X

X
a



“ oi, apa kamu baik-baik saja?” Tanya orang itu, Lia


mengenal suara itu. Itu Kai, dia yang datang. Lia sebenarnya tidak ingin Kai


tau, tapi jika dia bersikeras maka dirinya akan tewas ditepi jalan. Dan itu sungguh tidak lucu


jika esok hari dikabarkan bahwa seorang pesulap internasional tewas di tepi


jalan karena lari 10 putaran.


“ K..Kai…” panggil Lia lemah, Kai yang merasa namanya


dipanggil segera menjongokkan tubuhnya, menyamakan tingginya dengan Lia dan


menyibak rambut  yang menutupi wajah


cantik itu. Dan saat itu juga Kai terbelalak kaget bukan main.


“ L-Lia!!!??” panggil kai terkejut bukan main, Lia menatap


Kai dengan pandangan sayu. Kai sangat panik sekarang, Kai


menyandarkan tubuh Lia ke dadanya, merogoh saku celananya dan mengambil ponsel


miliknya berniat menghubungi ambulans.


“ Ha-ns...” ucap


lia lirih dan agak terbata, Kai menoleh kemudian menatap bingung pada Lia.


“ apa ada yang


sakit, Lia?” tanya Kai panik, Lia mencoba meraih lengan Kai yang memegang


ponsel.


“ ada apa? Apa kamu ingin aku menelfon seseorang?” Tanya Kai


yang masih sangat panik, akan tetapi mencoba tenang dan memahami


maksud gerakan Lia. Lia mengangguk pelan, sedangkan Kai membuka aplikasi


ponselnya.


“ +1


XX..XXXX..XXX..X” ucap Lia menyebutkan beberapa digit nomor dengan sisa


kesadarannya, Kaisegera mengetik nomor itu kemudian mendialnya.


Beberapa detik


berlalu, Hans terus saja menolak panggilan dari Kai, sedangkan Kai terus


menghubungi nomor itu lagi dan lagi, sembari menunggu Hans menjawab


panggilannya dengan perasaan cemas yang teramat. Sedangkan Hans disisi lain


sedang berada di lapangan olahraga sekolahnya masih sibuk mengumpati nomor


tidak dikenal yang terus menghubunginya.


●ꙍ●


“ cih, siapa


sih?” gumamnya kesal, Hans lagi-lagi mematikan panggilan itu secara sepihak.


“ what’s wrong


bro?” tanya salah seorang teman Hans yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik


Hans yang nampak kesal sendiri dengan ponselnya.


“ hahh, dari tadi


gw kena telfon unknow number!” ucapnya kesal, sedangkan teman-temannya malah


terkekeh geli dengan jawaban dari Hans.


“ jawab aja lah,


siapa tau ada cewek cantik yang nelfon lu!!” ucap salah satu teman Hans dengan


tindik magnet yang ada telinganya.


“ huh...” Hans


yang kesal dibuat tambah kesal dengan jawaban dari temannya, dia melempar


ponselnya dengan santai dan ditangkap degan mudah oleh salah seorang laki-laki


berambut pirang.


“ ouu, santai


Hans!!” ucap laki-laki pirang itu, Hans berdecih lagi.


“ kalau gitu


jawab aja, james” ucap Hans


dengan nada mengejek, laki-laki yang dipanggil peter itu menghela nafas


kemudian menggeser dial yang ada diponsel milik Hans dan mendekatkan benda


pipih itu ketelinga.


/ hei-/


/ APA INI


HANS!??/ potong Kai sebelum peter menyelesaikan kata-katanya.  jamesyang dihadiahi sebuah teriakan penuh kepanikan hanya bisa meringis nyilu,


sepertinya gendang telinganya akan pecah.


Jamesmenjauhkan


benda itu dari telinganya, setelahnya menyalakan mode loud speakerdan


mengambil nafas.


/ ah, Hans sedang


kesal jadi dia memberikan ponselnya padaku. Aku temannya, apa ada masalah?/


tanya jamesmenahan amarah


untuk tidak meneriaki orang yang hampir mebuat gendang telinganya berdarah.


/ BISAKAH KAMU


MEMBERIKAN PONSELNYA PADA HANS, LIA INGIN BICARA PADANYA!!/ ucap Kai yang masih


panik bukan main, mau bagaimana lagi, saat ini kesadaran Lia sudah hampir


berada diambang batas dan Lia masih bersikeras menolak dibawa ke rumah sakit.


Hans segera


menoleh begitu mendengar nama Lia, baginya hanya ada satu orang dengan nama Lia


yang membuatnya khawatir bukan main. Selain itu mendengar nada bicara orang


Hans mengambil


ponsel itu dengan cepat, mematikan mode loud speakernya dan meletakkan benda


itu ketelinga, setelahnya menjauh beberapa langkah dari teman-temannya.


/ apa yang


terjadi pada Lia?/ tanya Hans dingin, teman-temannya yang sedari tadi terkekeh


dan mengobrol kini diam. Takut dengan aura suram yang keluar dari tubuh Hans. Bagaimanapun


aura membunuh dari boss mafia memang tidak bisa diremehkan.


/


Ha...ns..sa-kit../ ucap Lia terbata, suaranya lirih dan terdengar lemah membuat


Hans membolakan matanya terkejut.


/ LIA DIMANA KAMU


SEKARANG!!??/ teriak Hans panik bukan main, teman-temannya menjadi lebih takut


lagi sekarang. Dan ya, sekarang mereka tau siapa Lia yang dimaksud oleh


penelfon itu. Lia,adik


kesayangan Hans.


/ sekarang kami


berada 10 meter ke arah batar dari sekolah Lia, hampir mendekati wilayah-/


/ aku mengerti,


jangan matikan ponselnya dan jaga kesadaran Lia!!” ucap hans dingin tapi penuh


ketenangan, Hans bangkit dari duduknya mengambil Handsfreeyang ada


disakunya kemudian memasangnya di telinga.


“ bro urus izin


gw, adik gw sakit!!” ucap Hans yang langsung mengambil aba-aba untuk berlari


sprint menuju ke parkiran.


“ eh, tapi kan hari


ini ada jam-”


“ gw serahin


absensi gw ke kalian!!!” ucap Hans yang langsung berlari menuju tempat parkir,


setibanya disana dia langsung menyalakan mobilnya dan melajukannya dengan


kecepatan tinggi.


Hans mengemudi


dengan liar, menghiraukan semua rambu lalu lintas yang ada, bersyukur karena


sekarang masih jam kantor jadi jalanan cukup sepi sehingga tidak ada kerugian


yang membuatnya membuang waktu.


Selama perjalanan


hans masih menanyakan kondisi Lia, dan ya setiap mendengar suara lirih Lia dia


menaikkan kecepatannya, 10 menit berlalu dan Hans sudah sampai disana.


CKIITTTT!!!!!!!!!!!!!!!!!


Suara rem mobil


yang diinjak kencang membuat Kai terlonjak kaget, sedangkan pemilik mobil itu


segera keluar dan berlari menghampiri Kai dan Lia. Ya, pemilik mobil mewah itu


adalah Hans. Dia keluar dari sana masih dengan seragam olahraga dan wajah panik


bukan main.


“ Lia!!!”


pekiknya begitu mendapati Lia yang berusaha menjaga kesadarannya, akan tetapi


fokus Hans lebih teralihkan dengan keberadaan noda darah di seragam Lia.


“ lu yang nelfon


gw?” tanya Hans panik, dia menatap Kai tajam dan hanya dibalas anggukan oleh


Kai.


“ bantuin gw, lu


ikut gw dan jaga Lia. Jangan sampai dia pingsan!” ucap Hans dingin, tidak


memperdulikan kalau orang yang dia ajak bicara jauh lebih tua darinya. Kai


mengangguk pelan, kemudian bangkit dan menggendong Lia ala bridal.


Hans membuka


pintu mobilnya membiarkan Kai membawa Lia masuk ke sana, setelahnya dia masuk


dan melajukan mobilnya menuju ke appartemen.


.


.


.


“ bawa dia turun,


“ ucap Hans membukakan pintu untuk Kai, Kai segera menggendong Lia dan


membawanya keluar dari mbil.


Hans mengambil


jaket di dashboardnya, kemudian menutupi seragam Lia yang penuh degan noda


darah. Setelahnya keduanya berlari masuk menuju ke appartemen milik Lia.


“ cepat bawa dia


masuk!!!” ucap Hans setelah memasukkan beberapa digit kode, Kai masuk


mendahului Hans dan berjalan masuk hingga ke ruang tamu.


“ biar aku saja.”


Ucap Hans mengambil Lia dari gendongan Kai, Hans berjalan menuju ke kamar Lia


sedangkan Kai memilih untuk duduk di ruang tamu.