
"Duhhh gimana nih!" panik Letta
"jangan panik! kalo kita panik malah ngebahayain diri kita!" ucap Davi
"kemana sih tu anak!" gumam Naya
"LIAM!" teriak Ravi, 100 meter dihadapan Letta, Naya, Ravi, Alfi dan Davi terdapat Liam, Rico dan Vino yang duduk bersantai
bugh
"Maksud lo apa!" ucap Vino yang kaget ketika Ravi menghampiri ketiga remaja itu langsung saja meninju Liam
bugh
bugh
"LO TAU GAK! LUNA HILANG?! DAN LO! SANTAI-SANTAI AJA DISINI?! GILA LO! LO JADI KETUA OSIS GAK BECUS! BRENGSEK!!" amarah Ravi
"Ravvv udah Ravv udahh!!" lerai Letta yang langsung memeluk Ravi
"udahh Ravvv! jangan kek gini Rav!! hiks hiks.." entah kenapa Letta jadi merasa kasihan dengan Liam dan merasa takut dengan kemarahan Ravi
"Rav! udah sekarang bukan waktunya baku hantam! dengan lu baku hantam dengan Liam! gak bakal kita dapet Luna! kalo gak kita cari!" ucap Alfi. Amarah Ravi pun mulai padam dan juga membalas Pelukan Letta bahkan mengelus rambut Letta agar gafisnya itu tenang
"Ayo cari!" ucap Davi dengan baik-baik dibalas anggukam oleh Ravi
"Inget! kalo Luna gak dapet! nyawa lu jadi taruhannya!" ancam Ravi terhadap Liam yang tersungkur ditanah
Kondisi Liam memang tidak memungkinkan karna Pelipisnya biru, ujung bibirnya sobek, hidungnya mimisan.
"Liam!! kamu kenapa?" tanya Raina yang syok dengan penampilan Liam
"minggir!" ucap Liam sambil menyeka darah diujung bibirnya itu
"kita keUKS sekarang!" ucap Raina
"Gak usah!" ucap Liam
"tapi kamu berdarah gini Liam!" ucap Raina
"Gak! bisa minggir gak Rai?!" ucap Liam
"pokok nya kita keuks sekarang!" ucap Raina seperti tidak mau dibantah
"Gw bilang enggak! ya enggak!" bentak Liam tanpa sengaja
"Liam! udah dia cewe! gak pantas lu bentak!" ucap Vino
"Gak peduli gw!" ucap Liam lalu beranjak pergi entah kemana
"Maklumin Liam, semakin lu aturin dia semakin gak suka dia!" ucap Rico lalu mengikuti Liam
"jangan diambil hati!" ucap Vino lalu melesat pergi mengejar kedua temannya
"pasti gegara Luna sialan itu!"
×××
"LUNAAAA!!"
"LUNAAA!!!"
"LUNA ANGELIA!!"
"LUNN PLIS LUNNN!!"
"hiks hiks, Lunaa.." lirih Letta yang sedari tadi menahan rasa sesak didadanya
"Ayo let! hiks hiks semangat let! kita cari Luna lagi ya.." ucap Naya mencoba menguatkan Letta
"semua nya salah gw!"
plak plak
"gw bodoh! gw tolol!"
plak
"Letta! jangan sakitin diri elu! kita jangan nyerah untuk nyari Luna!" ucap Naya memeluk Letta yang sudah tersungkur ditanah bahkan menyakiti dirinya sendiri dengan memukul kepala
"kalo bukan hiks hiks karna gw! Luna gak bakal kek gini! hiks hiks" lirih Letta
"enggak Let! bukam salah elu let!! hiks hiks" ucap Naya
"gadis gw yang strong, jangan nyerah ya! pasti kita nemuin Luna kok! Letta jangan nyalahin diri sendiri ya.." ucap Alfi sambil mengelus-ngelus rambut Letta dan Naya
"kalian kembali aja keperkemahan biar kita yang cari!" ucap Davi
"gak mau! kita juga mau ikut!" bantah Letta
"Kak! mending kita ke perkemahan lagi! banyak kok yang nyari ka Luna.." ucap Tiara yang datang dengan semua siswa dan setengah siswi bahkan guru-guru pun ada
"benar itu! kalian yang perempuan mending balik saja ke perkemahan! kami pasti mencari Luna!" ucap Bapak Ami
"kalian kembali keperkemahan ya.." ucap Ravi
"kita janji bakal bawa balik Luna" ucap Davi menyakinkan kedua gadis itu
"iyaa.."
"Jangan kemana-mana sebelum kita balik ya.. jaga diri!" ucap Ravi menenangkan Letta dengan mengelus-ngelus rambut Letta, persetanan baginya meskipun ada guru
"Nay! kalo dah sampe keperkemahan langsung makan!" ucap Alfi
"eng—"
"setidaknya kurangi kekhawatiran kami dengan kalian," ucap Alfi
"iya.."
sepeninggalan semua siswi dan guru-guru perempuan, Siswa dan guru-guru laki-laki pun berpencar mencari Luna saling mendoakan satu sama lain
×××
"Lunaaa!!" panggil Liam
"Lunaaa!!!" panggil Liam
Liam sendirian mencari Luna, entah kenapa Liam mengikuti hatinya untuk terus berjalan kedalam hutan dan memilih memisahkan diri
"Lunaaa..."
"Lunnn!!"
"Lunaaa!!"
×××
"Lunnn!!"
"Lunaaa!!"
Luna yang hampir pingsan mendengar samar-samar panggilan namanya, dengan kekuatan yang tersisa Luna bangkit
"tolongin gw!!" lirih Luna
×××
"tolongin gw!"
Liam samar-samar mendengar mendengar lirihan dari gadis yang datang dari sebelah barat
"siapapun itu!"
"tolongin gw!"
Liam pun langsung berlari kearah pendengaran suaranya dan benar saja ada Luna yang berjalan sambil berpegangan dengan pohon untuk menjaga keseimbangan
"LUNAAA!!"
Liam pun berlari keArah Luna
"Liam.." lirih Luna dengan penglihatan yang semakin buram dan akhirnya gelap
brak
×××
"LIAMM!!!
"LUNAA!!"
"LUNAAA!!!"
siswi yang melihat Liam menggendong Luna ada yang bahagia, terharu, Cemburu, sirik bahkan iri
"Lunaa..." lirih Letta dan Naya yang langsung menghampiri Liam dan Luna
"Liamm!! kamu gakpapa?" tanya Ibu Mira
"gakpapa bu, saya bawa Luna keUKS dulu bu.." ucap Liam, Dengan sekuat tenaga Liam membawa Luna KeUKS
"makasihhh kak! makasihhh!!" ucap Luna dan Naya yang langsung saja memeluk Liam untung saja Liam sudah menaruh Luna dibrankar
"memang kewajiban saya.." ucap Liam
"Liammm kamu istirahat dulu! nanti ibu ambilin baju ganti kamu!" ucap Ibu Lilis
"iya bu.."
"Letta! Naya tolong bersihin darah-darah di Liam dan di Luna ya.." ucap Ibu Lilis
"iya bu.."
"ibu bakal kesini lagi,"
×××
"Lunaaa! mana Luna!" panik Davi yang langsung saja memasuki ruangan Uks dengan Ravi dan Alfi, untung saja ruangan itu hanya ada Letta dan Naya, karna Luna dan Liam sudah diperiksa
"Lunanya belum sadar Dav! bentar lagi dia sadar kok!" ucap Naya yang mulai tenang
"kalian istrahat dulu sini, biar gw ambilin baju ganti!" ucap Letta
"kalian udah makan?" tanya Alfi
"sekalian gw ambilin makanan buat kita!" ucap Naya
"Kalian jagain Luna sama Liam!" Letta dan Naya pun beranjak pergi dari uks
Davi, Ravi dan Alfi yang baru sadar akan adanya Liam hanya bisa termenung
"Liam.." panggil Ravi, Liam pun membuka matanya dan menatap ketiga remaja itu
"Maaf gw sal—"
"gak usah! wajar lo marah dengan keteledoran gw jadi ketua osis!" ucap Liam, Ravi semakin merasa tidak enak dengan Liam
"Makasih dan Maaf!" ucap Ravi
"ya.."
"enghhh"
"Luna!!" panggil Davi yang sedari tadi setia duduk disamping Luna
"sakit.." lirih Luna
"yang mana sakit!" panik Davi
"hiks hiks kepala gw sakit hiks hiks!" lirih Luna
"Lunnn istirahat tenangg!!" ucap Davi
"LUNA!" kaget Letta dan Naya
"Let, Nay! Kepala Luna masih sakit diharap tenang ya.." ucap Alfi
"gw panggilin ibu dulu!" ucap Letta langsung pergi
"nih ganti baju lo dulu kak!" ucap Naya menyerahkan baju Liam
"makasih.." ucap Liam
×××
"bagaimana Luna? kepalanya masih sakit?" tanya Ibu Lilis
"udah mendingan bu.." ucap Luna
"yasudah bentar lagi kita kembali keJakarta," ucap ibu Lilis
"iya bu, makasih.." ucap Luna
"bagaimana kondisi kamu Liam?" tanya Ibu Lilis
"sudah tidakpapa bu," ucap Liam
"yasudah kalau kalian kenapa-napa langsung panggil ibu ya," ucap Ibu Lilis
"baik bu.."
"kalian istirahat saja sampai pulangan!" ucap Ibu Lilis
"iya buu..."
Ibu Lilis pun pergi meninggalkan UKS, teman-teman Luna maupun Liam yang menunggu diLuar langsung saja masuk keUKS lagi
"kenapa bisa lu kesesat Lun?" tanta Letta
"eemmm," bingung Luna
"yaudah kalo lu gak mau cerita gakpapa!" ucap Naya langsung memeluk Luna
"Makasihh, gw bukan gak mau cuman kepala gw sakit kalo ngingat kejadian itu lagi." ucap Luna
"maafin gw!!" ucap Letta yang juga ikut memeluk Luna
"bukan salah elu Let!" ucap Luna
×××
"Lun.." panggil Liam
"kenapa?" tanya Luna
diRuangan UKS hanya ada Liam dan Luna, semua siswa-siswi bahkan guru mengdakan upacara penutupan perkemahan.Luna dan Liam berada dibrankar masing-masing tapi saling berhadapan
"gw kalo liat elu sesara lagi liat 2 orang yang beharga bagi gw!" ucap Liam, Luna melihat Liam pandangan Liam ke Luna pun sangatlah serius
"siapa?" tanya Luna
"adek! mama! gw," lirih Liam. Liam bahkan menunduk
"ketos nangis?" batin Luna
"cerita aja.." ucap Luna
"dulu gw pun—"
"Lun.." tampaklah Letta dan Naya
"Iya? udah pulangan?" tanya Luna
"iyaa.. ayo kita ke bus," ucap Letta
"ayo!" ucap Luna. Letta dan Naya pun membantu Luna berjalan karna kepala Luna masih sakit
"butuh bantuan?" tawar Liam
"enggak deh kak, kakak juga lagi sakit!" ucap Naya
"udah gw bantu!" ucap Liam mengambil alih Luna
"ehh!!" kaget Letta dan Luna
"udah gakpapa," ucap Luna
Disepanjang Jalan Letta, Naya, Luna dan Liam menjadi bahan pandangan siswa dan siswi
"LIAMMM!!" panggil seorang cewe
"cewe centil lagi!" gumam Naya
"ihhh Liam! kamu kok sama cewe lain!!" ucap Raina
"serah gw lah!" ucap Liam
"tapikan aku itu pacar kamu!" ucap Raina
"jangan ngehalu!" ucap Liam lalu pergi tak lupa sambil membantu Luna berjalan, Jauh dibelakang keempat orang itu ada satu cowo yang melihat Luna dirangkul oleh Liam
"mungkin aku terlalu berharap!"