
“ oi, apa kamu baik-baik saja?” Tanya orang itu, Lia
mengenal suara itu. Itu Kai, dia yang datang. Lia sebenarnya tidak ingin Kai
tau, tapi jika dia bersikeras maka dirinya akan tewas ditepi jalan. Dan itu sungguh tidak lucu
jika esok hari dikabarkan bahwa seorang pesulap internasional tewas di tepi
jalan karena lari 10 putaran.
“ K..Kai…” panggil Lia lemah, Kai yang merasa namanya
dipanggil segera menjongokkan tubuhnya, menyamakan tingginya dengan Lia dan
menyibak rambut yang menutupi wajah
cantik itu. Dan saat itu juga Kai terbelalak kaget bukan main.
“ L-Lia!!!??” panggil kai terkejut bukan main, Lia menatap
Kai dengan pandangan sayu. Kai sangat panik sekarang, Kai
menyandarkan tubuh Lia ke dadanya, merogoh saku celananya dan mengambil ponsel
miliknya berniat menghubungi ambulans.
“ Ha-ns...” ucap
lia lirih dan agak terbata, Kai menoleh kemudian menatap bingung pada Lia.
“ apa ada yang
sakit, Lia?” tanya Kai panik, Lia mencoba meraih lengan Kai yang memegang
ponsel.
“ ada apa? Apa kamu ingin aku menelfon seseorang?” Tanya Kai
yang masih sangat panik, akan tetapi mencoba tenang dan memahami
maksud gerakan Lia. Lia mengangguk pelan, sedangkan Kai membuka aplikasi
ponselnya.
“ +1
XX..XXXX..XXX..X” ucap Lia menyebutkan beberapa digit nomor dengan sisa
kesadarannya, Kaisegera mengetik nomor itu kemudian mendialnya.
Beberapa detik
berlalu, Hans terus saja menolak panggilan dari Kai, sedangkan Kai terus
menghubungi nomor itu lagi dan lagi, sembari menunggu Hans menjawab
panggilannya dengan perasaan cemas yang teramat. Sedangkan Hans disisi lain
sedang berada di lapangan olahraga sekolahnya masih sibuk mengumpati nomor
tidak dikenal yang terus menghubunginya.
●ꙍ●
“ cih, siapa
sih?” gumamnya kesal, Hans lagi-lagi mematikan panggilan itu secara sepihak.
“ what’s wrong
bro?” tanya salah seorang teman Hans yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik
Hans yang nampak kesal sendiri dengan ponselnya.
“ hahh, dari tadi
gw kena telfon unknow number!” ucapnya kesal, sedangkan teman-temannya malah
terkekeh geli dengan jawaban dari Hans.
“ jawab aja lah,
siapa tau ada cewek cantik yang nelfon lu!!” ucap salah satu teman Hans dengan
tindik magnet yang ada telinganya.
“ huh...” Hans
yang kesal dibuat tambah kesal dengan jawaban dari temannya, dia melempar
ponselnya dengan santai dan ditangkap degan mudah oleh salah seorang laki-laki
berambut pirang.
“ ouu, santai
Hans!!” ucap laki-laki pirang itu, Hans berdecih lagi.
“ kalau gitu
jawab aja, james” ucap Hans
dengan nada mengejek, laki-laki yang dipanggil peter itu menghela nafas
kemudian menggeser dial yang ada diponsel milik Hans dan mendekatkan benda
pipih itu ketelinga.
/ hei-/
/ APA INI
HANS!??/ potong Kai sebelum peter menyelesaikan kata-katanya. jamesyang dihadiahi sebuah teriakan penuh kepanikan hanya bisa meringis nyilu,
sepertinya gendang telinganya akan pecah.
Jamesmenjauhkan
benda itu dari telinganya, setelahnya menyalakan mode loud speakerdan
mengambil nafas.
/ ah, Hans sedang
kesal jadi dia memberikan ponselnya padaku. Aku temannya, apa ada masalah?/
tanya jamesmenahan amarah
untuk tidak meneriaki orang yang hampir mebuat gendang telinganya berdarah.
/ BISAKAH KAMU
MEMBERIKAN PONSELNYA PADA HANS, LIA INGIN BICARA PADANYA!!/ ucap Kai yang masih
panik bukan main, mau bagaimana lagi, saat ini kesadaran Lia sudah hampir
berada diambang batas dan Lia masih bersikeras menolak dibawa ke rumah sakit.
Hans segera
menoleh begitu mendengar nama Lia, baginya hanya ada satu orang dengan nama Lia
yang membuatnya khawatir bukan main. Selain itu mendengar nada bicara orang
Hans mengambil
ponsel itu dengan cepat, mematikan mode loud speakernya dan meletakkan benda
itu ketelinga, setelahnya menjauh beberapa langkah dari teman-temannya.
/ apa yang
terjadi pada Lia?/ tanya Hans dingin, teman-temannya yang sedari tadi terkekeh
dan mengobrol kini diam. Takut dengan aura suram yang keluar dari tubuh Hans. Bagaimanapun
aura membunuh dari boss mafia memang tidak bisa diremehkan.
/
Ha...ns..sa-kit../ ucap Lia terbata, suaranya lirih dan terdengar lemah membuat
Hans membolakan matanya terkejut.
/ LIA DIMANA KAMU
SEKARANG!!??/ teriak Hans panik bukan main, teman-temannya menjadi lebih takut
lagi sekarang. Dan ya, sekarang mereka tau siapa Lia yang dimaksud oleh
penelfon itu. Lia,adik
kesayangan Hans.
/ sekarang kami
berada 10 meter ke arah batar dari sekolah Lia, hampir mendekati wilayah-/
/ aku mengerti,
jangan matikan ponselnya dan jaga kesadaran Lia!!” ucap hans dingin tapi penuh
ketenangan, Hans bangkit dari duduknya mengambil Handsfreeyang ada
disakunya kemudian memasangnya di telinga.
“ bro urus izin
gw, adik gw sakit!!” ucap Hans yang langsung mengambil aba-aba untuk berlari
sprint menuju ke parkiran.
“ eh, tapi kan hari
ini ada jam-”
“ gw serahin
absensi gw ke kalian!!!” ucap Hans yang langsung berlari menuju tempat parkir,
setibanya disana dia langsung menyalakan mobilnya dan melajukannya dengan
kecepatan tinggi.
Hans mengemudi
dengan liar, menghiraukan semua rambu lalu lintas yang ada, bersyukur karena
sekarang masih jam kantor jadi jalanan cukup sepi sehingga tidak ada kerugian
yang membuatnya membuang waktu.
Selama perjalanan
hans masih menanyakan kondisi Lia, dan ya setiap mendengar suara lirih Lia dia
menaikkan kecepatannya, 10 menit berlalu dan Hans sudah sampai disana.
CKIITTTT!!!!!!!!!!!!!!!!!
Suara rem mobil
yang diinjak kencang membuat Kai terlonjak kaget, sedangkan pemilik mobil itu
segera keluar dan berlari menghampiri Kai dan Lia. Ya, pemilik mobil mewah itu
adalah Hans. Dia keluar dari sana masih dengan seragam olahraga dan wajah panik
bukan main.
“ Lia!!!”
pekiknya begitu mendapati Lia yang berusaha menjaga kesadarannya, akan tetapi
fokus Hans lebih teralihkan dengan keberadaan noda darah di seragam Lia.
“ lu yang nelfon
gw?” tanya Hans panik, dia menatap Kai tajam dan hanya dibalas anggukan oleh
Kai.
“ bantuin gw, lu
ikut gw dan jaga Lia. Jangan sampai dia pingsan!” ucap Hans dingin, tidak
memperdulikan kalau orang yang dia ajak bicara jauh lebih tua darinya. Kai
mengangguk pelan, kemudian bangkit dan menggendong Lia ala bridal.
Hans membuka
pintu mobilnya membiarkan Kai membawa Lia masuk ke sana, setelahnya dia masuk
dan melajukan mobilnya menuju ke appartemen.
.
.
.
“ bawa dia turun,
“ ucap Hans membukakan pintu untuk Kai, Kai segera menggendong Lia dan
membawanya keluar dari mbil.
Hans mengambil
jaket di dashboardnya, kemudian menutupi seragam Lia yang penuh degan noda
darah. Setelahnya keduanya berlari masuk menuju ke appartemen milik Lia.
“ cepat bawa dia
masuk!!!” ucap Hans setelah memasukkan beberapa digit kode, Kai masuk
mendahului Hans dan berjalan masuk hingga ke ruang tamu.
“ biar aku saja.”
Ucap Hans mengambil Lia dari gendongan Kai, Hans berjalan menuju ke kamar Lia
sedangkan Kai memilih untuk duduk di ruang tamu.