
"Aku sangat bergairah sayang,mari kita lakukan"
Niki mulai melakukan pemanasan,ia terus mencium bibir mungil istrinya,,
terus..teruss..dan turun keleher jenjang itu,,
gigitan dan ******* ******* itu sangat nikmat,kini seluruh tubuhnya habis dilahap oleh si pemangsa,sesekali gadis itu mendesah,Niki sangat pandai membuat birahinya
memuncak..
Beberapa menit kemudian pergerakan Niki mulai melemah.
Dan akhirnya diam tak bergerak.
Gadis itu menggoyangkan tubuh Niki tapi pria itu tak kunjung bangun.
"Aaahh" gerutunya
"Belum masukkk"
Ia merengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
Klaak
Kamar itu seketika menjadi terang
Dengan penuh Emosi Marsya menarik rambut kakaknya lalu melempar gadis itu kelantai.
"Dasar j*l*ng tidak tahu malu"
Marsya terus menampar wajah kakaknya tanpa ampun.
Darah segar terus mengalir dari hidung dan sudut mata Arsya.
Marsya menyiram Niki dengan segelas air,ia memukul Niki tapi dia sama sekali tidak bergerak.
"laki laki br*ngs*k"
Marsya meninggalkan mereka begitu saja.
kemudian kepala pelayan masuk dan merawat luka Arsya.
...****************...
"ahh pusing sekali"
Niki bangun dari tidurnya dan ia ingat jika ia pulang dalam keadaan mabuk.
Ia membuka selimut dan langsung berdiri,ia menatap seisi kamar,dan menyadari bahwa itu bukan kamarnya.
"Apa yang terjadi denganku"
teriaknya,seolah olah ialah korban pemerkosaan.
"aku dan kakak ipar tidak mungkin me..me..melakukannya kan"
Niki sangat ingin percaya bahwa dia tidak berhubungan dengan arsya,tapi tubuhnya dipenuhi tanda kepemilikan.
cekleekk
Begitu membuka pintu kamar,ia telah disambut oleh Marsya yang duduk di ranjang..
Rambutnya berantakan,alat makeup yang biasanya tersusun rapi di meja rias kini berhambur dilantai.
kamar itu benar benar berantakan.
Niki berjalan pelan,menghampiri sang istri.
Niki membelai lembut pipi Marsya,ia mendekatkan kepalanya,tercium aroma alkohol yang sangat menyengat.
"Maafkan aku sayang,aku tidak tau apa yang aku lakukan"
"kenapa aku begitu bodoh"
Marsya mulai menangis lagi,,
"jangan melukai dirimu,hukum saja aku,tolong jangan menangis lagi".
Marsya merangkul suaminya,bersandar di dada kekar itu..
"Aku akan menghancurkan mu Arsya"
Lokasi syuting Selena
"nona,ayah anda menelpon beberapa kali,apa perlu saya atur jadwal untuk bertemu dengan tuan"
"tak perlu,kita akan kesana setelah syuting selesai"
"baik nona"
"bagaimana pergerakan Arsya"
"minggu lalu ia bertemu dengan tuan muda Edrick dirumahnya"
"hanya itu"
"betul nona"
"tambahkan lebih banyak lagi orang kita disekitar edrick"
"siap nona"
Didalam mobil
"datanglah kerumah ku malam ini,orang tuaku ingin bertemu denganmu"
Tampaknya Edrick menolak datang ke pertemuan keluarga itu,wajah Selena memerah,sambil menggam erat ponsel yang masih menempel di telinganya.
tutttttt tutttttttt
"*hallo"
"sayang,,
lakukan sesuatu,buat pria itu datang menemui orang tuaku.
aku punya kejutan untuknya*"
Selena menyeringai,tersenyum penuh makna.
Dua hari kemudian,di kediaman keluarga selena.
semua makanan dari berbagai macam negara tersaji dimeja panjang itu.
Tak banyak orang disana,hanya ada beberapa keluarga bangsawan.
Edrick duduk disebelah Selena,mereka semua menikmati hidangan itu.
"Minggu ini adalah waktu yang baik menurut shio kalian berdua,jangan terlalu lama berpacaran"
"Pa,sudah aku katakan,aku belum siap"
"Kami akan bertunagan minggu ini"
Selena merasa puas dengan apa yang Edrick lontarkan,penolakannya hanyalah trik untuk membuat Edrick bereaksi.
"Bagus sekali sayang" bisiknya ditelinga Edrick
Pria itu berdiri
"Saya sudah selesai"