
Malam itu, di gudang SMA Majapahit, terdapat kelompok siswa layaknya
geng yang sedang berkumpul, mereka berkumpul untuk menyaksikan wajah Arthur
yang babak belur.
“Bruughhhhh Braakkkk Duaaagghhh…!!!” Suara pukulan yang menghantam seseorang.
“Ku-Kumohon A-Ampuni aku…,” kata Arthur dengan wajah yang penuh luka.
“BODOH SEKALI…!!! Kenapa kau bisa kalah dari orang seperti dia,” kata laki-laki yang memukulinya.
“Ku-Kumohon… Ampuni…,” kata Arthur yang masih memohon.
Tak berapa lama kemudian, seseorang yang sedang duduk dikegelapan ruangan itu berkata,
“Sudah hentikan, kau bisa membunuhnya.”
“Tapi Bos, dia sudah mempermalukan nama kita, terlebih lagi orang itu justru menolak kesepakatan yang sudah dibuat, rasanya seperti aku membuang kotoran diwajahku sendiri,” kata orang yang memukuli Arthur.
“Niko Alexander ya…, benar-benar orang yang menarik,” kata orang yang sedang duduk.
“Tolong Bos, kali ini biarkan aku yang memberi pelajaran kepada orang itu,” kata orang yang memukuli Arthur.
“Baiklah…, lakukan apa yang kau suka Pilar Girisha,” kata laki-laki yang duduk tadi.
“Hehehe…,” jawab Pilar dengan tersenyum puas.
Keesokan harinya, suasana pagi di SMA Majapahit mendadak ramai ketika Niko menuju ke kelasnya.
“Alexander, kau hebat sekali kemarin…”
“Tak ku sangka kau bisa mengalahkan Arthur…”
“Walaupun kau tidak mendapatkan apapun, kau tetaplah juaranya…”
“Kami akan terus mengingat pertarungan itu…”
Setidaknya seperti itulah yang dikatakan siswa dan siswi SMA Majapahit ketika bertemu Niko, karena bingung dengan keramaian ini, Niko hanya tersenyum dan berkata.
“Hehe… iya te-terima kasih, terima kasih banyak, terima kasih sekali…”
Nampaknya Niko menjadi sangat populer karena sudah berhasil mengalahkan Arthur waktu itu, dan tidak ada lagi yang menganggap remeh dirinya.
“Huuufftt,” kata Niko setelah duduk dibangkunya.
“Tak kusangka hari ini menjadi seperti ini, tapi tak apalah, setidaknya aku masih bisa bertahan dihari pertama sekolahku, aku harap tak ada yang bertarung denganku lagi, kemarin hanyalah keberuntungan…, aku tak yakin bisa beruntung lagi,” kata Niko
didalam hati.
“GRAAAKKKKK…!!!” Suara pintu
yang di geser dengan sangat keras.
Tiba-tiba ada segerombolan laki-laki yang masuk ke kelas 1-C, Niko yang bingung pun akhirnya berkata,
“Heh… ada apa ini?”
Terlihat salah satu dari mereka, ada yang memiliki badan yang kekar, dan laki-laki yang kekar itu perlahan menghampiri tempat duduk Niko, dilihat dari mana pun wajah laki-laki itu sangat serius, matanya seperti iblis
yang membuat seluruh tubuh Niko merinding.
“Heh… bukankah dia Pilar Gerisha.”
“Maksudmu peringkat 2 saat ujian masuk itu.”
“Menakutkan sekali… mau apa dia kemari…”
Seluruh murid kelas 1-C mulai membicarakan Pilar yang tiba-tiba datang ke kelas mereka.
Setelah sampai dihadapan Niko, dengan tatapan yang sangat tajam, Pilar berkata,
“Jadi kau yang mengalahkan Arthur?”
“I-Iya… mungkin…,” jawab Niko dengan ketakutan.
Pilar melihat Niko lebih teliti lagi, dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“A-Ada apa ya…,” kata Niko yang bingung dengan laki-laki itu.
“BRUAKKKKKKK!!!!” Suara hentakan meja.
Tiba-tiba Pilar menghentakkan tangannya di meja Niko, sangat keras hingga terdengar seisi kelas.
“HUAAAHHH…!!!” teriak Niko sambil mengangkat kedua tangannya karena kaget.
“Sekolah ini memiliki hukum rimba, yang terkuat dialah pemenangnya, tak peduli walaupun itu keberuntungan, yang menang menjadi seorang pemenang dan yang kalah menjadi seorang pecundang, apa kau masih meragukan hal itu HAH,” kata Pilar sambil menatap Niko dengan tatapan menakutkan.
“Ba-Baik, a-aku mengerti,” kata Niko yang ketakutan karena mata mereka saling bertatap-tatapan.
Setelah mendengar jawaban Niko, Pilar berhenti menatapi Niko dan berkata,
“Aku tunggu kau di pertarungan yang sesungguhnya.”
Setelah mengatakannya, Pilar pergi dari hadapan Niko dan pergi meninggalkan kelasnya Niko.
Melihat perginya Pilar justru membuat Niko lebih ketakutan lagi, jantungnya berdegup kencang, keringatnya bercucuran dengan deras, dan didalam hatinya dia pun berkata,
“A-Aku gak tahu kalo justru seperti ini jadinya, akibat pertarungan kemarin..., mereka pasti akan mengincarku, menakutkan… APA YANG HARUS KULAKUKAN…!!! AAAAaaaaa….!!!”
“Ting Tong Ting Tong…!!!” Suara bel pulang sekolah.
Tak terasa jam pulang sekolah pun tiba, disaat Niko sedang bersiap untuk pulang, tiba-tiba ada laki-laki berambut pirang menghampirinya.
“Ha-halo Niko…” kata laki-laki itu dengan gugup.
“Oh… Ha-Halo…Siapa?” jawab Niko yang bingung.
“Na-Namaku Pratama, aku yang duduk di bangku belakangmu.
“Eh iyaaa… hehe maaf.”
Sepertinya karena terlalu banyak tekanan yang dirasakan oleh Niko, dia baru ingat dengan seseorang yang duduk di bangku belakangnya.
“Kau sudah dikenal banyak orang ya, jadi wajar kalau tidak tahu orang seperti ku”
“Ehh bu-bukan seperti itu,” kejut Niko.
Niko pun berkata dalam hatinya,
“Anjirrr kok aku bisa lupa sama orang yang duduk di belakangku, ya emang dari kemarin aku gelisah terus, jadi tidak memperhatikan sekitarku.”
“Sepertinya kamu tidak mau berteman denganku ya, ya sudahlah aku sendirian saja.” Lanjut Pratama dengan wajah suram.
“Ehhh Eh tunggu dulu, yang bilang kayak gitu siapa, aku mau kok jadi temanmu.” Kata Niko.
“Heh benarkah?” Wajah Pratama kembali ceria.
“Iya benar.”
untukku kan?”
“Ya gak juga sih.”
“Ya sudahlah, aku sendirian lagi saja.” Kata Pratama yang wajahnya suram kembali.
“Ehhhhhh yaya aku mau.”
“Benarkah?”
“Iya…”
“Gak bohong kan?”
“Iya aku gak bohong.”
Tiba-tiba Pratama memperlihatkan buku nya kepada Niko dan berkata,
“Tolong ajari aku Matematika, aku tidak bisa yang bagian ini.”
“EMMMMMM…!!!” kejut Niko yang berusaha untuk tidak bersuara.
Melihat tulisan dan angka yang ada di buku matematika tersebut, membuat kepalanya pusing dan hampir meledak. Sehingga untuk mencegahnya, dia harus melakukan sesuatu.
“Wahhh lihat disana ada Burung lagi Kawin…!!!” Seru Niko sambil menunjuk kearah jendela.
“Heh… Dimana?” kaget Pratama yang langsung menengok.
“Saatnya KABOOOORRRR…!!!” teriak Niko yang langsung lari keluar kelas.
“Niko… jangan tinggalin aku…!!!,” teriak Pratama.
Niko berlari sekencang-kencangnya hingga tak bisa dikejar oleh Pratama. Sampai akhirnya dia berhenti karena lelah.
“Huft Huft… sepertinya aku berhasil kabur.”
Niko merasa kasihan dengan Pratama, tapi dia sudah tidak ingin berurusan lagi dengan Matematika. Jadi, lebih baik dia pergi sebelum otaknya terbakar.
“Maafkan aku Pratama, besok aku akan minta maaf kepadamu.” Kata Niko.
Ketika bersiap untuk pulang, tak sengaja Niko melihat mading yang ada dinding sekolahnya, karena tertarik dengan hal tersebut, dia pun
mencoba melihat-lihat isi dari mading itu.
“Huahhh… isinya pamflet klub semua,” kata Niko.
Tak berapa lama kemudian, ada satu pamflet yang membuat pandangannya teralihkan.
“Klub… menyalin…, klub menyalin? klub seperti apa itu?”
“Klub yang bisa membuatmu menyalin segala hal gitu lho,” jawab perempuan berambut pendek yang tiba-tiba berada disampingnya.
“Huahhh…,” kejut Niko.
“Kau tertarik bergabung dengan klub Menyalin?” tanya perempuan itu.
“A-Ahh gak juga…,” jawab Niko.
“Namaku Suhita Hiromi, kelas 2-B,” perempuan itu mengenalkan dirinya.
“A-Ah namaku Niko Alexander, kelas 1-C, senang bertemu denganmu Kak,” jawab Niko dengan gugup.
“Hmm… jadi, kenapa kau tidak bergabung saja dengan klub Menyalin,” kata Suhita sambil menempelkan badannya ke badan Niko.
Badan Suhita memang sangat mantab, semua tonjolannya begitu menggoda imron, sehingga membuat Niko terlihat sangat gugup ketika badannya bersentuhan dengannya.
“A-Ahh Ka-Kakak… a-aku tidak…,” kata Niko dengan terbata-bata.
“Ayolah…~” kata Suhita yang semakin menonjolkan badannya.
Karena tidak kuat lagi, Niko pun berkata,
“A-Ah… bagaimana kalo kulihat dulu,”
“Hooorrreeeeyyy…!!!” kata Suhita yang sangat senang.
“A-Ah aku belum memutuskan untuk bergabung lho,” gumam Niko.
“Ayo ikut aku, ruang klub nya ada disana,” kata Suhita.
“Sepertinya ada yang tidak beres di klub ini,” kata Niko didalam hati.
Setelah sampai didepan ruang klub, Suhita langsung membuka pintu ruang itu dan berkata.
“HALO SEMUANYA… AKHIRNYA AKU MENDAPATKAN ORANG TERAKHIR…!!!”
Setelah membukanya, terlihat ada dua orang lainnya yang sudah berada di ruangan tersebut.
“Oh… akhirnya,” kata laki-laki yang sudah diruangan itu.
“……….,” perempuan lain yang sudah ada diruangan itu hanya
terdiam.
Dengan bahagia, Suhita langsung menyiapkan formulir pendaftaran klub dan meminta Niko untuk mengisinya.
“Aku adalah Ketua dari klub menyalin, dan setelah kau mengisi formulir ini, kau sudah resmi menjadi anggota dari klub ini.”
“E-Eh… tapi aku belum memutuskan untuk bergabung,” kata Niko.
“Ayolah…~” Suhita kembali mendekatkan tubuhnya ke Niko.
“Ugh… pasti ada yang tidak beres dengan klub ini,” kata Niko di dalam hati.
Karena terpaksa, akhirnya Niko pun mengisi formulir yang sudah disiapkan oleh Suhita.
“Yeyyy… mulai sekarang kau anggota dari Klub Menyalin,” kata Suhita.
“Ja-Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Niko.
“Oh ya… aku belum memberitahukan hal ini padamu,” kata Suhita.
“Apa itu?”
“Klub menyalin hanyalah kedok kita saja, sebenarnya kami adalah Klub… Menyontek…”
“Heh… K-Klub Menyontek...,” bingung Niko.
“Ya, mulai sekarang kau akan belajar Menyontekkk…!!!” Seru Suhita.
Mendengar perkataan dari Suhita, membuat Niko berteriak sekencang-kencangnya.
“Sudah kuduga ada yang TIDAK BERES DENGAN KLUB INI…. AAAAAAAAaaaaaaa….!!!”