
1 minggu kemudian
"dadahhh mamah!!" ucap Luna
"iyaa sayangg.."
Luna yang diantar Mamahnya kesekolah, setelah mamahnya beranjak pergi barulah Luna memasuki lingkungan sekolah
Luna hanya fokus dengan handphonenya tanpa memperhatikan jalannya dikoridor
bruk
"aduh!" ringis Luna karna dirinya ketabrak seorang cowo
"maaf.." ucap cowo itu, Luna pun mendongakkan kepalanya ternyata yang ditabraknya adalah Liam
"Jalan pake mata dong mas!" ucap Luna melupakan rasa sakit dipantatnya
"jalan pake kaki bukan mata!" ucap Liam
"Iya emang pake kaki! tapi harus ngeliat jugakan kalo mau jalan!" ucap Luna
"orang buta masih bisa jalan padahal gak lita," ucap Liam
"Kok elu malah tambah belagu sih asu!" kesal Luna
"sebab anda tidak sopan!" ucap Liam dengan angkuh
"idih najis! udah sok keganteng! belagu! mana idup lagi!" bentak Luna, Liam pun mendekati wajah Luna menatap tajam Luna. Luna yang ditatap tajam oleh Liam bahkan didekatkan wajah Liam kewajah Luna, Luna menjadi gugup tanpa sadar Luna memejamkan mata
"gw hidup karna elu!" bisik Liam lalu beranjak pergi meninggalkan Luna. Luna tercengang dengan bisikkan Liam
"WHAT?! GAK WARAS LO!" teriak Luna tetapi tak dihiraukan oleh Liam. Luna dipandang aneh, iri, kagum, kesal oleh siswa siswi dikoridor itu
"ishhh! dasar ketos kek asu!" gumam Luna, Luna pun dengan sumpah serapahnya berjalan menuju kantin. Luna harus mengisi tenaga! itu yang dipikirannya
×××
"buuu, Luna susu coklat bu!" ucap Luna
"siapp Luna.." ucap Bude, Bude singkatan dari Bu Dewi. Bu Dewi itu salah satu penjual diKantin
"LUNAAA!" teriak dua gadis itu sambil melambai-lambaikan tangan, Siapa lagi kalau bukan Letta dan Naya
Letta dan Naya tidak hanya berdua tetapi ada 3 remaja dihadapannya, yaitu Ravi, Alfi dan Davi. Ravi dan Alfi sibuk berman game sedangkan Davi sibuk dengan buku tebalnya
"dah lama kelen disini?" tanya Luna lalu mengambil tempat disebelah Davi
"gak baru aja," ucap Naya
"Haiii dav!" panggil Luna
"Hai juga Luna.." ucap Davi
"nih Lunaa susunya," ucap Bude
"eh iya budee makasih.." ucap Luna
"nggeh.."
"Eh Lun dah belajar?" tanya Letta
"udahlah! gw mah gak usah belajar nilai gw tetep tinggi!" ucap Luna
"hooh lu kan punya kekuatan Mata tuh!" ucap Naya
"hehe, harus dimanfaattin punya mata ntu!" ucap Luna
"manfaattin, manfaattin! lu yang nyontek di gw! nilai elu tinggi daripada gw!" ucap Naya
"yaelah nay! berbagi itu indahh.." ucap Luna
"udahlah! gak usah berantem! tumben bat lu berdua adu bacot," ucap Letta yang heran kenapa Naya menjadi bacot
"tau nih lagi PMS keknya.." ucap Luna
"emang PMS ntu anak," ucap Alfi
"wahhh parah nih!" ucap Letta
"wahhh ada something something nih.." ucap Ravi
"udahlah gak usah dibahas!" ucap Naya
"ciyee malu yaa.." ejek Luna
"eh kok lu bisa tau dia PMS? jangan jangan elu.." ejek Ravi
"gw cuma beliin dia kiranti malam tadi!" ucap Alfi
brak
"BENERAN?!" kaget Luna dan Letta, bahkan menggebrak meja
"gak, boongan!" ucap Alfi
"YA BENERAN LAH!" ucap Alfi
"gasss terossss! jan sampe lolosss!" ucap Ravi
"BISA GAK SIH DIEM!" bentak Naya
"udah diem aja Lun," ucap Davi menarik tangan Luna agar duduk kembali
"biaseee dung zeyenkku.." ejek Letta sontak membuat Naya menatap tajam kearahnya
"jan tatap gw kek gitu lah!!" protes Letta
"makanya diem!" ucap Naya
"KALIAN MASIH MAU DIKANTIN?! GAK KEKELAS?!" teriak Seorang cowo bersama kedua temannya
Luna, Letta, Naya, Ravi, Alfi dan Davi pun menatap ketiga cowo itu siapa lagi kalau bukan Liam, Rico dan Vino
"ck! sehari aja gw gak ketemu elu bisa gak!" protes Luna tetapi hanya ditatap santai oleh Liam
"ayo masuk! males gw disini ada orang B.E.L.A.G.U!!" ucap Luna menekan kata Belagu lalu beranjak pergi
"makanya Kakak jan sok! gitu ya..." sindir Letta lalu mengikuti Luna, Naya pun juga ikut pergi tanpa mengeluarkan pepatah kata apa-apa
"Benci amat tu Anak ama Lu, kenapa?" heran Alfi, Liam tidak membalas ucapan Alfi. Liam malah beranjak pergi diikuti Rico dan Vino
"PARAH LU KETOS!" kesal Alfi
"woy gw jan ditinggalin!" ucap Alfi
"Dav ayo!" ajak Alfi sebelum mengikuti Ravi
"duluan saja, saya langsung kekelas saja." ucap Davi
×××
"jangan menyontek kalau kertasnya tak mau sobek!" ucap bu Lilis
"siapp bu..." ucap Siswa Siswi kelas 11 ips 1
"hust hust!" panggil Luna keLetta
"apaan?" bisik Letta, Luna pun mengisyaratkan kata 15
"A"
"hust hust!" panggil Luna keNaya
"apaan?" tanya Naya, Luna pun juga mengisyaratkan nomor 23
"C"
"hust hust!" panggil Luna
"LUNA! KAMU NGAPAIN?!" tegur Ibu Lilis
"emang luna ngapain?" balik tanya Luna
"kamu mau nyontek ya?!" ucap Ibu Lilis
"Nyontek? ngapain Luna nyontek ibuu.." elak Luna
"alesan kamu!" ucap Ibu Lilis
"beneran ibu... Luna aja udah selesai!" ucap Luna, Ibu Lilis pun mendekati Luna lalu mengambil kertas ulangannya
"terus kamu ngapain tadi?!" tanya Ibu Lilis
"Luna cuma mo tanya, Letta ama Naya udah apa belum! kalo udah kita ngumpul bareng bareng! gitu bu.." ucap Luna
"kalau begitu sama saja kamu bakal dikira kerja sama!" ucap Ibu Lilis
"kalo gitu mah! Pengawasnya aja yang terlalu negatif thingking ama Luna!" ucap Luna
"kamu ya! ngejawab terus!" marah bu Lilis
"kalo gak Luna jawab ntar dimarahin juga kek gini.." Luna berekspresi garang dan berkacang pinggang
"kenapa diem terus! gak punya mulut kamu!" ucap Luna memperagakannya
"Sudah! Sudah! gak habis pikir ibu sama kamu Luna! pasti kamu begini karna temenan sama Aletta!" tuduh Ibu Lilis
"kok ibu nyalahin saya sih!" protes Letta
"iya memang kamu!" ucap Ibu Lilis
"gak bis—"
"terbukti kan?! kamu ngejawab terus!" ucap Ibu Lilis
"udahlah Bu! Letta cape diginiin teros! mending Letta keluar!" pamit Letta
"Salim dulu woy!" tegur Luna
"eh iya! Buuu Letta keluar duluan dahh.." Letta mencium tangan punggung Ibu Lilis, saat mau melepaskan tangannya Ibu Lilis masih menahannya
"kok ibu nahan tangan saya sih.!" ucap Letta
"apa jangan-jangan ibu suka sama saya!" curiga Letta
"amit-amit saya suka sama kamu! ibu cuma tanya kamu udah selesai apa enggak?!" ucap Ibu Lilis
"astagaaa bu! kalo saya belum selesai gak mungkin saya mau keluar dari ruangan ini!" ucap Letta
"yaudah sana keluar! bisa-bisa darah tinggi saya ngurusin siswi kayak kamu!" ucap Ibu Lilis
"Bu! Luna juga izin keluar.." ucap Luna yang juga mencium punggung tangan ibu Lilis
"sana sana kamu keluar!" ucap Ibu Lilis yang sudah frustasi dengan siswi murid barunya itu
"WOY NAY! GAK MO KELUAR LU?!" teriak Luna yang berada diambang pintu
"LUNA! JANGAN TERIAK!" amarah Ibu Lilis seakan mau meledak, Luna lun cuma cengingiran
"hehehe gak sengaja Ibuuuu.." Luna langsung lari meninggalkan Kelas
"hufttt... bisa darah tinggi saya!" gumam Ibu Lilis
"Bu! Naya pamit keluar." ucap Naya tanpa berekpresi dan ucapannya juga datar
"iya, soalnya taro sini!" ucap Ibu Lilis. Naya pun menaroh soalnya dimeja Guru, lalu menyalimi punggung tangan Ibu Lilis, lalu beranjak pergi dengan tatapan tajam, ekspresi datar
"kenapa anak itu?!" batin ibu Lilis
×××
"Woy Lun!" panggil Letta
"darimana lu?! gw cariin dari tadi!" kesal Luna.
Luna setelah keluar dari kelas mencari keberadaan Letta yang entah kemana, Luna yang kesal tidak menemukan keberadaan Letta, Luna yang lelah mencari keberadaan Letta langsung pergi kekantin
"toilet," ucap Letta
"masa? gw tadi nyari elu ditoilet gak ada?" ucap Luna
"eh, emmm.. tadi abis ketoilet gw ke Roftoo! hooh Roftoop!" ucap Letta seperti deg-deg an
"masasih? terus pipi elu kenapa merah?" curiga Luna
"tadi kejedot pintu lun.." ucap Letta
"emang bekas kejedot pintu bisa berubah kek bekas tamparan?" ucap Naya
"beneran Nay.. ini bekas kejedot pintu!" ucap Letta
"serah lu! jangan sampe gw cari tau sendiri masalahnya apa!" ancam Naya