X

X
a



“ aku sudah


bilang kalau aku mau jalan-jalan..-”


“ ..-oh ya, Karin


sudah pulang?” tanya Lia yang mendapati ruang tamu sudah kosong, kakinya


melangkah menuju ke kamarnya. Begitu pula dengan ray yang mengekor


dibelakangnya.


“ lupakan itu,


kau pergi kemana saja? Kenapa tadi menghiraukan panggilanku?” tanya Ray


bertubi-tubi, Lia mengacuhkannya dan menghentikan langkahnya didepan pintu


kamarnya. Tangannya terulur memutar knop pintu dan didorongnya daun pintu itu


dengan perlahan.


“ itu bukan


urusan-mu” ucap Lia terbata, tatapannya membelala kaget mendapati sesuatu yang


asing dikamarnya. Dia mendapati Karin yang terlelap diatas ranjangnya.


“ Ray...” panggil


Lia dengan nada suara rendah, membuat Ray menfokuskan perhatiaannya pada Lia.


“ apa-apaan ini?”


tanya Lia pada Ray, Ray mundur selangkah dari posisinya kemudian mencoba


menenangkan kegugupannya.


“ i-ini, ah ini


tidak s-seperti yang kau pikirkan!!!” ucap Ray mencoba tetap tenang, Lia


mengembangkan smirknya kemudian menatap nyalang pada Ray.


“ heh, on my


mind? Lalu apa yang kamu harap dari apa yang ku lihat?” tanya Lia menahan


amarah, Ray mencoba menjelaskan kondisinya akan tetapi Lia sepertinya lebih


memilih diam.


^^ heh, siapa


kau?~ tanya suara dalam pikirannya.


^^ sepertinya


posisimu sudah tergantikan, Alya!!


Diamlah, kau


menganggu fokusku!!~maki Lia dalam hatinya


“ Lia, ini-“


“ sstts” Lia


menempelkan jari telunjuknya pada bibir Ray. Mengukir senyum palsu diatas


topengnya kemudian menurunkan jarinya.


“ sini!” ucap Lia


menarik Ray masuk ke perpustakaan, Ray yang bingung dengan tingkah Lia semakin


bingung saat Lia menutup pintu dan menguncinya dari Lua.


“ eh, Lia apa


yang yang?” tanya Ray bingung, Ray mengetuk pintu beberapa kali dan memanggil


sang adik berkali-kali.


^^ Alya, apa


yang kamu lakukan?~~ tanya suara itu


“ Lia kumohon


buka pintunya!!!”


^^ buka


pintunya sialan, buka sekarang atau aku akan membuangmu!!!~ suara itu terus


menggema dipikiran Lia.


“ Lia!!!!”


^^ sayang!!!


^^ apa yang


kau lakukan??


^^ cepat buka


pintunya, apa kau begitu cemburu padaku??


suara-suara itu terus


menguasai pendengarannya, sepertinya skizofernianya tengah berada pad


puncaknya. Membuat Lia tidak bisa membedakan mana khayalan mana realita, Lia


meremat kepalanya kemudian menghembuskan nafasnya pelan.


“ tidur saja


disana!” ucap Lia sebelum beranjak pergi dari sana, Lia melangkahkan kakinya


pergi ke ruang santai dan mencoba menghiraukan suara-suara dalam otaknya.


Lia menghempaskan


tubuhnya disofa, menyalakan TV dan menghubungkannya degan nintendo miliknya. Lia


memutuskan untuk bermain game dan menghiraukan suara-suara itu.


^^ heh, apa


kau lupa siapa dirimu??


^^ bahkan ray


sudah melupakanmu, dan ya sepertinya dia benar-benar melupakan kita~~~


“ diamlah!!” maki


Lia kesal, dia mulai memainkan gamenya dan mengacuhkan suara yang terus


menggema dalam otakknya.


^^ kkkkk, apa


game itu bisa mengalihkan fokusmu dariku?


“ ck”


^^ kau tidak


mungkin bisa melakukannya, kau seharusnya tidak berada disini!!!


^^ kau seharusnya mati saja~~~


^^ kau tidak seharusnya menyiksa diri seperti ini~~~


“ ck, kau


membuatku kalah” rutuk Lia yang tidak bisa mengendalikan fokusnya, bahkan ini


sudah ke 3 kalinya dia kalah selama 1 jam ini.


Malam terus


berjalan, tidak peduli dengan Lia yang sibuk begadang sepanjang malam sembari


memainkan gamenya. Tidak peduli jika Lia tengah menderita disana dan ingin


mengurung dirinya dalam gelapnya malam, hingga pagi menjelang.


●ꙍ●


Pagi menjelang, akan tetapi Lia tidak terusik sama sekali.


Dia masih asyik bermain dengan video gamenya, tanpa memperdulikan suara


gemerisik dari lantai atas.Juga suara anak tangga yang tengah dipijak


bergantian.


“ loh kamu sudah bangun Lia?” ucap Ray yang baru saja turun


dari lantai atas, Lia berdehem sebagai jawaban tanpa menengok ataupun menatap


Ray yang turun bersama pacarnya.


“ selamat pagi, kak Lia!!” sapa Karin yang sudah berada


disamping Ray sedari tadi, Lia menjatuhkan stick gamenya, kemudian menoleh ke


belakang dengan perlahan hingga mendapati sosok Karin dan Ray yang sudah


memakai seragam sekolah dengan rapi.


“ jam berapa ini???” tanya Lia panik, Ray mengernyit heran


mendapati kantung mata diwajah Lia.


“ ini sudah jam 6:30 Dan ya, apa kamu begadang semalaman


Lia?” tambah Ray yang sedikit khawatir dengan Lia. Lia yang mendengar hal itu langsung


bangkit dan berlari menuju ke kamarnya, mandi, mengganit pakaiannya dengan


seragam tanpa memperdulikan Ray dan Karin yang menatapnya bingung.


Setelah selesai Lia langsung menyambar tas dan memasukkan


buku dan alat tulisnya, kemudian berlari turun ke bawah. Tidak lupa meneguk


belasan pil obat yang selalu dia tinggalkan sehari-hari, teruatam pill yang


bisa mengurangi efek halusinasinya.setibanya di ruang makan,nampak Ray dan


Karin yang tengah menyantap roti panggang dengan selai nampak bingung mendapati


Lia yang tampak kebingungan sedari tadi.


“ apa kau mau sarapan Lia?” tanya Ray yang mendapati Lia


berjalan menuju ke lemari es, Lia menggeleng kemudian mengambil sekotak susu


strawberry dari sana dan menutup kembali lemari es-nya.


“ aku sudah terlambat, jangan lupa kunci pintunya!!” ucap


Lia yang langsung berlari menuju ke pintu depan, memakai sepatunya dan


berangkat.


Saat berada diluar rumah Lia mendapati salah seorang anggota


kosan depan rumahnya yang tengah berada diatas motornya, sepertinya berniat


pergi ke suatu tempat. Tapi dari arah motornya menghadap sepertinya sosok itu


akan pergi melewati sekolah Lia.


“ kak!!!” panggil Lia pada pemuda tampan dengan rambut yang


dicat merah, juga tindik magnet yang menempel ditelinganya.


“ eh, Alya?” ucap pemuda itu terkejut mendapati Lia yang


menghampirinya.


“ kak mau kemana?” tanya Lia cepat, pemuda itu masih ragu


menjawab akan tetapi melihat Lia yang nampak panic dia akhirnya memutuskan


untuk menjawab pertanyaan gadis manis itu.


“ ke kampus, ada apa?” tanya pemuda itu setelah memberikan


jawaban pada Lia.


“ lewat sekolah Alya kan?” tanya Lia lagi yang dibalas


dengan anggukan singkat oleh sosok itu.


“ boleh anterin Alya sekalian, Alya udah telat…” pinta Alya


pada sosok itu.


“ e-eh, t-tapi…” pemuda itu nampak ragu tapi Alya sudah terlanjut


naik ke atas motornya.


“ baiklah, pegangan!” ucap pemuda itu yang diangguki Alya,


pemuda itu langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, sepertinya lupa


dengan keberadaan Lia untuk sesaat.


“ KAK STOPPP!!!!!” teriak Lia agak kencang begitu motor


pemuda tadi melaju melewati sekolahnya, pemuda itu dengan cepat menarik rem


kemudian menghentikan laju motonya dengan tiba-tiba, membuat roda belakang


motornya sedikit terangkat.


“ eh, sorry gw lupa!” ucap pemuda itu menyesal, Lia terkekeh


dan turun dari motornya dengan cepat.


“ thanks ya kak!!” teriak lia sembari berlari menuju ke


sekolahnya.