
Braaaghh
Dengan sekali hantam pintu tersebut terbuka.
Belum sempat menoleh ketiga laki-laki tersebut telah meringis kesakitan.
Beberapa pukulan dan tendangan dilesatkan pada ketiga pria tersebut.
Mereka meringkuk,meringis kesakitan.
Wiliam membuka tali yang mengikat pergelangan tangan Arsya,lalu menarik kain penutup kepalanya.
"Siapa yang menyuruh kalian"
Kaki jenjang itu telah berada di leher seorang pria berkepala plontos yang tadi menggerayangi melonnya.
"Saa saa sayaa tidak tidak tau"
Arsya nenekan kakinya lebih kuat,siap mematahkan leher itu.
Aaaahh aaaa
Pekik pria itu sambil memegang kaki mulus Arsya.
"Wanita itu memakai topeng,saya tidak tau siapa dia"
pria itu memegangi lehernya,setelah Arsya beranjak dari tempat itu.
"Habisi mereka semua"Teriak Arsya.
Dengan kekuatan tinju Emasnya Wiliam sang kaki tangan serta orang kepercayaan Arsya,Melenyapkan ketiga pria itu dengan mudah.
RS.RAHAYU
"Maafkan saya terlambat datang nona"
"Sudahlah tak apa"
Wiliam membuka pintu dengan cepat.
Arsya berdiri mematung,dunianya hancur saat ia memandang ke ranjang putih Rumah Sakit.
Seorang wanita tergeletak disana,dengan banyak kabel-kabel terpasang diseluruh tubuhnya.
"Joneeeeeeesss.."
Teriak Nina yang langsung mendekap tubuhnya.
kakinya sudah tidak sanggup lagi berdiri,tubuhnya seakan tak bertulang,ia roboh bersimpuh dilantai,tatapan matanya kosong,tetapi air matanya terus mengalir.
Ia mendekap tubuh kecil Nina.
Kepalanya disandarkan pada bahu kecil itu.
Ia tahu Nina lebih tegar dari dirinya,gadis kecil yang malang.
Arsya menghampiri sahabatnya itu,beberapa jarinya telah putus.
Mungkin Ada beberapa kuku yang tercabut,karna ujung jari yang lentik itu kini juga berbalut kain kasa.
Tubuhnya melepuh,seperti luka bakar,wajah cantik yang dulu ia banggakan kini hancur tak berbentuk.
Sungguh sangat tragis kondisi sahabatnya itu.
"Aaas ***"
Arsya mendekatkan telinganya dibibir Hanin yang tampak pecah dan membengkak.
"NET" lirihhnya
teeeeeeeeeettt
tampak garis lurus berjalan di monitor.
Nina memekik memanggil mamanya.
Wiliam berlari memanggil dokter.
Sementara Arsya hanya mampu diam tanpa kata,mengepalkan tangan dengan kuat sehingga melukai kulitnya.
Kini Hanindya pergi dengan tenang,ia seolah lega,ia bertahan hanya untuk melihat sahabat terbaiknya itu untuk yang terakhir kalinya.
*************
7 Tahun kemudian.
"Wahh wahh wahh..sepertinya sipendek ini banyak disukai gadis-gadis"
"Tentu saja onty,tidak ada yang bisa mengalahkan pesona Zyu Aredroichi disini"
"Hmmm"
"Onty tenang saja hanya onty dan mommy yang paling Zyu cintai"
anak itu memeluk manja Nina,yang baru berulang tahun ke18 kemarin.
"Ohh cantik sekali Onty,pilihan mommy benar-benar tepat,sangat cocok untuk onty"
Zyu mengelilingi lamborghini merah kepunyaan Nina.
Hadiah ulang tahun dari wanita yang selalu ia panggil Jones.
"Buka pintunya onty,cepat onty"
Zyu melompat-lompat kegirangan,rambutnya yang hitam pekat berayun diudara.
"Baiklahh,ayo masuk"
Nina hanya geleng-geleng melihat tingkah laku keponakan tersayangnya itu.
Nina selalu memberikan apapun keinginan Zyu,memanjakannya,menemaninya setiap saat.
Mereka tidak pernah kekurangan apapun.
Selama 7 tahun ini,mereka berempat hidup berpindah-pindah.
Sekarang mereka menetap di Korea,tanah kelahiran Arsya.
"Daddyyyyyyyy"
Teriakk Zyu berlari menghampiri Seorang pria muda yang ia sebut Daddy.
"Uhhh,Kau bertambah berat setiap hari Nak,nanti tidak ada wanita yang menginginkanmu"
"Itu tidak mungkin Daddy,wanita akan selalu ketar ketir hanya dengan mendengar namaku Daddy"
Dengan bangga bocah yang belum matang itu menyibak poninya kebelakang.
Itu adalah salah satu daya tarik yang membuat banyak gadis-gadis menempel padanya.
"Kita sampai"
Pria tersebut menarik kursi dan mendudukkan Zyu disana.
"Silahkan makan pangeran kecilku"
"Uuuhh"
Nina menghentakkan pinggul dikursi
"Apa kau membawa batu kesekolah,tas mu berat sekali"
Zyu tak mengherani pertanyaan Nina,mata elangnya menyapu seisi ruang makan.
"Dimana Mommy"
"Mommy hari ini lembur dikantor"
Zyu membanting piring yang telah di isi nasi oleh pengurus rumah.
Serpihan kaca membuat kaki pengurus rumah tergores.
"Achh"
"Apa kau terluka"
"Tidak apa-apa Tuan Rio,Tuan muda tidak sengaja menjatuhkan piring"
"Tidak.." Bantah Zyu
"Aku sengaja membatingnya Daddy,aku kesal,Mommy selalu sibuk,tak pernah punya waktu untuk ku"
Zyu memonyongkan bibir dengan tangan terlipat didada.
"Apa aku benar-benar anaknya Mommy"
Zyu membiarkan tangannya menggantung bebas sementara mata memandang kosong langit-langit ruang makan siang itu.
"Apa yang kau katakan Zyu"
Nina naik pitam,tangannya melempar gelas kesembarang tempat.
Dengan mata setengah melotot gadis yang baru remaja itu memandang tajam ke arah keponakan tersayangnya itu.
"Nina tenanglah,Zyu..Daddy tidak suka kamu berkata seperti itu.
Kamu adalah kesayangan Mommy,cintanya padamu melebihi apapun yang ada didunia ini"
"Maafkan Zyu Daddy" Zyu memeluk tubuh kekar Daddynya,kehangatan yang ia berikan mampu menenangkan Zyu.
"I love you Daddy" Zyu mengecup pipi Daddy mudanya.
"Love you more my boy"
Rio membalas kecupan Zyu dikeningnya.
"Aku akan keluar,katakan pada Jones,aku tidak pulang malam ini"
Sepertinya Nina masih kesal dengan ucapan Zyu.
Ia sangat tau betapa menderitanya Arsya setelah kehilangan sahabat terbaiknya.
Sebulan setelah kepergian Hanindya,ia mengandung Zyu.
Betapa bimbangnya dia saat itu.
Arsya juga pernah pulang kerumahnya membawa Nina,tapi dengan kasar seisi rumah mengusirnya.
Mereka selalu berpindah tempat,tak pernah lama menetap di suatu negara.mereka menghindari kejaran dari anak buah Edrick dan Wanita misterius yang menginginkan nyawanya.
Zyu lahir di Negara Jepang tepat saat bunga Sakura bermekaran.
Rio lah yang mengantarkan Arsya kerumah sakit.
Rio sudah buta sejak lahir,dia tidak tau siapa kedua orang tuanya,dia hidup sebatang kara di negara itu.
Dia seorang musisi jalanan yang sangat berbakat.
Mereka mulai dekat karena juga berasal dari negara yang sama.
Zyu selalu memanggilnya dengan sebutan Daddy,walaupun Arsya telah melarang Zyu.