
“ aku sudah
bilang kalau aku mau jalan-jalan..-”
“ ..-oh ya, Karin
sudah pulang?” tanya Lia yang mendapati ruang tamu sudah kosong, kakinya
melangkah menuju ke kamarnya. Begitu pula dengan ray yang mengekor
dibelakangnya.
“ lupakan itu,
kau pergi kemana saja? Kenapa tadi menghiraukan panggilanku?” tanya Ray
bertubi-tubi, Lia mengacuhkannya dan menghentikan langkahnya didepan pintu
kamarnya. Tangannya terulur memutar knop pintu dan didorongnya daun pintu itu
dengan perlahan.
“ itu bukan
urusan-mu” ucap Lia terbata, tatapannya membelala kaget mendapati sesuatu yang
asing dikamarnya. Dia mendapati Karin yang terlelap diatas ranjangnya.
“ Ray...” panggil
Lia dengan nada suara rendah, membuat Ray menfokuskan perhatiaannya pada Lia.
“ apa-apaan ini?”
tanya Lia pada Ray, Ray mundur selangkah dari posisinya kemudian mencoba
menenangkan kegugupannya.
“ i-ini, ah ini
tidak s-seperti yang kau pikirkan!!!” ucap Ray mencoba tetap tenang, Lia
mengembangkan smirknya kemudian menatap nyalang pada Ray.
“ heh, on my
mind? Lalu apa yang kamu harap dari apa yang ku lihat?” tanya Lia menahan
amarah, Ray mencoba menjelaskan kondisinya akan tetapi Lia sepertinya lebih
memilih diam.
^^ heh, siapa
kau?~ tanya suara dalam pikirannya.
^^ sepertinya
posisimu sudah tergantikan, Alya!!
Diamlah, kau
menganggu fokusku!!~maki Lia dalam hatinya
“ Lia, ini-“
“ sstts” Lia
menempelkan jari telunjuknya pada bibir Ray. Mengukir senyum palsu diatas
topengnya kemudian menurunkan jarinya.
“ sini!” ucap Lia
menarik Ray masuk ke perpustakaan, Ray yang bingung dengan tingkah Lia semakin
bingung saat Lia menutup pintu dan menguncinya dari Lua.
“ eh, Lia apa
yang yang?” tanya Ray bingung, Ray mengetuk pintu beberapa kali dan memanggil
sang adik berkali-kali.
^^ Alya, apa
yang kamu lakukan?~~ tanya suara itu
“ Lia kumohon
buka pintunya!!!”
^^ buka
pintunya sialan, buka sekarang atau aku akan membuangmu!!!~ suara itu terus
menggema dipikiran Lia.
“ Lia!!!!”
^^ sayang!!!
^^ apa yang
kau lakukan??
^^ cepat buka
pintunya, apa kau begitu cemburu padaku??
suara-suara itu terus
menguasai pendengarannya, sepertinya skizofernianya tengah berada pad
puncaknya. Membuat Lia tidak bisa membedakan mana khayalan mana realita, Lia
meremat kepalanya kemudian menghembuskan nafasnya pelan.
“ tidur saja
disana!” ucap Lia sebelum beranjak pergi dari sana, Lia melangkahkan kakinya
pergi ke ruang santai dan mencoba menghiraukan suara-suara dalam otaknya.
Lia menghempaskan
tubuhnya disofa, menyalakan TV dan menghubungkannya degan nintendo miliknya. Lia
memutuskan untuk bermain game dan menghiraukan suara-suara itu.
^^ heh, apa
kau lupa siapa dirimu??
^^ bahkan ray
sudah melupakanmu, dan ya sepertinya dia benar-benar melupakan kita~~~
“ diamlah!!” maki
Lia kesal, dia mulai memainkan gamenya dan mengacuhkan suara yang terus
menggema dalam otakknya.
^^ kkkkk, apa
game itu bisa mengalihkan fokusmu dariku?
“ ck”
^^ kau tidak
mungkin bisa melakukannya, kau seharusnya tidak berada disini!!!
^^ kau seharusnya mati saja~~~
^^ kau tidak seharusnya menyiksa diri seperti ini~~~
“ ck, kau
membuatku kalah” rutuk Lia yang tidak bisa mengendalikan fokusnya, bahkan ini
sudah ke 3 kalinya dia kalah selama 1 jam ini.
Malam terus
berjalan, tidak peduli dengan Lia yang sibuk begadang sepanjang malam sembari
memainkan gamenya. Tidak peduli jika Lia tengah menderita disana dan ingin
mengurung dirinya dalam gelapnya malam, hingga pagi menjelang.
●ꙍ●
Pagi menjelang, akan tetapi Lia tidak terusik sama sekali.
Dia masih asyik bermain dengan video gamenya, tanpa memperdulikan suara
gemerisik dari lantai atas.Juga suara anak tangga yang tengah dipijak
bergantian.
“ loh kamu sudah bangun Lia?” ucap Ray yang baru saja turun
dari lantai atas, Lia berdehem sebagai jawaban tanpa menengok ataupun menatap
Ray yang turun bersama pacarnya.
“ selamat pagi, kak Lia!!” sapa Karin yang sudah berada
disamping Ray sedari tadi, Lia menjatuhkan stick gamenya, kemudian menoleh ke
belakang dengan perlahan hingga mendapati sosok Karin dan Ray yang sudah
memakai seragam sekolah dengan rapi.
“ jam berapa ini???” tanya Lia panik, Ray mengernyit heran
mendapati kantung mata diwajah Lia.
“ ini sudah jam 6:30 Dan ya, apa kamu begadang semalaman
Lia?” tambah Ray yang sedikit khawatir dengan Lia. Lia yang mendengar hal itu langsung
bangkit dan berlari menuju ke kamarnya, mandi, mengganit pakaiannya dengan
seragam tanpa memperdulikan Ray dan Karin yang menatapnya bingung.
Setelah selesai Lia langsung menyambar tas dan memasukkan
buku dan alat tulisnya, kemudian berlari turun ke bawah. Tidak lupa meneguk
belasan pil obat yang selalu dia tinggalkan sehari-hari, teruatam pill yang
bisa mengurangi efek halusinasinya.setibanya di ruang makan,nampak Ray dan
Karin yang tengah menyantap roti panggang dengan selai nampak bingung mendapati
Lia yang tampak kebingungan sedari tadi.
“ apa kau mau sarapan Lia?” tanya Ray yang mendapati Lia
berjalan menuju ke lemari es, Lia menggeleng kemudian mengambil sekotak susu
strawberry dari sana dan menutup kembali lemari es-nya.
“ aku sudah terlambat, jangan lupa kunci pintunya!!” ucap
Lia yang langsung berlari menuju ke pintu depan, memakai sepatunya dan
berangkat.
Saat berada diluar rumah Lia mendapati salah seorang anggota
kosan depan rumahnya yang tengah berada diatas motornya, sepertinya berniat
pergi ke suatu tempat. Tapi dari arah motornya menghadap sepertinya sosok itu
akan pergi melewati sekolah Lia.
“ kak!!!” panggil Lia pada pemuda tampan dengan rambut yang
dicat merah, juga tindik magnet yang menempel ditelinganya.
“ eh, Alya?” ucap pemuda itu terkejut mendapati Lia yang
menghampirinya.
“ kak mau kemana?” tanya Lia cepat, pemuda itu masih ragu
menjawab akan tetapi melihat Lia yang nampak panic dia akhirnya memutuskan
untuk menjawab pertanyaan gadis manis itu.
“ ke kampus, ada apa?” tanya pemuda itu setelah memberikan
jawaban pada Lia.
“ lewat sekolah Alya kan?” tanya Lia lagi yang dibalas
dengan anggukan singkat oleh sosok itu.
“ boleh anterin Alya sekalian, Alya udah telat…” pinta Alya
pada sosok itu.
“ e-eh, t-tapi…” pemuda itu nampak ragu tapi Alya sudah terlanjut
naik ke atas motornya.
“ baiklah, pegangan!” ucap pemuda itu yang diangguki Alya,
pemuda itu langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, sepertinya lupa
dengan keberadaan Lia untuk sesaat.
“ KAK STOPPP!!!!!” teriak Lia agak kencang begitu motor
pemuda tadi melaju melewati sekolahnya, pemuda itu dengan cepat menarik rem
kemudian menghentikan laju motonya dengan tiba-tiba, membuat roda belakang
motornya sedikit terangkat.
“ eh, sorry gw lupa!” ucap pemuda itu menyesal, Lia terkekeh
dan turun dari motornya dengan cepat.
“ thanks ya kak!!” teriak lia sembari berlari menuju ke
sekolahnya.