With You and Change

With You and Change
Lembaran baru



seminggu sudah berlalu setelah insiden Luna dibully Raina, Raina tidak ada lagi terlihat disekolahan


"gw gak pernah liat Raina lagi kemana ya?" tanya Luna


"mamahnya sakit," ucap Naya


"hah?! sakit apa?" kaget Luna


"kok elu bisa tau?!" tanya Letta


"gaktau, nyokap gw cerita." ucap Naya


"kok gw tiba-tiba kesian ya," ucap Luna


"gw juga Lun," ucap Letta


"gw sama nyokap mau jenguk mau ikut?" tanya Naya. Luna dan Letta dibuat tercenfang oleh Naya


"gw dulu benci banget ama mereka, tapi saat gw tau nyokapnya Raina sakit gw ikuttan kasihan. tidak ada salahnya kita memaafkan orang dan mencoba meikhlaskan masa lalu" ucap Naya


"lu hebat Nay, gw bangga punya temen kek elu!" ucap Luna memeluk samping Naya


"Naya emang ter the best!" ucap Letta ikut memeluk Naya


"gw bersyukur dipertemukan tuhan sama kalian," ucap Naya


"aaa ba—"


ceklek


"ngapain disini?!" tanya Liam. Ketiga gadis itu sekarang berada diRooftop mereka membolos pelajaran, tetapi akhirnya pun juga terciduk oleh ketua osis


"bolos dwongg!!" ucap Luna


*pletak


pletak


pletak*


"masuk kelas!" perintah Liam dengan menjitak kepala ketiga gadis itu


"ck, dasar ketos songong!" ucap Letta


"tau! lagi enak juga santai-santai," ucap Naya


"biasa ketosnya belaguuu," ucap Luna


"oke ntar gak usah minta traktiran lagi yaaa!! dadah mau gw laporin Pa Ami duluuu," ucap Liam


"EHHH ABANGG!!" histeris Luna, Letta dan Naya


×××


"panas bat euy!" keluh Luna


"hooh! untung bentar lagi istirahat," ucap Letta


"30 menit lagi istirahat!" ucap Naya


"anjir! bentarkah itu! lama lagi wehh anjerr," keluh Luna


"lah di gw 10 menit lagi," ucap Letta menatap heran gelang jam nya


pletak


"itu emang kebiasaan lu ngecepatin waktu!" geram Naya


"hehe iyayah.." cengir Letta


"gak kenal gw gak kenal!" ucap Luna


"biarin aja udah biarin!" ucap Naya


"gakusah ditemenin gakusah ditemenin!" ucap Letta


"elu yang dinistain asyu! kenapa elu ikut nistain!" geram Luna


"masa?" tanya Letta


"anjirlah tambah gak waras ni orang!" ucap Naya


"HORMAT! JANGAN NGEGOSIP!" teriak Liam. Luna pun menatap kakaknya itu tajam


"Bang nih!" Ravi, Alfi dan Davi datang kearah Liam dengan membawa kantong kresek


Liam, Ravi, Alfi dan Davi ketengah lapangan, ketiga gadis hanya melirik keempat remaja itu


"dek nih," Liam menyodorkan minuman, makanan ringan dan roti


"gak!" tolak Luna


"gak usah ngambek gitu dek, nanti pingsan!" Liam langsung menarik tangan Luna membawa Luna kepinggir lapangan. Letta dan Naya pun mengikuti Luna


"Duduk!" ucap Liam, Luna pun duduk disebelahnya Liam disebelahnya ada Davi-Letta-Ravi-Naya-Alfi-kembali keLiam


"diminum!" ucap Liam menaruh plastik ditengah-tengah mereka, tetapi tidak dihiraukan oleh Luna hanya Letta dan Naya yang minum


"Lun minum," ucap Davi menyodorkan aqua keLuna


"hm," Luna mengambil aqua dari Davi


"makan," ucap Liam yang mau menyuapi Luna Roti Luna pun langsung menggeleng tidak mau


"buka mulut!" perintah Liam, Luna pun mau tak mau membuka mulutnya


"kalian makan juga," ucap Liam kearah Letta dan Naya


"siapp ketos!!"


"iya kak,"


"lagi!" ucap Liam


"hm," Luna membuka mulutnya ketika sudah disuapin Liam, Luna bersandar didada Davi


"cape," ucap Luna. Wajah Luna penuh keringat untung saja Davi membeli tisu jadi Davi mengelap keringatnya Luna


"Lagi dek," ucap Liam


"aaaa,"


"minum," ucap Luna. Davi pun mengambil aquanya Luna


"terakhir," ucap Liam


"aaaa,"


"mau lagi?" tawar Liam


"mau tapi gak mau roti! mau kusuka aja," ucap Luna. Liam pun mengambilkan bahkan kembali menyuapi Luna


"oh iya! kalian mo ikut gak kerumah sakti?" ucap Naya


"iya, mau jeng—"


"siapa sakit?" tanya Alfi memotong pembicaraan Naya


"makanya dengerim jan ngepotong pembicaraan orang!" ucap Letta


"mau jenguk Mamahnya Raina," ucap Naya


"emang sakit apa?" tanya Ravi


"gak tau, makanya mau jenguk!" ucap Naya


"mau jenguk juga ngel?" tanya Liam


"iya bang, angel mo jenguk!" ucap Luna


"abang maukan temenin Angel jenguk mamah Raina?!" ucap Luna


"iyaa sayang," ucap Liam mengelus rambut adiknya itu


"Davi juga ikut ya!" ucap Luna dengan mendongkakkan kepalanya terlihatlah rahang tajamnya Davi


"iyaa," ucap Davi


kring kriingg kriiingg


"kekantin ayo!" ucap Naya


"Ayo!" ucap Letta dan Luna dengan semangat


"laper bat gw sumpa!" ucap Luna


"hooh mana abis dihukum tadi," ucap Letta


"udahlah ayo kekantin! ntar banyak orangnya," ucap Naya


ketiga gadis itu pun langsung kekantin meninggalkann keemlat remaja yang keheranan dengan ketiga gadis itu, padahal ketiga gadis itu menghabiskan semua makanan


"maklum cewe," ucap Davi


"udah ikutin ae," ucap Ravi


"WOY LIAMM!!!" teriak Vino tidak hanya Vino Rico pun ada


"jaga adek gw," ucap Liam


"Bolos?" tanya Rico


"hm,"


×××


"Bang bayarin Angel ya," ucap Luna


"iyaa. kalo mau lagi pesan aja," ucap Liam


"siapp!!"


"sekalian Letta juga Bang!" ucap Letta


"Naya juga Bang!" ucap Naya


"hm. ambil aja," ucap Liam


"Bang Rav—"


"Bang Al—"


"Bang Dav—"


"khusus buat gadis!" ucap Liam


"Ahahahah mamposss!!!" tawa Rico dan Vino


"pilkas lu Bang!" protes Alfi


"bangkrut gw kalo nraktir lu bertiga!" ucap Liam


"serah elu dah serah!"


×××


"Ka Rico sama Vino jadi ikut bang?" tanya Luna


Liam, Luna, Letta, Naya, Davi, Ravi dan Alfi sekarang berada diparkiran sekolah


"tau tu dua bocah gak keliatan batang idungnya," ucap Liam


"Sorry! Sorry tadi kebelet," ucap Vino yang baru datang bersama Rico


"Kalian semua bawa mobil?" tanya Liam


"pagi tadi gw bareng Naya, pake mobil Naya" ucap Letta


"kita bertiga pake motor," ucap Ravi


"Vino bareng gw," ucap Rico


"Rav lu paling depan, terus Vino lu kedua, baru Letta ketiga, baru gw paling belakang Alfi sama Davi ok!" ucap Liam


"sipp!!"


"oh iya, ntar mampir beli bingkisan!" ucap Luna


"siappp,"


×××


"Nay lu tau ruang berapa?" tanya Luna saat mau memasuki rumah sakit


"gak tau," ucap Naya


"gimana mo jenguknya!!" ucap Letta


"Ya tanya sama perawatnya lah!" ucap Naya


"eh iyaya," cengir Letta


"udah jangan debat lagi dirumah sakit loh," lerai Luna


"itu nyokap gw!" ucap Naya menunjuk seorang wanita paruh baya


"Bunda!!" panggil Naya, Bundanya Naya pun menengok kearah Naya


"Aya ngapain disini?" tanya Bunda yang mendapati anaknya dirumah sakit


"Aya mau jenguk Mamahnya Raina," ucap Naya


"yaudah bar—"


"Haii Bundaaa," ucap Letta


"Eh, Lettaa apa kabar sayang.." ucap Bunda mencium kedua pipi Letta


"Baik Bun, Bunda gimana?" tanya Letta


"Bunda juga baik," ucap Bunda


"Halo tantee.." ucap Lunadkk serempak


"Haiii, temennya Kanaya ya." ucap Bunda


"Iya tan.."


"panggil Bunda aja," ucap Bunda


"Iya bundaa.."


"Mau jenguk Mamahnya Raina juga ya?" tanya Bunda


"Iya bun," ucap Luna


"yaudah ayo bareng.." ucap Bunda


"iya Bunnn,"


×××


"Raina," Raina duduk menyendiri didepan kamar Mamahnya


"eh Tantee," ucap Raina langsung menyalimi tangan Bunda


"kamu kenapa?" tanya Bunda


"enggak papa kok tan," ucap Raina


"jangan panggil Tante lagi Rain, inget ya panggil Bunda." ucap Bunda


"eh iya Tan eh Bun, Raina gak inget." ucap Raina


"ini Kanaya sama temen-temennya mau jenguk mamah kamu juga." ucap Bunda


"ehhh, Iya Bun." ucap Raina sat menyadari kehadiran Nayadkk


"Bunda duluan aja kedalam, ada yang mau kita bicarain." ucap Naya


"yaudah Bunda duluan ya," ucap Bunda


"eh Bun titip ya bun," ucap Luna menyodorkan 2 bingkisan


"yaudah sini.." sepeninggalan Bunda kedalam kamar Mamahnya Raina, Naya mengajak Raina ketaman rumah sakit sepanjang koridor Raina hanya diam sambil menundukkan kepala


"duduk sini aja," ucap Naya saat berada dibawah pohon rindang


"Raina sabar ya," ucap Luna entah mengapa dirinya menjadi kasihan dengan Raina


"Maaf," ucap Raina


"Maaf, gw udah bikin elu celaka Lun. Maaf, gw ngaku-ngaku pacar elu Liam. Maaf, untuk semuanya yang gw perbuat!" ucap Raina


"udah kita maafin kok, gak usah terlalu dipikirkan. seenggaknya kita udah ngurangin pikiran elu saat ini," ucap Luna


"semudah itu?" heran Raina


"kenapa enggak? namanya kita masih remaja jadi kita ngedepanin amarah kita," ucap Letta


"Makasihhh udah maafin gw segampang itu!" ucap Raina tanpa diduga Raina langsung memeluk Luna dan Letta


"Yang kuat Rain ngadepin cobaan," ucap Luna membalas pelukan Raina


"Kita teman kan!" ucap Naya


"teman dongg!!" ucap Luna dan Letta


"makasihhh, disaat gw ditinggalin teman-teman gw. kalian hadir untuk menjadi temen gw! makasihh makasih!!" isak Raina


"udah jangan nangis!" ucap Luna menghapus air mata Raina


"hehe,"


"kapan mau jenguk Mamah Raina nih?" ucap Alfi merusak suasana


"yeeee!!!! dasar!" protes Luna, Letta dan Naya


"ahahaha, ayo ayo kekamar mamah gw!" ajak Raina


Davi dan Liam menatap Luna dengan bangga. bagi Liam Luna sangatlah sama dengan Mamahnya selalu bersikap dewasa ketika ada masalah. bagi Davi Luna gadis yang luar biasa meskipun sudah diperlakukan jahat oleh orang tetapi dengan mudahnya ia Memaafkan