
"Huftttt akhirnyaaa selese juga ulangan!" ucap Luna
"besok hari Jumat," ucap Letta yang baru saja datang
"terus?" tanya Naya
"kemah dongg" ucap Letta
"Kapan?" tanya Naya
"JUM'AT! astagaaa udah gw bilang hari Jum'at!" geram Letta
"Beneran kemah?!" tanya Luna
"Iyaaa! yeeee.. " sorak Luna
"YUHUUU KEMAHHH IM COMINGGG!" teriak Luna
untung saja ketiga gadis itu berada diRoftoop, entah kenapa setelah menghadapi ulangan matematika mereka tidak nafsu makan
"kata siapa lu?" tanya Naya
"nak-anak pada gosippin," ucap Letta
"ohh.."
"ntar sore kita jalan-jalan cari keperluam kuy!" ajak Luna
"kuylah! sekaliamln nginep dirumah sapa kek gimana?" tanya Letta
"serah gw mah," ucap Naya
"nginep dirumah gw deh!" ucap Luna
"SIAPPP! lama juga gw gak ketemu Mamah!" ucap Letta
"jam berapa?" tanya Naya
"jam 3, gw atau elu yang jemput?" tanya Letta
"gw aja, so—"
brak
"wehhh! mo kemana nih! jemput jemput." ucap Alfi yang datang bersama Ravi
"mo shopping" ucap Luna
"kita ikut lah.." ucap Alfi
"gak boleh!" ucap Naya
"yahh beb! kok gituu.. kita ikut lah!!" bujuk Alfi
"gak!" ucap Naya
"Ravvv.." adu Alfi ke Ravi
pletak
"kek cewe lu!" protes Naya
"aduhhh beb, iyaa beb iyaaa.." ucap Alfi lebih memilih mengalah
"Davi mana?" tanya Luna
"gak tau, gak ada muncul tu anak!" ucap Ravi
"cariin yok! perasaan gw gak enak!" ucap Luna, langsung beranjak pergi mencari keberadaan
"ikuttin ayo!" ucap Letta menarik tangan Naya
"wey bambank! ayo!" ucap Ravi mengejar ketiga gadis itu
"WOY UDIN! Gw baru pesan woy!" kesal Alfi
"ishhh! BUDEEE ALFI GAK JADI PESEN!" Alfi pun mengejar Ravi
×××
"mana sih davi!" panik Luna
"udahh Lun, tenangg! cari dulu.." ucap Letta mencoba menenangkan Luna
"semua tempat ud—"
"belakang sekolah!" ucap Alfi memotong pembicaraan Luna
"bener! belakang sekolah!" ucap Naya
Luna langsung belari kebelakang sekolah, tanpa menghiraukan teman-temannya.
ternyata benar Davi sedang tersungkur ditanah dan dihadapan Davi ada 3 remaja yang menatapnya
"DAVI!" panik Luna, Luna langsung saja belari kearah Davi
"Lu—lun.." Davi tiba-tiba pingsan
"Davi! Luna!" kaget Letta, Luna, Ravi dan Alfi
"Kok Elu ngebully dia sih!" Bentak Letta
"bukan gw!" ucap Liam. ketiga remaja itu adalah Liam, Rico dan Vino
bugh
"ELO ITU KETOS! NGAPAIN LU NGEBULLY DIA!" bentak Luna, Luna bahkan meninju Liam
"bukan liam yang sal—"
"KALO BUKAN KALIAN SIAPA HAH!" amarah Luna
"udahhh Lun.. mending bawa Davinya keUKS," ucap Naya
"Rav! Al! Bawa!" perintah Luna, Ravi dan Alfi pun menggendong Davi
Luna, Letta, Naya, Liam, Rico dan Vino masih berada dibelakang sekolah
"Bilangnya aja ketua osis! tapi malah ngebully orang!" ucap Luna
"kata gw bukan gw!" ucap Liam
"KALO BUKAN ELU SIAPA LAGI SIH ***!" bentak Luna, wajah Luna memerah dadanya bahkan naik turun naik turun
"udah lun.. udahh!" ucap Naya
"POKOKNYA GW BENCI SAMA ELU! GAK BISA DIANDELIN LO JADI KETUA OSIS!" teriak Luna
"BUKAN GW!" Bentak Liam tanpa sengaja
"haha?! dengan cara elu kek gini! semakim yakin bahwa ELU ITU PEMBULLY!!" ucap Luna
"sudah Lun udah.." ucap Naya
Liam tersadar bahwa dirinya sudsh membentak Luna, hanya menatap Luna sendu
"bukan gw Lunaa..." lirih Liam dengan bahkan meraih tangan Luna
"Masih ada manusia kek elu! mati aja sana!" Luna langsung menghempaskan tangannya lalu beranjak pergi
"ck, ck. ketos apaan udah ngebully orang! gak tau diri lagi!" sindir Letta, yang juga beranjak pergi menyusul Luna
"gw gak tau siapa yang salah kak! tapi kalo kaka emang beneran ngebully Davi! itu salah besar kak!" ucap Naya sambil menepuk bahu Liam lalu beranjak pergi
"Liam! sampe kapan lu nutupin semuanya?! "
×××
"pen bat gw gebukin ntu ketos!" gerutu Luna
"hiks hiks"
"yahhh Lun! kok nangis.." panik Letta
"gara hiks gara gw hiks Dav hiks vi dibully hiks.." lirih Luna
"husttt.. jangan nangis!!" ucap cowo yang sedari tadi ditunggu kesadarannya, iya Davi
"Luna kenapa nangis?" tanya Davi
"salah gw elu jadi dibully lagi" lirih Luna, Davi dengan hati-hati mengangkat tubuhnya agar bisa duduk
"Dav jan duduk dulu, badan lu semuanya masih sakit!" ucap Naya
"tidak apapa Nay," ucap Davi
"ishh! tiduran aja kenapa sih!" protes Letta
"Lunaaa..." panggil Davi, Luna masih saja meneteskan air matanya bahkan dirinya juga menunduk
"sudahh jangan menangis, aku gak kenapa-kenapa." ucap Davi mengelus-ngelus rambut Luna
"tapi elu pingsan! sama aja elu kenapa-napa!" ucap Luna
"iyaa, aku pingsannya kan tadi! sekarang aku sudah sadarkan?" ucap Davi mencoba menenangkan Luna
Luna sontak memeluk Davi. Letta, Naya, Ravi dan Alfi sontak kaget, bahkan Davi malah lebih kaget dari teman-temannya itu, meskipun begitu
Davi membalas pelukan Luna dan juga mengusap-ngusap punggung Luna yang bergetar karna tangisnya, Davi membiarkan Luna menumpahkan kekesalannya lewat tangisnnya itu. Luna sudah merasa mendingan dan dilepaslah pelukannya
"ehem, ehem! udah berani pelukan nih!" ejek Alfi
"tumbuh benih-benih cinta nih!" ucap Ravi. Luna menutupi wajah merahnya karna malu
"punya urat malu ternyata!" ucap Naya
"didepan doi, makanya kesambung ntu urat malu!" ucap Letta
"sudah-sudah kesian Lunanya diejek sepertinitu.." ucap Davi membelas Luna
"Uhuyyy!! uhuyyy!! jedor lah jedorr!!" ucap Alfi. merah pada pipinya Luna bukannya berkurang malah bertambah
"jedor? apaan itu?" heran Davi merusak suasana
"asu! kok elu ngerusak suasana!!" geram Alfi
"maklum masih kudett, maklumm.." ucap Ravi
"bodo gak denger gw!" geram Naya
"kudet sekali dirimu masss!!!" geram Letta
"udah gak usah dibahas!" ucap Luna yang merasa kesal
"salah saya apa ya?" heran Davi
"BANYAK!!"
×××
tok tok tok
"MAMAHHHH!!! LUNAAAA!!!" teriak Letta dan Naya
"MAH MAH MAMAHHH!"
"LUN LUN LUNAAA!"
"M A MA M A MA H!"
"MAMAH!"
"L U LU N A NA!"
"LU—"
ceklek
"maaf saya tidak terima orang gila.." ucap Luna
bruk
"bodoamat!" Letta dan Naya mendorong pintu agar terbuka lebar, kedua gadis itu langsung masuk
"gak sopan bat sih kerumah orang!" geram Luna
"anggap rumah kita sendiri ya nay.." ucap Letta
"siapp letta!!" ucap Naya
Kedua gadis itu tidak memperdulikan Luna yang menyumpah serapah, Letta yang langsung kedapur dan Naya yang langsung bersantai diruang tamu
"serah lu berdua dah!" kesal Luna
"NAY! ADA MAKANAN DIDAPUR BANTUIN GW NGEBAWA!" teriak Letta
"OTW LET!" Naya langsung ngancir kedapur
"GADAK URAT MALU DASAR!" teriak Luna, Luna hanya bisa pasrah dan terduduk disofa
"Lun, cobain nih makanan mamah! enak batt.." ucap Letta yang membawa cheese cake
"jan sungkan Lun.. cobain aja," ucap Naya yang membawa makanan ringan yang pastinya dari dalam kulkas
"ishh.. kek asu! pulang aja lah kelen!" kesal Luna
"nanti kesian makanannya mubazir," ucap Letta yang tidak tau malu memakan cheese cake
"Lun! bikin minum gih, keselek gw ntar!" ucap Naya
"males! biarin lu keselek biar mati!" ucap Luna
"tamu datang kerumah gak disuguhin!" ucap Naya
"tamu adalah raja!" ucap Letta
"bacot! gak usah gw suguhin kelen juga dengan gak ada rasa malu ngerampas makanan gw!" ucap Luna
"eh nay! rasain nih enak bat lohh.." ucap Letta menyodorkan Cheese cake
"lu aja makan, soalnya gw males makan cake!" ucap Naya, kedua gadis itu tidak menghiraukan ucapan Luna
"huwaaaa!!! kenapa gw punya temen kek kelen!" kesal Luna
"untung lu gw pungut jadi temen kemaren!" ucap Letta
"ohh.. jadi lu gak ikhlas temenan ama gw!" ucap Luna
"ikhlas gak ikhlas, udah takdir!" ucap Naya
"APAANSIH WOY! gak jelas bat!" geram Luna
"udah jam 4 sore nih, udah yok kita jalan-jalan!" ajak Letta yang sudah menghabiskan setengah cheese cake mamahnya
"udahlah ayok! ntar kemaleman!" ucap Naya
"iya! makanan gw abis baru kelen kepikiran tujuan kerumag gw ngapain!" ucap Luna
"tujuan kita berdua malah mo ngabisin makanan elu!" ucap Letta dengan watadosnya
"bener! kan udah abis baru tujuan keduanya kita laksanain, yaitu cari keperluan kemah!" ucap Naya
"serah lu dahh serahh!!!" ucap Luna yang beranjak pergi kekamarnya
"Cepetan ha Lun! jan lama!" teriak Letta
"bodoamat! yang punya rumah siapa! yang ngatur siapa!" batin Luna