X

X
a



“ ungh..” Lia banging sembari menggosok mata kanannya, dia


mendudukkan tubuhnya dan mendapati Hans yang masih memeluk kucing hitam


miliknya dengan gemas.


“ wah, bahkan bau mu sangat harum…” ucap Hans mencium bau


kucing kecil itu, Lia yang baru bangun dan mendapati pemandangan Hans yang


sangat konyol membuatnya wajahnya sweat drop.


“ Hans?” panggil Lia pelan, Hans menoleh dan mendapati Lia


yang baru saja bangun dari tidurnya dengan penampilan yang masih berantakan.


“ oh, kau sudah bangun..” ucap Hans sambil melempar senyum


lebar pada Lia, sedangkan kucing hitam itu masih sibuk mencakar wajah Hans.


“ heh, kucing bodoh kemari..” ucap Lia sedikit marah saat


mendapati wajah Hans yang penuh dengan bekas cakaran. Kucing itu langsung


melompat dan mendarat tepat dipangkuan Lia.


“ woahh, bagaimana bisaa!!!??” Tanya Hans tidak percaya


kucing itu begitu patuh pada


Lia, Lia mengendikan bahunya


tidak tau.


“ ngomong-ngomong Lia kamu memungutnya dimana?” Tanya Hans


yang ikut mendudukkan tubuhnya disofa.


“ di taman dekat mini market” ucap Lia santai. Hans


membulatkan bibirnya membentuk huruf  ‘o’


tanda mengerti.


“ dimana barang yang ku pesan?” Tanya Lia yang membuat Hansmengalihkan


atensinya sejenak.


“ ada di ruang tamu, oh ya nama kucing ini siapa?” Tanya


Hans setelah memberikan jawaban pada Lia, Lia memindahkan kucing itu kepangkuan


Hans kemudian bangkit dari duduknya.


“ aku belum memberikannya nama, tapi ku pikir dipanggil


kucing hitam saja sudah cukup!” Ucap Lia yang berjalan menuju ke ruang tamu,


Hans merenggut kesal.


“ hehh, bagaimana bisa begitu!!???” ucap Hans tidak terima,


Lia kembali dari ruang tamu dan membawa sebungkus makanan kucing dan mangkuk


makanannya.


“ ya sudah tinggal kasih nama saja, apa susahnya sih” ucap


Lia sembari membuka bungkusan makanan itu dan menuangkannya ke dalam mangkuk,


setelah selesai Lia mengguncang tempat makan itu dengan pelan sehingga


menibulkan suara gesekan.


“ hm, bagaimana dengan Kuro?” Tanya Hans pada Lia, sedangkan


kucing itu memilih untuk melompat dan menyantap makan siang yang sudah


disiapkan oleh Lia. Lia menoleh sejenak memasang pose berfikir kemudian menoleh


pada kucing hitam yang masih asik dengan makanannya.


“ bagaimana menurutmu, Kuro?” Tanya Lia pada kucing itu,


kucing itu berhenti sejenak kemudian menatap malas pada Lia dan Hans yang


menunggu jawabannya darinya.


“ miww..” kucing itu mengeong pelan kemudian melanjutkan


acara makannya yang sempat tertunda, Lia menoleh ke arah Hans dan menatapnya


bosan.


“ kamu lihat dia suka?” Tanya Lia yang membuat Hans memancarkan binar


dimatanya.


“ hm, kalau begitu ayo siapkan rumah baru untuknya!” ucap


Hans yang langsung diangguki oleh Lia.


Keduanya mulai menata dan menyiapkan rumah baru yang nyaman


untuk Kuro, mereka membuatnya dikamar milik Lia, tepat berada di sebelah ranjang


milik Lia. Memakan waktu 1 setengah jam bagi keduanya untuk menyelesaikan


pekerjaan mereka, dan kini keduanya sudah terbaring lelah dilantai.


“ hahh, akhirnya selesai juga…” ucap Hans lelah, Lia melirik


Hans dari ekor matanya kemudian kembali menatap langit-langit diatas kamarnya.


“ hm, thanks Hans” ucap Lia pelan, Hans menoleh dan menatap


Lia lamat. Lia melirik hans sejenak kemudian kembali mengacuhkannya. Sedangkan


Hans masih sibuk mengamati Lia lekat.


“ Hans?”


“ apa?” Tanya Hans pada Lia yang masih menatap langit-langit


kamarnya.


lakukan?” Hans bangkit dan langsung mendudukkan tubuhnya, membolakan matanya


dan menatap Lia dengan binar mata takjub.


“ ka-/ untuk apa aku hidup?” Tanya Lia yang memotong ucapan


Hans, Hans terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan gadis itu.


“ untuk siapa aku hidup?”


“ dan, apa alasanku tetap hidup?” Tanya Lia bertubi-tubi,


Hans masih diam tidak berniat menjawab ataupun membalas ucapan Lia. Tubuhnya


serasa membeku, tidak ada satupun dari tubuhnya yang ingin mendengarkan


perintahnya.


Lia ikut bangkit dan mendudukkan tubuhnya, menatap Hans yang


masih terdiam kemudian mengukir senyumnya lembut. Lia mengulurkan tangannya dan


menangkup wajah Hans, Lia mengangkat wajah Hans dan membuat Hans menatap manik


mata Lia.


“ terimakasih Hans!” ucap Lia lembut, Hans membolakan


matanya terkejut kemudian sebuah senyum ikut terukir diwajah tampannya. ­


“ aku tau itu sulit, tapi aku akan berusaha membantumu


menemukan jawaabannya Lia!” ucap Hans yang membuat Lia merekahkan senyumnya


lebar.


●ꙍ●


Seminggu berlalu, selama itu juga Lia memilih izin dan


mengistirahatkan tubuhnya yang sakit.Hari ini Lia memutuskan untuk pergi ke


sekolah, selain karena sudah izin selama seminggu, dia juga di terror terus


menerus oleh Ray yang sadar kalau adiknya membolos tanpa alasan, selain itu Leo


yang merengek dan memaksa Lia untuk masuk dan menemaninya bermain membuatnya


terpaksa membanting HP kesayangannya dan membuat benda tidak bersalah itu remuk


dan tak berbentuk.


“ Lia apa kamu benar-benar sudah baikan?” Tanya Hans yang masih


khawatir dengan kondisi Lia,


yamau bagaimana lagi selama semingu ini Lia terus menerus mimisan, bahkan


terkadang muntah darah, selain itu selama3 hari terakhir dia sering pingsan dan


tampak lebih pucat dan kurus, membuat Hans benar-benar khawatir bukan main.


“ aku baik Hans, aku akan menghubungimu jika terjadi


sesuatu. Selain itu ada Leo disana, dan aku bisa menjaga diriku sendiri Hans!!”


ucap Lia kesal, sudah bosan dengan rengekan Hans yang penuh kekhawatiran.


“ hahh, baiklah. Aku menyerah!!” ucap Hans yang menghentikan


laju mobilnya tepat didepan pintu gerbang sekolah milik Lia. Lia mengembangkan


senyumnya sedangkan Hans masih merengut kesal, dia tidak bisa mempercayai Lia


jika sudah membahas penyakit yang menyerang tubuhnya.


“ baiklah kalau begitu aku berangkat, kak Hans!” ucap Lia


mengecup pipi kanan Hans kemudian beranjak turun dan melangkahkan kakinya


menuju kelas.


Kedatangannya menjadi sesuatu yang mengejutkan bagi siswa


dan siswi disekolahnya, mereka memang tau kalau Lia kaya. Ya, secara dia


seorang pesulap internasional yang sudah sering melakukan show besar diberbagai


belahan dunia, selain itu ayahnya yang merupakan pengusaha ekspor impor yang


berada di posisi top dunia membuat Lia mempunyai kekayaan yang bisa dibilangan


sangat banyak.


Akan tetapi mendapati Lia diantar dengan kendaraan mewah ke


sekolah adalah hal yang jarang ditemui kecuali jika Lia baru saja kembali dari


shownya dan memiliki urusan mendadak disekolah, dan hari ini Lia datang dengan


sebuah Buggati La Voiture Noir yang terbilang limited dan sangat mahal membuat


siapapun yang melihatnya ternganga.


Lia dengan santai melangkah masuk ke sekolah, sepanjang


jalan para siswa dan siswi memberikan sapaan ringan padanya, sedangkan Lia


hanya membalas dengan senyum ramah dari topeng miliknya atau mengangkat tangan


sebagai jawaban.


Lia tiba didepan kelas, pandangannya terfokus pada kursi


barisan belakang dekat jendela. Lia melangkahkan kakinya masuk dengan tenang


tanpa memperdulikan teriakan fans yang menggelegar dibelakangnya.


“ pagi, semuanya..” ucap Lia sopan, murid-murid dikelasnya membalas


dengan anggukan, sapaan, dan senyuman kecil pada Lia. Lia segera meletakkan


tas-nya disamping meja kemudian mendudukkan tubuhnya dikursi.