X

X
a



“ harusnya gw yang Tanya lu ngapain, bukannya makan malah


main?”balas kai tak kalah tajam, Lia berdecih kesal kemudian mengulurkan


tangannya, meminta konsolnya dikembalikan.


“ lu makan dulu, kalau udah baru gw kembaliin” ucap Kai yang


menyimpan konsol game Lia disebelahnya. Lia menghela nafas kemudian menarik


mangkuk bakso yang ada disebrangnya dan mulai mengambil sendok, mengelapnya


dengan tisu kemudian mulai menyantap makanannya.


Setelah beberapa lama Lia menghabiskan makanannya, ini


pertama kalinya dia memakan makanan pinggir jalan dan menurutnya rasanya tidak


buruk, walaupun kebersihan tempat ini perlu dipertanyakan lagi.


“  gw udah beres,


sekarang mana konsol gw!!” pinta Lia pada Kai, Kai menatap mangkuk Lia yang


masih setengah penuh. Kai berdecak dan menatap Lia kesal.


“  Lia? Baksonya belum


habis, dan lu bilang udah?” ucap Kai sedikit menekankan pertanyaannya, Lia menghela


nafas lelah.


“  gw udah kenyang,


Kai!!!” rengek Lia yang benar-benar sudah kesal dengan tingkah Kai yang mulai


menyebalkan.


“  habisin dulu


baksonya Lia!!! “ titah Kai yang diacuhkan Lia, Kai menghela nafas mengambil


sendok yang berada dimangkuk Lia kemudian menyuapkan sesendok bakso ke depan


wajah Lia. Lia sedikit terkejut dengan tingkah Kai tapi dia memilih acuh dan


memalingkan wajahnya.


“  Lia~~~” panggil Kai


agak manja membuat Lia jijik, Lia berdecih kesal sedangkan tangan kirinya mulai


bergerak melewati punggung Kai dan mencoba meraih konsol gamenya.


“ eits, jangan macem-macem!!” ucap Kai sembari meraih konsol


game Lia dan menyimpannya disaku jaketnya. Lia menghela nafas lelah kemudian


melipat tangannya didepan dada, Kai masih mencoba membujuk lia untuk membuka


mulutnya.


“  lu habisin dulu


baru gw kembaliin” ucapkai yang


membuat Lia menghela nafas, akhirnya dia membuka mulutnya dan menerima suapan


dari Kai. Kai menyuapi Lia hingga tandas seperempat, setelahnya Lia tidak mau


membuka mulutnya. Dia kekenyangan.


“  lia ayo sesuap lagi~~~” pinta Kai yang


dibalas dengan gelengan dari Lia.


“ gw kenyang!!!”


ucap Kai yang entah keberapa kalinya, Lia benar-benar kekenyagan. Bahkan Kai


bisa melihat kalau Lia sudah hampir memutahkan isi perutnya, tapi Kai tidak


bisa mempercayai pesulap licik itu begitu saja.


“ satu suap


lagi!!!!” paksa Kai yang membuat Lia bangkit dari duduknya dengan tiba-tiba,


membuat Kai terkejut bukan main.


Lia melangkahkan


kakinya pergi dari sana begitu saja tanpa pamit ataupun berkata sepatah kata,


Lia mencoba merogoh sakunya berharap dia membawa ponsel miliknya. Setelah


menemukan sesuatu Lia mengambil benda itu, dan sayangnya bukan ponsel seperti


yang dia harapkan. Lia mendapati kartu debitnya berada disaku.


“ hahh, ini tidak


ada gunanya....” ucap lia lelah.


“ oi Lia, jangan


main pergi gitu aja!!!!” teriak Kai yang panik jika terjadi sesuatu dengan


gadis itu, Lia hanya diam menahan kesal sekaligus tidak memiliki mood untuk


bicara.


“ hahh, ini!”


ucap Kai yang terpaksa mengembalikan konsol game milik Lia. Lia menerimanya


dengan senang hati, akan tetapi dia masih kesal dengan Kai. Jadi Lia masih diam


dan mengacuhkannya, Kai yang sadar kalau Lia sedang marah kini menghela nafas.


“ mau makan


permen kapan?” tanya Kai yang dibalas dengan gelengan dari Lia, Kai menghela


nafas sejenak kemudian melirik jam tanganya. Waktu sudah berlalu cukup lama,


sebentar lagi jam 9 malam sepertinya mereka harus pulang.


“ayo pulang!”


ajak Lia yang dituruti oleh kai, Lia berjalan mendahului Kai menuju ke tempat


parkir sedangkan Kai mengikuti Lia dibelakangnya. Lia terus berjalan tanpa


memperdulikan Kai yang mungkin tidak ada dibelakangnya, lagi.


Lia sudah tiba di


parkiran, dia bahkan sudah duduk bersandar pada motor besar Kai. Honda CBR 1000


RR berwarna hitam yang nampak maskulin dan gagah itu tengah disandari oleh


seorang yang begitu rapuh, Lia berdecak kesal karena Kai menghilang entah


kemana. Hingga tiba-tiba Kai muncul sembari membawa sebuah permen kapas


ditangan kanannya.


saja??” tanya Lia sangsi, dia sudah terlalu lelah menunggu disana sendirian,


terlebih udara malam yang dingin menusuk kulitnya.


“ ini!” ucap Kai


memberikan permen kapas itu pada Lia, Lia mengernyit heran kemudain menerima


permen kapas itu dengan tenang.


“  thanks, Kai...” gumam Lia sembari menutupi


bibirnya dengan permen kapas itu.


Manis~ batin


Lia senang


^^ heh, tak


semanis hidupmu kan!!~ ucap sebuah suara dipikiran Lia.


Sebentar saja,


biarkan aku bersantai~ pinta Lia pada suara itu


^^ tapi kau


sudah mengacuhkanku selama seharian ini!!!~ rengek suara itu yang membuat Lia


kesal


Sudahlah, kau


sudah mengangguku selama 3 hari diruangan itu~ batin Lia kesal


^^ kau tidak


bisa begitu


^^ untuk


sekarang dan selamanya aku akan tetap bersamamu...


^^ menjadi


satu-satunya orang yang akan menemanimu~~ucap suara itu membuat Lia


menggertakkan giginya


Kini mereka sudah


berada dalam perjalanan pulang, Lia mencoba mengacuhkan suara-suara dikepalanya


dan memilih menghabiskan permen kapas pemberian Kai. Sedangkan Kai sedang fokus


dengan jalanan sepi dimalam hari, keheningan menghiasi moment keduanya, saling


terbuai dengan pikiran masing-masing.


“ ku harap


ini semua bukan mimpi…” gumam Lia sembari menggigit permen kapasnya, tanpa


sadar Kai mendengar gumaman itu membuatnya mengerutkan dahinya.


“ heh, ini bukan mimpi!!” ucap Kai sedikit berteriak, Lia


terkejut bukan main mendengar ucapan Kai. Satu-satunya hal yang benar-benar


ingin ia dengar dari semua orang, kalimat penyemangat yang mengatakan jika dia


hidup, bangun, dan sadar jika dia tidak bermimpi.


Lia mengembangkan senyumnya kemudian memukul punggung Kai


pelan.


“ thanks for all, Kak Kai…” ucap Lia tulus.


●ꙍ●


CKITTT


Sepeda motor Kai berhenti tepat ditengah jalan antara rumah


Lia dengan kosannya, Lia turun dengan perlahan kemudian merapikan pakaian dan


rambutnya yang terkena hembusan angin.Kai mengukir senyumnya mendapati Lia yang


nampak imut dan berantakan, tangannya terulur mengusap rambut panjang Lia dan


merapikannya sedikit.


“ t-thanks” ucap Lia terbata, dia masih belum terbiasa


dengan perlakuan Kai yang begitu menyentuh hatinya.


“ ah, ini!”


Lia memberikan jaket yang tadi dipinjamkan oleh Kai, Kai


menerimanya dengan senang kemudian menyampirkannya dipundak. Lia masih diam


tidak berniat beranjak dari sana, keduanya terdiam dalam hening untuk beberapa


saat, hanya ditemani pijar lampu jalanan juga gemuruh angina yang memanggil


keduanya.


“ hm, bye!” ucap Lia yang langsung melangkah pergi dari


sana, dan langsung melangkah masuk ke rumah. Tanpa tau kalau Ray sedang


menunggu Lia pulang dengan gelisah, bagaimanapun sifat posesifnya ini


menyebalkan bukan?


.


.


.


KRIETT


Pintu dibuka


dengan pelan, rumahnya nampak kosong. Lia menghela nafas pelan, melepas


sepatunya kemudian berjalan masuk dengan tenang, tanpa sadar kalau Ray sedang


menunggunya diruang tamu.


“ dari mana


saja?” tanya Ray sangsi, Lia menghentikan langkahnya kemudian memandang bosan


pada Ray.


“ aku sudah


bilang kalau aku mau jalan-jalan..-”