X

X
a



“oke-oke, gw bakal bantuin lu ngejagain Lia..” ucap Kai


menenangkan Hans yang masih dipenuhi amarah.


“ huh,sana pergi!!!” ucap Hans mengusir Kai, Kai terkikik


geli kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan kea rah sepeda motornya yang


beruntung sekali masih ada disana. Hans keluar dari mobil dan menyandarkan


tubuhnya pada badan mobil, memandang Kai yang melajukan motornya pergi menuju


ke kampus.


“ gw harap lu bisa ngurangin beban lia…” ucap Hans lirih


●ꙍ●


3 hari berlalu sejak kejadian hari itu, Lia masih tidak


diizinkan untuk pergi ke sekolah oleh Hans dan Alex.Keduanya benar-benar


overprotektif pada gadis itu sekarang, bahkan untuk keluar appartemen saja dia dilarang mati-matian oleh keduanya.


“ hahh, kapan ini akan berakhir!!!!!” teriaknya kesal,


bahkan Kuro yang sedari tadi berbaring disampingnya terlonjak kaget hingga


turun dari atas ranjang.


“ eh kuro, Maaf..” ucapnya disertai dengan cengiran tanpa


rasa bersalah, Kuro hanya mengacuhkannya dan memilih untuk menjilati kaki


depannya.


“ heh, aku ingin keluar Kuro!!!!” pekik Lia yang membuang


kucing hitam itu beranjak pergi dari kamar Lia dan memilih untuk bersantai


diatas meja ruang makan.


Lia menghela nafas bosan untuk beberapa saat hingga dering


ponselnya memecahkan lamuanannya, Lia segera menyambar benda pipih itu,


menggeser dialnya ke atas setelahnya menempelkan benda itu ke telinga.


/ Ray!!!!/ pekiknya membuat Ray terkejut bukan main, secara


refles dia menjauhkan ponsel miliknya dari telinga.


/ lia, jangan berteriak!!!!/ ucap Ray kesal. Ray bisa


mendengar kekehan Lia dari telfonnya.


/ hm, Ray aku bosan!!!/ rengek Lia membuat Ray mengukir


senyumnya, adik kecilnya tidak akan pernah berubah jika sudah bosan. Pasti akan


selalu merengek dan minta ditemani bermain.


/ heh, kamu saja tidak pernah pulang lalu kenapa aku harus


menghiburmu?/ Tanya Ray jahil, Lia mendengus kesal untuk sesaat.


/ baiklah, aku akan pulang beberapa hari lagi. Dan ya, ku


harap aku mendapat sambutan yang layak../ ucap Lia menantang


/ hm, as you wish my lady!!/ balas Ray dengan sombong,


percakapan mereka terus berlanjut sampai akhirnya Lia tertidur karena bosan


mendengarkan Ray yang menceritakan pacar manisnya sedari tadi.


Ray masih saja bercerita tanpa memperdulikan Lia yang sudah


terlelap sedari tadi, sedangkan ditempat Lia sekarang, Hans datang memanggil


Lia untuk makan malam, akan tetapi dirinya malah mendapati Lia yang terlelap


dengan ponsel yang masih menempel ditelinga.


“ hahh, anak ini..” ucap Hans lelah, dia mengambil ponsel


itu dari telinga Lia dan membaca nama sang pemanggil yang tertera disana,


setelahnya menempelkan benda itu ke telinganya dan menyelimuti tubuh Lia.


/ yo, Ray!/ sapa Hans yang membuat Ray berhenti sejenak.


/ who are you??/ Tanya Ray agak kesal, Hans tekekeh geli


disana.


/ kau masih sama saja Ray, terlalu posesif../ ucap Hans


disertai denga smirk jahil yang sayang sekali tidak bisa dilihat oleh Ray.


/ KAK HANS!!!!/ pekik Ray girang, Hans menjauhkan ponsel Lia


dari telinganya untuk sesaat, memaki Ray yang berteriak seenaknya kemudian


menempelkannya lagi ke telinga.


/ jangan berteriak bodoh!/ maki Hans kesal, Ray terkekeh


disebrang sana.


/ haha, maaf. Mana Lia?/ Tanya Ray


/ dia tidur, lu pasti ceramah lagi kan?/ Tanya Hans agak


menyindir, Ray berdecak sebal sedangkan Hans tertawa.


/ udah bro, gw sibuk. Gw matiin telfonnya!/ ucap Hans santai


/ eh, kak tu-/


PIP


Sayangnya belum selesai Ray bicara, Hans sudah mematikan


telfonnya. Hans menyimpan ponsel itu dinakas, kemudian melangkahkan kakinya


menuju ke ruang makan dimana ada Alex yang sudah menunggunnya dan Lia, yang


“ dimana Lia?” Tanya Alex bingung, Hans mendudukkan tubuhnya


diatas kursi kemudian menghela nafas lelah.


“tidur, tuan posesif itu sepertinya berceramah lagi..” ucap


Hans disertai kekehan. Alex ber ‘o’ ria kemudian memilih untuk mulai menyantap


makan malam dan melupakan Lia yang terlelap dengan damai.


“ paman, bisa paman bujuk Lia sekali lagi?” pinta Hans


sendu, Hans masih sangat kahwatir dengan gadis manis itu.


Ya mau bagaimana lagi, setiap hari kondisi Lia semakin


memburuk.Bukan hanya kondisi tubuhnya, mentalnya juga semakin menjadi tiap


harinya. Depresi yang membuatnya terpaksa menciptakan ribuan topeng untuk


menutupi dirinya yang lemah, Hans dan Alex sudah lelah membujuk gadis itu tapi


mereka tidak bisa membiarkan gadis itu begitu saja.


Harus ada orang yang menjaga Lia, baik itu Hans, Alex atau


siapapun. Hans bahkan sempat berpikir untuk memberitahu Ray mengenai kondisi


kesehatan Lia, akan tetapi tidak jadi karena dia pikir Lia akan sangat


membencinya.


“ tidak, sepertinya kita hanya bisa menunggu..” ucap Alex


sendu, kini dia menatap langit-langit dapur yang berwarna putih.


“ haahhh, besok aku akan membawanya ke rumah sakit. Dia


harus menjalani terapi untuk mentalnya!” ucap Alex yang diangguki oleh Hans,


sedangkan disisi lain dari ruangan itu, lebih tepatnya di kamar milik Lia. Lia


tengah menangis dalam diam, bahkan Kuro yang datang padanya tidak bisa


menghilangkan rasa sedih itu.


●ꙍ●


Sepertinya besok adalah hari penderitaanku~batin Lia miris


Hahh, padahal aku selalu berusaha untuk tegar. Tapi, apa


hanya degan cara itu aku tetap bertahan?~


Ray, apa kamu tidak bisa merasakan penderitaanku?~


Heh, padahal kita adalah satu.Aku adalah kamu, dan kamu


adalah aku…~


Tapi,~


Apa kamu tetap tidak bisa mendengar teriakan jiwaku,


Ray!!!!!!!!~


^^ kau terlalu


bodoh, Alya~ ucap suara itu lagi


Lia masih aja dalam tangisnya, air mata terus menetes walau


isakan tidak lolos dari bibirnya. Hans dan Alex tidak mengetahui hal itu, akan


tetapi Lia berharap. Sangat berharap pada siapapun untuk mengeluarkannya dari


neraka penderitaan itu.


Akan tetapi Lia lebih


berharap pada satu orang, berharap pada saudara kembarnya. Berharap Ray akan


datang padanya, merengkuhnya dan meringangkan bebannya. Walau Ray tidak bisa


menyembuhkan penyakitnya, setidaknya Ray bisa mengurangi sedikit beban


penderitaannya.


.


.


.


Bulan telah


pergi, pagi menjemput awal baru. Dan ya, bagi Lia ini masih hari yang


sama. Hari-hari yang dipenuhi dengan kegelapan dalam dirinya, tanpa ada


sebersit cahaya yang menerangi jalannya.Tanpa ada teman yang menemaninya, tanpa


ada petunjuk pada jalannya.


“ ugh…” lenguhan kecil lolos dari bibirnya, sinar mentari


sudah memenuhi kamarnya. Beruntung jendela berada tepat dibelakang ranjang Lia,


sehingga dia tidak akan terlalu terusik dengan sinar mentari yang masuk ke


dalam kamar gelapnya.


“ miwww…” sebuah suara mengalihkan atensi Lia, Lia menoleh


dan mendapati kucing hitam kesayangannya tengah tertidur dengan nyaman diatas


tubuhnya.


“ pagi, Kuro~” sapa Lia sembari mengacak puncak kepala Kuro


dengan gemas, Kuro segera bangkit dan pindah ke sisi ranjang Lia, sedangkan Lia


bangkit dan mendudukkan tubuhnya.