
“ harusnya gw yang Tanya lu ngapain, bukannya makan malah
main?”balas kai tak kalah tajam, Lia berdecih kesal kemudian mengulurkan
tangannya, meminta konsolnya dikembalikan.
“ lu makan dulu, kalau udah baru gw kembaliin” ucap Kai yang
menyimpan konsol game Lia disebelahnya. Lia menghela nafas kemudian menarik
mangkuk bakso yang ada disebrangnya dan mulai mengambil sendok, mengelapnya
dengan tisu kemudian mulai menyantap makanannya.
Setelah beberapa lama Lia menghabiskan makanannya, ini
pertama kalinya dia memakan makanan pinggir jalan dan menurutnya rasanya tidak
buruk, walaupun kebersihan tempat ini perlu dipertanyakan lagi.
“ gw udah beres,
sekarang mana konsol gw!!” pinta Lia pada Kai, Kai menatap mangkuk Lia yang
masih setengah penuh. Kai berdecak dan menatap Lia kesal.
“ Lia? Baksonya belum
habis, dan lu bilang udah?” ucap Kai sedikit menekankan pertanyaannya, Lia menghela
nafas lelah.
“ gw udah kenyang,
Kai!!!” rengek Lia yang benar-benar sudah kesal dengan tingkah Kai yang mulai
menyebalkan.
“ habisin dulu
baksonya Lia!!! “ titah Kai yang diacuhkan Lia, Kai menghela nafas mengambil
sendok yang berada dimangkuk Lia kemudian menyuapkan sesendok bakso ke depan
wajah Lia. Lia sedikit terkejut dengan tingkah Kai tapi dia memilih acuh dan
memalingkan wajahnya.
“ Lia~~~” panggil Kai
agak manja membuat Lia jijik, Lia berdecih kesal sedangkan tangan kirinya mulai
bergerak melewati punggung Kai dan mencoba meraih konsol gamenya.
“ eits, jangan macem-macem!!” ucap Kai sembari meraih konsol
game Lia dan menyimpannya disaku jaketnya. Lia menghela nafas lelah kemudian
melipat tangannya didepan dada, Kai masih mencoba membujuk lia untuk membuka
mulutnya.
“ lu habisin dulu
baru gw kembaliin” ucapkai yang
membuat Lia menghela nafas, akhirnya dia membuka mulutnya dan menerima suapan
dari Kai. Kai menyuapi Lia hingga tandas seperempat, setelahnya Lia tidak mau
membuka mulutnya. Dia kekenyangan.
“ lia ayo sesuap lagi~~~” pinta Kai yang
dibalas dengan gelengan dari Lia.
“ gw kenyang!!!”
ucap Kai yang entah keberapa kalinya, Lia benar-benar kekenyagan. Bahkan Kai
bisa melihat kalau Lia sudah hampir memutahkan isi perutnya, tapi Kai tidak
bisa mempercayai pesulap licik itu begitu saja.
“ satu suap
lagi!!!!” paksa Kai yang membuat Lia bangkit dari duduknya dengan tiba-tiba,
membuat Kai terkejut bukan main.
Lia melangkahkan
kakinya pergi dari sana begitu saja tanpa pamit ataupun berkata sepatah kata,
Lia mencoba merogoh sakunya berharap dia membawa ponsel miliknya. Setelah
menemukan sesuatu Lia mengambil benda itu, dan sayangnya bukan ponsel seperti
yang dia harapkan. Lia mendapati kartu debitnya berada disaku.
“ hahh, ini tidak
ada gunanya....” ucap lia lelah.
“ oi Lia, jangan
main pergi gitu aja!!!!” teriak Kai yang panik jika terjadi sesuatu dengan
gadis itu, Lia hanya diam menahan kesal sekaligus tidak memiliki mood untuk
bicara.
“ hahh, ini!”
ucap Kai yang terpaksa mengembalikan konsol game milik Lia. Lia menerimanya
dengan senang hati, akan tetapi dia masih kesal dengan Kai. Jadi Lia masih diam
dan mengacuhkannya, Kai yang sadar kalau Lia sedang marah kini menghela nafas.
“ mau makan
permen kapan?” tanya Kai yang dibalas dengan gelengan dari Lia, Kai menghela
nafas sejenak kemudian melirik jam tanganya. Waktu sudah berlalu cukup lama,
sebentar lagi jam 9 malam sepertinya mereka harus pulang.
“ayo pulang!”
ajak Lia yang dituruti oleh kai, Lia berjalan mendahului Kai menuju ke tempat
parkir sedangkan Kai mengikuti Lia dibelakangnya. Lia terus berjalan tanpa
memperdulikan Kai yang mungkin tidak ada dibelakangnya, lagi.
Lia sudah tiba di
parkiran, dia bahkan sudah duduk bersandar pada motor besar Kai. Honda CBR 1000
RR berwarna hitam yang nampak maskulin dan gagah itu tengah disandari oleh
seorang yang begitu rapuh, Lia berdecak kesal karena Kai menghilang entah
kemana. Hingga tiba-tiba Kai muncul sembari membawa sebuah permen kapas
ditangan kanannya.
saja??” tanya Lia sangsi, dia sudah terlalu lelah menunggu disana sendirian,
terlebih udara malam yang dingin menusuk kulitnya.
“ ini!” ucap Kai
memberikan permen kapas itu pada Lia, Lia mengernyit heran kemudain menerima
permen kapas itu dengan tenang.
“ thanks, Kai...” gumam Lia sembari menutupi
bibirnya dengan permen kapas itu.
Manis~ batin
Lia senang
^^ heh, tak
semanis hidupmu kan!!~ ucap sebuah suara dipikiran Lia.
Sebentar saja,
biarkan aku bersantai~ pinta Lia pada suara itu
^^ tapi kau
sudah mengacuhkanku selama seharian ini!!!~ rengek suara itu yang membuat Lia
kesal
Sudahlah, kau
sudah mengangguku selama 3 hari diruangan itu~ batin Lia kesal
^^ kau tidak
bisa begitu
^^ untuk
sekarang dan selamanya aku akan tetap bersamamu...
^^ menjadi
satu-satunya orang yang akan menemanimu~~ucap suara itu membuat Lia
menggertakkan giginya
Kini mereka sudah
berada dalam perjalanan pulang, Lia mencoba mengacuhkan suara-suara dikepalanya
dan memilih menghabiskan permen kapas pemberian Kai. Sedangkan Kai sedang fokus
dengan jalanan sepi dimalam hari, keheningan menghiasi moment keduanya, saling
terbuai dengan pikiran masing-masing.
“ ku harap
ini semua bukan mimpi…” gumam Lia sembari menggigit permen kapasnya, tanpa
sadar Kai mendengar gumaman itu membuatnya mengerutkan dahinya.
“ heh, ini bukan mimpi!!” ucap Kai sedikit berteriak, Lia
terkejut bukan main mendengar ucapan Kai. Satu-satunya hal yang benar-benar
ingin ia dengar dari semua orang, kalimat penyemangat yang mengatakan jika dia
hidup, bangun, dan sadar jika dia tidak bermimpi.
Lia mengembangkan senyumnya kemudian memukul punggung Kai
pelan.
“ thanks for all, Kak Kai…” ucap Lia tulus.
●ꙍ●
CKITTT
Sepeda motor Kai berhenti tepat ditengah jalan antara rumah
Lia dengan kosannya, Lia turun dengan perlahan kemudian merapikan pakaian dan
rambutnya yang terkena hembusan angin.Kai mengukir senyumnya mendapati Lia yang
nampak imut dan berantakan, tangannya terulur mengusap rambut panjang Lia dan
merapikannya sedikit.
“ t-thanks” ucap Lia terbata, dia masih belum terbiasa
dengan perlakuan Kai yang begitu menyentuh hatinya.
“ ah, ini!”
Lia memberikan jaket yang tadi dipinjamkan oleh Kai, Kai
menerimanya dengan senang kemudian menyampirkannya dipundak. Lia masih diam
tidak berniat beranjak dari sana, keduanya terdiam dalam hening untuk beberapa
saat, hanya ditemani pijar lampu jalanan juga gemuruh angina yang memanggil
keduanya.
“ hm, bye!” ucap Lia yang langsung melangkah pergi dari
sana, dan langsung melangkah masuk ke rumah. Tanpa tau kalau Ray sedang
menunggu Lia pulang dengan gelisah, bagaimanapun sifat posesifnya ini
menyebalkan bukan?
.
.
.
KRIETT
Pintu dibuka
dengan pelan, rumahnya nampak kosong. Lia menghela nafas pelan, melepas
sepatunya kemudian berjalan masuk dengan tenang, tanpa sadar kalau Ray sedang
menunggunya diruang tamu.
“ dari mana
saja?” tanya Ray sangsi, Lia menghentikan langkahnya kemudian memandang bosan
pada Ray.
“ aku sudah
bilang kalau aku mau jalan-jalan..-”