
Hoaaaaammmss
Arsya menggeliat kekiri,kekanan untuk menstabilkan otot otot tangan yang menegang.
Kemudian ia membelalakkan mata ke layar laptop.
Tak tak tak tak
Suara ketikan yang tak beraturan terdengar melemah.
Jari jari lentik gadis itu terasa terpaku,sangat berat untuk di gerakkan.
Tampak beberapa kali Arsya menguap.
"Kenapa aku sangat mengantuk"
Bagai ribuan buah kelapa bergelayut manja di pelupuk matanya itu,,
Selang beberapa menit Arsya pun tertidur.
Laptop bukanlah bantal yang empuk,tapi saat ini laptop menjadi sandaran kepalanya yang sudah membatu.
Tiga Pemuda berbisik bisik dari kejauhan.
Melihat Arsya yang tak bergerak,mereka datang menghampiri meja tempat Arsya bersenandung dengan mimpi indahnya.
Salah satu dari mereka menyibak rambut Arsya yang terurai menutup wajah cantik gadis itu.
"Hei,sepertinya wanita ini adalah wanita yang pernah mengganggu kita waktu itu"
Hahaahahahahha
Pria berambut gimbal yang berdiri tak jauh dari Arsya tertawa terbahak bahak mengingat kejadian yang menimpa salah satu temannya.
Plaaakk
Dengan cepat si gimbal menutup mulut dan diam mematung.
Kemudian pria jakung yang tak disebutkan namanya itu mendekat ke arah Arsya.
Pria itu menggoyang tubuh Arsya dengan perlahan,Arsya masih terdiam.
Si A mengangkat salah satu lengan Arsya dan menjatuhkannya.
Sama sekali tak ada pergerakan.
"Aaa aa apa apakah dia mati" celetuk Si gimbal
"Diam brengsek"
Hardik pria yang pernah dirawat karena tendangan Arsya.
"Dia pingsan"
"Bagus,angkat dia"
si jakung ini tersenyum penuh makna.
...****************...
11.21 Waktu setempat.
"Heii..kenapa kau memberikannya begitu banyak"
Si A merebut gelas anggur yang sedang dipegang oleh pria jakung itu.
Sijakung kembali merampas minuman itu dari tangan si A dan naik keranjang ,dimana Arsya tergeletak tak berdaya dipangkuan si gimbal.
Arsya yang saat itu mulai tersadar,berlahan membuka mata.
Penglihatannya masih kabur,kepalanya pun masih terasa pusing.
Kemudian si gimbal membuka mulut Arsya dengan paksa.
Glugg gluuugg
Arsya menelan habis minuman itu,sebagian tercecer dan menjadi noda di kasur..
Tampak seperti bercak darah menempel pada sprei putih.
Si A berdiri diposisinya sebagai perekam,sementara laki laki jakung itu duduk di sofa dengan wine ditangannya.
"Buka" Perintahnya
Arsya kini duduk bersimpuh didepan si jakung,tangannya yang masih lemah memegangi bajunya yang hampir terbuka.
Dengan kesal si jakung menyiramkan wine ditangan nya ke wajah gadis malang itu.
Ia berjongkok di didepan Arsya,dengan sekuat tenaga pria itu merobek baju Arsya.
Bajunya dari bahan sifon ya geng,jdi jangan bilang kalo dia itu kuat 😀
"Wahhh.. kau cantik sekali"
si jakung terbelalak melihat gundukan buah buahan tepat didepan matanya.
Ia ingin segera mencicipinya.
Tangan kasarnya mendarat disana,meraba raba seperti mencari sesuatu.
Braaaghhhh
Pintu kamar terbuka.
sebuah pukulan bertubi tubi mendarat diwajah si jakung.
Bughh baghh
"Edrick"
Gadis malang itu terbaring dilantai yang dingin hanya mengenakan pakaian dalamnya.
Edrick membuka matelnya,dan menutup tubuh Arsya.
Ia kembali menggila,menghajar berandalan itu tanpa ampun.
Tiga pemuda itu bergelimang darah,mereka tak bergerak.
Edrick tak peduli jika ia harus memukuli ke tiga pria itu sampai mati.
Huufftt
Edrick menggendong Arsya.
Ia melihat ke arah ranjang,banyak bercak kemerah merahan disana.
"Aku terlambat,maafkan aku"