Mawardana.


“Hehe… iya pak, hmm tapi kita baru aja bertemu, kenapa bapak tiba-tiba mentraktirku?” tanya Niko.


“Tentu saja merayakan kemenanganmu,” jawab Mawardana.


“Hmmm… tapi kemenanganmu tidak dianggap pak, karena aku menolak kesepakatan yang sudah dibuat.”


“Justru karena kau menolaknya lah, yang membuatku menganggap kemenanganmu.”


“Heh kok bisa Pak?” tanya Niko.


“Karena akan sangat berbahaya jika kau sampai menerimanya,” jawab Mawardana dengan serius.


“Heh… maksud bapak?”


“Aku tak ingin kejadian sepuluh tahun lalu terulang lagi, Perang Paregreg cukup satu kali terjadi.”


“Pe-Perang Paregreg…,” kata Niko yang penasaran.


“Ah… maaf, lupakan apa yang aku katakan tadi ya, yang penting aku sangat senang karena kau sudah menolak kesepakatan itu.”


“Hmm… oke.”


“Tapi kau hebat sekali bisa mengalahkan Arthur, padahal dia peringkat 3 saat ujian masuk, sampai sekarang aku belum percaya bahwa kau ada di peringkat terakhir,” kata Mawardana.


“Aku… peringkat terakhir saat ujian masuk,” kata Niko yang terheran.


“Iya kamu, masa kamu gak tahu?” tanya Mawardana.


“Aku tidak mengikuti ujian masuk SMA Majapahit, jadi aku tak tahu peringkat berapa… dan teryata aku diperingkat terakhir ya…hehehe.”


“Heh… apa kau bilang, kau tidak mengikuti ujian masuk, lalu bagaimana caramu bisa masuk di SMA Majapahit?”


“Saat itu setelah kelulusan SMP, tiba-tiba ada surat yang masuk kerumahku, dan tertulis bahwa aku diterima di SMA Majapahit, waktu itu aku sedang tak punya biaya untuk melanjutkan SMA, dan kebetulan disurat itu


tertulis bahwa aku akan mendapatkan dana setiap bulannya, Nah… tanpa pikir panjang aku langsung menerima tawaran itu hehe.”


“Tu-Tunggu dulu… jadi kau masuk SMA Majapahit menggunakan cara itu?” kejut Mawardana.


“Ya Pak…”


Mendengar pernyataan dari Niko membuat Mawardana berkata dalam hatinya,


“Aku tahu… pasti Pak Direktur yang melakukannya, tapi bukan itu masalahnya… jika dia tidak mengikuti ujian masuk, berarti sampai saat ini, kita belum tahu dia berada diperingkat berapa sekarang, jika kemenangan saat melawan Arthur bukanlah kebetulan, mungkinkah…”


Tiba-tiba Mawardana berteriak,


“Pak Direktur… APA YANG KAU RENCANAKANNNNNNNN…!!!!”


Suara Mawardana pun menggema dan menyebar kelangit-langit.