X

X
Episode 1 : Pembukaan Pertama



Laki-laki itu perlahan berjalan menghampiri tempat duduk Niko, dilihat dari mana pun wajah laki-laki itu sangat serius, matanya seperti iblis yang membuat seluruh tubuhnya merinding.


Setelah sampai dihadapan Niko, dengan tatapan yang sangat tajam laki-laki itu berkata,


“Jadi kau yang mengalahkan Arthur?”


“I-Iya… mungkin…,” jawab Niko dengan ketakutan.


Laki-laki itu melihat Niko lebih teliti lagi, dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“A-Ada apa ya…,” kata Niko yang masih ketakutan.


“BRUAKKKKKKK!!!!” Suara


hentakan meja.


Tiba-tiba saja laki-laki itu menghentakkan tangannya di meja Niko, sangat keras hingga terdengar seisi kelas.


“HUAAAHHH…!!!” teriak Niko sambil mengangkat kedua tangannya karena kaget.


“Sekolah ini memiliki hukum rimba, yang terkuat dialah


pemenangnya, tak peduli walaupun itu keberuntungan, yang menang menjadi seorang pemenang dan yang kalah menjadi seorang pecundang, apa kau masih meragukan hal itu HAH,” kata laki-laki itu sambil menatap Niko dengan tatapan menakutkan.


“Ba-Baik, a-aku mengerti,” kata Niko yang ketakutan karena mata mereka saling bertatap-tatapan.


Mendengar jawaban dari Niko, laki-laki itu pun berhenti menatapnya dan berkata,


“Aku tunggu kau di pertarungan yang sesungguhnya.”


Setelah mengatakannya, laki-laki itu pergi dari hadapan Niko dan pergi meninggalkan kelasnya Niko.


Melihat perginya orang itu, justru membuat Niko lebih ketakutan lagi, jantungnya berdegup kencang, keringatnya bercucuran dengan deras, sepertinya dia tak menyangka bahwa hal ini akan terjadi pada dirinya.


Dengan perasaan yang was-was, Niko mengutuk dirinya sendiri dan berteriak,


“Apa yang sudah kulakukan, apa yang sudah kulakukan, APA YANG SUDAH KULAKUKAN AAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaa…!!!”


Namaku Niko Alexander, ini adalah kesalahan terbesarku karena sudah menjadi siswa di sekolah ini, dan sekarang aku sudah berada di jalan yang seharusnya tidak aku lalui, tentu saja ini bukanlah yang kuinginkan, mengapa


aku bisa sampai disini, semuanya kembali ke hari itu…


******


Di Negara ini terdapat sebuah SMA yang sangat besar hingga terkenal


ke seluruh penjuru dunia, sebuah sekolah terbaik yang pernah ada disepanjang


sejarah negeri ini dan ditopang dengan fasilitas tercanggih yang pernah ada, semua


lulusannya diterima diberbagai perguruan tinggi terbaik dunia, dan hampir semua


alumni nya menjadi orang paling berpengaruh di bumi ini, nama SMA itu adalah


SMA MAJAPAHIT.


Ini adalah hari pertama Niko masuk SMA Majapahit, terlihat Niko sedang berjalan menuju ke sekolahnya, nampaknya dia masih mengantuk, buktinya dia selalu menguap di sepanjang perjalanannya.


“Hoammm… aduh ngantuk banget, harusnya tadi malem aku gak begadang,” kata Niko.


Disaat Niko sedang berjalan seperti biasa, entah mengapa orang-orang disekitarnya seperti memperhatikan Niko, mereka seperti terkagum-kagum melihat penampilan Niko.


“Hei lihat cowok itu,” kagum salah satu siswi dari SMA lain.


“SMA terbaik memang beda ya,” kagum siswi satunya.


Melihat banyak orang yang memperhatikannya membuat Niko


bingung, namun setelah melihat seragam yang dipakainya, Niko pun perlahan-lahan


mulai mengerti.


Di Negara ini tak ada seorang pun yang tak mengenal SMA Majapahit, seragam mereka yang berbentuk blazer berwarna biru, dan lencana emas bercorak khas majapahit yang melekat di saku mereka, membuat siapa pun


terkesima ketika melihatnya.


“Oi… dia siswa dari SMA Majapahit,” kata siswa SMA lain.


“Ahh… aku mau masuk situ tapi gak diterima… Siall,” kata siswa


satunya.


“SMA itu memang sangat ketat.”


“Dia pasti bukan orang sembarangan.”


Mendengar orang-orang membicarakannya, membuat wajah Niko berbunga-bunga, dengan penuh percaya diri akhirnya Niko berkata,


“He he he… namaku Niko Alexander, dan mulai hari ini, aku


adalah siswa di SMA Majapahit HA HA HA.”


Wajah Niko dikelilingi oleh percikan cahaya yang tiada henti, namun tak berapa lama kemudian Niko mendengar beberapa bunyi bisikan seseorang.


“Blazernya bagus banget, tapi sayang orangnya gak bagus,” bisik


salah satu siswi.


“JLEEBBBBB…!!!” Bisikan itu membuat dada Niko seperti tertusuk sesuatu.


“Apa dia beneran dari SMA itu, wajah nya gak meyakinkan,” bisik siswi satunya.


“JLEEEBBBBBBB…!!!” Dada Niko tertusuk oleh sesuatu untuk kedua kalinya.


“Jangan-jangan dia cuma pura-pura jadi siwa SMA itu biar terkenal dan…”


Karena sudah tak tahan lagi dengan bisikan-bisikan itu, akhirnya dengan cepat Niko langsung menghampiri mereka dan berkata,


“Maaf, apa kalian punya masalah dengan saya?”


Karena kaget melihat Niko yang sudah didepan mereka, akhirnya siswi-siswi


itu langsung lari sambil berteriak,


“MAAFKAN KAMI…!!!”


Setelah siswi-siswi itu berlari meninggalkannya, dengan wajah


suram Niko pun berkata,


“Kalian tidak perlu meminta maaf, semua yang kalian katakan memang benar adanya.”


“JLEBBBB…!!! JLEBBBB…!!! JLEEEBBBBB…!!!” tanpa sadar sudah tiga kali dadanya tertusuk oleh sesuatu.


Beberapa menit kemudian, Niko sudah sampai di gerbang masuk SMA Majapahit, SMA itu sangat besar dan luas, Niko sampai terpana melihat megahnya SMA Majapahit itu.


“Mantab…!!!, jadi ini SMA terbaik di Negeri ini,” kata Niko yang penuh takjub dengan sekolah itu.


Tak berapa lama kemudian, siswa dan siswi baru SMA Majapahit juga sudah mulai berdatangan, namun ada sesuatu yang membuat kedatangan mereka begitu istimewa, itu karena mereka semua menggunakan mobil mewah berwarna hitam


dengan sopir pribadi, dan keluar dari mobil layaknya seorang pangeran dan putri


kerajaan.


“HEEEH…!!!,” kejut Niko yang melihat banyaknya siswa keluar dari mobil pribadi mereka masing-masing.


Setelah Niko memperhatikan sekelilingnya lebih teliti lagi, ternyata hanya Niko sajalah yang berangkat ke SMA Majapahit dengan berjalan kaki.


kesal.


Di tengah-tengah kekesalan Niko, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.


“Hey…hey kamu yang disana,” kata seseorang yang memanggil Niko.


Niko memalingkan pandangannya ke sumber suara itu, dan melihat salah satu siswa dengan seragam yang sangat bersih dan mengkilat, sepatu dan jam tangan yang dia pakai terlihat sangat mahal, dibelakangnya juga terdapat dua pengawal yang terus bersamanya.


“Eh… aku?” kata Niko yang bingung.


“Ya kamu,” siswa itu menegaskan kalo yang dia maksud memang Niko.


“Hehe… ada apa ya?” tanya Niko.


“Ayo kita masuk ke sekolah bersama-sama,” kata siswa itu dengan senyumannya.


“Oh… baiklah,” kata Niko yang senang.


“Oh ya… namaku Kevin Spielberg, senang bertemu denganmu,” kata siswa itu yang memperkenalkan dirinya dengan ramah.


“Namaku Niko… Niko Alexander, senang bertemu denganmu juga hehehe,” kata Niko yang juga memperkenalkan dirinya.


Melihat siswa dari keluarga kaya mengajaknya berkenalan, membuat Niko sangat senang, dalam hatinya dia pun berkata,


“Walaupun dia dari keluarga kaya, ternyata dia sangat ramah dan mau berkenalan dengan orang sepertiku, sepertinya aku sudah salah menilai mereka.”


Kevin dan Niko akhirnya berjalan bersama menuju kelas mereka, halaman SMA Majapahit yang luas dipenuhi dengan taman bunga dan air mancur yang menawan, membuat Niko tak henti-hentinya terpana dengan pemandangan itu.


“Hebat…, keren sekali…!!!” takjub Niko.


“Ngomong-ngomong aku lihat kamu tidak pakai kendaraan pribadi tadi, apa kamu memakai helikopter untuk datang ke sekolah?” tanya Kevin.


“Eh Helikopter, Ah… tidak, aku hanya…”


“Apa jangan-jangan kau menaiki jet pribadi dan terjun kesini menggunakan parasut? ah… aku sangat ingin mencoba hal itu,” kata Kevin yang semakin menjadi-jadi.


“Ah… apalagi itu, aku bahkan tidak punya…,”


“Apa pekerjaan orang tuamu, Konglomerat? Walikota? Mentri? Kenapa kau tidak membawa pengawal? Atau jangan-jangan pengawalmu adalah seorang


SPY dari agen rahasia, dan sebenarnya mereka ada disekililingmu tapi aku tak


bisa melihatnya, dimana mereka… dimana mereka…,” kata Kevin sambil terus


menengak-nengokkan pandangannya untuk mencari spy yang dia maksud.


“Ah... mereka tidak mungkin ada, karena aku tak pernah memiliki pengawal,” jawab Niko dengan datar.


“Apa maksudmu?” tanya Kevin yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Niko.


“Aku hanyalah siswa biasa, dan bukan orang kaya, jadi aku tidak mungkin memiliki pengawal seperti kalian,” jelas Niko.


“Apa pekerjaan orang tuamu?” tanya Kevin yang kaget.


“Orang tuaku hanyalah seorang karyawan biasa.”


“Apa yang kamu pakai untuk datang ke sekolah ini?”


“Aku hanya berjalan kaki untuk sampai disekolah ini.”


Mendengar apa yang diucapkan Niko membuat Kevin sangat marah dan dengan nada tinggi kevin berkata,


“Sial… Aku sudah menghabisan waktu berhargaku hanya untuk BERBICARA DENGAN ORANG SEPERTIMU, KAU… KAU PASTI AKAN MENYESAL, INGAT ITU…!!!”


Setelah mengatakannya, Kevin dan dua pengawalnya langsung pergi meninggalkan Niko.


“Heh…,” kata Niko yang kaget.


Angin berhembus sembari menerbangan dedaunan yang jatuh ketanah, Niko mengadahkan kepalanya keatas agar matanya dapat melihat cerahnya langit, dan putihnya awan yang perlahan-lahan berjalan, disaat itu juga Niko tersenyum dan berkata,


“Jadi mereka punya jet pribadi juga ya, enak ya...”


******


“Nginngggggg…!!!” Suara


Microphone yang sedang aktif.


Terlihat semua siswa sudah berkumpul di aula SMA Majapahit untuk mengikuti upacara penerimaan siswa baru. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara dari siswa yang membacakan susunan acara.


“Sekarang adalah saatnya pidato utama dari Presiden Direktur SMA Majapahit, kepada Yang Terhormat Bapak Hayam Wuruk dipersilahkan.”


Hayam Wuruk perlahan-lahan mulai berjalan menuju ke tempat pidatonya, dan disaat itu juga para siswa mulai membicarakan tentangnya.


“Oi… itu Hayam Wuruk, dialah yang mengendalikan seluruh jalur pendidikan di negeri ini,” gumam siswa yang merasa ketakutan.


“Satu kata yang dia ucapkan, adalah satu perintah yang tidak bisa ditolak bahkan oleh presiden sekalipun,” gumam siswa lain yang ketakutan.


Tak berapa lama kemudian, Hayam Wuruk sudah sampai di tempat pidatonya, dan dengan suara yang tegas dia berbicara,


“Saya ucapkan selamat kepada para pemuda pemudi sekalian, melalui seleksi yang sangat ketat dan panjang, kalian sudah menjatuhkan lawan kalian satu persatu, dan hasilnya, pemuda pemudi sekalian lah yang berdiri sekarang dan menjadi siswa di SMA Majapahit ini, namun bukan berarti kalian aman, pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai, kalian akan bertarung dengan teman kalian untuk menjadi yang terbaik hingga tak bisa dikejar oleh siapapun, Nilai adalah nyawa


kalian untuk tetap bersekolah di SMA ini, yang terbaik akan menjadi para pemenang dan yang terpuruk akan menjadi para pecundang, dan pecundang tidak punya alasan lagi untuk berada di SMA Majaphit ini, tapi bagaimana pun, salah satu dari kalian pasti akan menjadi para pemenang, dan… aku yakin salah satunya adalah kalian, semangatlah untuk menggapai mimpi kalian.”


Setelah mendengar pidato dari Hayam Wuruk, para siswa tersenyum dan sangat bersemangat untuk menjadi yang terbaik di SMA Majapahit ini.


Namun sepertinya hal itu tidak berguna bagi Niko, setelah mendengarkan pidato dari Hayam Wuruk, Niko justru merasa ketakutan, tangan dan kakinya gemetaran, wajahnya juga sangat pucat, seperti tidak memiliki semangat


lagi untuk hidup di dunia ini.


“Menakutkan, menakutkan sekali..., SMA ini benar-benar mempunyai kriteria dan level yang sangat tinggi, apa aku bisa mengikuti nilai disekolah ini, atau justru akan dikeluarkan dihari pertamaku, AAAAaaaaaaa…. Siapa saja TOLONG AKU…!!!,” Niko berteriak didalam


hatinya.


Jauh diluar aula penerimaan siswa baru, ternyata ada dua orang yang sedang bermain catur, mereka duduk dan bermain catur dikelas yang berada di lantai ke-3 bangunan sekolah.


“Apa kau tidak tertarik dengan siswa baru tahun ini?” kata laki-laki yang tidak dikenal sambil menggerakan bidak caturnya.


“Bukannya semua sama saja,” jawab perempuan yang tidak dikenal sambil menggerakan bidak catur miliknya.


“Kau selalu begitu, mereka juga ingin melihatmu,” kata laki-laki itu sambil memindahkan bidak raja dicatur milliknya.


“Checkmate…!!!” kata perempuan itu sambil memperlihatkan bahwa dirinya sudah memenangkan permainan catur mereka.


“Kau mengalahkanku lagi,” kata laki-laki itu yang mengakui bahwa dirinya telah kalah.


“Srettt~”


“Aku hanya beruntung,” kata perempuan itu sambil menarik kursi tempat duduknya agar bisa pergi dari tempat itu.


“Apa kau tidak memiliki tujuan lain?” kata laki-laki itu.


“Aku tak tahu,” kata perempuan itu sambil pergi meninggalkan laki-laki yang dikalahkannya


Sebelum perempuan itu pergi, laki-laki yang kalah catur berkata,


“Mungkin saja… tahun ini ada siswa yang bisa merebut gelar Artest milikmu.”


Perempuan tadi berhenti melangkahkan kakinya, dan didalam


keheningan tempat itu, perempuan itu pun berkata,


“Ya…Aku harap juga begitu.”